Naura tidur miring, memeluk guling dan membelakangi Sky. Sedangkan Sky tidur terlentang dengan dua tangan yang diangkat ke atas. Dalam posisi itu, parfum Sky terendus dalam di indra penciuman Naura. Apalagi keadaan hamil, hidungnya terasa lebih tajam dari biasanya.
“Parfum apaan sih? Norak sekali sampai tidur pun masih dipakai,” batin Naura kesal.
“Besok saya antar kamu periksa kandungan,” ucap Sky dengan ragu. Sebenarnya ia malas, ia ingin meminta Baskoro untuk menggantikan tugasnya tersebut. Tapi, ia juga penasaran dengan keadaan janin yang ada di rahim Naura.
“Besok aku mau berangkat kuliah, sudah libur beberapa hari.”
“Ngapain mesti kuliah? Usai anak ini lahir juga kamu bakal jadi kaya. Gak perlu lah sok-sokan kuliah.”
“Memangnya kenapa? Takut kalau aku lebih pandai dari kamu, Pak sombong.” Naura membalik badannya, saat ini posisi tidur Sky berada dalam pandangannya.
Sky menggeleng. “Saya cuma takut bayi saya kenapa-kenapa.”
Naura tertawa terbahak mendengar penuturan tersebut.
“Kamu nertawain saya?”
“Enggak. Lagian Anda aneh sekali, mana ada kandungan kenapa-kenapa hanya karena diajak kuliah. Lagian, untuk apa Anda menghamili saya? Maaf, sebelumnya, Apakah Anda sudah menikah dan belum punya anak hingga melakukan ini? Prihatin sekali. Pak sombong ternyata kesepian hingga melakukan perbuatan haram. Kenapa gak bayi tabung aja si? Aneh,” ucap Naura kesal. Terkadang ia pasrah dan belajar menerima takdir. Namun, adakalanya wanita cantik itu menyesali semua yang pernah terjadi padanya. Termasuk kehamilannya saat ini.
“Jaga ucapanmu! Saya di sini berbaik hati karena kamu mengandung anakku. Jangan semakin kurang ajar.”
“Memangnya kenapa, ha?”
Tak menjawab. Sky justru mengambil ponsel yang berada di atas meja. Ia terlihat mencari nomor seseorang “Saya akan meminta bawahanku buat menyudahi perawatan nenekmu di rumah sakit.”
“Eh, eh, eh, apa-apaan? Ini namanya pengancaman. Anda bisa kena pasal.”
“Orang kaya itu kebal hukum, apalagi sama orang miskin sepertimu.”
Naura terdiam. Sepertinya benar apa yang diucapkan Sky. Hukum di negeri ini tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Di desa saja ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orang tuanya dilakukan tidak adil dulu.
“Kenapa diam?” tanya Sky yang melihat perubahan wajah dari Naura. “Saya juga tidak bakal melakukan itu selama kamu nurut dengan saya. Cukup jadi istri yang baik dan lahirin anak saya dalam keadaan sehat.”
“Jadi istri yang baik? Kita saja tidak menikah.”
“Kita sudah punya surat nikah, jadi anggap saja seperti itu.”
“Tidak bisa. Itu tidak sah.”
“Bisa diem gak? Ini jam satu dini hari, aku mau tidur. Besok harus kerja.”
Pukul 5 pagi Sky terbangun oleh aroma makanan yang menguar. Dilihatnya ranjang di sebelahnya tak didapati Naura berada. Dikucek matanya, lalu menutup mulut saat menguap. Bergegas ia memakai sandal rumah dan berlalu ke luar kamar.
“Kamu masak, Ra?” tanya Sky di ambang pintu kamar sambil melihat Naura yang sedang memakai celemek.
“Kan bisa Anda lihat sendiri? Pertanyaan gak bermutu,” jawab Naura membalikkan kalimat yang pernah ia dapat. Ia kembali focus dengan wajan di depannya.
“Masak buat kamu sendiri! Saya tidak bisa makan makanan sembarangan.”
Naura tertawa kecil, “Percaya diri sekali Anda. Aku juga gak berminat buat masakin Anda.”
“Bagus, saya bisa mual-mual kalau makan masakanmu.”
“Siapa yang suruh makan?”
Sky terlihat kesal. Ia hendak kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan bersiap untuk kerja.
“Sebentar, Pak Sombong!”
“Apa?”
“Nanti pulang kuliah, aku mau kerja dulu ya. Periksa kandungannya kalau aku sedang gak sibuk.”
Sky mengernyitkan dahinya. Dalam batinnya ia tertawa dengan tingkah Naura yang sok sibuk. Sibuk melakukan sesuatu hanya untuk uang receh.
“Uang dari saya masih kurang hingga kamu harus kerja?”
“Harga diri saya yang terlalu mahal untuk mengambil uang dari pria sombong sepertimu.”
Sky menahan senyum. Ia tak merespon ucapan dari Naura dan langsung masuk ke dalam kamar. Naura terkadang menyebalkan, namun juga terlihat lucu.
***
Naura dikejutkan oleh kehadiran Sky yang melewati pintu kamar. Rambutnya yang basah dan tersisir rapi, parfumnya yang wangi, juga sepatu yang mengkilat. Wajah Sky terlihat bercahaya.
Naura meneguk salivanya sendiri, “Apa-apaan aku? Memuji pak sombong itu?” batinnya tak terima.
Sky memasang celemek, lalu terlihat mendekat ke arah dapur.
“Pak sombong itu mau masak? Serius?” batin Naura dengan pandangan yang tak pernah enyah. Tangannya menyuapkan makanan ke mulut, tapi matanya melirik di mana Sky berada.
Diambilnya biji kopi, lalu dimasukkan ke mesin. Tak lama kemduian, sebuah kopi panas tersaji dalam cangkir. Sky melepas celemek dan membawa kopi tersebut ke sebelahnya. Aroma kopi itu menguar ke seluruh ruangan.
“Memakai celemek hanya untuk buat kopi?”
“Kenapa? Baju saya mahal. Bagaimana kalau terkena tumpahan kopi.”
Naura menggeleng, “Kalau terkena ya tinggal ganti baju. Katanya orang kaya, harusnya punya banyak baju kan?”
“Saya tidak sempat menggantinya. Saya gak banyak waktu.”
Naura terkekeh. Ada-ada saja alasan Sky untuk menyanggah kalimatnya.
Sky meneguk kopi tersebut beberapa kali, meninggalkan kopi yang masih tersisa separuh. Lalu berdiri hendak meninggalkan ruangan.
“Hari ini saya lembur di tempat kerja. Jadi kalau mau makan, kamu bisa online atau masak sendiri di dapur. Uangmu sudah saya transfer. silaakan cek!” Sky berlalu meninggalkan Naura yang masih menghabiskan sarapannya.
***
Usai kuliah, Naura mengambil kerja paruh waktunya. Ia melepas pakaian yang dikenakan dan menggantinya dengan baju cleaning service. Tak lupa ia mengelus lembut perutnya dan memberikan kalimat sugesti, “Dedek sayang, ibu kerja dulu ya! Sehat-sehat di sana.”
“Enak sekali jadi kamu, Ra. Hari pertama kerja langsung pingsan dan digendong Pak Bos kita. Mana ganteng banget lagi dia.”Indah bersuara.
Naura terkejut. Ia takut kalau kalimat yang tadinya diucap didengar oleh rekan kerjanya tersebut. “Aku digendong?” tanya Naura mengalihkan pembicaraa.
“Kamu gak ingat apa? Kayaknya, aku bakal pura-pura pingsan juga deh kalau nanti ditugasin di ruang pak Bos,” ucap Indah kembali.
Naura mengernyitkan dahi. Rekan kerjanya memang tak jelas. “hehe iya, pingsan saja biar digendong sama bos sombong itu!”
“Eh, ra. Berani banget kamu ngomong gitu? Dulu pernah lo ada teman kerja kita bicara seperti itu. Besoknya langsung di phk dengan tidak terhormat.”
“Emang kita dihormati?” tanya Naura yang membuat teman-teman kerjanya tertawa.
Hari itu Naura diminta mengantarkan kopi untuk Sky. Ia merasa malu jika harus dihadapkan pria itu dengan pakaian yang saat ini dikenakannya.
“Saya, Pak,” ucap Naura usai mengetuk pintu.
“Silakan masuk!”
Naura mengayunkan langkah dengan ragu. Ia berjalan dengan nampan dan satu buah cangkir berisi kopi hitam.
“Kopinya, Pak,” ucap Naura meletakkan cangkir di atas meja kerja bosnya tersebut.
“Mau ke mana?” tanya Sky ketika melihat Naura berbalik dan hendak berllau.
“Duduk sana,” ucap Sky tanpa menoleh. Hanya jari telunjuknya yang menunuk ke sofa di sudut ruangan.
“Ke sana, Pak? Saya? Duduk?” tanya Naura bingung.
“Ya.”
“Tapi, Pak. Saya masih ada tugas.”
“Saya ini bosmu. Jadi ikuti perintah saya!” Sky berucap dengan nada meninggi dan mata membulat. Mendadak, bulu tubuh Naura meremang.