“Pak sombong ada di sini? Sekalian duduk ya! Kebetulan sop ayamnya sudah matang.” Naura menyuguhkan senyuman kepada pria yang menatapnya di ambang pintu.
“Masih gak mau juga? Kenapa? Masakanku gak ada racunnya tahu. Rasanya juga enak. Nih lihat!” Naura menghirup aroma sop yang ada di mangkok di depannya, lalu menyicip sedikit dengan sendok.
“Aku gak apa-apa kan? Aku gak keracunan,” imbuhnya lagi.
Sky tidak bergeming. Ia hanya menatap apa yang dilakukan wanita di depannya.
“Oh ya, Pak Sombong, kapan belanja buat isi kulkasnya? Kalau kayak gini kan gak mungkin aku kelaparan kayak kemarin?” Naura terus berbicara. “Terus juga lebih hemat, lebih higienis, gak perlu jajan makanan yang harganya gak masuk akal. Tahu gak, Pak? Di daerahku saja nasi goreng sama telur cuma 10 ribu. Di sini mahal banget. Bener-bener chulture shock saat pertama kali ke sini.”
Naura membawa mangkok berisi sop itu ke atas meja. Lalu duduk di kursi bersiap untuk makan.
“Pak sombong, sudah deh sok jaimnya. Makan dulu yuk!” Naura membuang nafas kasar, lalu mendekat ke arah Sky yang masih berdiri di ambang pintu. Dipegangnya lengan, hendak diajak ikut makan bersama. Suhu tubuh Sky semakin meninggi.
“Tubuhmu makin demam. Aku panggilkan dokter ya!” ucap Naura. Ekspresi kekhawatiran terlihat jelas dalam raut wajahnya.
“Saya tidak apa-apa. Lagian kamu bisa menghubungi dokter apa? Ponselmu saja gak ada internetnya.”
Naura mengernyitkan dahi. Ia bingung, kenapa Sky bisa tahu.
“Gak usah bertanya tahu dari mana. Saya itu punya agen khusus untuk mengetahui apa pun yang ingin saya tahu. Termasuk kamu dan nenekmu di desa dulu. Oh ya, di sini ada wifinya. Kodenya angka 1 sampai 9.” Sky berjalan, dan duduk di kursi di sebelah tempat Naura tadinya duduk.
“Aku juga tidak ingin bertanya. Orang beruang sepertimu pasti memiliki banyak cara untuk melakukan itu. Bye the way terima kasih banyak sudah merawat nenekku dengan baik.”
“Saya juga terima kasih banyak, kamu sudah berkenan menjadikan rahimmu untuk titipan anak saya.”
Sky tersenyum tipis melihat ekspresi Naura yang langsung berubah. “Saya tahu kamu masih marah soal itu. Tapi sekali pun saya gak pernah berniat buruk sama kamu.”
“Gak pernah berniat buruk tapi dihamili? Konsep dari mana itu?”
“E… itu ….” Sky kebingungan menjawab. Ia merasa gengsi untuk menjelaskan kalau anak buahnya salah mengambil orang untuk tempat sewa rahimnya.
“Segera makan sopmu! Keburu dingin,” ucap Sky sengaja mengalihkan pembicaraan.
“Pak Sombong, coba deh! Ini enak banget.” Naura sengaja mendekatkan sendok berisi sayur sop itu ke dekat bibir Sky. Aromanya menguar dengan gorengan bawang merah yang gurih.
Awalnya bibir Sky tertutup rapat. Lalu sedikit membuka, dan akhirnya satu suapan lolos masuk ke dalam mulut pria sombong tersebut.
Tangan Naura gemetar, bersamaan dengan jantungnya yang berdegup lebih kencang dari biasanya. Untuk kali pertama ia menyuapi seorang lawan jenis. Padahal, biasanya ia menyuapi neneknya terasa biasa saja. Berbanding terbalik dengan apa yang dirasakannya sekarang.
“Kamu kenapa? Sakit?” tanya Sky yang melihat perbedaan pada Naura.
“E- enggak,” ucap Naura terpatah-patah. Di sudut hatinya ia merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Sky memegang dahi Naura. Namun, suhu tubuh itu normal. Hanya saja wajahnya memerah dengan tubuh yang gemetar. “Saya panggilkan dokter. Saya tidak mau anak saya di rahimmu kenapa-kenapa.”
Bermenit-menit berlalu. Namun, tidak ada obrolan dari keduanya. Saling sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya, dokter itu pun datang.
“Aku baik-baik saja. Aku gak mau diperiksa,” ucap Naura. “Kamu yang demam, kamu yang harusnya periksa,” imbuh wanita cantik itu kembali.
“Saya baik. Kamu yang sakit. Tubuhmu gemetar dari tadi.”
Mereka berdua saling beradu mulut, membuat pria berseragam itu pun kebingungan.
“Maaf, sebenarnya siapa yang hendak saya periksa?”
“Dia.” Naura dan Sky saling menujuk dan membuat dokter Efendi menggeleng-gelengkan kepala.
Akhirnya Naura menerima diperiksa dengan syarat Sky juga diperiksa. Hasilnya, Naura baik saja, sedangkan Sky membutuhkan istirahat yang cukup karena kelelahan. Hari itu ia memutuskan untuk tidak bekerja seperti permintaan Naura
“Saya seperti orang yang bodoh kalau tidak melakukan sesuatu,” protes Sky.
“Justru Anda yang bodoh kalau terus bekerja.”
“Apa maksudmu? Kamu menganggap saya bodoh?”
“Aku gak bilang seerti itu lho. Itu pemikiranmu sendiri.”
“Sudah, aku malas berdebat.”
“Aku pun sama.” Naura mandi dan memakai pakaian rapi. Ia lalu memasukkan sup ayam ke wadah makannya untuk bekal nanti siang.
“Mau ke mana?” tanya Sky kaget. “Kan hari ini kamu gak ada kelas.”
“Aku kan mau kerja. Aku bukan pengangguran.”
“Enggak. Siapa yang mengijinkan kamu pergi?”
“Sepertinya aku gak perlu ijin kamu untuk kerja, Pak Sombong.”
Naura meninggalkan Sky yang duduk di sofa. Sedangkan pria tersebut hanya terdiam setelah perseteruan adu mulut terjadi.
“Aku berangkat dulu,” ucap Naura sebelum meninggalkan.
“Bukannya kamu gak perlu ijin saya?”
Naura menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***
Dengan bermodalkan naik angkot, wanita cantik itu menuju perusahaan besar milik Sky. Seperti biasa, ia mengganti pakaiannya dengan seragam ketika sampai di sana.
“Hari ini Pak Sky katanya gak berangkat ya?” tanya Indah rekan kerjanya.
“Gak tahu juga. Tapi kayaknya gak mungkin. Beliau kan gak pernah alfa.” Satunya lagi menambahi.
“Yah, gak bisa cuci mata deh kalau Pak Sky gak berangkat.” Erna bersuara.
Naura hanya terdiam. Sebagai karyawan baru, ia lebih senang mendengarkan. Ia memang sedikit susah berbaur dengan masyarakat. Begitu pun saat di kampus, Naura juga tidak banyak teman. Apalagi, kebanyakan mahasiswa di sana adalah orang kaya, dengan penampilan hedon dan suka flexing. Berbanding terbalik dengan kehidupannya yang untuk makan pun harus kerja susah payah.
“Kamu aja lah, Ra, yang bersihin ruangan Pak Sky. Di sana ruangannya luas. Aku malas. Ditambah lagi Pak Sky gak berangkat, gak ada yang bikin aku semangat ke sana.”
Naura mengangguk. Ia mangambil sapu dan berlalu meninggalkan mereka.
“Permisi, saya masuk,” ucap Naura mengetuk pintu dan mendorong benda tersebut. Seperti biasa, ia mengucapkan salam meskipun tahu di dalamnya tidak ada orang.
Naura berjalan ke arah meja Sky. Lalu merapikan dan mengelap meja kayu berbahan jati tersebut. Lirik lagu kesayangannya pun teralun, mengusir sepi di ruangan besar milik bosnya.
Mendadak kandung kemihnya terasa penuh. Ia menoleh kearah kamar kecil dalam ruangan tersebut. Untuk kembali ke tempat OB pun memakan jarak yang lumayan. Dia sudah tak tahan.
Naura memutar gagang pintu dan langsung mendorongnya. Di detik kemudian, teriakannya terdengar begitu keras. Ditutupnya dua matanya dengan telapak tangan, sedangkan jantungnya berdetak dengan tak aman.
"Pak ...?!"