Sky membopong tubuh Naura yang bak botol yakult tersebut. Matanya terpejam dengan tubuh yang lemas.
“Panggil dokter, Bas,” ucap Sky panik.
Ia meletakkan Naura ke kamarnya, melepas sandal yang dikenakan juga membuka satu kancing bajunya bagian atas supaya longgar. “Kamu kenapa bisa jadi gini?” tanya Sky bingung. Raut kekhawatiran tergambar jelas di wajah Sky.
“Sebentar lagi dokternya datang, Pak,” ucap Baskoro masih dengan ponsel yang ada di dekat telinga.
Sky berjalan kesana-kemari bak benang kusut. Ia bingung mesti bagaimana. Dia takut terjadi apa-apa dengan wanita yang tengah mengandung anaknya.
“Pak, Nona Naura bangun,” ucap Baskoro yang membuyarkan lamunannya.
Buru-buru ia menoleh dan melihat keadaan wanita lemah tersebut.
“Makan,” ucap Naura lirih sambil memegang perutnya.
Sky menyuruh baskoro ke resto untuk memesan makanan dengan cepat. “Sepuluh menit dari sekarang!”
“Tapi, Pak ….”
“Satu, dua, ….” Sky mulai menghitung dan Baskoro langsung lari dengan cepat.
“Kamu belum makan dari pagi?” tanya Sky sambil menatap wajah Naura yang pucat. Wanita cantik itu menggeleng.
“Kenapa? Bodoh. Kan sudah aku bilang, kamu bisa hubungi resto di bawah.”
Dengan sisa tenaga, Naura menjawab dengan lirih,”Kamu yang bodoh.”
“Apa? Kamu ngatain aku bodoh? Lagi sakit juga ngeselin kamu ya,” ucap Sky emosi. Wajah yang tadinya khawatir kini berubah memerah penuh amarah.
Adu mulut hampir terjadi hingga akhirnya dokter yang dihubungi Baskoro datang. Pria itu memeriksa Naura dan memberikan obat juga vitamin.
“Asam lambung naik karena telat makan. Bahaya juga untuk janinnya, jadi jangan dibiasakan seperti ini.”
“Baik, Dok,” ucap Naura lirih.
Tak lama kemudian dokter itu pun pamit. Lalu disusul Baskoro yang datang. Pria itu terhuyung, dengan keringat yang berlebih. Sepertinya ia berlari untuk sampai di kamar apartemen bosnya.
“Telat 2 menit, gaji kamu saya potong,” ucap Sky arogan.
Bibir Baskoro hendak membuka untuk komplain. Tapi akhirnya urung. Ia paham sekali bagaimana sifat bosnya. Jika ia protes, justru hukuman untuknya akan ditambah.
Nasi goreng seafood, sate ayam, martabak telor, juga ada kwetiau kuah. Semua tersaji di atas meja.
Tak lupa dengan beberapa jus. Baskoro tidak tahu minuman kesukaan Naura, jadi ia membeli banyak dengan ragam varian buahnya.
Naura meneguk ludahnya sendiri, rasanya tak sabar menyantap semua makanan itu. Terlebih lagi, beberapa hari yang lalu ia memang menghemat pengeluaran dengan tidak makan banyak.
Sky dan Baskoro saling memandang. Mereka tak menyangka, Naura bisa menghabiskan semua makanan tersebut. Di balik perutnya yang kecil, ternyata kulitnya elastis, mampu menampung banyak makanan yang masuk.
“Pak, itu Naura kelihatan kelaparan sekali. Kayak gak makan sebulan,” ucap Baskoro lirih kepada pria yang duduk di sebelahnya.
“Aku memang lama tidak makan. Kenapa? Mau hina aku karena miskin? Menghemat uang makan hanya untuk kehidupan sehari-hari.” Naura menyaut. Wanita cantik itu ternyata mendengar ucapan Baskoro.
“Maaf, Nona Naura. Saya tidak berpikiran seperti itu.” Baskoro menggeleng, tidak enak hati menyinggung perasaan nona barunya.
“Anda tahu, Pak. Aku makan sehari cuma sekali. Itu pun nasinya yang banyak dengan lauk sedikit dan apa adanya. Aku sendiri merasa aneh, padahal kemarin-kemarin biasa saja nahan lapar,tapi kenapa hari ini bisa lemas sampai pingsan.”
“Mungkin janinnya memiliki sifat kayak ayahnya, Non. Gak kuat kalau makan telat.”
“Bas,” ucap Sky kesal mendengar penuturan dari asistennya.
“Ngapain telat makan? Kan ada restoran di bawah. Kamu tinggal telfon, dan mereka bakal antar makanan. Dasar bodoh!”
“Telfon sih telfon, terus uangnya mana? Aku gak pegang uang sama sekali, di dompet hanya ada dua puluh ribu, sedangkan nasi goreng saja harganya muahal banget. Terus siapa yang bodoh?” tanya Naura kesal.
Baskoro menahan senyum. Dilihatnya bosnya yang wajahnya pucat pasi. Mungkin saja, pria itu merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya kepada Naura.
“Banyak omong! “
“Memangnya kenapa? Kan Tuhan kasih kita mulut supaya kita ngomong, berinteraksi.”
“Nih usap bibirmu dulu! Makan gitu aja belepotan,” ucap Sky sambil memberikan sebuah tisu.
Naura mengambilnya lalu mengusapkan cepat ke mulut. Andil-andil bersih, coklat yang mengenai bibir Naura justru beralih ke pipi.
“Dasar wanita bodoh, ngusap gini saja tidak bisa.” Sky mengambil tisu dan membersihkan pipi Naura yang terkena coklat. Kedua mata mereka saling memandang. Entah mengapa, kini mendadak jantung mereka berdetak lebih cepat dari biasanya. Aliran darah mengalir lebih kencang, mendatangkan sandi rumput yang tak bisa mereka artikan.
“Aku bisa sendiri,” ucap Naura merebut tisu tersebut. Ia tak ingin jantungnya yang berdetak lebih cepat itu ketahuan oleh Sky. Dia langsung menundukkan kepala, tak ingin dalam satu pandangan bersama pria yang membuat perjanjian menyebalkan tersebut.
“Bagus. Kamu kan sudah gede,” ucap Sky mencoba bersikap biasa saja. Ia pun merasakan hal yang sama seperti Naura.
***
Sky yang baru selesai dengan pekerjaannya hendak mengambil air putih di dapur, Ia melewati Naura yang tengah tidur di sofa. Televisi terlihat dalam keadaan menyala.
Sky mendekat. Dilihatnya Naura yang tengah terlelap dengan tubuh yang melengkung. Sepertinya Naura kedinginan dengan AC tempatnya tersebut.
“Dasar, wanita desa!”
Sky kembali ke kamarnya. Ia mengambil selimut tebal dan menutupi tubuh kecil wanitanya dengan selimut tersebut. Namun, saat ia hendak beranjak, ia merasa iba. Bagaimana pun, ia tengah melakukan kesalahan besar kepada wanita yang tak dikenalnya tersebut. Ia merusaka masa depan wanita baik-baik. Sky membopong tubuh Naura dan menidurkannya di kamar.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Naura kaget ketika ia digendong oleh Sky.
“Hanya memindahkanmu ke kamar.”
“Apa?” tanya Naura semakin kaget. Ia memberontak namun tetap digendong kuat oleh Sky.
“Kamu apa-apaan, jangan smapai kamu terjatuh dan anak saya kenapa-kenapa. Ingatkan perjanjian kita? Kamu harus bayar uang ganti rugi yang kamu pun tak akan sanggup membayarnya seumur hidup.”
Naura terdiam.
“Saya juga tidak akan melakukan apa-apa sama kamu. Kamu pikir saya bisa jatuh hati sama wanita desa sepertimu? Mimpi besar.”
“Siapa juga yang berpikiran seperti itu? Terus kamu berpikir aku bisa jatuh cinta sama pria sombong sepertimu? Dalam mimpi pun tidak.” Naura mengerucutkan bibir, tidak terima dikatai seperti itu.
“Kamu tidur sini juga?” tanya Naura ketika melihat Sky hendak berbaring di sebelahnya. Di kamar yang sama, di kasur yang sama.
“Terus, kamu pikir saya bakal tidur di luar? Memangnya kamu siapa? Kok ngatur-ngatur saya. Ini rumah saya, jadi suka-suka saya.” Sky menjawab kesal.