Pagi ini, Lotta bangun lebih sebab tidur pun tidak nyaman sama sekali disebelah Kemal. Perbuatan nista sang suami membekas dalam hatinya, sehingga merasa jijik tidur satu ranjang.
Dia segera turun dari tempat tidur, memakai sandal kamar dan bergegas ke kamar mandi. Dipandangi diri depan cermin meja wastafel, terlihatlah wajah dia masih sembab dengan kedua mata kuyu. Dihela napasnya, merasa diberi mimpi terburuk dalam hidupnya.
Bagaimana bisa sang suami yang setia dan dapat diandalkan, ternyata menyelingkuhi dia. Dari cerita Billy, perselingkuhan itu sudah lama terjadi. Begitu rapih Kemal menyimpan dari dia.
Namun, menyimpan bangkai busuk, pasti akan tercium baunya. Yang dilakukan Kemal adalah perbuatan busuk, disimpan rapih seperti apa pun, ternyata diketahui oleh dia. Hanya saja dia tidak melihat siapa perempuan itu, karena posisi Kemal menutupi si pelakor.
Sejurus kemudian, telinganya mendengar suara langkah kaki sang suami. Gegas, disambar sikat gigi elektrik dan pasta gigi, lantas mengoles secukupnya pasta di permukaan b*** sikat.
Ketika Kemal datang, cepat digosok giginya, pandangan kedua mata dibikin seolah tertuju ke gigi yang tengah dibersihkan, padahal mengawasi apa yang akan dilakukan sang suami.
Kedua tangan pria ini memeluk pinggang dia dari belakang, lantas bibir mulai menyapu lembut permukaan tekuk hingga ke sisi-sisi leher.
Jika biasanya yang dilakukan Kemal akan membuat Lotta menggeliat dan memekik manja, kali ini nyonya diam sambil terus menyikat gigi. Bahkan tampak dia sedikit bergidik, teringat bibir sang suami beradu liar dengan wanita itu dalam bath tub. Bibir yang dikira sejak mereka berpacaran hanya diadu ke bibir dia saja, tapi ternyata semalam bibir itu merambah ganas bibir wanita lain.
Kedua mata dia terus mengawasi Kemal, terlihat suaminya biasa saja memberi dia kemesraan kecil di pagi hari. Apakah sang suami tidak merasa bersalah sudah bermain cinta dibelakang dia, meski semisal dia tidak mengetahui hal itu?
Dia terkesiap sebab sekarang tangan Kemal menurunkan tali baju tidur dari kedua pundak mulusnya. Gegas, dihentikan menyikat gigi dan berkumur. Bukan karena ingin menikmati kemesraan lanjutan yang ditawarkan suaminya. Dia ingin menjauh dari pria itu.
Kedua mata sesekali mengawasi suaminya dan ketika tangan kekar itu hendak melorotkan baju tidur dari tubuh sintal milik dia, gegas, ditangkap tangan tersebut lalu menaikan kembali satu persatu tali baju ke pundak.
Reaksi tidak biasa dari Lotta membuat Kemal sedikit terheran. Biasanya sang istri membiarkan dia menanggalkan baju tidur tersebut, sebab tahu dia ingin melakukan penyegaran rohani pagi.
Lotta pun kini segera keluar dari depan tubuhnya sambil menyambar kimono handuk dari meja wastafel.
“Aku-“
Sang istri memasang kimono sambil memandangnya.
“Siapkan minuman hangat untuk kita ya.” Itu alasan dia agar bisa meninggalkan Kemal, “Sekalian menunggu Billy membawakan breakfast kita.” Imbuhnya, karena semalam memang Billy menjanjikan mengantar sarapan untuk dia, lantas tergesa beranjak dari hadapan suaminya.
Kemal tercengang, ada apa sama sang istri pagi ini? Tidak biasa, istrinya bersikap seperti ini, tidak mau dimesrain olehnya dan tergesa pergi. Lantas dia menghela napas..
“Lotta mungkin mau datang bulan.” Dipikir sikap Lotta karena menjelang datang bulan. “Tidak mengapalah, kan Aku ada yang lain, jadi tidak masalah Lotta pms ngga mau kumesrain.” Ujarnya dengan wajah menyungging senyuman.
Sedangkan Lotta, dia sudah sampai di ruang tengah. Menghempaskan b****g di permukaan sofa panjang sambil mengatur napasnya yang sedikit memburu. Dalam benak dia terus terbayang kemesraan Kemal semalam dengan wanita itu dan bisa-bisanya pagi ini sang suami ingin mesrain dia.
Apa kurang puaskah bercinta dengan wanita itu? Bukankah semalam sang suami begitu perkasa dan ganas menggumuli si wanita? Atau ingin menutupi perbuatan nista itu dengan memberinya kemesraan pula?
Tubuh Lotta menjadi bergidik, diusap-usap lengannya. Betapa sakit hati dia sebab tubuh kekar sang suami sudah dibagi ke wanita lain.
Sejurus kemudian dari arah pintu terdengar dering bel dan kemudian suara perempuan menyapa dari intercom.
“Hallo! Lotta! Ini, gue, Siska!”
Lotta mengenali suara tersebut, keningnya sedikit berkerut, mengapa sahabat dia kemari? Bukan kah di Jakarta, karena sang teman banyak tugas di kantor?
Di masa Lotta masih kuliah Kedokteran, dia bersahabat dengan Siska Azhari, mahasiswi Fakultas Management Bisnis. Persahabatan itu sempat hancur karena Siska merebut Harlan, kekasih Lotta.
Setahun silam menyambung lagi karena mereka bertemu di pesta reuni akbar kampus mereka dan sama-sama merindukan untuk bersahabat lagi. Status Siska masih jomblo, padahal punya karir bagus sebagai direktur pemasaran di AZ Company, perusahaan milik ayah perempuan itu.
Dia dan Siska sama-sama putri billionaire, tapi yang membedakan adalah, dia selalu tampil sederhana dan bersahaja. Ke kampus ngebis, bahkan tidak segan menyewa ojek pangkalan dekat kampus. Meski sesekali kedua kakak dia suka bergantian mengantar atau menjemputnya.
Sedangkan Siska, mengemudikan mobil sedan mewah ke kampus. Penampilan selalu seksi dan sedikit glamour. Dalam sekejap, Siska menjadi salah satu kembang kampus. Sangat banyak pria menginginkan perempuan itu, termasuk Kemal dulu. Sayangnya Siska merebut Harlan, salah satu pria tertampan di kampus yang adalah pacar Lotta.
Lotta segera berdiri dan menghampiri pintu. Tidak lama saat pintu dibukanya tampak sosok seksi Siska.
“Hai, bestieku!” seru perempuan itu dengan riang seperti biasa. Siska memang periang, beda sama Lotta yang kalem. “Ada apa, Beib?” lantas terheran sebab Lotta memandangnya dengan bingung.
“Loe-“ Lotta pun bicara, “Bukannya banyak kerjaan di Jakarta?” lantas mengemukan mengapa dia tampak bingung, “Karena banyak kerjaan itu, loe bilang kemungkinan ngga datang ke kawinan Aldo.”
Siska terkesiap, dua hari lalu, dia mengantar Lotta dan Kemal ke bandara Soetta, karena seperti biasa Lotta tidak mau ke Singapura dengan pesawat jet pribadi sang nyonya Kemal tersebut.
Lotta lebih suka naik pesawat umum dengan memesan kursi eksekutif saja. Menurut dia, Singapura dekat sama Jakarta, untuk apa ke sana dengan pesawat jet pribadi. Lain soal kalau dia harus terbang ke Beijing untuk pelatihan medis.
Semua ini karena pendidikan Daniel, sang ayah. Dulu sebelum Lotta lahir, si ayah dan istri hidup dalam ekonomi sulit. Tapi ayahnya giat bekerja sebagai driver Tuan Sahid dan ibu berjualan lauk cepat saji depan rumah mereka yang sederhana. Satu hari, Tuan Sahid memberhentikan ayah dari pekerjaan dan menugaskan bekerja di bagian administrasi pemasaran perusahaan tuan tersebut.
Sebab Daniel lulusan sarjana strata satu bisnis manajemen dan selama bekerja sebagai driver sering membantu Manolo asisten Tuan Sahid dalam mengerjakan pembukuan dan administrasi perusahaan.
Keuletan dan kejujuran Daniel berbuah manis, karirnya meningkat ke posisi manajer pemasaran. Lantas sebagian gaji dibikin bisnis rumah makan dan bengkel motor. Kemudian Lotta lahir, karir ayah naik ke posisi direktur pemasaran. Bisnis pribadi pun meningkat pesat. Hingga ayah memutuskan berhenti kerja dan focus mengembangkan bisnis.
Ternyata kerja keras berbuah sangat manis, Daniel berhasil menjadi billionaire terkemuka, tapi tetap hidup sederhana. Pria ini pun sukses mendidik akhlak istri dan ketiga anak agar terbiasa hidup sederhana.
“Ooo!” Siska baru paham mengapa Lotta heran melihatnya, “Setelah loe berangkat, gue merasa ngga enak ke elo ama Aldo.”
Lotta membawa masuk Siska ke dalam, pintu ditutup rapat dan mereka mengobrol di ruang tengah. Siska meletakan paper shopping bag ke atas meja.
“Ngga enak kenapa, Sis?” Lotta penasaran apa kelanjutan kalimat yang dikatakan Siska.
“Loe kan dalam lauching HC Hospital dipromosikan menjadi dokter kepala bidang anak dan remaja rumah sakit itu yang di Jakarta.”
Siska benar, dalam launching kemarin, Lotta memang dipromosikan sebagai dokter kepala bidang anak dan remaja untuk HC Hospital Pusat yaitu di Jakarta.
“Lantas?” Lotta berdiri, “Gue bikin minuman hangat dulu untuk laki gue ya.” Dia pamit sejenak ke Siska, “Loe pengen gue bikini minuman apa?”
“Gue ikut ke pantry, Beib, bikin sendiri saja minumannya.” Siska segera berdiri, lalu menggiring mereka berdua ke pantry.
Kening Lotta sedikit berkerut, mengapa Siska tahu letak pantry di sini, bukan kah baru sekarang kemari? Tapi tidak dipertanyakan, sebab dia bukan tipikal orang yang mudah penasaran. Keningnya kembali berkerut karena begitu mereka di pantry, sahabatnya langsung mengeluarkan toples kopi, gula sampai menjerang air ke dalam teko listrik.
Meski pun Siska suka menginap di kamar Suite Room, tapi tiap kamar pasti berbeda letak tata ruangnya. Mengapa Siska tahu letak pantry, kemudian mengetahui pula dimana Lotta menyimpan toples minuman dan teko tersebut di pantry. Lotta membawa semua itu dari Jakarta, biar hemat tidak usah pesan dari kitchen hotel.
Namun, sekali lagi, Lotta tidak mempertanyakan. Hanya mengamati Siska yang dengan luwes meracik bubuk kopi dan gula ke tiga cangkir, bahkan tahu takaran racikan untuk minuman hangat Kemal.
“Sayang-!”
Dari arah pintu penghubung terdengar suara Kemal.
Entah kenapa Siska yang menyahut.
“Aku di dapur, Sayang!”
Kedua mata Lotta tampak terkaget, karena Kemal kan tidak tahu Siska datang? Lantas pasti suaminya berseru memanggil dia, sebab sang suami tahu dia di sini untuk bikin minuman hangat mereka.
Kemudian sosok tampan suaminya muncul di dapur, entah mengapa pula Siska hendak bergerak mendekati pria itu.
“Ehm-!” terdengar deheman Kemal, “Eee!” serunya memasang wajah surpraise, “Ada Siska!” seolah baru tahu kedatangan Siska, sambil kedua mata dilirikan ke Lotta yang mengamati dia.
Siska terkesiap, buru-buru menyahut.
“Sorry, Mal, sorry!” kekehnya, “Gue ngedadak datang, karena gue pengen ngerayain keberhasilan Lotta mendapat posisi bagus di HC Hospital.” Ocehnya panjang dengan memasang senyuman di wajah.
“I see!” Kemal paham, mendekati Lotta, dirangkul mesra pinggang sang istri dengan satu tangan, “Sayang!” diajak istrinya bicara, “Kamu punya sahabat yang baik selain Billy.” Dilirik Siska yang mematikan tombol power pada bagian bawah teko listrik, “Dia lebih mementingkan kamu dari pekerjaannya di kantor.”
Lotta tidak menyahut sebab kembali teringat Kemal yang bermesraan sama wanita di bath tub. Dia juga tidak lagi mengawasi Siska. Sahabatnya mendekati dia, merangkul sisi pinggang lainnya dari belakang.
“Pasti dong gue bestie yang baik untuk Lotta.” Siska memandang Lotta, “Loe kenapa, Beib?” dilihat Lotta tidak antusias menyambut perkataan dia tadi.
Lotta melepaskan diri dari kedua orang ini, segera melanjutkan pekerjaan yang ditinggal Siska yaitu membuat minuman hangat. Dia tidak menyadari kalau Kemal mengecup sejenak bibir seksi Siska.