Bab 3. Pingsan

1110 Words
“Kamu ?!” Mereka saling menatap dengan sorotan mata yang tajam. “Dasar pria b***t. Pria kurang ajar. Pria tidak tahu diri.” Naura mendekat ke arah pria tersebut, hendak memukulnya. Sayang, tenaganya tak cukup untuk menyakiti. Beberapa kali pukulan melayang tapi tak sedikitpun pria tersebut merasa kesakitan. “Mau kamu apa? Ha?” tanya Naura dengan sisa tenaganya. Wanita tersebut telah kehabisan banyak tenaga hari ini, baik tenaga fisik mau pun pikirannya. “Mau aku --” Belum juga pria itu melanjutkan kalimatnya, mata Naura berubah menjadi sayu, di detik kemudian matanya menutup, tubuhnya terkulai lemas, dan dengan cepat pria tersebut menangkap tubuh kecil itu. “What? Kamu pura-pura, 'kan?” tanya pria itu sambil menggerakkan tubuh Naura dalam pelukannya. “Gak lucu tahu. Kamu tahu, sejak hari itu aku mencarimu. Tapi kamu kayak ditelan bumi. Apa kamu pergi ke got tikus?” tanya pria itu masih dalam posisi yang sama. “Ah, merepotkan saja kamu.” Pria itu berdecak kesal. *** “Pak, ternyata wanita itu menunggu di rumahnya. Kami salah tangkap orang.” Baskoro melapor dengan wajah gelagapan. “Apa? Terus siapa wanita yang kamu bawa kemarin?” “Saya juga tidak tahu, Pak. Wanita tersebut mengangkat panggilan dariku, jadi saya pikir dia wanita yang dimaksud.” “Ceroboh sekali kamu.” “Uang yang diberikan kepada keluarga tersebut sudah saya minta kembali, Pak.” “Bukan masalah uang itu, Bas. Tapi kamu tahu? Saya merusak masa depan wanita yang sama sekali tidak saya kenal. Dia masih perawan.” Baskoro menahan senyum, “Justru itu masa depan yang bagus buat wanita tersebut, Pak. Ia bakal mengandung anak bapak, seorang pewaris perusahaan besar. Kalau dia masih perawan, justru bagus dong, Pak. Bapak dapat bibit yang layak.” “Banyak sekali bicara kamu. Cepat cari wanita tersebut!” Sky yang sedang duduk melamun di sofa rumah sakit kini tersadar ketika seorang wanita bangun dari pingsannya. “Aku ada di mana? Kenapa pusing sekali?” Naura menatap ke sekeliling. Infus yang terhubung ke punggung tangannya, meja yang tersaji buah, juga dinding khas rumah sakit. Sayup-sayup terlihat orang yang mendekat ke arahnya, hingga wajah tersebut tergambar jelas daam kornea mata coklatnya. “Kamu?!” ucapnya dengan mata membulat. “Jangan emosi dulu! Jangan marah-marah, kamu lagi mengandung.” Naura yang tersulut amarah, kini semakin menjadi-jadi. Ia memaki-maki Sky dan juga berteriak meminta tolong. “Hust.” Sky membekap mulut Naura. “Please, tolong hentikan! Apa kamu tidak malu jika banyak orang ke sini?” “Hm, hm, hm.” Naura yang dibekap, tidak bisa berbicara dengan jelas. “Saya lepaskan tangan saya. Tapi janji jangan berteriak-teriak,” ucap Sky. Naura mengangguk. Perlahan Sky melepas bekapan tersebut, lalu membuang nafas kasar. “Kamu harus tanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan!” ucap Naura dengan nafas yang memburu. Wajah kekesalan tergambar dengan jelas. “Saya pasti bertanggung jawab. Saya akan cukupi uang kebutuhanmu sampai anak itu lahir.” Naura mengernyitkan dahinya, “Sampai anak ini lahir?” “Iya. Maumu bagaimana? Setelah anak itu lahir, ia akan tinggal bersama saya. Kamu kembali urus hidupmu sendiri.” “Enggak, enggak bisa. Kamu mau misahin anak itu dari ibunya? Hello, orang macam apa kamu itu?” “Dari pada saya membiarkanmu begitu saja? Tidur di kos sempit, kerja di toko roti. Oh, tidak, saya salah. Dari pada kerja sebagai cleaning service? Saya tahu, kamu butuh banyak uang saat ini. Nenekmu di desa sedang sakit. Penyakit jantungnya kambuh. Terus kalau tahu kamu hamil, dia bakal ….” “Cukup.” “Kita buat kesepakatan. Saya akan mencukupi semua kebutuhanmu dan memberimu bonus sampai anak itu lahir. Setelahnya, anak itu buat saya. Kamu gak punya hak apa-apa." Naura mengernyitkan dahi dengan sorotan tatapan tajam. "Saya sudah buatkan surat perjanjian. Tanda tangani segera!” Sky menyodorkan sebuah kertas dan juga pena. Naura tidak bergeming. Ia masih dalam posisi yang sama. “Masih gak mau tanda tangan? Ok, saya hubungi nenekmu. Kira-kira apa yang terjadi kalau tahu cucu kesayangannya sedang mengandung.” Naura masih terdiam. Ia yakin sekali kalau apa yang dilakukan Sky adalah gertakan saja. Hingga tak lama kemudian, Sky mengambil ponsel dalam sakunya dan menelfon seseorang. “Nduk Naura.” Suara khas neneknya itu terdengar jelas. Sky memang sengaja melakukan video call dengan suara yang ditinggikan. “Nenek," ucap Naura usai Sky menghadapkan kamera itu ke arah wanita cantik yang duduk di blankar rumah sakit. “Nenek apa kabar?” tanya Naura sambil menahan air mata agar tak runtuh. Satu-satunya keluarganya itu sedang duduk dengan selang oksigen di hidungnya. “Aku sudah baik, Nduk. Keluarga suamimu merawat nenek dengan baik. Kamu nikah kenapa gak bilang-bilang?” Naura yang kebingungan menoleh ke arah Sky. Pria itu mengkerdipakan matanya. Hingga menit berikutnya Naura mematikan panggilan tersebut. “Masih tidak mau tanda tangan juga?" tanya Sky geregetan. “Saya akan cabut nenekmu dari perawatan rumah sakit. Akan saya kasih tahu juga kalau kita belum menikah, biar nenekmu tahu kalau kamu hamil tanpa suami.” “Jangan, jangan! Aku tanda tangan,” ucap Naura berat. Ia menarik nafas panjang, hingga akhirnya membubuhkan tanda tangan di atas materai. “George Sky Atmaja, itu nama kamu?” tanya Naura ketika membaca surat perjanjian tersebut. Sebuah surat nikah kontrak hingga sampai anak yang dikandung Naura lahir. “Iya. Saya Sky.” Pria berpenampilan rapi dengan kemeja garis itu mengangkat tangannya. Naura terdiam. Ia tidak tertarik membalas jabat tangan tersebut. “Kamu Naura. Saya juga tahu,” ucap Sky kesal sambil menarik kembali lengannya. “Buang-buang waktu saja, menunggu tanda tangan orang miskin sepertimu. Kenapa tidak dari tadi.” Naura mengernyitkan dahi. Dua alisnya tertaut dengan muka memerah, “Dasar laki-laki sombong. Roda itu terus berputar, jangan sok-sokan paling kaya deh. Aku yang akan tertawa paling keras ketika rodamu berputar ke bawah.” Sky tersenyum dingin, “Sayangnya itu tidak akan terjadi. Kekayaanku saja, bisa untuk sepuluh kali turunan. Bahkan jika kamu reinkarnasi pun, kamu tetap akan mendapati diriku yang selalu menjadi orang kaya.” Sky meninggalkan Naura dengan senyum puas. Niatnya memiliki anak dari bibitnya akan terpenuhi juga. Kini, ia akan meneruskan rencana-rencana lain yang sudah diatur rapi . *** Naura yang duduk di blankar rumah sakit kini merasakan lapar. Apalagi, dia hanya sarapan sedikit saat berangkat bekerja pagi tadi, uangnya yang pas-pasan harus membuatnya hemat sedemikian rupa. “Ada banyak buah,” ucapnya senang ketika melihat parcel buah berada di meja sebelahnya. Buru-buru ia meraih dan memakannya satu persatu. Pisang sunfride yang dulunya hanya sebatas mimpi, kini bisa dinikmati. Pun buah Anggur merah yang rasanya begitu manis. Sedangkan di sisi lain, Sky tersenyum tipis sambil melihat ponselnya. Ia menatap Naura yang lahap memakan buah melewati cctv yang disambungkan ke ponselnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD