Tertangkap Basah

1170 Words
Haruskah Ku Menikah? Part.2 Tertangkap Basah "Eh bos ganteng tuh... Eh sama siapa tuh, calonnya kali ya?" Ucap Mecca kala melihat Zafran memasuki restoran dengan seorang wanita muda dan anak kecil di gandengannya. "Siapa?" Tanya Maira tenang dengan memperhatikan arah penglihatan Mecca. "Itu tuh... Si Bos Zafran, liat tuh dia sama cewek, eh ada anak kecil juga jangan-jangan anaknya tuh, yang katanya nakal banget, dan rumornya kalau mau nikahin bapaknya harus dapet izin dulu dari anaknya. Behhh... Itu tuh ternyata, cantik sih tapi..." Cerocos Mecca sambil tetap mengamati setiap pergerakan bos ganteng yang tengah menuju tempat duduk dekat mereka. "Niat amat, tanya aja gitu, daripada berspekulasi sendiri atau mau gue tanyain?" Tawar Maira menanggapi betapa antusiasnya sang sahabat dengan kehidupan pribadi bos mereka. "Ga usah deh, tebak aja bentar lagi grup w******p bakalan rame nih, gue foto dulu deh" ucap Mecca sembari mencuri foto si bos dengan wanita muda dan anak kecil yang konon adalah anaknya. "Nah loh, gue share ke grup. Biar tambah panas para jomblowati lihat nih foto he he he" ucap Mecca sambil mengetik sesuatu setelah berhasil mengambil foto si bos secara sembunyi-sembunyi. Maira hanya menggeleng-gelengkan kepala lantas kembali fokus pada layar ponsel miliknya. Belum lima menit foto dibagikan, beberapa kali ponsel Mecca berbunyi. Ting ... Ting ... Ting "Eh eh ... Nah kan gue bilang apa... Pasti pada heboh nih grup gara-gara foto si bos barusan" ucapnya setengah berbisik sambil memperlihatkan pemberitahuan w******p group pada Maira. "Iya-iya ... Pasti heboh, udah deh berhenti kepoin hidup pribadi si bos, kalau lo suka, perepet aja gih" ucap Maira menanggapi kelakuan temannya si janda hitam manis beranak satu ini. "Ya elah Ra... Kalau si bos mau mah udah gue jabanin dari dulu, dia nya aja kayak kagak ada minat sama lawan jenis. Anyep tahu gak sih dicuekin mulu.. ha ha ha..." Gelaknya sambil mengeluarkan isi hatinya. Memang selama ini Zafran terlihat sangat acuh terhadap sekitar jika di luar membahas masalah pekerjaan. Hal itu diketahui semua karyawan semenjak sang istri meninggal karena kecelakaan. "Ehm ... Ehm" terdengar suara deheman dari meja sebelah. Maira dan Mecca sontak menoleh pada meja sebelah kanan barat yang mereka tempati. Ya, suara itu berasal dari si bos ganteng alias Zafran. "Eh Pak Zafran, sudah lama pak?" Mecca mencoba menyapa dengan kikuk, jelas sekali gesture tubuh salah tingkahnya. Berbeda dengan Maira yang terlihat santai hanya tersenyum sesaat sekedar menyapa sang atasan lantas fokus dengan hidangan di depannya. "Ya, sejak menyadari bahwa kalian diam-diam mencuri fotoku atau lebih tepatnya foto kami barusan" deg... Pipi Mecca mendadak memanas dan jempol kakinya terasa gatal bersamaan. Begitulah respon tubuh wanita beranak satu ini kala diterpa malu luar biasa. Ting Satu pesan masuk ponsel Mecca, dari Maira 'Rasain lo ha ha ha' Diliriknya Maira yang sedang tersenyum sambil terus menatap layar ponsel miliknya. "Mm... Maaf Pak, tadi gak sengaja.. eh sengaja... Eh maksudnya mau tanya ke teman-teman siapa tahu ada yang kenal siapa yang lagi sama bapak" ucap Mecca terbata tak lagi ia menutup-nutupi toh sudah kepalang basah pula ketahuan Zafran. "Kalian kepo siapa yang sedang bersama sama sekarang?" Tanya Zafran mendekat pada meja Maira dan Mecca. "Maaf pak, bukan kami... Tapi si Mecca aja tuh" ucap Maira santai sambil tersenyum menghadapi di bos yang sedang nampak wajah dinginnya. "Baiklah siapapun itu, toh nanti hal itu akan menjadi konsumsi gosip diantara kalian semua. Entahlah mengapa begitu menarik kehidupan pribadiku bagi kalian. Mungkin aku sangat keren" ucap Zafran bernada sombong. Maira dan Mecca sontak terbengong bersamaan, karena baru kali ini bos dingin itu menampakkan kebanggaan dirinya sendiri terhadap karyawan, biasanya ia akan cuek dan bersikap acuh bagaimanapun karyawan mencari perhatian bahkan terang-terangan menunjukkan ketertarikan padanya. "It's okay, kali ini kalian.. eh maaf kamu, ku maafkan. Tapi lain kali jika kepo dan ingin tahu kehidupan pribadi saya, kalian bisa tanya langsung kepada saya" ucapnya dengan nada ramah disertai senyuman sombong sambil menatap Maira yang masih dengan ekspresi bengongnya. Padahal awalnya ia berbicara dengan Mecca. Aneh sekali. "Lanjutkan makan kalian, dan mereka adalah keluargaku. Ehm, sebaiknya kita bergabung saja bagaimana, agar lebih enak ngobrolnya?" Tawar Zafran kepada Maira dan Mecca, yang mau tak mau diiyakan oleh mereka, karena tak enak hati jika menolak tentunya. "Ini adalah Lastri pengasuh anak saya Raya, Lastri perkenalkan mereka berdua adalah staff di kantor saya. Maira Project Manager, dan Mecca staff keuangan." Ucap Zafran memperkenalkan Lastri si pengasuh anaknya. "Raya, salam buat tante sayang" titah Zafran pada Raya yang tengah sibuk dengan ponsel miliknya. Ia sedang melihat idol K-Pop idolanya. "Salam tante" ucapnya sedikit menoleh dan tersenyum sekejap, selepas itu kembali menatap layar ponsel miliknya. "Ya, begitulah Raya, semenjak kepergian maminya, ia berubah kurang respect terhadap sekitar. Berulang Kali berganti pengasuh, baru Lastri inilah yang cocok dengan Raya, ya... Semoga cocok teruslah" ucap Zafran menjelaskan perihal anak semata wayangnya itu. Tak biasanya ia membaur dengan karyawan lain seperti sekarang. Maira dan Mecca nampak tak nyaman dengan posisi mereka sekarang, namun apa boleh buat. "Gak apa-apa pak, hai Raya.. aku Tante Mecca.. kenalan yuk" ucap Mecca sambil mengulurkan tangan pada Raya. Kentara sekali Mecca sedang mencari kesempatan mendekati anak si bos yang kabarnya nakal luar biasa itu. "Hai juga Tante... " Jawab Raya, sambil ber dadah dadah tanpa menyambut uluran tangan Mecca. "Loh, salaman dong, kan udah Tante Mecca minta salaman" ujar Zafran pada putri kesayangannya itu. "It's okay" Raya lantas mengulurkan tangan dan menjabat tangan Mecca. "Aaaaa...." Sontak Mecca menjerit dan melompat dari kursinya, Raya tertawa terbahak bahak mendapati Mecca yang ketakutan karena cicak karet miliknya. "Raya ... Please, don't it again. It's not funny" tegas Zafran atas perlakuan Raya terhadap Mecca. "No papi... Setiap wanita yang mendekati papi pasti mau ngerebut posisi mami. Dan aku ga akan mau papi cari pengganti mami. I dislike it" ucapnya sambil berlari keluar restoran disusul Lastri yang berlari. Zafran menyugar rambutnya pelan. Gusar sekali ia melihat kelakuan Raya yang selalu bersikap kasar pada teman perempuannya. "It's okay Pak, i'm fine... Itu hanya cicak dan aku hanya kaget." Ucap Mecca sambil tersenyum paksa. "I'm sorry about it. Ya udah... Sebagai gantinya, makan siang kalian aku yang bayar. Dan makanan yang sudah aku pesan, boleh kalian makan juga jika kalian mau tentunya. Aku harus menyusul mereka" ucap Zafran merasa tak enak karena merusak makan siang Maira dan Mecca kali ini. "Rejeki kita dings" ucap Maira saat pesanan Zafran tiba di meja mereka. "Rejeki sih rejeki, gue masih kejer rasanya itu cicak karet nempel di telapak tangan gue.... Eh by the way... Sumpah, anaknya si bos kayak anak-anak di sinetron ya, yang kagak mau dapat ibu tiri" jawab Mecca sambil bergidik membayangkan cicak karet milik Raya. "Nah makanya itu, ibarat kata kalau lo mau bapaknya, langkahi dulu anaknya. Maksud gue ambil dulu hari anaknya" ucap Maira. "Duh, anak gue aja si Doni nakalnya minta ampun, gue pikir-pikir lagi aja deh mau deketin si bos, bisa mati muda gue ngerawat duo bocil yang kelakuannya super super itu" Mecca menanggapi sambil memasukkan potongan sosis bakar, sepertinya itu adalah pesanan si kecil Raya. *** "Aku ga mau punya mami baru pap... Stop" teriak Raya sambil menutupi kedua telinganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD