Aldian Ravenka Zaidan datang menemui Sella di ruangan cctv.
Kedua mata mereka diperlihatkan sejak didepan prusahaan tempat Sella bekerja. Setelah Carissa Rosalie beranjak pergi, Aldian Ravenka Zaidan menemui Sella yang beranjak melangkah untuk pergi meeting.
Aldian Ravenka Zaidan ingin membantu masalah Carissa Rosalie, ia pun memerlukan bantuan Sella.
"Oke, aku ada meeting dulu. Nanti kita ketemuan disana" Ujar Sella setelah bertukar no handphone nya.
Aldian Ravenka Zaidan pun kembali mengikuti Carissa Rosalie untuk memastikan keadaan nya selamat sampai tiba di kedai kopi.
Namun setelah menolong Carissa Rosalie, Aldian Ravenka Zaidan menerima telpon dari Sella. Ia pun beranjak pergi tanpa pamit ke Carissa Rosalie hanya dengan menatapnya dingin. Dan Carissa Rosalie berbalik melihat nya pergi.
Sesampai nya di hotel, Aldian Ravenka Zaidan menemui Sella di ruang cctv.
Didalam vidio CCTV tersebut. Terdapat beberapa rekaman pada hari kematian Holland.
Holland keluar dari lif dan bergegas masuk kekamar 207, kamar tersebut. Kamar yang di pesan Liam Jammes satu hari sebelum kedatangan Holland. Tak lama kemudian Carissa Rosalie tiba keluar dari lif yang sama dan memasuki kamar tersebut 207. Sementara itu di Cctv Lobi. Terekam Liam Jammes masuk dan menuju lif.
Keluar dari lif yang sama, Liam Jammes masuk kekamar yang sama 207. Liam Jammes pun keluar dari kamarnya dengan raut wajah yang panik ia pun mondar mandir dan lalu beranjak pergi. Sementara itu tidak terlihat pergi nya Liam Jammes.
Cctv selanjutnya adalah sejumlah wartawan datang ke ruang 207 Carissa Rosalie menangis di depan jasad Holland yang dibawa oleh petugas.
"Dimana rekaman selanjutnya? Aku yakin sebelum Holland masuk kekamar 207 ada orang lain. Atau Liam Jammes" Ujar Aldian Ravenka Zaidan.
Sella sepertinya melihat raut wajah Aldian Ravenka Zaidan berpendapat sama dengan Aldian Ravenka Zaidan. Kejadian kematian Holland adalah 5 bulan yang lalu.
"Tidak ada luka di tubuh nya, namun apa Holland hamil? " Seru Sella.
"Kenapa Holland masuk ke kamar Liam Jammes? Dan kenapa Carissa Rosalie masuk ke kamar yang sama. dan sementara Carissa Rosalie tidak pernah ke hotel bersama Liam Jammes? "
"Ada yang ganjil" Gumam Aldian Ravenka Zaidan.
Aldian Ravenka Zaidan melirik petugas cctv. Ia pun menarik keraha baju petugas. Dan menatapnya, raut wajah Sella terkejut atas tindakan Aldian Ravenka Zaidan yang terlihat marah.
"Berapa orang yang sudah membayar kamu, saya akan bayar tiga kali lipat" Ujar Aldian Ravenka Zaidan.
"Apa maksud kamu nak? Saya tidak menerima bayaran apapun"
"Beri kami rekaman detailnya" Printah nya.
Aldian Ravenka Zaidan terus menatap petugas Cctv yang ia tarik kraha bajunya.
Sementara itu Sella menerima telpon dari Narra.
"Carissa sakit? " Seru Sella mengejutkan Aldian Ravenka Zaidan.
Aldian Ravenka Zaidan pun melepas kan petugas tersebut. dan memperhatikan Sella yang sedang menerima telpon dari Narra. Sella pun melihat raut wajah Aldian Ravenka Zaidan dan mematikan telpon nya.
"Carissa sakit, dia sempat pingsan di kamar mandi" Ujar Sella.
Aldian Ravenka Zaidan terkejut ia pun panik dan bergegas ke kedai kopi bersama Sella.
Sesampai nya di kedai kopi, Aldian Ravenka Zaidan dan Sella masuk ke kamar Carissa Rosalie yang sedang dirawat oleh Narra.
Sementara itu Carissa Rosalie dalam keadaan tidur. Sella pun duduk disamping Carissa Rosalie dengan raut wajah yang hawatir begitupun Aldian Ravenka Zaidan yang berdiri dengan hawatir melihat kondisi Carissa Rosalie dengan wajah yang pucat.
Narra melihat Aldian Ravenka Zaidan.
"Bagaimana kalian bisa datang bersama? " Tanya Narra dan menatap Sella.
"Kebetulan tadi kami ketemu" Sahut Sella setelah melirik Aldian Ravenka Zaidan.
Narra pun mengompres kening Carissa Rosalie.
"Biar aku yang gantiin jaga Carissa" Ujar Aldian Ravenka Zaidan.
Sella pun mengangguk ke Narra untuk membiarkan Aldian Ravenka Zaidan merawat Carissa Rosalie.
"Beri tahu kami jika sudah bangun. Kami menunggu dibawah" Ujar Narra.
Aldian Ravenka Zaidan pun menggantikan Narra merawat Carissa Rosalie, Narra dan Sella kini beranjak pergi.
Narra dan Sella duduk menikmati Sweet Latte dan tak lamapun Ronal dan Daffa tiba. Ronal datang dengan raut wajahnya yang hawatir.
"Bagaimana dengan Carissa? " Tanyanya Ronal.
"Carissa sedang tidur, dan di jaga oleh Aldian" Sahut Narra. Lalu melirik Daffa yang mengalihkan pandangannya ke pelayan yang sedang bersih bersih.
Ronal pun beranjak pergi untuk memastikan keadaan Carissa Rosalie. Sementara itu Daffa hendak mengikuti Ronal namun Narra bergegas menghentikan Daffa dan langsung menjewer telinga Daffa.
Sella nampak sangat terkejut.
"Mau kemana pacar? " Seru Narra.
"Aaa.. Aaa" Seru Daffa gugup.
"Aigooo!! " Gumam Sella.
Narra pun menjewer Daffa dan membawanya duduk di depan nya. Sella sangat terkejut melihat Daffa yang menunduk.
"Jadi Daffa ini" Seru Sella menunjuk Daffa lalu meliriik Narra.
"Sella, apa aku tidak cantik? " Tanya Narra.
"Cantik" Sahut Daffa dengan nada membuat Sella dan Narra terkejut.
"Ada apa dengan hubungan kalian" Tanya Sella.
"Apa ini baru pertama kalinya kamu pacaran? " Tanya Sella ke Daffa.
Daffa mengangguk. Narra pun tersenyum histeris.
"Jangan bangun kebucinan kalian di depan ku" Grutu Sella lalu minum kopi Sweet Latte.
Sementara itu Ronal melihat Aldian Ravenka Zaidan yang begitu tulus merawat Carissa Rosalie, ia duduk di bawah ranjang Carissa Rosalie yang sedang tertidur dan kembali mengomopresnya. Aldian Ravenka Zaidan yang menyadari keberadaan Ronal ia pun beranjak bangun dan menghampiri Ronal.
Aldian Ravenka Zaidan memperintahan Ronal pergi bersama Daffa untuk mengambil sesuatu yang sudah ia persiapkan bersama untuk Carissa Rosalie.
Matahari pun terbenam, hari semakin larut. Narra, Sella, Ronal dan juga Daffa berdiri di depan kedai kopi. Mereka menatap lantai dua kedai kopi terlihat jendela kamar Carissa Rosalie bersinar meski dalam ke adaan gelap.
"Indah sekali" Seru Sella.
Kamar Carissa Rosalie di hias oleh sejumlah ranting pohon yang kering dililit oleh lampu led dan pesawat warna warni yang terbuat dari kertas organik. Aldian Ravenka Zaidan merasa keadaan Carissa Rosalie membaik ia pun segera keluar dan mematikan semua lampu kamar nya.
Aldian Ravenka Zaidan pun beranjak menemui teman teman nya yang tengah memperhatikan kamar Carissa Rosalie.
Pukul 03:45 Carissa Rosalie terbangun. Ia pun melihat cahaya yang berkedip. Ia pun beranjak bangun dan melihat ruangan santay di kamar nya begitu indah oleh hiasan ranting yang bercahaya dan juga pesawat yang terbuat dari kertas organik.
Kedua matanya melihat cahaya itu terus berkedip warna warni. Ia pun meraih pesawat lalu mengambilnya, Carissa Rosalie membuka pesawat itu dan tertulis sebuah kata. /Cepat sembuh/. Yah sejumlah pesawat yang di gantung dengan sejumlah ranting terdapat kata kata isi hati Aldian Ravenka Zaidan. /Tersenyumlah/.
Ke esokanya. Carissa Rosalie duduk santay di lantai bawah dengan kopi hangat Cotton candy latte. Narra dan Sella pun tiba mengejutkan Carissa Rosalie.
"Cotton candy latte" Gumam Sella.
"Apa kamu sudah membaik"
Carissa Rosalie tersenyum datar.
"Moodmu tidak sesuai dengan kopimu" Kata Narra.
"kamu terjaga Aldian semalaman"
"Aku kagum dengan Aldian"
"Berusaha mengejar hati sedingin gunung es"
Sella menggenggam kedua tangan Carissa Rosalie. Dan memperlihatkan senyumnya.
"Carissa, kamu cinta pertama Aldian, dan cinta sejatinya" Ujar Sella.
Aldian Ravenka Zaidan pun tiba dengan Daffa dan juga Ronal. Mereka tiba sepulang kuliah. Carissa Rosalie pun beranjak bangun lalu melihat Aldian Ravenka Zaidan yang berjalan menatapnya.
Carissa Rosalie kini pergi ke atas menaiki tangga. Sella dan Narra pun beranjak bangun memperhatikan Carissa Rosalie yang pergi menaiki anak tangga.
Sella dan Narra hendak mengikuti Carissa Rosalie ke atas, namun Aldian Ravenka Zaidan mencegah nya. Aldian Ravenka Zaidan kini menaiki anak tangga menuju kamar Carissa Rosalie.
Sella dan Narra terlihat cemas. Begitu pun Ronal dan Daffa.
Setelah berada di kamar Carissa Rosalie, Aldian Ravenka Zaidan menghadap Carissa Rosalie yang berdiri dengan kardus di bawah tubuhnya. Carissa Rosalie nampak menatap Aldian Ravenka Zaidan dengan raut wajah membenci nya. Sementara Aldian Ravenka Zaidan melihat kardus tersebut. Dan menatap Carissa Rosalie.
Kedua mata Aldian Ravenka Zaidan diperlihatkan. Aldian Ravenka Zaidan melihat Carissa Rosalie nampak sangat suka kejutan yang dibuat Aldian Ravenka Zaidan dengan menghias kamarnya. Ia melihat Carissa Rosalie meraih salah satu pesawat. Sementara itu Carissa Rosalie tidak menyadari keberadaan Aldian Ravenka Zaidan. Aldian Ravenka Zaidan pun beranjak pergi dengan tersenyum.
Namun hari ini Aldian Ravenka Zaidan dihadapkan usahanya yang terbuang.
"Aldian bawa pergi barang barang ini" Ujar Carissa Rosalie sambil menunjuk ke kardus tersebut yang berisi sejumlah ranting, lampu led dan sejumlah pesawat.
"Lagi dan lagi kamu membohongi dirimu Carissa, ada apa dengan mu? " Ujar Aldian Ravenka Zaidan.
"Apa kamu tidak bisa menghargai usahaku"
Carissa Rosalie meletakkan tangan nya di d**a Aldian Ravenka Zaidan.
"Aku tidak meminta mu melakukan usaha apa pun untuk ku"
Carissa Rosalie pun mendorong Aldian Ravenka Zaidan yang berdiri menatap nya.
"Atau ada yang kamu inginkan? "
Carissa Rosalie pun menarik Aldian Ravenka Zaidan dan mendorong Aldian hingga jatuh ke atas ranjang nya.
"Ini yang kamu mau? " Carissa Rosalie membuka kancing kemeja nya satu sambil menatap histeris Aldian Ravenka Zaidan.
"Aku akan mewujudkannya lalu kamu pergi menjauh dariku" Ia pun membuka kancing kemejanya kedua.
Aldian Ravenka Zaidan menatap Carissa Rosalie dengan tatapan nya yang tajam dan ia pun menarik Carissa Rosalie hingga terjatuh ketubuhnya. Keduanya bertatapan. Namun Aldian Ravenka Zaidan membanting tubuh nya ke ranjang, dan langsung menatap nya. Lalu kedua tangannya mengepal disamping Carissa Rosalie yang menatap nya .
"Setelah apa yang aku lakuin ke kamu, ini yang kamu pikir kan tentang ku. Aku tulus mengejarmu" Aldian Ravenka Zaidan nampak kesal kapada Carissa Rosalie. Ia mencoba menahan amarah nya dengan kedua tangan nya yang menerkam seprai ranjang Carissa disamping kanan kiri Carissa dengan menatap nya penuh amarah.
"Aku sangat kecewa dengan pikiranmu"
Aldian Ravenka Zaidan pun beranjak pergi tanpa membawa kardus tersebut. Carissa Rosalie pun beranjak bangun dan menarik nafas, dengan kedua matanya yang berlinang.
Sementara itu Aldian Ravenka Zaidan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Raut wajahnya mengejutkan Daffa dan Ronal. Begitupun dengan Sella dan Narra yang beranjak bangun melihat Aldian Ravenka Zaidan bergegas keluar.
"Ada apa dengan adikmu" Daffa mendorong Ronal dengan raut wajahnya yang marah.
"Apa adikmu tidak bisa menghargai kakakku" Daffa terlihat semakin marah. Ia pun beranjak pergi mengikuti Aldian Ravenka Zaidan.
Narra dan Sella sangat syok dengan Daffa yang menyalahkan Ronal. Ronal terdiam dan lalu beranjak pergi mengejar Daffa.
Daffa kini mengejar Aldian Ravenka Zaidan, begitupun Ronal menyusul.
"Sudah kak lupakan wanita itu, belum bersamapun wanita itu menyakiti mu berkali kali, bagaimana jika kalian bersama" Printah Daffa dengan emosi nya yang tidak terkontrol.
Namun Aldian Ravenka Zaidan tetap berjalan terdiam.
Ronal pun berhasil menghampiri Daffa dan Aldian Ravenka Zaidan.
Ronal pun menarik Daffa untuk berhadapan dengan nya.
"Kenapa kamu menyalahkan ku, apa yang terjadi dengan kak Aldian dan Carissa biar waktu yang menjawab" Ujar Ronal dengan nada tinggi mengejutkan Aldian Ravenka Zaidan yang berdiri dihadapan keduanya.
Daffa mendorong Ronal.
"Wanita itu adikmu, tidak punya hati. Dia punya masalah dihidupnya tapi menyakiti perasaan teman ku sejak kecil yang sudah ku anggap kakak ku" Daffa semakin dikuasai oleh emosi nya.
Ronal pun membalas dan mendorong Daffa.
"Carissa memang adikku, tapi mungkin saja dia belum siap membuka hatinya"
"Kakak ku jauh lebih tertekan dihidupnya, tapi lihat dia tidak pernah melampiaskan masalahnya pada orang lain"
Aldian Ravenka Zaidan menggeleng kepalanya dan menarik nafas, ia pun menarik tangan keduanya. Lalu merangkul Daffa dan Ronal.
"Jangan saling menyalahkan, aku tidak apa apa. Sungguh" Ujar Aldian Ravenka Zaidan. Lalu ia pun tersenyum untuk menenangkan suasana hati Ronal dan Daffa.
Namun Daffa dan Ronal masih berkelahi dengan kaki nya yang saling menendang dan berlari saling tendang.
Sementara itu Narra dan Sella menghampiri Carissa Rosalie yang duduk di atas ranjangnya. Narra dan Sella pun menemani Carissa Rosalie duduk. Keduanya memeluk Carissa Rosalie.
"Carissa, kami tau betul perasaan mu saat ini, tapi apa kamu yakin tidak mau membuka hatimu untuk Aldian" Ujar Sella.
Narra kini mengangguk dan menekukan wajahnya.
"Carissa, Ronal dan Daffa menceritakan perjuangan Aldian itu sempurna tanpa campur tangan dari mereka"lanjutnya.
"Mereka menemani Aldian mencari ranting di pohon beberapa hari lalu, hingga digigit semut" Sella menceritakan nya sambil tersenyum.
Sementara itu Carissa Rosalie tidak menanggapi cerita Sella, ia terdiam lalu beranjak bangun menuju depan jendela kamarnya.
"Semenjak Aldian mengenalmu, setiap malam Aldian menjaga kamu tidur diluar"
"Karena, Aldian tau banyak yang mengintaimu"
Carissa Rosalie mengingat saat dipagi hari ia melihat Aldian Ravenka Zaidan baru saja pergi dari depan kedai kopi nya.
Disisi lain, Aldian Ravenka Zaidan pulang kerumah dengan raut wajah nya yang lesu. Namun ia dihadapkan masalah baru.
"Aldian" Panggil ayahnya yang berdiri tegap dan kedua tangan nya yang ia taruh di saku celananya.
"Papah akan mengatur pindahan kamu kuliah, kuliah lah di Singapura ikut bersama kami" Lanjut nya. Alex Ravenka Zaidan.
"Grub Zaidan butuh kamu, sebagai penerus"
Aldian Ravenka Zaidan mengabaikan ayahnya, ia beranjak masuk dengan menundukan wajahnya.
"Papah sudah mengurus perceraian papah dengan ibumu"
Aldian Ravenka Zaidan berhenti melangkah mendengar ucapan ayahnya.
Alex Ravenka Zaidan kini menghampiri Aldian Ravenka Zaidan yang membelakangi nya.
"Ikut dengan papah"
Aldian Ravenka Zaidan mengepal kedua tangan nya dan menatap ayah nya dengan tatapan nya yang penuh emosional.
"Kenapa papah selalu menghancurkan ke utuhan keluarga kita" Teriak Aldian Ravenka Zaidan dengan nada tinggi penuh amarah.
Sementara itu Alex Ravenka Zaidan tersenyum miring, mengelus dagunya. Lalu tiba tiba ia memukul Aldian Ravenka Zaidan dengan keras.
Aldian Ravenka Zaidan kini menarik nafas dan kembali menatap wajah ayahnya. Ia pun menarik keraha kemeja ayahnya dengan tatapan nya penuh kebencian.
"Pukul aku pah, pukul" Teriaknya.
"Bunuh aku jika papah belum puas" Aldian Ravenka Zaidan semakin menjadi jadi dengan raut wajahnya yang semakin terlihat.
Alex Ravenka Zaidan mendorong Aldian Ravenka Zaidan. Dan menunjukkan ke wajahnya.
"Anak tidak tau terimakasih, dimana kehormatan kamu kepada ayah kamu" Tunjuknya dengan suara nada tinggi.
"Kamu tau, seperti apa mamah mu? Dia hanya mementingkan uang dan warisan"
"Ingat. Aku tidak perlu kalian. Gak ada yang perlu dihormati disini" Gertak Aldian Ravenka Zaidan.
"Aku tidak butuh kalian" Teriaknya kembali dengan nada tinggi.
Aldian Ravenka Zaidan pun beranjak pergi menaiki anak tangga, ia pun mengurung dirinya di kamar, memukul kepala nya berulang kali dengan kedua tangan nya.
Ia pun menyandar kan tubuhnya ke meja.
Sementara itu disebuah Club, seperti biasa Carissa Rosalie dan temannya nongkrong di club. Saat hendak ke toilet Carissa Rosalie melewati ruangan V.I.P ia mendengar sesuatu mengenai nama belakang yang ia kenal dibalik pintu yang terbuka.
"Dengan senang hati, saya membantu kamu menghancurkan Zaidan grub" Ucap seorang pria dewasa di hadapan seorang wanita.
Carissa Rosalie mengingat sebuah nama. Yaitu.
"Aku Aldian, Aldian Ravenka Zaidan"
Saat ia pertama kalinya berkenalan dengan Aldian Ravenka Zaidan. Yah wanita itu adalah ibunya Aldian Ravenka Zaidan.
"Aku harus memaksa Aldian ikut dengan ku, agar semua berjalan dengan lancar" Ucap wanita itu. Yuliana Dewi dengan tatapan nya yang sinis.
Carissa Rosalie pun beranjak pergi untuk tidak memikirkan tentang Aldian Ravenka Zaidan.
Beberapa hari berlalu, Aldian Ravenka Zaidan tidak muncul di hadapan Carissa Rosalie. Carissa Rosalie tengah mengaduk kopinya, Kedai kopi pun terlihat sepi.
Sementara itu Aldian Ravenka Zaidan mengurung diri dikamar, suara pertengkaran ayah dan ibu nya terdengar jelas hingga membuatnya menutup telinga.
Disisi lain Daffa nampak memperhatikan kamar Aldian Ravenka Zaidan dari luar gerbang rumah Aldian Ravenka Zaidan.
Aldian Ravenka Zaidan menutup telinga nya menangis tanpa suara, ia terus mengingat momen kebahagiaannya bersama kedua orang tuanya.
"Semua yang kita alami bersama itu palsu, iya palsu" Teriak Yuliana Dewi.
"Jika serius pun semua nya akan berakhir seperti ini"
Alex Ravenka Zaidan menampar Yuliana Dewi.
"Tampar lagi mas, tampar"
Daffa pun mendengar pertengkaran kedua orang tua Aldian Ravenka Zaidan. Ia pun beranjak pergi.
Carissa Rosalie nampak memperhatikan jendela kamar nya. Ia memikirkan semua hal tentang Aldian, namun pikirannya kembali saat Liam Jammes terlihat dipikirannya.
Yah dimana Liam Jammes mengatakan. "Tidak ada yang sempurna di mataku, selain karier" Ucap Liam Jammes mengejutkan Carissa Rosalie yang sedang duduk disampingnya.
Namun lamunan tersebut terpecahkan, kedatangan Narra dan Sella.
"Carissa, besok adalah ulang tahunku. Ikut kami untuk merayakannya oke" Ujar Narra merangkul Carissa Rosalie.
"Heii!! Guru kecil, sejak kapan aku tidak ikut merayakan ulang tahunmu" Sahut Carissa Rosalie lalu beranjak duduk.
"Carissa, kali ini aku ajak Daffa, Ronal dannn... "
Kedua mata Carissa Rosalie nampak tidak suka dengan nama selanjutnya.
"Itupun jika dia datang"
Sella pun duduk disamping Carissa Rosalie. Ia pun mengambil ranting didalam kerdus yang disimpan Carissa Rosalie. Narra pun menatap histeris ranting itu, Sella dan Narra sepemikiran mereka pun tersenyum bersama tanpa sepengetahuan Carissa Rosalie. /"Jika tidak ada cinta, tidak mungkin ada yang tersimpan"/ gumam kedua suara hati mereka.