Bab 5 Bertemu Mantan Kekasih

1973 Words
“Bil-!” Lotta menghentikan langkah mereka yang hendak menuju stage pelaminan untuk memberi ucapan selamat berbahagia ke Aldo dan Dania. Billy memutar pandangan, tampak Lotta resah. “Temenin gue ambil minuman dulu yuk,” Lotta menghela napas, “Gue haus!” imbuhnya singkat lantas menarik sang sepupu meninggalkan barisan tamu yang hendak menuju stage pelaminan. Pria yang hendak menghampiri Lotta menghentikan langkah, lantas mengamati akan kemana istri Kemal tersebut. Begitu tahu, dia menahan diri untuk tidak mendekati sang nyonya yang mengambil segelas air putih dingin dari meja minuman. Tampak mantan kekasih dia meneguk air dengan cepat, lantas menghela napas. “Ta-“ Billy menegur Lotta dengan wajah pilu, “Are you, okay?” ditanya sang sepupu, “Apa mau kita balik ke kamar loe aja? Nanti gue temuin Aldo ama Dania selesai pesta mereka, minta maaf Loe balik ke kamar karena ngga enak badan.” Lotta melambaikan telapak tangannya sejenak di udara, “Ngga, Bill.” Dia menolak usul Billy, “Gue baik aja kok.” Dipasang wajah cerah dengan memaksa tersenyum, diletakan gelas ke meja, lantas mengamit lengan sepupunya, “Ayuk ah, kita temui Aldo ama Dania, kasih selamat karena akhirnya menikah juga setelah living together sedari kita kuliah.” Dania teman satu angkatan Lotta di Kedokteran, berpacaran dengan Aldo dan tinggal bersama sedari kuliah sampai hari ini memutuskan menikah resmi. Hubungan dia dan Dania sangat baik, sebab Dania rekan sejawatnya di Klinik Asih Murni. “Okay!” Billy paham karena juga teman baik Dania, diambil segelas orange juice dari meja, “Gue bawa ini ya, kali aja nanti loe haus lagi pas ditanya mana Kemal sama pengantin.” Dipamerkan gelas itu. Lotta manyun, dikeplak lengan pria itu dengan tangan lain, lantas menghela napas. Billy benar, dia pasti haus lagi karena ditanya mana Kemal sama pengantin. Meski sebenernya pertanyaan itu lumrah saja, sebab pasangan itu tahu Lotta selalu ditemani Kemal jika menghadiri pernikahan seseorang. Bahkan pasangan ini yang tampak harmonis bikin iri banyak orang. “Udah ngga usah mikirin mau jawab apa nanti,” Billy bicara lagi, “Feel free you mind, dear, biasa aja suami atau istri ke kondangan tidak terlihat disisi kita.” Dihibur Lotta. Lotta hanya tersenyum getir, segera membawa mereka melangkah menuju stage pelaminan. Pria yang masih ditemani Dave dan Khadam menghela napas, ‘Sabar ya, Aku segera membuang benalu itu dan memelukmu, Menjadikanmu ratuku yang paling bahagia di dunia ini.’ Dia bertekad mengenyahkan Kemal dan Siska dari kehidupan Lotta dan kembali memeluk perempuan itu. Lantas perlahan kembali melangkah mengarah ke Lotta dan dengan sengaja menabrak istri Kemal itu, di mana saat itu si mantan sedang mengambil gelas dari tangan Billy, hendak meminum orange juice, tapi karena ditabrak, air tersebut terbang mengenai bagian depan suit dia. “Ya Tuhanku!” detik berikut terdengar suara kaget Lotta, “Maaf, maaf-!” dia merasa bersalah ke pria itu yang tersenyum mengamatinya. Tatapan si pria membuat Billy penasaran, diamati dengan teliti. Dia merasa pria itu sengaja menabrak Lotta di saat sang sepupu hendak meneguk air juice. “Tidak mengapa, Nona-“ pria itu sedikit mengibaskan telapak tangan membersihkan suitnya yang terkena orange juice. Dave dan Khadam menahan napas melihat ulah sang atasan yang dengan sengaja menabrak Lotta demi memulai pertemuan setelah enam tahun silam terpaksa mengkhianati Lotta demi Siska tidak terus mengusik Lotta. “Tapi-“ Lotta melihat suit itu basah ternoda air juice, “Suit Anda jadi bernoda juice.” Ditunjuk noda di suit. “Bisa dibasuh kok dengan air.” Pria itu kembali tersenyum, lantas memasang wajah terkejut, “Lotta?!” disebut nama Lotta, “Kamu, Carlotta Emilio kan?” menunjuk istri Kemal itu yang terheran memandangnya akibat menyebut nama tuan putri tersebut. Lotta tercenung, diamati pria dihadapannya ini, membawa dia ke masa kuliah. Masa terindah dia ketika berpacaran sama Harlan Diablo, kakak senior di fakultas Kedokteran sekaligus asisten dosen pembimbing akademik dan pembimbing skripsinya. Sosok Harlan yang gagah berkharisma tidak pernah dilupakan dia sampai sekarang, meski sudah disimpan dalam kotak kenangan masa lalu di sudut hatinya sebab menikah sama Kemal. “Anda-“ perlahan Lotta bersuara, “Anda?” dia merasa kelut menyebut nama Harlan, sebab sejak Siska merebut pria itu dari dia, sudah menetapkan hati tidak mengingat sang mantan. Lantas juga pria itu menghilang dari dia, padahal tanpa setahu dia terus mengikutinya. Menjadi bayangannya. “Jadi benar Kamu itu Carlotta Emilio!” Harlan memasang senyum riang, lantas memeluk Lotta. Didekap sepenuh hati, melepas perasaan rindu yang sekian tahun ditahan demi mewujudkan semua janjinya ke Lotta tanpa setahu Siska. Dia pun selalu mengikuti perjalanan hidup Lotta. ‘Lotta!’ bisik hatinya, ‘Aku sangat merindukanmu! Aku akan melakukan apa pun demi mendapat kembali cintamu.’ Lotta tercenung, kedua tangannya terentang lurus di depan. Mimpi apa dia bertemu mantan kekasih dan langsung dipeluk penuh rasa rindu si mantan? “Ehm-!” Billy berdehem sedikit keras, lantas melepas Lotta dari pelukan Harlan, “Sorry, Harlan.” Disebut nama pria itu sebab sudah mengenalinya, “Lotta sudah nyonya.” Diingatkan bahwa status Lotta seorang nyonya. Harlan tersenyum tipis, dia tidak masalah dengan sikap Billy ini, sebab Billy tidak pernah tahu alasannya melepas Lotta di masa lalu. Billy juga tidak mengetahui selama ini dia mengikuti Lotta. “Bill-!” Lotta menjadi tidak enak sebab nada suara Billy ketus, “Kita sedang dikeramain.” Diingatkan di mana mereka berada saat ini. “Loh, kenapa, Ta?” Billy memandang heran Lotta, “Loe memang Nyonya kan?” “Iya, iya.” Lotta sedikit menepuk-nepuk lengan sang sepupu, “Dia tahu batasan kok.” Ujarnya melirik Harlan, “Dia pasti sudah dengar gue nikah sama Kemal, setelah Kemal lulus kuliah.” Harlan menghela napas, Lotta benar, dia tahu hal itu dan merasa sangat geram. Karena Siska berhasil membuat Kemal mendapat cinta Lotta. Padahal dia tahu Kemal pria pecundang yang mendekati Lotta demi kelak nebeng hidup enak. Sungguh menggelikan, Kemal putra sulung miliuner cukup terkemuka di Indonesia, mengapa ingin nebeng hidup mewah sama Lotta? Karena sang ayah tidak memberinya kehidupan mewah dengan tujuan mendidik dia menjadi pria fighter dalam kehidupan untuk kelak bertanggungjawab penuh menafkahi istri dan anak. “Sorry, Ta, sorry tadi Aku memeluk Kamu.” Harlan dengan gentleman minta maaf ke Lotta, “Semua itu karena Kamu adik kelasku di kampus kita.” Imbuhnya. “Alasen-!” Billy menyela dengan suara sedikit judes, “By the way!” dialihkan pembicaraan sebab lengannya kena cubitan Lotta, “Dania mengundang Kamu juga?” ditanya mengapa Harlan hadir di pesta ini. “Billy!” Lotta kembali sedikit mencubit lengan Billy, “Tentu Dania ngundang karena Harlan kakak kelas kita di fakultas Kedokteran.” Diingatkan tidak perlu bertanya seperti itu, “Dia juga bukan sekedar kakak kelas, tapi asdos Pak Gumilar, pembimbing akademik gue, elo ama Dania di kampus. Dia bantu kita memahami kuliah Pak Gumilar.” Dijabarkan semua kebaikan Harlan di kampus. “Iya, iya-“ Billy menghela napas, Lotta selalu mengingat kebaikan orang, “Tapi jangan lupa-“ dipandang Lotta, “Dia kepergok Satpam Kampus tengah menggoyang Siska di mobil dia yang parkir di basement gedung C.” diingat mengapa Harlan melepas Lotta, “Seluruh Kampus heboh kan? Lantas dia dan Siska menghilang dari Kampus. Lalu berhembus gossip, dia menikahi Siska karena seks panas itu.” Harlan tersenyum tipis, tidak masalah Billy mengatakan semua itu sebab memang satu kenyataan terpahit yang harus dilakukan demi menjauhkan Siska dari Lotta. Jika tidak dilakukan, Siska bukan hanya membuat Lotta gagal sidang skripsi, tapi juga mencelakai tuan putri. “Sudah, sudah-“ Lotta menghentikan kekesalan Billy, “Harlan-“ lantas beralih ke Harlan, “Kamu apa kabarnya? Gimana kabar Siska?” “Hei!” Billy terkesiap mendengar Lotta menyebut nama Siska, “Loe nanya kabar Siska? Hlo! Siska udah muncul kepermukaan setahun lalu dan jadi bestie loe sekarang.” Diingatkan mengapa Lotta menanyakan mengenai Siska. Lotta terhenyak, lantas menghela napas, tersadar salah memberi pertanyaan ke Harlan. “Harlan-!” Billy menegur Harlan, “Jangan-jangan, loe yang nyuruh Siska muncul ke hadapan Lotta setahun lalu?” entah kenapa menuduh pria itu. Harlan menggelengkan kepala, “Bill, gue memang menikahi Siska di masa lalu,” diberi jawaban ke Billy, “Tapi hanya sesaat saja.” Ujarnya padahal sampai sekarang status Siska masih istri dia, meski memang hanya disentuh saat dia ingin seks. Selepas itu dibiarkan Siska sendirian, tapi dipantau. Siska merasa gerah, sebab pula Harlan hanya memberi uang dapur dan uang jajan yang tidak seberapa nilainya. Lantas hanya bisa bergerak ke kantor dan klien karena terus dipantau. Hingga setahun lalu, dia berhasil melarikan diri dari kehidupan Harlan dan membaca berita di salah satu platform social media bahwa Universitas mereka mengadakan reuni akbar untuk beberapa angkatan almamater, termasuk angkatan dia, Kemal dan Lotta. Di reuni itu dia bertemu Lotta dan kesal karena kehidupan Lotta ternyata indah. Lotta dokter prestasi dan tetap putri kesayangan keluarga Emilio. Mulailah dia melakukan aksi untuk menjatuhkan kembali Lotta, musuh lamanya. “I see.” Lotta paham, “Pantas Siska mengatakan dia single.” Baru paham mengapa Siska mengaku single di reunion itu. “Ah sudahlah,” diputuskan tidak memperpanjang membicarakan Siska, “Harlan, Kamu pa kabarnya? Apa sudah jadi dokter spesialis Neurologi Pediatric, bidang studi yang dulu kamu ambil?” Harlan tersenyum, sedikit bahagia karena Lotta tetap mengingat kehidupan dia. “Puji Tuhan, Aku baik dan sudah mendapat spesialis Neurologi Pediatric.” “Selamat kalau begitu.” Lotta memberikan gelas juice ke tangan Billy dan mengulurkan tangan itu ke Harlan, “Lantas-“ dikembangkan pembicaraan setelah berjabatan tangan sejenak sama Harlan, “Kamu praktek di mana? Apa Kamu sudah membangun rumah sakit impianmu saat masih studi?” Harlan kembali tersenyum, Lotta masih mengingat impiannya yang merupakan janji dia ke Lotta. Lotta tidak melanjutkan pertanyaan sebab tersadar bahwa dalam impian itu dia ingin mereka berdua mengelola rumah sakit impiannya. “Aku belum mewujudkan itu, Ta.” Harlan memberi jawaban yang bukan sebenarnya, padahal sih sudah membangun rumah sakit tersebut yang adalah HC Hospital Jakarta. “Aku hanya dokter praktek yang digaji rumah sakit swasta salah satu milik Red Cross region Asia Tenggara.” Dave dan Khadam pelan menghela napas, mengapa atasan mereka berbohong? Meski memang si boss praktek juga di RC Hospital milik Red Cross region Asia Tenggara. “Wow, hebat!” Lotta mendecak kagum tulus, “Aku turut senang mendengar ini.” “Terima kasih, Ta.” Harlan tersenyum, “Kamu sendiri gimana? Apa sudah mengambil spesialis Tumbuh Kembang Anak?” Lotta menganggukan kepala, “Kamu kan tahu Aku sangat konsern ke tumbuh kembang anak, terutama anak-anak Yatim dan Duafa.” “Iya, Aku ingat itu.” Harlan kembali tersenyum, “Lantas apa Kamu sudah mewujudkan impianmu membangun klinik tumbuh kembang khusus untuk anak Yatim dan Duafa?” Mendengar pertanyaan ini, Lotta tercenung, lantas pelan menggelengkan kepala. Karena dia konsentrasi menopang kehidupan dan bisnis Kemal, sehingga menepikan impian itu. Harlan menghela napas, mengenai ini sengaja ditanyakan untuk lebih mengetahui mengapa Lotta belum mewujudkan impian tersebut. Pelan dikepalkan jemari tangan kanan, menahan emosinya yang ingin menghajar Kemal. “Ee, Ta-“ Billy menyela perbicaraan, “Kita jadi ngga nyalamin Aldo ama Dania?” diingatkan perjalanan mereka ke stage pelaminan tertunda. “Ah ya!” Lotta jadi teringat, “Lan!” ditegur Harlan dengan panggilan kesayangan dia dulu ke pria itu, “Aku sama Billy menemui Aldo ama Dania ya.” Dia memutuskan mengakhiri pertemuan ini. “Kalau gitu, kita bareng ya.” Harlan dengan cepat mengutarakan isi pikirannya, “Kan aku juga tamu undangan nikahan pasangan itu dan belum memberi ucapan selamat berbahagia ke mereka.” Ujarnya sebab memang sedari datang hanya mengawasi Lotta. Lantas diraih tangan si mantan, diletakan ke lengannya, “Ayuk, kita salami Aldo ama Dania.” Dengan santai mengajak tuan putri untuk menyalami Aldo dan Dania, kemudian segera melangkah. Lotta terheran-heran, hendak melepaskan tangan dari lengan Harlan, tapi pria ini justru memindahkan tangan itu untuk dikepit. Billy melihat ini melongo, Harlan sepertinya tahu rumahtangga Lotta sedang ada masalah, sehingga berani muncul dan tanpa segan menggandeng Lotta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD