Soogi dalam perjalan menjemput Jijji. Sesungguhnya, kali ini masalahnya semakin bertambah rumit. Karena masalah nyonya Maslow mantan mertuanya yang kini meminta Jijji. Dan kejadian beberapa hari lalu saat ia dan Taetae yang ternyata tidur bersama.
Gila pikirnya, seharusnya bukan Tae yang menjemputnya malam ini. Biasa Reya yang menjemputnya saat mabuk. Pula ia sudah lama tak mabuk berat seperti semalam. Terakhir kali, itu lama sekali sebelum ia menikah. Ia belum pernah lagi mabuk sampai hilang akal seperti semalam. Dan pada akhirnya, kebiasaanya saat mabuk membuat Tae yang menjadi korban. Walaupun, si korban kali ini juga tak bersikap seperti korban. Sang korban malah ketagihan dan akhirnya pasrah dalam pergumulan semalam. Ditambah, ia sedang dalam masa subur. Tentu saja ia takut hamil, dan ia akan siap menjadi cincangan daging sundae yang akan di lakukan oleh ibunya di Daegu.
Sudah berulang kali Soogi diingatkan agar tak mabuk. Karena, ia selalu berulah saat mabuk. Ia jadi suka menggoda dan itu membahayakan dirinya sebagai wanita.
Mobillnya terhenti di depan sekolah Jijji. Ia melihat Jijji dengan seseorang. Siapa dia?
Dengan segera Soogi menepikan mobilnya. Kemudian berjalan menghampiri Jijji. Yang ternyata saat ini sedang mengobrol dengan Professor Go.
"Nah itu Ibu Jijji," ucap Jijji riang.
Soogi berjalan cepat mendekati Jijji dan merangkul anak kesayangannya itu. Seraya menatap Profesor Go ia heran siapa dan sedang apa pria itu bersama anak perempuannya.
"Ah, maaf anda ibu dari Jijji?" tanya Professor Go sambil mengulurkan tangan.
Soogi menjabat tangan Professor Go. " Iuaa saya Shin Soogi, Ibu dari Jijji."
"Kebetulan kemarin saya yang mengajukan beasiswa untuk Jijji ke Amerika."
"Ah, maaf tapi saya sudah katakan pada Jijji untuk menolaknya," jelas Soogi.
"Iya tadi, Jijji udah bilang gitu Ibu," jelas Jijji sepertinya ia sudah bisa menerima keputusan Soogi yang melarangnya berangkat ke Amerika.
"Ah, sebenarnya tawaran ini sangat jarang kami berikan. Tapi berdasarkan uji kemampuan musik dan intelegensi Jijji sangat memungkinkan untuk masuk sekolah musik Julian dengan mudah," jelas Professor Go yang jelas sekali seperti memaksa. Ia menyayangkan jika Jijji melewatkan kesempatan ini.
"Ah, maaf Tuan, tapi, saya mau Jijji bisa berkembang sesuai usianya. Saya ingin dia menikmati masa kecil tanpa tekanan akan pendidikan dan apapun," jelas Soogi dengan membelai kepala Jijji lembut.
***
Tae, Jimmy, Jeon-gu dan Heosok kini berada di meja makan. Mereka menikmati sarapan pagi yang dibuat adik sepupu Heosok. Minmin membawakan omelette dan meletakkan di atas meja makan.
Heosok, Jeon-gu dan Jimmy makan dengan lahap. Setelah, menata omelette di piring masing-masing member. Minmin akan melangkah ke dapur. Tapi, Jungkook menahan dan memintanya sarapan terlebih dahulu. Minmin hanya duduk kemudian mengangguk malu-malu.
Sementara yang lain sibuk dengan sarapan mereka. Tae sibuk melamun. Ia masih memikirkan kejadian malam itu bersama Soogi. Masih teringat dengan jelas pengalaman pertamanya. Gila memang keperjakaannya terenggut dalam satu malam oleh orang yang dianggapnya sebagai kakaknya.
Pria itu kini tengah melamun. Entah kenapa dessah, dan kata-kata kotor yang terucap begitu mudah dari mulut Soogi begitu melekat di telinganya. Semua yang ia dengar terulang lagi dan lagi. Bagaimana Soogi memanggilnya dalam keadaan mabuk, dengan suara berat. Benar-benar membuatnya gila.
Apa aku menyukai Soogi nuna? Begitulah kira-kira kini yang ada di pikiran Tae.
"Tae," panggil Hoseok.
Jimmy memperhatikan Tae yang melamun dengan wajahnya memerah. Jimmy tersenyum malu sendiri, ia berpikir jika mungkin sang sahabat masih terpikir kejadian hari itu. Ia lalu menyenggol bahu pria dengan senyum kotak yang kini duduk di sebelahnya.
"Yak! Apa ini kurang cepat?!!!" teriak Tae terkejut.
"Ku-kurang cepat?" gumam Heosok dan Jeon-gu.
"Apa yang kurang cepat?" Timpal Minmin.
"Eng-enggak bukan apa-apa," elak Taehyung kemudian berlari ke kamar kecil. Entah apa yang dirasakannya setelah teringat kejadian malam itu.
Yang jelas beberapa hari ini kejadian 'tragedi kasur binal' itu tak bisa hilang dari pikirannya.
"Ada apa sih sebenarnya?" tanya Heosok.
Jeon-gu dan Minmin mengangguk sambil menatap Jimmy yang tertawa geli. Sementara Jimmy hanya menjawab dengan mengangkat bahunya.
"Mungkin Tae sakit," elak Jimmy. Ia akan menyembunyikan masalah itu tentu saja. Karena ia tau betul masalah 'ranjang' bukan hal bisa dibicarakan sembarangan. Mereka akan lebih baik tersimpan rapat agar terjaga kelezatannya.
Saat itu Namjun berjalan masuk bersama Yunki. Mereka baru saja kembali dari studio, setelah semalam menginapnya tuk mengaransemen lagu baru BTL. Namjun duduk di sebelah Jimmy. Tepat saat itu Seojin keluar dari kamar melihat Namjun di sana membuat perasaannya tak enak.
"Hyung, sarapan!" ajak Namjun terlihat biasa saja ia sudah bisa menerima jika sang kekasih harus melakukan banyak adegan dengan Seojin.
Seojin bernafas lega karena Namjun sepertinya tak ada masalah dengan kegiatan shootingnya dengan Minji.
Ia lalu berjalan ke meja makan, sementara Yunki mengambil potongan apel yang berada di meja. Ia berdiri di sebelah Minmin. Membuat Minmin berdebar. Namun, tetap saja Yunki Cuek dan setelahnya berjalan ke kamarnya. Melakukan ritual setelah semalam ya bekerja, ritual yang menjadi hobi dan hal yang ia cintai yaitu 'tidur'.
Seojin duduk berhadapan dengan Namjun.
"Hyung, kenapa kamu jarang sarapan bareng sih?" tanya Namjun.
"Aah, aku capek karena shooting padat banget," elak Seojin.
"Aku belum take suara kamu untuk lagu ke tiga dan keempat. Aku tunggu besok di studio,"titah Namjun dijawab anggukan oleh Seojin.
Sementara Jimmy yang telah selesai sarapan. Berjalan menuju kamar Yunki. Ia melihat si pucat yang masih asik dengan ponselnya. Iya berjalan kemudian duduk di samping Yunki.
"Hyung," panggil Jimmy. "Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Jimin.
Yunki terdiam sesaat, kemudian mengerti maksud ucapan Jimmy. "Heemm, nggak masalah. Aku udah terima hubungan kalian. Walaupun, jujur aku masih ada rasa tapi, Reya udah milih kamu."
"Makasih Hyung," ucap Jimmy tulus.
Lalu kemana duoB? Ada apa hari ini mengapa dorm sepi sekali?
Pagi-pagi tadi Reya mengajak mereka berbelanja. Dan sekarang mereka telah dalam perjalanan kembali ke dorm. Reya mengalungkan nametag ke duoB agar bisa masuk ke dalam dorm.
"Jangan di lepas ya," pinta reya.
Bongbong dan Bonbon mengangguk. Mereka berjalan dengan belanjaan yang cukup banyak. Karena bukan hanya berbelanja makanan dan kebutuhan dorm. Tapi juga kebutuhan duo ajaib itu.
Bruukk!
Bongbong bertabrakan dengan Nami.
"Maaf," ucap Nami lalu membantu memasukan barang belanjaan Bongbong ke dalam tasnya.
"Maaf," ucap Nami lagi.
Bongbong hanya mengangguk. Gadis Jepang iyu berjalan meninggalkan Bongbong. Membuat squinoid ity6 menatap sesaat.
"Bong," panggil Reya.
Bongbong menoleh dan berjalan cepat mendekati Reya. Mereka berjalan cepat masuk ke dalam dorm. Dengan banyak belanjaan ditangan mereka. Melihat itu Jimmy berjalan cepat menghampiri Reya dan membawa tas belanjaan yang ia bawa.
"Makasih," ucap Reya.
"Apapun buat kamu."
Wwuuuuuu!
Sorakan seketika menggema dari semua penghuni dorm membuat Jimmy hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kalian beli apa aja?" tanya Heosok.
"Kita beli— Bongbong dan Bonbon mengacak belanjaan mereka mencari sesuatu. "Ini!!" kata mereka kompak.
Mereka membeli pensil alis dengan banyak warna. Silver, biru, merah, cokelat dan hitam.
"Untuk apa banyak banget?" Jeon-gu bertanya sambil menatap heran.
"Mewarnai muka Om Heosok!" sorak si kembar kompak.
Bongbong dan Bonbon mengambil cokelat dalam kantong belanjaan kemudian memberikan pada semua yang ada di sana.
"Om Tae?" Tanya Bonbon.
"Di sini," jawab Tae yang terlihat lega setelah cukup lama di kamar mandi.
"Ini," kata Bonbon kemudian memberikan sebuah cokelat pada Tae.
"Terima kasih," ucapnya
"ayah?" tanya Bonbon.
ayah
"Di kamar, tidur," Jawab Jimin.
"Kalau begitu ini buat ayah." Bonbon berlari ke kamar Yunki, ia melihat sang ayah yang tertidur ia kemudian meletakkan cokelat ke nakas yang berada di samping tempat tidur Yunki.
"Terimakasih ayah," bisikknya.
****
.
.
.
.
.
.note
Anyeong!!!
Terharu ya para telur sudah semakin besar.