“Kamu saya pecat.” Naura yang baru saja tiba di depan toko roti tempatnya bekerja mendapatkan suguhan kalimat bak petir.
“Tapi, Mbak. Aku --.”
“Aku apa? Ijin hampir tiap hari? Kita tuh gak suka ya punya karyawan pemalas seperti itu.”
“Mbak, mohon maaf. Kasih Naura kesempatan untuk kerja kembali!”
“Tidak.”
Naura terdiam. Ia menarik nafas panjang, mencoba mengatur paru-parunya yang terasa sesak.
Bukan karena polusi kendaraan di sekitar, melainkan pikirannya yang terus dihujam bertubi-tubi.
“Tidak usah minta pesangon, dan jangan minta gajimu dua Minggu ini. Kerja saja cuma beberapa hari banyak liburnya, masa minta upah.” Pemilik toko itu langsung menutup keras pintunya. Ia membiarkan Naura yang masih mematung.
“Sial, semua gara-gara pria itu,” umpatnya. Wanita lugu yang berasal dari desa itu terus mengumpat secara kasar. Padahal, dulunya ia adalah wanita yang santun.
Naura berjalan tidak tentu arah sambil menoleh ke arah kanan dan kiri, berharap sebuah peluang untuk dia bisa bekerja. Waktu terus berjalan dan dia butuh uang untuk makan sehari-harinya. Belum juga tempat kosnya yang bentar lagi tiba waktu cicilan.
Terbesit dalam pikiran untuk kembali hidup di desa bersama neneknya. Hidup di kota tidak bersahabat padanya. Namun, harapan neneknya membuatnya urung. Wanita yang menjadi satu-satunya keluarganya itu selalu berharap kalau Naura bisa sukses dan menggapai cita-citanya.
“Apa aku pakai uang itu ya untuk sementara waktu?” ucap Naura lirih dengan segala pertimbangan.
“Tidak, tidak, tidak, dengan aku memakai uang itu sama saja aku menjual diriku kepada pria b***t itu. Aku tak ubahnya seorang wanita penghibur yang kesuciannya bisa dibayar dengan angka.” Naura menjawab sendiri pertanyaannya.
Uang dalam koper yang diberikan pria itu belum pernah disentuh sama sekali. Bahkan, ia pun tidak tahu berapa nominal di dalamnya.
“Butuh cepat, seorang cleaning service.” Naura membaca sebuah kertas yang menempel pada dinding jalanan. Pikirannya langsung berpikir cepat. Sepertinya, itu adalah jawaban dari doanya barusan. Buru-buru ia mencatat no telfon di dalamnya, pun perusahaan yang membuka lowongan tersebut. Tidak banyak persyaratan memang, hanya siap bekerja di bawah tekanan.
Esoknya, Naura bersiap-siap untuk melamar pekerjaan tersebut. Dikenakannya kemeja berwarna pastel dengan bawahan berwarna senada. Tak banyak persiapan, hanya mengandalkan keberuntungan.
“Untung hari ini jam kelasku kosong,” ucap Naura. “Sepertinya ini memang jalan takdirku, jawaban doaku. Tuhan mempermudah apa yang aku mau,” imbuhnya lagi.
Naura masuk ke kantor tersebut dengan penuh keyakinan. Sebuah perusahaan besar dengan gedung yang begitu luas dan menjulang tinggi.
“Kalau persyaratan cuma sekedar bisa bekerja di bawah tekanan, tentu aku sanggup. Aku sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Lagian, aneh juga, sebuah perusahaan besar tapi tidak memberikan syarat yang rumit.”
***
Naura dibuat takjub oleh perusahaan yang dipijakinya saat ini. Lantainya bersih dan mengkilat dengan ornamen-ornamen bagus dan tentunya mahal. Para karyawan terlihat begitu rapi, pun wanginya yang seakan terus menguar ke dalam indra penciuman.
Usai menjawab banyak pertanyaan dari HRD, akhirnya Naura diterima. Besok adalah hari pertama dia bekerja. Terlebih lagi, HRD itu mengijinkan jika bekerjanya hanya paruh waktu.
“Terima kasih, Pak,” ucap Naura dengan senyuman. Ia ke luar dari ruangan tersebut dengan hati yang berbunga-bunga.
“Minggir, minggir,” ucap seseorang yang mengalihkan fokusnya. Suara yang terdengar tidak asing di telinganya. Naura melihat ke sumber suara, ia melihat seorang pria dikeremuni banyak orang.
“Pria itu?” ucapnya kaget. Buru-buru ia mengejar pria berpenampila rapi yang menjadi sumber mala petakanya. Sayang pria tersebut tidak terkejar. Ia masuk ke dalam mobil dan berlalu.
“Laki-laki kurang ajar, awas kau!” Naura berteriak. Namun, tidak cukup sampai ke pada pria yang dimaksud. Mobil itu terus melaju dengan begitu kencang.
***
Hari pertama kerja, Naura begitu bahagia. Semangat kerjanya masih ter-charge penuh. Ia melakukan banyak hal dengan penuh semangat. Untungnya, mual-mual kehamilannya sudah tidak terasa lagi.
“Ra, kamu dapat tugas buat bersihin ruangannya Direktur perusahaan ini.”
“Aku?” tanya Naura kaget. Ia tidak menyangka jika anak baru sepertinya sudah dibebani oleh hal besar seperti itu. Terlebih lagi hari ini ia sudah membersihkan banyak ruangan. Entah itu karena job disk nya atau pun akal-akalan teman seprofesinya pun tidak tahu.
“Kan sudah dijelasin di awal, siap bekerja di bawah tekanan,” imbuh kepala cleaning service kembali.
Naura mengangguk dengan senyuman. Apa pun bakal dijabanin asal bisa memenuhi kebutuhannya di kota juga biaya kuliahnya. Meskipun dia dapat bea siswa gratis tapi tetap saja untuk pembuatan makalah dan sejenisnya harus menggunakan kantong pribadi. Sedang perusahaan ini menawarkan gaji yang cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhannya.
Naura diantar oleh salah satu temannya menuju ruang yang dimaksud. Ia dipersilakan masuk sendiri dan langsung ditinggal begitu saja.
“Bos kita itu galak. Jadi kerjakan tugasmu dengan benar. Oh ya, biasanya pak bos bakal datang pukul 8 tepat, jadi pastikan di jam itu semua telah selesai.” Kalimat dari kepala OB terus terngiang dalam pikirannya.
“Permisi, saya masuk.” Naura mengetuk pintu dan mebuka pintu itu dengan ragu. Meskipun ia tahu di dalamnya tidak ada siapa pun, tetap saja ia merasa berkewajiban melakukan hal tersebut. Permisi karena memasuki suatu tempat yang bukan miliknya.
“Ini kantor atau kamar hotel? Indah banget. Ruangannya pun luas melebihi rumah terkaya di kampungku,” ucap Naura yang dibuat takjub dengan ruangan tersebut.
“Lantainya saja bisa buat cermin,” ucapnya kembali sambil melihat dirinya dalam pantulan lantai marmer yang dipijaki.
“Ish, ish, ish, butuh berapa banyak uang untuk buat ruangan seperti ini? Ratusan juta? Enggak-enggak, kayaknya lebih.” Naura terus dibuat takjub dengan ruangan tersebut. Matanya terus memutar mengelililingi tempat itu.
“Kerja, Naura. Bukan office tour,” ucapnya kembali yang membuatnya tersenyum sendiri. Ia lalu melakukan tugasnya, mulai dari menyapu, mengepel, juga merapikan kertas-kertas yang menumpuk di atas meja.
“Apa semua orang kaya itu malas untuk merapikan barang miliknya sendiri ya? Meja saja dibiarkan seberantakan ini,” ucapnya sambil menggelengkan kepala.
Tak hanya itu, Naura juga mengelap semua furniture yang ada di dalamnya. Dari figura yang bergambarkan ikan koi, juga guci-guci mahal yang berada di sudut ruangan.
“Gucci seperti ini hanganya berapa ya? Ratusan juta, atau lebih? Andai aku memecahkan satu, mati deh riwayatku,” ucap Naura sambil mengelap benda mahal tersebut.
“Eh, eh, eh.” Pegangan Naura ke Gucci terlepas. Benda belah kaca itu hampir terjatuh. Buru-buru ia menangkapnya kembali. Namun, satu ujung atasnya terbentur ke lantai hingga rusak secuil.
“Ya Tuhan, bagaimana ini?” tanyanya bingung. Keringat sebiji jagung itu langsung memenuhi dahinya. Padahal, AC di ruangan itu sangatlah dingin.
Suara pintu berderit. Ia menoleh ke sumber suara. Lalu membulatkan mata dengan begitu lebar. “Kamu …!”