Bab 4 Bersikap Tegas

1918 Words
Di dalam dressing room, Lotta baru selesai menyetrika stelan jas milik Kemal yang akan dipakai sang suami nanti ke pesta pernikahan Aldo. Dia tersenyum karena hasil strikanya rapih. Terbayang pula suaminya menggenakan stelan ini, pasti tampak tampan. Tidak lama dia menghela napas, teringat saat Kemal berasmara panas dalam bath tub dengan seorang wanita. Hatinya terasa kembali sakit. Dimatikan strika uap dengan menekan tombol power off dan meletakan ke atas plat strika di meja. Baru kemudian mencabut kepala kabel strika dari stop kontak dan segera duduk di bangku meja rias. Dari hari pertama mereka di hotel ini, Kemal wara-wiri dengan alasan hendak meninjau beberapa lokasi untuk dijadikan outlet furniture dan kitchen set bikinan K-Har Desainer bisnis sang suami. Kembali dia menghela napas, kini mengetahui bahwa suaminya bukan survey lokasi untuk outlet baru K-Har Desainer, melainkan berasmara dengan wanita selingkuhan itu. Mengapa sang suami begitu tega memberi noda hitam dalam pernikahan cinta mereka? Apa masalahnya karena mereka belum juga memiliki keturunan? Jika demikian, bukan kah mereka bisa mengadopsi anak untuk memancing dia hamil? “Ta-“ Sayup terdengar suara Billy dan sosok itu menyentuh pundak kanan Lotta, membuat sepupunya terkejut. “Ini gue, Ta!” Billy cepat menenangkan Lotta yang terkejut. Lotta menghembuskan napas, merasa lega, lantas memandang sang sepupu yang selalu setia menemani dia dalam keadaan apa pun. Billy duduk di tepi meja rias, “Loe mikirin Kemal, Ta?” lantas bertanya, menerka mengapa Lotta ditemukan melamun. Lotta hanya menghela napas, “Bil-“ ditegur pria itu, “Menurut Loe, gue kurang apa ya?” “Kurang waspada.” Lotta terhenyak, ditatap sepupunya, “Maksud Loe?” “Loe itu dari dulu menganggap semua orang baik, padahal di dunia ini, depan baik belakang menikam. Luar bidadari dalam i****s.” Lotta menghela napas, ini memang kelemahan dia, sebab Daniel dan Lastri mendidik dia untuk selalu think positif ke semua manusia. Padahal Martin, Ruben dan Billy mengatakan tidak begitu keadaan di dunia ini. Manusia ada yang baik, ada yang tidak. Mengapa orangtua mereka mengajari selalu think positif ke semua manusia, agar tumbuh rasa toleransi antar manusia. Ternyata yang dikatakan Martin, Ruben dan Billy benar, dia dikhianatin Siska, lantas dibodohin Kemal selama ini. Billy hendak melanjutkan perkataan tapi dari meja terdengar dering panggilan video pada ponsel Lotta. Diambil ponsel tersebut, hendak direject sebab sudah kadung kesal ke Kemal yang tampak samar-samar di layar ponsel. Lotta kembali menghela napas, diatur emosinya, lantas mengambil ponsel dari tangan Billy dan menjawab panggilan video tersebut. “Ya, Mal?” disapa suaminya sambil kedua mata mengamati disekitar sang suami. “Sayang,” Kemal seperti biasa bersikap mesra, “Maaf ya, Aku tidak pulang untuk lunch sama Kamu.” Dia minta maaf sebab tidak menemui Lotta untuk makan siang bersama, “Sekarang Aku lagi break miting dan kulihat ada baju pesta bagus untuk kamu pakai nanti ke pernikahan Aldo.” Lotta sedikit menahan napasnya, merasa Kemal mampir ke outlet bukan karena melihat ada baju pesta bagus untuk dia, tapi diajak selingkuhan belanja. Kali ini dia tidak lagi percaya kata-kata sang suami. Kemal mengarahkan kamera ke sehelai gaun pesta bermodel off shoulder berwarna biru dongker dari bahan renda lace dan sutra satin. Jika biasanya Lotta akan antusias saat diperlihatkan baju pesta atau satu barang pilihan sang suami, kini dia biasa saja. Billy pun melihat baju itu, sedikit mendengus. Dia tahu Kemal sedang aksi membaik-baiki Lotta, tapi beli baju itu dengan black card Lotta. Jadi begini, Lotta lelah tiap sebentar Kemal minta uang, maka diberikan salah satu black card pribadinya yang bukan pemberian mendiang Daniel. Begitu dikasih black card, Kemal kadang membelikan dia sesuatu dengan kartu sakti itu. Selama ini Lotta hanya mengatakan, “My hubby so tweet!”, meski akhir bulan dia bengek membayar tagihannya. “Gimana, Sayang?” layar ponsel berganti wajah Kemal, di mana pria itu menanti respon Lotta mengenai baju pesta pilihannya. “Bagus.” Lotta menjawab singkat, “Ya sudah, kalau Kamu udah selesai miting, lekas kembali ke hotel dan temani Aku ke salon.” “Sayang=!” Kemal sedikit menghela napas, “Maaf, habis belanja bajumu ini, Aku kembali miting dan sepertinya Kamu ke nikahan Aldo sama Billy aja ya.” Lotta menghela napas, feeling Kemal akan melanjutkan plesiran cinta sama selingkuhan. Betapa ingin dia menyusul suaminya itu, tapi ditahan. Dia tidak mau meledakan emosi di muka umum jika berhasil bertemu muka dengan si selingkuhan. Pantang baginya bertengkar depan umum, apalagi mengenai suami kepergok jalan sama pelakor. “Terserah Kamu saja.” Lotta memberi tanggapan. “Sayang-“ Kemal terkaget, sebab reaksi istri tidak seperti biasanya. Selama ini jika dia mengatakan tidak bisa menemani sang istri, maka akan diberi jawaban manis, “Jangan gitu dong! Aku kan kerja untuk masa depan kita.” Lotta menahan hati, kerja untuk masa depan mereka? Lima tahun suaminya mengembangkan bisnis, secuil hasilnya saja Lotta tidak merasakan. Malah selingkuhan yang menikmati, feeling dia. “Sudah, Mal!” Lotta menghentikan drama Kemal, “Aku mau ke spa sama Billy, jadi Kamu silahkan lanjutkan mitingmu itu.” Diakhiri panggilan video dari sang suami, diberikan ke tangan Billy, lantas segera berdiri dan cepat masuk ke dalam kamar mandi. Pintu pun dikunci dan disandarkan punggung ke sana. Tidak lama air matanya berlinang. Satu tangan meremat kaos bagian depan di tubuhnya. Hati dia teramat sakit saat ini. Bayangan sang suami bercinta panas dengan selingkuhan menari-nari dipelupuk mata. Sementara di outlet, Siska mengeplak lengan Kemal. “Heh!” ditegur judes pria itu, “Ngapain sih Kamu belikan dia baju itu?” menunjuk baju pesta yang tadi perlihatkan ke Lotta, “Aku mengajakmu kemari bukan untuk membelikan dia baju pesta!” “Hei-!” Kemal mengusap saying wajah kesal Siska, “Jangan begitu, Kita perlu tetap baik ke dia, dengan begitu, kita tetap menikmati harta dia.” “Harta yang mana?” “Black card dia lah.” “Black card dengan limit segitu apa nikmatnya?” Kemal menghela napas, black card milik Lotta memang punya limit senilai tiga ratus juta. Memang jumlah yang sedikit bagi Siska yang biasa hidup glamour, meski sebenarnya penghasilan perempuan itu tidak sebesar pendapatan Lotta tiap bulan. Lotta selain mendapat gaji sebagai dokter, juga diberi keuntungan perusahaan Daniel yang dikelola Martin dan Ruben tiap bulan. Keuntungan tersebut paling sedikit tiga ratus juta masuk ke rekening pribadinya. Diluar itu, kedua kakaknya dan Billy selalu mengirim uang jajan dari kocek masing-masing, sebab Billy melapor bahwa Lotta tidak diberi uang itu sama Kemal. Tadinya Martin ingin mendamprat Kemal, tapi Lotta melarang. Lotta tidak mau Kemal tersinggung. Maka ketiga pria itu memutuskan mengirim uang jajan untuk Lotta. Kemal mengetahui itu, perlahan menggerogoti, hingga kemudian ketahuan lagi sama Billy dan dilaporkan ke Martin. Sudah tentu sang kakak sulung naik pitam, mendamprat Kemal, minta adik ipar tahu diri. Setelah itu si kakak minta Lotta datang ke dia jika ingin jajan. Lantas keuntungan perusahaan, dibelikan perhiasan, mobil dan lain oleh kakak sulung itu dan dijadikan harta pribadi si adik. Siska menyilangkan kedua tangan di d***nya yang tampak membuncah dibalik stelan mini dress tank top berwarna merah. “Sudah, sudah-“ Kemal membujuk kekasih gelapnya ini, “Ayo, kita cari baju-baju pesta untukmu ya.” Siska mendengus, terpaksa memadamkan rasa kesalnya, sebab dia belum berhasil membuat Kemal menghamilinya yang mana akan menohok Lotta dengan keras. Bukan hanya menohok, dia akan membuat Lotta menafkahi dia, sebab Kemal pasti minta Lotta ikut menjaga kehamilan dia. Pelan dianggukan kepala. “Gitu dong, saying.” Kemal menjadi lega, dikecup sejenak bibir sang kekasih. *** Billy melirik Lotta yang jalan mengamit lengannya. Tampak sang sepupu cantik berbusana baju pesta pilihan Kemal, sebab pria itu meminta pihak outlet mengirim ke Lotta. Dia menghela napas, mengapa Lotta memakainya? Itu kan menyakiti hati sang sepupu, sudah tahu pasti Kemal membelikan karena sedang mengajak shopping pelakor. Lotta ada pertimbangan yaitu baju tersebut pasti dibeli Kemal dengan black cardnya, jadi mubazir kalau tidak dipakai. Kini mereka sudah berada di dalam ballroom hotel tempat pesta pernikahan Aldo dan Dania dilangsungkan. Tampak di sana sudah berdatangan tamu-tamu. Kedua mata Lotta menyisir ke sekitar, seolah mencari Kemal. Siapa tahu datang dengan selingkuhan yang dicurigai adalah Siska. Namun sosok itu tidak ada, sebab tengah dinner romantic di anjungan yacht yang berlayar ke Malaysia. Kemal ingin bermain judi di casino yang terkenal di Kuala Lumpur ditemani Siska. Sekonyong-konyong ponsel dalam clutch mahal ditangan Lotta bergetar. Cepat dia mengeluarkan alat komunikasi itu dan samar tampak wajah Kemal. Dia menghela napas, disahutin panggilan itu. “Ya, Mal!” “Sayang-“ Kemal memasang senyum sambil merapat ke salah satu daun pintu kabin dalam yacht. “Kamu sama Billy sudah di pestanya Aldo?” “Sudah.” Kedua mata Lotta melihat gerakan suaminya dan mencoba mengenali tempat tersebut, “Kamu di mana?” “Di depan ruang miting, Sayang.” Kening Lotta berkerut, di depan ruang miting? Tapi mengapa pintu di belakang suaminya begitu familiar sama dia? Apa suaminya miting di yacht dia? “Kamu miting di yacht Aku?” dipancing sang suami. Kemal terhenyak, sedikit mengernyitkan mata, tersadar sang istri sangat hapal isi yacht. “Bukan yacht Kamu, Sayang.” Kemal menampik pertanyaan Lotta, “Ini yachtnya Edgar, calon investor K-Har Desainer.” Dikarang cerita sebab Lotta tahu dia masih miting sama klien. “Oo!” Lotta hanya berseru kata O, “Kamu telpon Aku ada apa?” “Sayang,” Kemal kembali memasang senyum, “Maaf, bisa Kamu transfer ke black cardmu sejumlah uang? Aku butuh tambahan sebab malam ini diajak main di casino yacht Edgar.” Lotta sedikit terkaget, “Klienmu mengajakmu main judi?” “Lotta, itu biasa dalam pergaulan bisnis para eksekutif.” Billy mendengar ini mencibir, main judi kok pakai uang istri? Sumpah, sungguh kurangajar Kemal, pikirnya. “Maaf, Mal.” Lotta menghela napas, “Aku tidak bisa menambahnya.” “Kenapa?” Kemal terkejut. Dia minta tambahan agar puas main judi di Casino Kuala Lumpur itu bersama Siska, lantas nanti menghabiskan malam indah di hotel mewah. “Uangku tinggal untuk ongkos pulang ke Jakarta.” Lotta memandang Kemal, “Maaf, kali ini Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu. Aku sudah membiayai semua perjalanan ke Singapura ya. Jadi silahkan Kamu pakai uang pribadimu untuk main judi sama klienmu itu.” Dhuar, Kemal terhenyak. Mengapa sang istri berani mengatakan itu? Bukan kah selama ini, Lotta tidak pernah menolak saat dia minta tambahan limit black card? “Sayang-“ cepat dia mencari jalan lain untuk membuat Lotta mengalah, “Uangku kan dipakai Mamaku untuk bayar kuliah adikku.” Mendengar ini, Lotta sedikit menyungging senyum, “Apa ayah kalian sudah meninggal, sampai selalu Kamu yang bayar kuliah adikmu?” disindir Kemal yang selalu memakai alasan itu jika dia minta suaminya pakai uang pribadi. Kemal terhenyak, ditatap si istri. Tumben sang istri bertanya ketus ke dia? “Sudah, Mal!” Lotta menghela napas, “Aku sama Billy mau menemui Aldo dan Dania ya. Kamu cari sendiri ya tambahan uang untuk main judi itu.” Ujarnya tegas sambil mematikan total ponsel, lantas dimasukan ke dalam clutch. Billy tersenyum, sedikit lega sebab Lotta mulai terbuka mata batinnya agar tidak mudah diperdaya Kemal. Dari kejauhan, tampak pria tampan dengan postur tubuh tinggi atletis tersenyum. Pria itu sedari tadi mengawasi Lotta dan melihat perempuan itu kesal menanggapi panggilan video di ponsel. Dia feeling pasti dari Kemal, suami putri bungsu Daniel itu. Perlahan dia melangkah menuju Lotta. Dave, asistennya mengikuti dari belakang ditemani Khadam ajudan. Kedua mata dia mengamati Lotta yang mengamit lengan Billy. ‘Lotta-‘ bisik hatinya, ‘Akhirnya Aku muncul ke hadapanmu setelah lima tahun berjuang mewujudkan semua janjiku ke Kamu.’ Bibirnya tersenyum, ‘Perlahan, Aku akan memberikan ke Kamu sambil membuang kedua benalu itu dari hidupmu.’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD