Bab 7. Demam

1016 Words
“Saya mesti ngapain di sini, Pak?” tanya Naura bingung. Ia hanya duduk tanpa melakukan sesuatu apapun. “Hanya perlu diam sampai saya bilang selesai.” “Tapi, Pak. Tugas saya di sana masih banyak, saya masih harus bersihin -.” “Diam!” “Baik, Pak.” Naura duduk dengan kaki yang diketuk-ketukan di lantai. Ia bingung harus berbuat apa. Terlebih lagi, suhu ruangan ini amatlah dingin. Ia menggosok-gosokkan telapak tangan untuk mencari kehangatan. Sesekali, ia menatap bosnya. Sky terus memperhatikan laptop di depannya, yang terkadang meneguk kopi yang dibawa. Sama sekali tak menoleh ke arahnya. Jika terus diperhatikan, Sky memang tampan. Sorot matanya tajam, dengan rahang yang tegas, hidungnya mancung dan bibir yang berukuran sedang. Sedikit terlihat bule. Di sisi lain, Sky justru mencari tahu tentang Naura dalam layar laptopnya. Ia wanita yatim piatu yang ditinggal orang tuanya sejak kecil. Diusir dari rumah, dan tinggal di sebuah gubuk kecil bersama neneknya. Sky menoleh ke arah Naura yang sepertinya tak nyaman satu ruangan bersamanya. Tapi bagaimana pun, ia juga tak bisa membiarkan wanita itu bekerja keras menjadi cleaning service di perusahaannya. Bisa saja ia memecat Naura supaya tidak kerja seperti ini lagi. Tapi, mengingat sifat Naura yang batu dan tidak ingin hutang budi kepada seorang pun. Bisa jadi, ia justru mencari pekerjaan di tempat lain. Di sini, setidaknya Sky bisa sedikit lebih menjaga dari pada kerja di luar pengawasannya. Sky melihat Naura menggosok telapak tangan. Ia baru sadar kalau perempuan tersebut tidak suka suhu dingin. Ditinggikannya suhu ruangan, supaya Naura tidak merasa kedinginan. Beberapa jam berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sky menatap jam yang melingkar di lengannya. Ia lupa kalau jam pulang Naura sudah beberapa jam yang lalu. Baru saja ia menoleh ke arah Naura. Wanita cantik itu justru sedang terlelap di atas sofa. Sky tersenyum tipis. Ia menghampiri perempuan tersebut dengan hati yang aneh. Iba, kasihan, juga menyebalkan. “Kalau diperhatikan kamu manis juga, Ra,” ucap Sky sambil tersenyum tips. “Sayang, hidup kamu sangat memprihatinkan. Apa jadinya kamu jika tanpa saya?” ucap Sky kembali sambil memperhatikan setiap inci wajah Naura. “Tidak, tidak, apa barusan aku muji Naura? Ini tidak mungkin. Naura sangat jauh dari Syakila. Mereka bagaikan langit dan bumi,” imbuh Sky yang tidak terima dengan isi hatinya. Syakila adalah kekasih Sky. Ia seorang model. Saat ini Syakila sedang meniti karir di luar negri. Berbanding terbalik tentang Sky yang sangat mengingkan anak, Syakila lebih memilih childfree. Ia tak ingin waktunya dihabiskan hanya untuk membesarkan anak. Maka dari itu, Sky mencari wanita pengganti yang bisa memberikan anak dari benihnya. Ia berpikir ke depan, tentang siapa pewaris yang akan melanjutkan perusahaan besarnya nanti. Sky mengangkat tubuh Naura. Tubuhnya yang kecil bak botol yakult itu tentu tidak menyusahkan bagi Sky yang memiliki perawakan tinggi. Dadanya bidang dengan beberapa otot di perut dan lengannya. Dulu, Sky rajin berolah raga sebelum ia mendapatkan amanat besar untuk melanjutkan perusahaan ayahnya. “Kamu ngiler, Ra?” tanya Sky jijik ketika mengangkat tubuh istri pura-puranya tersebut. Tangannya basah terkena liur Naura. Ingin sekali Sky melepas gendongan dan membangungan wanita itu, tapi ia merasa iba dengan wajah Naura yang pulas. Terlebih lagi, ada janin di rahim wanita kecil yang digendongnya tersebut. Dari kantor sampai apartemen, Naura sama sekali tidak terbangun. Perempuan itu terlihat sangat nyenyak masuk ke dalam alam mimpinya. Bahkan, saat digendong oleh Sky justru tangannya memeluk erat tubuh Sky. “Kamu itu lagi tidur atau hibernasi?” tanya Sky jengkel. Meskipun begitu, ia justru menikmati wajah Naura dalam posisi begitu dekat. Wajah yang polos, hidung yang mancung dengan bibir yang tipis, bulu matanya lentik dengan alis yang tebal meskipun tanpa polesan eyebrow. Kini, detak jantung Naura bisa dirasakan oleh Sky. “Detak jantungmu biasa saja. Kamu tidak deg-degan saya gendong?” tanya Sky kepada wanita yang tengah tertidur pulas. Tak menjawab. Naura hanya menguap dan kembali mengeratkan pelukan ke tubuh Sky. Naura kembali ditidurkan ke kamar. Meskipun rencana awal, dia tidak mau sekamar dengan Naura tapi tetap saja hati kecilnya tidak sekejam itu. Bagaimana pun, Naura sudah bersusah payah untuk menghadirkan buah hati untuknya. Sky menyelimuti tubuh Naura agar tidak kedinginan. Lalu ia duduk di kursi kerja yang berada di sudut ruagan. Sky kembali berjibaku dengan laporan-laporan yang terkirim di emailnya. Di sisi lain, Naura terbangun dari mimpinya. Ia mengucek matanya yang terasa berat lalu sayup-sayup terlihat punggung Sky yang membelakanginya. “Aku di ….” Naura melihat sekeliling. Ia baru tersadar kalau sudah sampai di kamar apartemen. Seingatnya, ia menunggu Sky di kantor. Dilihatnya jam dinding yang tertempel di ruangan. Waktu sudah mendekati jam 2 pagi sedang Sky masih terjaga dalam pekerjaannya. Naura tersenyum tipis. Ia pikir orang kaya itu enak, tinggal duduk depan laptop dan omsetnya milyaran bahkan triliunan. Tapi di balik itu semua, ternyata ada kerja keras dan waktu yang harus dibayarkan. *** “Pak sombong, bangun!” Naura memegang lembut tangan Sky yang tertidur di kursi bersandarkan meja. Digoyang-goyangkannya perlahan agar Sky terbangun. “Demam,” ucap Naura ketika tangannya menyentuh kulit tangan Sky. Suhu tubuhnya lebih tinggi dari biasanya. “Apa-apaan si kamu,” protes Sky ketika punggung tangan Naura menyentuh keningnya. “Anda sedang demam, Pak Sombong.” “Saya tidak apa-apa. Kamu saja yang berlebihan,” ucap Sky sambil menepis tangan Naura. “Tapi, Pak --.” “Saya lebih paham kondisi saya ketimbang kamu. Kamu bukan dokter.” “Iya. Tapi Anda demam. Mau saya siapkan air hangat untuk mandi?” “Tidak usah. Saya bisa menyetel sendiri shower mandi saya.” “Saya buatkan teh hangat dulu.” “Tidak usah. Saya tidak suka teh.” “Ya sudah, saya buatkan sarapan. Anda harus sarapan.” “Gak usah, Ra. Saya ….” Belum juga Sky melanjutkan kalimatnya, Naura telah pergi dari hadapannya. Ia mengekori wanita itu, melihat apa yang dilakukan Naura. Wanita cantik itu masuk ke dapur dan memasang celemek ke tubuhnya. Rambutnya dikuncir kuda kemudian berjibaku dengan bahan masakan. Naura terlihat begitu cekatan. “Kenapa kamu mesti baik sama saya, Ra? Saya telah merenggut masa depan kamu,” ucap Sky sambil terus memperhatikan apa yang dilakukan wanita berambut panjang di dapurnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD