"Aaaaaaaaaaa" Teriak Yuliana Dewi menyapu semua benda di atas meja rias nya.
Televisi yang menyala sebuah berita mengenai prusahaan Zaidan Grub. Alex Ravenka Zaidan hadir di temani seorang wanita yaitu selingkuhan nya dan juga putra anak laki laki wanita itu.
Sementara itu Aldian Ravenka Zaidan kembali ia membuka pintu rumah nya, mendengar suara ibu nya menangis di kamar nya, Aldian Ravenka Zaidan pun menghampiri Ibunya.
"Mamah" Seru Aldian Ravenka Zaidan.
"Aldian" Yuliana Dewi menatap Aldian Ravenka Zaidan dengan air matanya yang berjatuhan.
Aldian Ravenka Zaidan pun memeluk ibunya. Mencoba menenangkan ibunya, ia pun mematikan televisi.
"Ikut mamah, ayo kita ke Singapura" Pinta nya Yuliana Dewi.
"Ikut lah dengan ku, masuk lah dunia bisnis. Lupakan mimpimu demi keutuhan keluarga kita"
Aldian Ravenka Zaidan terdiam sejenak ia pun kembali memelui ibunya.
"Tenangkan pikiran mamah, aku disini aku janji aku kan sukses dengan pilihanku" Gumam Aldian Ravenka Zaidan.
Sementara itu Yuliana Dewi melepaskan pelukan Aldian Ravenka Zaidan.
"Ibu sakit Aldian" Yuliana Dewi memegang hatinya sambil merintih nangis.
"Jangan biarkan ibu hancur"
"Aldian, ikut lah dengan ibu, ayo sekolah bisnis"
Aldian Ravenka Zaidan menunduk, ia pun mencium kedua tangan ibunya.
"Aku sangat mencintai mamah, tapi tolong jangan mengatur hidup ku, aku punya mimpi" Seru Aldian Ravenka Zaidan ia pun menangis.
Aldian Ravenka Zaidan menangis mengingat apa yang telah terjadi padanya selama ini. Luka di hatinya. Karena kedua orang tuanya, namun ia sangat menyayangi ibunya.
Daffa melihat Aldian Ravenka Zaidan. nampak melamun di pinggir jendela kamar nya. Tatapan matanya kosong. Daffa pun masuk membuka gerbang rumah Aldian Ravenka Zaidan.
Daffa pun naik tangga ke lantai dua. Menuju kamar Aldian Ravenka Zaidan. Setelah mendapatkan Aldian, Daffa melangkah perlahan dengan raut wajahnya yang lesu. Daffa mengetahui semua yang di alami Aldian Ravenka Zaidan sejak kecil. Kehancuran dihidup nya sejak usia 7thn.
Daffa kini duduk di hadapan Aldian Ravenka Zaidan. Dipinggir jendela kamar Aldian Ravenka Zaidan. Daffa tidak membuka suara nya. Ia hanya menemani Aldian Ravenka Zaidan yang nampak merasakan kehancuran nya. Sejak kecil Daffa selalu menemani Aldian Ravenka Zaidan saat hancur.
"Kenapa semua orang dirumah ini melakukan segalanya untuk ku" Seru Aldian Ravenka Zaidan.
"Apa aku tidak bersyukur memiliki kedua orang tua seperti mereka? Yang selalu menyediakan segalanya tanpa aku harus meminta. Menuntut ku harus seperti ini, menentukan segalanya untuk ku. Memarahi ku ketika dalam masalah, menyalahkan kan aku sebagai anak tidak tau diri, memukul ku untuk melampiaskan amarah mereka, menghancurkan segalanya ke utuhan keluarga ini" Kedua mata Aldian Ravenka Zaidan nampak berkaca.
"Kenapa mereka melakukan ini? Mereka tidak selalu ada untukku. Semua hal yang mereka bicarakan kepada ku adalah bisnis. Bisnis dan bisnis, mereka tidak menanyakan perasaan ku, apa mimpi ku, bahkan saat aku demam pun mereka tidak ada disisi ku"
"Kenapa mereka selalu seperti itu, bahkan ketika aku sudah beranjak dewasa pun tetap sama"
Semua terlihat dari kedua bola mata Aldian Ravenka Zaidan mengenai masalalu nya yang sakit dan hancur.
Daffa pun memeluk Aldian Ravenka Zaidan, ketika beranjak bangun menghadap Aldian Ravenka Zaidan.
"Sudah kak, mereka melakukan semua itu ada alasan untuk kehidupanmu kedepannya" Ujar Daffa.
"Tenangkan pikiranmu kak, jangan terus seperti ini, kamu berhak merasakan bahagia meski mereka terus menghancurkan perasaanmu".
Sementara itu disisi lain, Ronal menemui Carissa Rosalie yang terlihat duduk ditemani Narra dan Sella.
Ronal pun berdiri di hadapan Carissa Rosalie. Menunjukkan raut wajah nya, yang kecewa atas sikap nya ke Aldian Ravenka Zaidan.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu seperti itu, kamu tidak bisa menilai ketulusan Aldian Ravenka Zaidan? " Seru Ronal saat berada di hadapan Carissa Rosalie yang nampak menatap nya.
Begitupun Narra dan Sella nampak heran dengan sikap Ronal.
"Jika kamu tidak bisa membalas cinta Aldian, jangan hancur kan perasaan nya"
"Kamu tidak tau tentang Aldian" Jelasnya Ronal.
Carissa Rosalie kini bangun menghadapi Ronal.
"Apa Aldian penting di hidupmu? Segitu marah nya kamu kepadaku" Sahut Carissa Rosalie.
"Aku tidak ingin tau tentang Aldian, aku tidak pernah memaksa Aldian untuk mencintaiku"
"Iya kamu tidak memaksanya untuk mencintaimu, tapi kamu lihat ketulusan nya untukmu"
Narra dan Sella nampak cemas melihat kakak adik ini berantem untuk pertama kali nya. Meskipun mereka se usia tetapi Ronal selalu menggap Carissa Rosalie adalah adik perempuan nya.
"Kamu dicintai ibu, kamu disayangi kami, Tapi apa kamu tau Aldian, tidak merasakan cinta di dalam hidupnya. Sudah merasakan hancur di hidupnya sejak kecil"
"Aku memang tidak mengenal Aldian lama seperti Daffa, tapi aku bisa memahami perasaan Daffa, dan mengetahui semua tentang nya"
"Pahami lah tentang Aldian, jika kalian bersama kalian akan melewati masalah bersama"
"Aku tau keadaan mu Carissa, tapi cobalah buka hatimu"
"Dan ingat, aku kecewa sama kamu" Ronal menunjuk Carissa Rosalie dengan tatapan matanya yang sangat kesal ke Carissa Rosalie.
Carissa Rosalie terdiam mengalihkan pandangannya, Ronal pun beranjak pergi dari hadapan Carissa Rosalie. Narra dan Sella pun beranjak bangun dan menenangkan Carissa Rosalie.
Sementara itu Ronal menuruni anak tangga. Bergegas keluar.
"Setidak nya aku membantu mu" Gumam Ronal yang beranjak keluar.
Hari semakin larut, Aldian Ravenka Zaidan, duduk dibawah ranjang nya, menekuk lutut kanan nya, dan tangan kanan nya yang disandar kan di atas lututnya.
Nampak ia menatap bingkai poto kebersamaan nya 18thn lalu. Saat ulang tahunnya. Semua diperlihatkan momen kebersamaan Aldian Ravenka Zaidan dengan ke utuhan keluarga Aldian Ravenka Zaidan. Hingga awal ke hancuran nya, semua berubah ketika mereka hanya memikirkan bisnisnya yang sedang berjalan lancar.
Hingga saat Aldian Ravenka Zaidan berusia 7thn sang ayah menikah lagi, dan selalu melampiaskan amarah nya begitu pula dengan ibu nya yang hanya memikirkan warisan dan bisnis.
Keduanya menuntut Aldian Ravenka Zaidan masuk kedalam bisnis, sementara sang ayah selalu membanggakan anak dari wanita lain. Dan selalu menggap ibu nya tidak seperti selingkuhan nya mendidik anak nya yang penurut. Dan Aldian Ravenka Zaidan selalu menjadi bahan pelampiasan kekerasan Ayahnya.
Disisi lain Carissa Rosalie tertidur dengan keringat dingin ditubuhnya. Nampak nya Carissa Rosalie tengah bermimpi hingga membuat nya merintih dan kepalanya menggeleng perlahan. Kedua tangan nya menerkam seprai.
Carissa Rosalie berada di dalam mimpinya, ia diperlihatkan, darah yang menyelimuti tubuh seorang wanita, dan rintihan wanita itu.
"Pergiii" Rintihan wanita itu penuh dengan darah berulang kali mengatakan kalimat /Pergi/.
Sementara itu Carissa Rosalie membungkam mulut nya, air matanya mengalir dan menengok kesana kesini ketakutan hingga seseorang memukul Carissa Rosalie dari belakang.
Carissa Rosalie pun terbangun dari mimpinya, ia namapak terlihat sangat syok memimpikan sesuatu yang terjadi padanya.
Carissa Rosalie pun kebawah untuk mengambil air. Ia pun kedapur kedai kopi mengambil air di kulkasnya, lalu ia pun minum dan meletakan gelas ke meja, kedua tangan nya meletakan nya di meja. Terlihat raut wajah yang syok.
Sementara itu Aldian Ravenka Zaidan tiba tengah melihat Carissa Rosalie dari luar jendela kedai kopi. Ia berdiam diri menatap Carissa Rosalie. Saat Carissa Rosalie menyadari seseorang tengah memperhatikannya, Aldian Ravenka Zaidan pun pergi.
Carissa Rosalie membuka mulut nya dan menarik napas menutup matanya, ketika membuka matanya ia melihat Aldian Ravenka Zaidan tengah berdiam diri melihat nya.
"Aldian" Gumam nya setelah melihat Aldian Ravenka Zaidan.
Aldian Ravenka Zaidan terdiam tanpa senyuman, ia pun beranjak pergi. Carissa Rosalie pun beranjak ke hadapan jendela, terlihat Aldian Ravenka Zaidan menaiki motornya bergegas untuk pergi.
Udara dingin dipagi hari menyelimuti kota. Carissa Rosalie berjalan dengan jas coksu yang menyelimuti tubuh nya. Dan selendang hitam melingkari lehernya. Rambut yang terurai rapih, tatapan mata yang indah. Carissa Rosalie berjalan menyelusuri jalanan.
Carissa Rosalie berada di sebuah gedung. Ia menemui seorang menejer bernama Yhura. Seorang wanita berambut pendek dan raut wajah yang tegas.
"Aku ingin mencari tau siapa dalang dibalik kematian Holland" Ujar Carissa Rosalie.
Yhura mendekati Carissa Rosalie. Dan meraih rambut Carissa Rosalie.
"Jika sudah tersangka. Biar waktu yang berjalan" Seru Yhura dengan tatapan matanya yang kejih.
Liam Jammes pun tiba, dan menghampiri Carissa Rosalie dan Yhura. Yhura pun tersenyum.
"Carissa" Seru Liam Jammes setelah berada di hadapan Carissa Rosalie, dan menatap nya.
"Syukur lah kamu kembali"lanjut nya.
Carissa Rosalie pun menatap Liam Jammes.
" Kembali? Bagaimana dia bisa kembali jika semua fans nya membenci Carissa mantanmu " Seru Yhura.
"Carissa, aku turut berduka setelah apa yang menimpah mu selama ini"
"Yhura" Bentak Liam Jammes.
"Carissa tidak salah dalam kasus kematian Holland. Aku melihat Carissa Rosalie terbaring tidak berdaya"
"Bagaimana bisa kamu membela Carissa setelah mengatakan kepada wartawan kamu melihat Carissa disana bersama Holland. Dan kamu tidak mengatakan bukan Carissa dibalik semua kematian Holland"
"Kamu mengatakan, Carissa dan Holland sering bertengkar"
"Cukup Yhura" Ujar Carissa Rosalie. Ia pun maju satu langkah menatap Yhura.
"Aku akan pastikan kamu salah satu dibalik semua kematian Holland"
Yhura merasa dirinya terancam menatap Carissa Rosalie.
"Dan kamu Liam, dia yang kamu cari. Kasihan sekali jadi kamu Yhura, hanya di peralat mesin kesuksesan"
"Kamu bukan laki laki yang tepat untuk semua wanita"
"Aku tau kamu sempat beradu asmara dengan Holland, dan kamu takut ketika Holland tiada kamu menjebak ku, mengatakan aku dan Holland bertengkar karena mu"
"Sungguh hebat alasanmu, menyikirkan kan ku dari perusahaan ini"
Carissa Rosalie pun beranjak pergi, namun Liam Jammes menahan nya dengan menarik tanganya lalu Memeluknya.
"Aku pastikan semua ini hanya salah paham" Seru Liam Jammes.
Dan Yhura merasa kesal dengan apa yang ia lihat di hadapannya. Ia pun beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Carissa Rosalie melepaskan pelukan Liam Jammes.
"Jangan ganggu hidup ku lagi" Ujar nya. Carissa Rosalie kini beranjak pergi.
Saat di lobi, Carissa Rosalie bertemu Sella yang baru saja sampai di tempat ia bekerja sebagai menejer.
"Carissa" Seru Sella dengan wajah heran.
Carissa Rosalie berada dihadapanya dengan raut wajah kesal.
"Hey kenapa? " Sella menarii kedua tangan Carissa Rosalie.
"Aku baru saja menemui Yhura dan Liam. Aku ingin cari tau dalang di balik kematian Holland" Sahut Carissa Rosalie.
"Aku akan membantu kamu, tapi itu semua perlu bukti"
Carissa Rosalie pun menarik nafas. Dan tersenyum.
"Bersabarlah Carissa, aku yakin semua pasti terungkap yang sebenarnya" Ia pun tersenyum melihat Carissa Rosalie.
"Ya sudah, aku ada meeting kita ketemu di tempat mu nanti" Sella melihat jam ditangannya.
Carissa Rosalie tersenyum dan mengangguk.
Diperjalanan pulang Carissa Rosalie melihat motor dari arah nya melaju cepat. Seorang berjas hitam dengan helem motor berbeda.
Carissa Rosalie nampak memperhatikan seseorang tersebut tanpa disadari motor itu melaju mengarahnya. Carissa Rosalie melihat motor mengarahnya terlihat syok namun tidak dapat menghindar, sehingga Aldian Ravenka Zaidan datang dan menariknya menghindari motor tersebut hingga Carissa Rosalie jatuh kepelukan Aldian Ravenka Zaidan dengan kedua matanya yang bertatapan.
Sementara itu motor yang hampir menabrak Carissa Rosalie dengan sengaja berhenti menengok Carissa Rosalie dan Aldian Ravenka Zaidan. Aldian Ravenka Zaidan pun menyadari motor itu berhenti ia pun menyingkirkan Carissa Rosalie dan beranjak bangun untuk mengejar motor itu, namun motor itu bergegas melaju cepat.
"Heii" Teriak Aldian Ravenka Zaidan sambil berlari mengarahnya. Namun motor itu melaju cepat.
Sementara itu Carissa Rosalie melihat Aldian Ravenka Zaidan yang berusaha menangkap orang itu, ia pun beranjak bangun dan membersihkan jas nya dan mengibaskan nya dengan tangan.
"Siall" Gumam nya Aldian Ravenka Zaidan dan kembali berbalik arah menghadap Carissa Rosalie.
Ia pun menghampiri Carissa Rosalie.
"Hati hati lah" Gumam nya setelah berada didepan Carissa Rosalie yang menatap nya.
"Maaf aku mengikuti mu sejak tadi pagi kamu pergi, aku hanya ingin memastikan kamu baik baik saja" Lanjut nya.
Kembali saat tadi pagi Aldian Ravenka Zaidan tiba didepan kedai kopi, ia melihat Carissa Rosalie pergi. Aldian Ravenka Zaidan pun menaruh helem nya di atas motor, dan mengikuti Carissa Rosalie diam diam dari jauh.
Telpon dihandphone nya kini berdering, Aldian Ravenka Zaidan pun mengangkat telpon tersebut dan bergegas pergi tanpa pamit ke Carissa Rosalie hanya dengan menatapnya dingin. Dan Carissa Rosalie berbalik melihat nya pergi.
Sementara itu Narra mendapati Daffa yang tengah berjalan seorang diri, ia pun menubruk Daffa hingga Daffa terkejut melihat Narra di hadapannya.
"Kenapa? " Seru Narra.
"Kaget? " Lanjut nya.
"Mana Handphone mu? " Mengulurkan tangannya.
"Mana" Perintah nya dengan raut wajah kesal.
Daffa melihat raut wajah nya yang terlihat kesal.
"Aku curiga, jangan jangan kamu pacar ku" Sambil melirik kedua bola mata Daffa yang tercengang berdiam disana.
Narra pun memeriksa saku celana Daffa dan juga jaket Daffa. Ia pun menemukan Handphone nya di saku jaket nya. Lalu ketika melihat layar kunci handphone nya terdapat wallpaper wajahnya.
Narra tersenyum melihat wajah nya menjadi wallpaper handphone nya. Daffa pun mengambil Handphone nya. Dengan sigap.
"Kenapa? " Ujar Narra.
"Jangan menghindar"
Daffa terdiam melihat nya.
"Apa kamu gugup dengan ku? "
"Akuu" Seru Daffa.
Narra kini memukul Daffa dengan tas nya. Berulang kali hingga Daffa menunduk dan tangan nya melindunginya dari pukulan Narra.
"Berani nya kamu menghilang setelah bertemu dengan ku" Kalimat Narra terulang kali sambil memukuli Daffa.
"Oii, oii" Rintihan Daffa.
"Apa aku jelek, apa aku gak cantik. Berani nya menghilang" Seru Narra yang masih memukuli Daffa.
Daffa adalah kekasih online selama ini. Keduanya belum pernah bertemu. Karena Daffa dan Aldian Ravenka Zaidan kuliah di Universitas yang berbeda.
Sementara Ronal adalah murid Narra.
Awal pertemuan Ronal, Daffa dan Aldian Ravenka Zaidan. Ketika Ronal di rampas oleh sejumlah preman, Aldian Ravenka Zaidan datang dengan Daffa untuk menolong nya, Aldian Ravenka Zaidan dan Daffa sangat populer di media Sosial, Ronal mengenal mereka berdua sebagai dua serigala. Hingga Ronal menjadi bagian persahabatan keduanya.
Hingga suatu hari Ronal mengajak Daffa dan Aldian Ravenka Zaidan nongkrong di kedai kopi milik adiknya sebagai liburan mereka.
Yang tak lain Carissa Rosalie wanita yang membuat Aldian Ravenka Zaidan jatuh cinta.