Aldian jika hatiku adalah kebahagiaanmu aku akan berusaha membuatmu merasa aman dengan hatiku.

2351 Words
Di atas meja kamar Aldian Ravenka Zaidan terletak obat obatan. Aldian, mengambil obat tersebut dan langsung meminum beberapa butiran obat yang sama. Sementara itu kedua orang tua Aldian Ravenka Zaidan pergi ke Singapura. Ke adaan rumah nampak sepi, hanya asisten rumah tangga yang sedang bersih bersih. Tak lama pun Daffa datang membuka pintu rumah Aldian Ravenka Zaidan. Dan menemui asisten rumah tangganya. "Bi, Aldian ada? " Tanya Daffa. "Aldian beberapa hari ini tidak keluar dari kamarnya den" Sahut asisten rumah tangga Aldian Ravenka Zaidan. Daffa pun tiba didepan pintu kamar Aldian Ravenka Zaidan, ia pun membuka pintu kamar Aldian. Aldian Ravenka Zaidan duduk di sopanya yang membelakangi pintu kamarnya. "Kak" Seru Daffa ia pun duduk disisi Aldian Ravenka Zaidan. "Kamu tidak apa apa? " Aldian Ravenka Zaidan tersenyum untuk Daffa. "Jangan hawatir, aku tidak apa apa. Narra kemarin Ngewhatsap aku, katanya dia ulang tahun" Sahut Aldian Ravenka Zaidan. "Pergi lah, aku sedang tidak enak badan" Daffa terlihat hawatir dengan wajah Aldian yang terlihat pucat. "Ayo lah pergi bersamamu kakak, agar kamu terhibur" "Tidak, pergilah" "Sayang sekali jika kamu tidak pergi kak" Daffa menekuk wajahnya. Aldian Ravenka Zaidan mengelus wajah Daffa, adik angkatnya yang tidak lain tetangga nya. Teman satu satunya sejak kecil. "Daffa, pergilah temui Narra. Hari ini hari Spesialnya" Daffa pun tersenyum. "Kamu tidak apa? " "Baiklah kak, beri tahu aku jika kamu butuh sesuatu" "Pasti" Daffa pun beranjak pergi. Halaman rumah Narra nampak ramai oleh tamu Narra. Narra terlihat sibuk di temani Sella dan Carissa Rosalie menyambut tamu yang datang ke acara ulang tahunnya. Sementara itu Daffa datang bersama Ronal tanpa Aldian Ravenka Zaidan. Sella menyenggol Narra untuk memberi tahu orang yang dia tunggu sudah datang. Narra dan Carissa Rosalie mendapati Daffa dan Ronal. Setelah keduanya berada di hadapan Narra, Sella dan Carissa Rosalie. Namun tampang Daffa sangat tidak menyukai Carissa Rosalie. "Kak, Carissa. Apa kamu senang tidak ada Aldian bersama kami" Ujar Daffa. Narra dan Sella terkejut dengan ucapan Daffa begitupun Ronal. "Aku tidak melarang Aldian untuk tidak datang ke pesta Narra" Sahut Carissa Rosalie. "Iya kamu tidak melarang. Tapi kakak ku tidak mau ikut" "Carissa, berhenti sakitin Aldian, aku tidak peduli kamu sodara temanku atau kamu sahabat Narra" Narra sangat tidak suka dengan ucapan Daffa di hari ulang tahun nya menyinggung perasaan sahabatnya Carissa Rosalie. /prakkk/ Narra menampar Daffa di hadapan semua tamu. Hingga mereka terkejut begitupun Daffa. "Jika kamu datang hanya untuk merusak hari ulang tahunku lebih baik pergi" Printah Narra dengan raut wajahnya yang sangat marah. Daffa menatap Narra ia pun langsung memberikan kado ditangannya untuk Narra dengan menarik tangannya lalu ia beranjak pergi tanpa pamit. "Daffa" Panggil Ronal. Narra pun kini menangis. "Kenapa kamu melakukan itu" Tanya Carissa Rosalie. "Aku tidak suka dia bersikap seperti itu ke sahabatku" Sahut Narra. "Ini semua salahku, aku minta maaf" Narra pun memeluk Carissa Rosalie. "Tidak Carissa, ini bukan salahmu" Beberapa selang waktu kemudian, Carissa Rosalie mendapatkan telpon dari Ronal. Ronal menelpon Carissa Rosalie tanpa sepengetahuan Daffa. Di sebuah kamar rumah sakit. Daffa terlihat sedang menangis memegang tangan Aldian Ravenka Zaidan yang terbaring critis. Carissa Rosalie, Narra, Sella dan juga Daffa melihat keadaan Aldian Ravenka Zaidan di balik pintu. "Maafin aku kak, harusnya aku tidak pergi. Harusnya aku menemani kamu" Rintihan Daffa menangis melihat keadaan Aldian Ravenka Zaidan. Ronal pun berjalan menuju tempat duduk. Ia pun duduk ditemani Sella dan Narra. Sementara itu Carissa Rosalie tetap berdiam dibalik pintu kamar tanpa sepengetahuan Daffa. "Aldian, hanya memiliki Daffa yang tulus menyayanginya. Itu sebab nya Daffa sangat tidak suka dengan sikap Carissa. Tidak ada yang tau keadaan Aldian selain Daffa" Ujar Ronal. Carissa Rosalie menatap Narra yang menatap nya. "Setiap malam Aldian datang ke tempat yang sepi dan gelap. Dimana tempat itu adalah pantai. Dia tidak suka menunggu matahari terbit, semua itu karena... " Ronal menceritakan semua yang di alami Aldian Ravenka Zaidan. Sementara itu Carissa Rosalie berjalan mendekat Ronal ia mengingat saat pertama kalinya ia bertemu dengan Aldian Ravenka Zaidan. Ronal pun menatap Carissa Rosalie. "Itu sebab nya Aldian menganggap kamu adalah Sandaran Jiwanya. Saat bertemu kamu, Aldian tidak pernah bosan tersenyum dan membicarakanmu. Meskipun sikap mu terus menyakiti nya, tapi dia tidak bisa menemukan wanita lain dihidupnya karena ia hanya jatuh cinta sama kamu, Carissa " Ucap Ronal. "Aku memang bukan Daffa, tapi aku sangat memahami diposisi Aldian. Tapi adik ku, Carissa, kamu dan Aldian bertemu sama smaa saling membutuhkan, bukan kah itu takdir" Carissa Rosalie terdiam. Dengan tatapan nya yang kosong pada pandangan lain. Daffa pun keluar saat mendapati Carissa Rosalie ia menghampiri Carissa Rosalie. Namun Narra beranjak bangun. Ia pun menarik tangan Daffa. "Ayo kita bicara" Narra menarik Daffa pergi. Sella pun bangun mengelus pundak Carissa Rosalie. "Carissa, temui lah Aldian. Aku yakin dia sangat senang jika ia bangun wanita yang ia lihat adalah kamu" Seru Sella. Carissa Rosalie melihat Ronal yang tersenyum untuknya. Aldian Ravenka Zaidan keracunan obat. Ia meminum semua obat obatannya. Narra membawa Daffa ke halaman rumah sakit. "Maaf, aku sudah menamparmu. Aku sangat menyesal" Ujar Narra lalu menundukan wajahnya. Daffa melihat raut wajah Narra penuh penyesalan ia pun memeluk Narra. "Tidak perlu menyesal. Ini salahku. Berhenti menyalahkan dirimu" Kata Daffa lalu melepaskan pelukannya. "Aku tidak membela Carissa, aku tidak membela Aldian, aku tidak membela kamu. Kalian semua orang penting dihidupku. Aku sangat memahami persaan kalian" Seru Narra. "Daffa, aku tau Aldian hanya punya kamu. Itu sebab nya kamu marah" Daffa terdiam dengan raut wajah yang sedih. Ia pun menangis mengingat keadaan Aldian Ravenka Zaidan. "Aku ingin terus menemani Aldian sampai ia punya kebahagiaan dihidupnya. Tapi aku gak bisa" Rintih Daffa. Narra pun memeluk Daffa. Haripun berlalu. Daffa membiarkan Carissa Rosalie menjaga Aldian Ravenka Zaidan. Carissa Rosalie menghias kamar rumah sakit Aldian Ravenka Zaidan. Seperti Aldian menghias kamar Carissa Rosalie saat sedang sakit. Carissa Rosalie mengelus elus wajah Aldian Ravenka Zaidan dengan tatapan matanya penuh penyesalan, cahaya di kamar rumah sakit Aldian Ravenka Zaidan itu terlihat indah, cahaya yang berkedip melingakari ranting kering, dan beberapa pesawat organik tertulis kalimat. /Aldian Maaf/. Carissa Rosalie menaruh satu pesawat di tangan Aldian Ravenka Zaidan. /Aldian jika hatiku adalah kebahagiaanmu aku akan berusaha membuatmu merasa aman dengan hatiku/ Dipagi hari, cahaya sinar matahari menyinari ruangan pasien bernama Aldian Ravenka Zaidan. Aldian Ravenka Zaidan nampak sudah sadar. Ia membuka kedua matanya perlahan. Dan melihat Daffa yang berdiri paling depan, Narra, Sella dan Ronal. Namun disepanjangnya ia tertidur ia melihat Carissa Rosalie menemani nya. Mencium kening nya, mengelus wajahnya. Dan menggenggam tangannya. Aldian Ravenka Zaidan pun beranjak bangun dan dibantu oleh Daffa. "Kakak aku sangat bahagia kamu sudah sadar" Seru Daffa lalu memeluk Aldian Ravenka Zaidan. "Adik. Aku bermimpi, mimpi sangat indah. Membuat ku semangat untuk bangun" Gumam Aldian Ravenka Zaidan. Daffa pun melepas pelukanya. "Carissa tersenyum pada ku. Sangat jelas ia menggenggam tanganku, mencium ku dan mengelus wajahku sepanjang waktu" Jelas Aldian Ravenka Zaidan. Tak lama pun ia menyadari hiasan dikamarnya. Daffa pun mengambil pesawat di atas meja kanan Aldian Ravenka Zaidan. Dan memberikan nya ke Aldian Ravenka Zaidan. "Semua ini adalah Carissa yang buat. Dia menemani mu sepanjang waktu, itu bukan mimpi kak. Itu nyata" Ujar Daffa. Aldian Ravenka Zaidan pun membuka pesawat organik tersebut. Setelah membaca kalimat. /Aldian jika hatiku adalah kebahagiaanmu aku akan berusaha membuatmu merasa aman dengan hatiku/ Aldian Ravenka Zaidan tersenyum. Begitupun Narra Sella dan Ronal. "Aku bahagia untuk mu kak. Carissa sudah membalas Cintamu" "Aldian, maaf dari Carissa. Dia tidak bisa menjenguk mu karena dia ada keperluan" Ujar Sella. Aldian Ravenka Zaidan tidak berhenti tersenyum melihat kalimat tersebut. Hingga sepanjang hari Aldian Ravenka Zaidan tersenyum menatap kalimat dan hiasan dikamarnya. Saat malam hari pun ia tersenyum melihat cahaya yang begitu indah menghiasi kamarnya. Sementara itu Carissa Rosalie menemui Liam Jammes ia datang ke rumahnya. "Aku senang kamu datang kesini. Ada apa" Ujar Liam Jammes. "Ini mengenai hubungan kita? " "Atau pertunangan ku. Hahah. Carissa, kamu tenang saja pertunangan itu hanya di buat buat untuk karier ku. Jauh didalam hatiku, aku masih mencintai kamu" Namun Carissa Rosalie menatap nya tajam. "Aku tidak butuh semua omong kosong mu" Sahut Carissa Rosalie. "Dimana liontin Holland" Sebelum ia bertindak menemui Liam Jammes, ia mengingat percakapan Carissa Rosalie dan Holland enam bulan yang lalu. Kembali ke enam bulan lalu. Percakapan Carissa Rosalie dengan Holland. Holland datang menemui Carissa Rosalie yang sedang di makeup untuk pemotretan. "Carissa lihat" Tunjuk Holland ke dadanya. Holland datang untuk memberi tahu Liontin barunya. Terdapat kalung dengan liontin merah muda delima. Carissa Rosalie setelah melihat kalung tersebut ia kembali pokus ke dirinya yang sedang di makeup oleh seorang wanita. "Aku beli liontin ini khusus. Ada kamera CCTV nya, oh ya, semalam aku jalan dengan Liam, sangat romantis. Dia mengatakan kamu hanya mesin kesuksesan nya. Hahahha sayang sekali" Ujar nya. Carissa Rosalie terdiam tidak menanggapi apa perkataan nya. Liam Jammes terdiam saat Carissa Rosalie menanyakan Liontin milik Holland. Ia mengalihkan pandangannya sesaat. "Aku tidak tahu, dimana liontin itu" Gumam Liam Jammes. "Tapi aku sungguh tidak melihat nya" Namun kembali ke kematian Holland. Seseorang mengambil Liontin itu, kedua tangan itu menjamberet Liontin Holland yang tidak berdaya. Liam Jammes kembali menatap Carissa Rosalie yang memperlihatkan matanya. "Carissa, aku emng b******k, aku akui. Aku selingkuh dengan Holland, Aku sempat tidur dengannya. Tapi itu semua murni dia yang datang padaku dan merayuku" Jelas Liam Jammes. Air mata Carissa Rosalie berjatuhan menatap Liam Jammes. "Lalu, apakah Holland hamil" Tanyanya. "Apa yang kamu berikan kepada Holland" Teriak Carissa Rosalie lalu mendorong Liam Jammes. "Tega kamu yah, jebak aku" Liam Jammes memegang kepalanya, lalu menarik nafas. "Aku sama sekali tidak menjebak kamu. Percaya aku Carissa" Jelas nya dengan nada tertekan. "Ingat. Aku akan cari bukti, dan aku akan menjatuhkan nama baik kamu. Sama seperti apa yang kamu lakuin ke aku" Carissa Rosalie menodongkan jari telunjuk nya di hadapan wajah Liam Jammes. Ia pun beranjak pergi. Sementara itu Aldian Ravenka Zaidan menunggu Carissa Rosalie di depan kedai kopi nya. Ia duduk dengan semangat meskipun perlahan rintikan hujan turun. Disisi lain perjalanan Carissa Rosalie pulang, beberapa motor mengintai nya dari belakang. Saat Carissa Rosalie menengok kebelakang, cahaya motor itu menyinari wajah nya. Carissa Rosalie menggunakan kedua tangan nya untuk menghindari cahaya motor tersebut. Namun beberapa motor itu mengelilingi Carissa Rosalie. Carissa Rosalie pun menurun kan tangannya. Terdengar keras Gerungan motor motor itu mengelilingi nya. Namun tidak ada satupun yang terlihat wajahnya. "Siapa kalian" Teriak Carissa Rosalie . Suara motor itu semakin terdengar berisik di telinga Carissa Rosalie. "Aldian" Gumam Carissa Rosalie. Kedua tangan nya menutupi telinganya. Dan kedua matanya memejamkan matanya. Beberapa motor itu mengelilingi Carissa Rosalie dengan suara yang terdengar semakin berisik. Tak lama pun cahaya mobil tiba dari belakang Carissa Rosalie. Hingga motor motor itu ketika menyadari nya pergi dari Carissa Rosalie. Carissa Rosalie membuka kedua matanya. /Bruk/. Terdengar keras tutup mobil itu. Carissa Rosalie menurunkan kedua tangan dari telinganya. Carissa Rosalie pun berbalik dengan tersenyum. "Aldian" Gumamnya saat berbalik. Namun Carissa Rosalie terkejut. Liam Jammes datang dihadapannya. Ia langsung memeluk Carissa Rosalie. "How are you okey" Seru Liam Jammes saat memeluk Carissa Rosalie. Carissa Rosalie pun melepaskan pelukan Liam Jammes. Rintikan hujan yang turun mengguyur Aldian Ravenka Zaidan semakin deras. Begitupun dengan Carissa Rosalie dan Liam Jammes. "Kenapa kamu disini" Tanya Carissa Rosalie. "Bukan aku yang kamu tunggu? " Tanya Liam Jammes. "Sudah Carissa, jangan bertengkar dengan ku. Aku akan antar mu pulang" Hujan semakan deras, Liam Jammes pun menarik Carissa Rosalie untuk masuk kedalam mobilnya. Sesampainya di depan kedai kopi, cahaya mobil Liam Jammes menyinari Aldian Ravenka Zaidan yang sedang duduk dibawah air hujan didepan kedai kopi. Carissa Rosalie terkejut melihat Aldian Ravenka Zaidan. Begitupun Aldian Ravenka Zaidan setelah mendapati wajah Carissa Rosalie di dalam mobil itu bersama Liam Jammes. Aldian Ravenka Zaidan pun beranjak bangun. Carissa Rosalie pun bergegas keluar dan langsung menghampiri Aldian Ravenka Zaidan. "Aldian, apa yang kamu lakukan disini" Tanya Carissa Rosalie setelah berada di hadapan Aldian Ravenka Zaidan. Namun kedua mata Aldian Ravenka Zaidan menatap Liam Jammes yang hendak keluar. Kedua tangan nya mengepal. Saat Liam Jammes keluar menghampiri Carissa Rosalie dan Aldian Ravenka Zaidan dengan payung nya. Aldian Ravenka Zaidan langsung memukul Liam Jammes hingga terjatuh bersama payung nya. Carissa Rosalie terkejut. Tanpa bicara Aldian Ravenka Zaidan memukuli Liam Jammes. Namun Liam Jammes tidak membalas pukulanya. Sampai Carissa Rosalie bertindak memisahkan mereka dibawah air hujan yang semakin deras. Aldian Ravenka Zaidan menatap Carissa Rosalie. Dengan kedua matanya yang merah dan tangan nya yang mengepal. Liam Jammes pun beranjak bangun. "Apa maksud kamu dengan kalimat itu" Tanya Aldian Ravenka Zaidan. Carissa Rosalie mengingat kalimat yang ia tulis untuk Aldian Ravenka Zaidan. Dan kembali menatap Aldian Ravenka Zaidan. "Kenapa kamu bersama nya. Apa yang kamu lakuin" Nada suara Aldian Ravenka Zaidan semakin memanas. "Aldian, tenangkan pikiran mu. Kamu salah paham" Jelas. Carissa Rosalie. "Laki laki seperti ini yang kamu cari, Carissa" Ujar Liam Jammes membuat Aldian Ravenka Zaidan kembali memukul nya. "Cukup Aldian" Teriak Carissa Rosalie. Aldian Ravenka Zaidan pun berhenti memukul Liam Jammes. Sementara Liam Jammes memegang pukulan Aldian Ravenka Zaidan di wajahnya yang terlihat memar. Aldian Ravenka Zaidan menatap Carissa Rosalie. Ia pun beranjak pergi dari hadapan Carissa Rosalie dan Liam Jammes. Ia langsung menaiki motor nya dan melaju cepat. "Aldian" Pangil Carissa Rosalie. Namun Liam Jammes menahan nya. Carissa Rosalie pun mengibas kan tangan Liam Jammes. Dan beranjak masuk ke kedai kopi nya. Sementara itu Aldian Ravenka Zaidan melaju cepat dibawa air hujan. Kedua matanya mengingat saat ia melihat Carissa Rosalie didalam mobil tersebut bersama Liam Jammes. Disisi lain Carissa Rosalie selesai membersihkan dirinya. Namun pikiran nya terus hawatir pada Aldian Ravenka Zaidan. Saat itu hujan pun sudah reda. Carissa Rosalie ke lantai bawah untuk menghangat kan nya dengan kopi. Namun ia terkejut, Aldian Ravenka Zaidan duduk didepan pintu kaca Kedai kopi dengan keadaan basah. Carissa Rosalie kini bergegas untuk membuka pintu kedai kopi. Saat ia berhasil membuka pintu kaca itu. Carissa Rosalie mendapati Aldian Ravenka Zaidan yang sedang duduk terdiam. Carissa Rosalie pun memeluk nya dari samping. "Aldian, maaf" Gumam Carissa Rosalie. Aldian Ravenka Zaidan nampak senang dipeluk Carissa Rosalie ia pun membalas pelukan Carissa Rosalie. Carissa Rosalie mengingat saat ia bersama Sella dan Narra. "Carissa, jangan bohongi perasaan mu" Seru Sella. "Jika tidak ada cinta, tidak mungkin ada yang tersimpan" Saat itu Carissa Rosalie menarik nafas menyandarkan tubuhnya ke sopa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD