Bab 4. Kelaparan

1108 Words
“Mau dibawa ke mana aku?" tanya Naura ketika lengannya dtarik oleh Sky. Tak menjawab, Sky hanya menoleh sebentar dan kembali melangkahkan kaki dengan menarik lengan Naura. “Woy, Pak sombong, aku ini lagi ngajak bicara kamu. Kamu tuli?" tanya Naura kesal. Tak menjawab. Sky pun sama sekali tak menoleh. “Dasar orang kaya yang sok banget. Aku doain kamu miskin tujuh turunan biar gak sombong, biar lebih memanusiakan orang.” Naura terus mengomel hingga akhirnya Sky menghentikan langkahnya. “Eh eh, ngapain? Mau apa?" tanya Naura kaget ketika tiba-tiba tubuhnya dibopong oleh pria yang tadinya menarik lengannya dengan kasar. “Bicara sekali lagi, saya tutup mulutmu pakai lakban.” “Dasar, pria tak tahu diri. Turunkan aku!” Naura yang terus memeberontak dan menjerit berhasil mencuri perhatian sekeliling.Sky mau tak mau akirnya menurunkan Naura kembali. Keluarga pasien atau pun petugas rumh sakit yang lewat hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang kayak bocil. “Pengantin baru tuh kayaknya. Biasa lah, sok-sok ngambek dan perang dingin. Nyatanya cinta.” Naura mendelik ke arah sumber suara. Dua perawat menoleh ke arahnya dengan tersenyum “Eh, apa – apaan I --.” Naura tak mampu melanjutkan kalimatnya karena sebuah lakban berhasil menutup mulutnya yang dari tadi terus berbunyi “Diam atau aku apa-apain kamu lagi seperti beberapa bulan lalu.” Naura langsung terdiam di detik itu juga. Memorinya tentang hal itu masih melekat kuat dalam bayangan. “Ok,” ucap Naura dengan membuat kode dengan tangannya, karena mulutnya masih tertutup lakban. Dan … “Au.” Naura memekik kesakitan ketika lakban itu dilepas cepat oleh Sky. Masih dengan kalimat mengaduh, Naura kembali dibopong dan dimasukkan mobil oleh Sky. *** “Ini di mana?” tanya Naura bingung. Ia dimasukkan ke sebuah tempat dan dikunci dari dalam bersama Sky. “Apartemen. Kan kamu bisa lihat? Kenapa mesti tanya? Yang realistis dikit lah.” Naura mengerucutkan bibirnya dengan kesal. “Kamu akan tinggal di sini sampai kamu lahiran.” “Di sini?” tanya Naura terkejut. “Iya? Kenapa? Kamu pasti suka kan tinggal di tempat bagus.” Naura meringis, “Aku gak bisa tidur pakai AC. Apa bisa aku tinggal di kosku yang lama? Cukup bayarkan sewa kos ku saja.” “Enggak.” “Tapi --.” Belum sempat Naura berucap. Jari telunjuk Sky berada tepat di depan bibirnya, memberikan sebuah kode untuk diam. “Kamu sudah tanda tangan perjanjian kita. Jadi sampai anak itu lahir, semua terserah aku.” “Curang. Tidak ada seperti itu.” “Satu lagi. Kamu tidurnya di depan tv, dan aku di kamar. Kebetulan kasur buatmu belum tiba, jadi kamu tidur di sofa. Tapi …. “ Sky tersenyum meremehkan, “its ok lah dari pada tempat tinggalmu sebelumnya.” “Kita serumah?" tanya Naura kaget. “Gak, gak, gak, ini gak boleh. Kita gak ada hubungan apa-apa, gak mungkin kita serumah. Kita ….” Kalimat Naura terhenti tatkala Sky menunjukkan sebuah buku kepadanya. Terdapat fotonya dan Sky di dalamnya. “Buku nikah?” tanya Naura terkejut. “Kita tidak pernah menikah, bagaimana mungkin ada buku ini?” “Itu bukan urusanmu. So, lakukan tugasmu sebagai istri yang mengandung. Jaga anak di perutmu. Itu saja. Saya pergi dulu.” Naura masih termenung. Dalam hitungan hari hidupnya berbanding 180 derajat. Ia perlahan mengayunkan langkah, menyusuri ruang yang ada. Dari depan pintu ia disambut oleh meja tamu. Lalu di sebelah kanannya ada dapur kecil dengan konsep mini bar. Di sisi dapur ada kamar, dan sebelahnya lagi ada sebuah balkon yang memperlihatkan pemandangan dari ketinggian beberapa lantai itu. “Tempatnya bagus, tapi gak nyaman. Dingin,” ucap Naura sambil terus memperhatikan. Tak selang lama suara perutnya berbunyi. Ia baru tersadar kalau belum makan hari ini. Sky menarik paksanya sebelum jatah makan di rumah sakit ia makan. Ia mengambil ponsel dalam sakunya, hendak memesan makanan online. Namun, tiba-tiba ia teringat dengan pintu tempat tersebut. Kartu untuk buka pintu dibawa Sky. “Bisa mati kelaparan aku,” ucapnya bingung. Ia hendak menelfon Sky pun tak punya nomornya. “Dasar Sky aneh, ngapain kamu kurung aku di sini? Kamu sengaja mau membunuhku perlahan? Atau menghilangkan bukti karena kamu sudah menghamili anak orang?” teriak Naura dengan kesal. Bersamaan dengan itu, pintu terbuka. Sky masuk dengan wajah datar. “Otakmu dicuci dulu! Jangan suka negative thingking. Siapa juga yang kurung kamu? Tempat ini bisa dibuka dari dalam. Tapi jangan coba-coba kabur! Ada cctv dan pengawas yang jagain kamu 24 jam di depan. Oh ya, untuk makan kamu bisa hubungi restoran di bawah. Nomornya ada di atas meja.” “Ngapain kamu pulang dan terus berucap panjang kali lebar?” tanya Naura kesal. “Suka-suka saya. Ini apartemen saya. Apa hak mu melarang?” “Dasar, pria sombong!” “Lebih baik jadi pria sombong dari pada wanita miskin.” Naura tampak kesal. Rasanya, ia ingin menghajar pria di depannya. Tapi, apalah daya, tenaganya tak ada separuh untuk melawan pria tersebut. Sky kembali ke luar. Namun, berjam-jam terlewat Naura tak kunjung menghubungi restoran. Perutnya terasa melilit. “Dasar pria bodoh! Ngasih tahu nomor restoran tapi aku gak punya uang untuk bayar. Masa nasi goreng harganya lima puluh ribu? Terus juga nasi ayam 90 ribu. Tidak masuk akal sama sekali,” ucap Naura sambil menatap daftar menu yang tertulis di kertas bersamaan no resto yang tertera. Naura masuk ke dapur. Ia membuka kulkas dan berharap ada makanan di dalamnya. Sayang, yang ada hanyalah air dingin, sama sekali tak mampu mengenyangkan perutnya yang kosong. “Yang ada aku bakal kembung kalau terus-terusan minum air saja. Dasar pria sok sosialita tapi kenyataannya nol besar. Jajanan saja, tidak ada.” Naura mencebik kesal. Naura membuka ponselnya, hendak memesan makanan murah lewat aplikasi online. Domper hanya berisikan 20 ribu. Sayang, internetnya tidak bisa diakses. ia lupa tak mengisi kuotanya. "Ya Tuhan, apes sekali aku hari ini," ucap Naura lirih. Disisi lain, Sky menatap cctv apartemennya. Ia melihat Naura yang terlihat lemas di depan kulkas, tangannya mengelus lembut perutnya yang masih rata. “Kamu kenapa, Ra?” batin Sky mendadak cemas. Buru-buru ia pulang untuk segera menemui Naura. Ia takut terjadi apa-apa dengan wanita itu. Bagaimanapun, Naura sedang mengandung anaknya. Anak yang ditunggu-tunggu dan akan menjadi pewaris kekayaannya kelak. “Cepat sedikit, Bas!” “Bapak terburu-buru sekali? Apa ada hal yang serius terjadi dengan Nona Naura?” tanya Baskoro penasaran. “Dia wanita bodoh. Menjaga dirinya saja tidak becus.” “Maksudnya, Anda menyesal telah menitip benih ke Nona Naura, Pak? Dia tidak becus menjaga kehormatannya hingga memberikan kehormatannya ke bapak?” tanya Baskoro bingung. “Bodoh. Kenapa pikiranmu malah ke sana?” tanya Sky kesal. Kalau bukan karena Baskoro, tidak mungkin ada drama salah sewa rahim seperti sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD