Bab 9. Tragedi Kamar Kecil

1187 Words
“Kenapa Anda di sini?” tanya Naura masih dengan telapak tangan yang menutup mukanya. “Seharusnya saya yang tanya, kenapa kamu ada di sini? Masuk tanpa permisi,” ucap Sky dengan wajah memerah menahan malu. Ia bergegas menutup resleting celananya usai membuang air kecil. “Seharusnya Anda di rumah. Kenapa berangkat kerja?” “Ini hidup saya. Jadi terserah saya.” “Tapi ….” “Kamu ngapain dari tadi terus di situ? Sengaja mau lihat saya? Minggir!” Sky berjalan melewati Naura yang masih mematung di depan pintu. “Maaf.” Wanita cantik itu merenggangkan sela jarinya, hingga terlihat kamar mandi yang telah kosong. Barulah ia membuka matanya dengan sempurna. Mendadak Naura kehilangan keinginan untuk membuang air kecil. Ia melanjutkan pekerjaannya, membersihkan ruangan Sky yang begitu besar. Sedangkan dari tadi pria yang terlihat jutek itu terus memperhatikan gerak-geriknya. “Kamu sampai kapan mesti bekerja seperti ini?” tanya Sky dengan laptop yang berada di depannya. Ia tidak ingin ketahuan jikalau dari tadi berusaha mencuri pandang dengan Naura. Laptop hanyalah sebagai kamuflase saja. “Sampai saya tidak kuat lagi.” “Sudahlah! Kamu di rumah saja, tida usah bekerja. Saya itu khawatir kalau -.” “Kandunganku baik-baik saja. Justru akan lebih sehat kalau diajak bekerja.” Naura menyaut kalimat Sky. “Dia itu orang besar. Dia orang yang nantinya berpengaruh di perusahaan ini.” “Makanya dari kecil saya ajak untuk bersih-bersih perusahaan ini. Biar dia kenal dengan semua ruangan di sini.” Sky menggelengkan kepala mendengar penuturan Naura. Wanita itu selalu tak mau kalah jikalau berdebat. Keras kepalanya sebelas dua belas dengannya. “Awas saja kalau dia kenapa-kenapa," ucap Sky kesal. Usai menyapu ruangan, kini Naura mengepel lantai. Ia mendekat ke arah meja Sky dan meminta pria itu untuk minggir dulu dari posisinya. Jika pria itu masih di situ, Naura tidak bisa menjangkau alat pelnya lebih luas, alhasil tidak bisa bersih sempurna. “Ini ruangan saya. Siapa kamu? Kok ngatur-ngatur saya.” “Siapa suruh berangkat lebih awal, harusnya Anda berangkat 30 menit lagi. Kalau begini saya kesusahan buat bersih-bersih.” “Terserah saya, kamunya saja yang tidak becus bersih-bersihnya.” “Angkat kaki!” “Enggak.” “Satu, dua, tiga.” Dalam hitungan ketiga, Sky masih tak beranjak. Akhinya, Naura mengepel kolong meja Sky beserta sepatu mengkilat yang tak mau diangkat. “Eh, apa-apaan?” protes Sky ketika alat pel menyentuh sepatunya. “Salah Anda sendiri.” Naura terus melanjutkan pekerjaannya seakan tidak peduli protes bosnya. Sky masih duduk di kursinya, kali ini dengan kaki diangkat ke atas meja. Sedangkan Naura terus masuk ke dalam lorong meja bosnya. Sky memperhatikan tubuh kecil wanita di depannya. Di balik tubuhnya yang bak botol yakult, terdapat kekuatan untuk menopang semua hidupnya yang mengenaskan. “Anda sudah sehat, Pak? Seharusnya Anda ambil cuti dua sampai 3 hari." Naura mencoba bersuara. “Itu terlalu lama. Dokternya terlalu mengada-ada.” “Kalau begitu setidaknya hari ini ijin.” “Saya tidak bisa berdiam diri, sedangkan kerjaan saya di sini numpuk.” Naura terkekeh. “Pekerjaan Anda kan mudah, Pak. Tinggal duduk dan marah-marah.” “Itu yang kamu lihat. Sebenarnya tidak hanya itu.” “Iya, saya juga tahu si. Oh ya, tadi tidak jadi sarapan?” “Bagaimana saya sarapan? Sedangkan makanannya kamu habiskan.” Naura terkekeh. Entah mengapa ada yang berbeda dari Sky. Jika dulunya ia tidak menyukai karyawannya tertawa keras, berbeda untuk sekarang. Ia merasa senang mendengar tawa dari Naura. Terdengar renyah di indra pendengarannya. Terlebih lagi, sorot matanya pun seakan tertawa, seirama dengan bibir indah yang melengkung tersebut. “Salah sendiri tadi nolak,” jawab Naura denagn senyum yang tak pernah enyah menghiasi wajah putih berserinya. “Permisi ya, Pak. Mohon maaf sudah membuat Anda mengangkat kaki lama.” “Mau ke mana kamu?” tanya Sky ketika Naura hendak berlalu. “Mau bersihin kamar kecil, Pak.” “Kamu juga yang kerjain?” tanya Sky kaget. “Ya iyalah, Pak. Kan itu tugas saya.” “Enggak, enggak, enggak. Kamu nggak boleh bersihin sana. Kamu tahu, di sana itu kotor, ruangannya sempit, engap.” Naura kembali terkekeh. Terdengar tawa renyah yang mendadak menjadi irama merdu untuk Sky. “Ruangan Anda si besar, sama sekali tidak engap, Pak. Lebih engap dan sempit kamar kecil untuk karyawan. Apalagi untuk cleaning service seperti saya. Ruangannya saja sudah engap, apalagi kamar kecilnya.” “Tidak usah dibersikan! Tunggu saya sebentar.” “Untuk?” tanya Naura bingung. Tak menanggapi, Sky justru terfokuys dengan laptop yang berada di depannya. Lalu tak lama kemudian terdengar suara printer yang berbunyi. Sebuah kertas ke luar dari mesin tersebut. “Berikan ini kepada kepala bagianmu!” Sky memberikan selembar kertas yang ke luar dari mesin printernya. “Apa ini, Pak?” tanya Naura bingung. Ia melihat tulisan di dalamnya. Surat pemecatan karyawan bertuliskan namanya. “Saya dipecat? Tidak mungkin. Salah saya apa?’ tanya Naura kesal. “Salah kamu itu mengandung anak saya. Saya takut dia kenapa-kenapa. Mulai besok tidak usah berangkat. Untuk gajimu bulan ini akan dibayarkan full.” “Gak-gak, gak bisa seperti ini.” “Jatah bulananmu juga akan saya tambah, jadi sudah, gak perlu protes.” “Gak mau.” Naura menyobek kertas yang dipegangnya di depan mata Sky. Pria itu membulatkan matanya. “Saya tidak melakukan kesalahan apa pun, dasar pria sombong! Tidak semuanya bisa diukur dengan uang.” Naura membuang sobekan kertas tersebut ke sampah. Lalu ke luar dari ruangan Sky. Seharian itu, Naura tidak diperkenankan memegang pekerjaan apa pun. Tiap kali ia memegang sapu atau alat pel, akan diminta oleh teman seprofesinya. Ia dibuat bingung sendiri. “Pak, kenapa saya sama sekali tidak diberikan pekerjaan?” protes Naura kepada kepala bagiannya. “Kamu sudah membersihkan ruangan Pak Sky, jadi sudah cukup. Itu tugasmu.” “Tapi, Pak. Biasanya saya mengerjakan banyak pekerjaan.” “Ya, mulai sekarang tugasmu hanya membersihkan ruangan Pak Sky saja.” “Tapi, Pak ….” “Seharusnya kamu senang, Ra. Tugasmu semakin sedikit. Tapi gajimu tetap.” “Tapi, Pak ….” Kepala bagian itu tertawa kecil, “Kamu itu memang aneh ya. Pantas saja pak sky -.” Pria itu tidak melanjutkan kalimatnya. “Apa, Pak?” “Nggak apa-apa. Kamu boleh langsung pulang, Ra!” “Tapi, Pak ….” “Ini perintah! Jadi jangan buat saya marah.” “Baik, Pak.” Naura berdecak kesal. Sepertinya apa yang terjadi hari ini adalah imbas dari penolakannya kepada Sky tadi. Di mana-mana orang yang punya uanglah yang menang. Wanita cantik itu mengganti pakaiannya. Lalu kembali masuk ke dalam ruangan bos besarnya tersebut. “Saya Naura, pak," ucap wanita cantik tersebut sambil mengetuk pintu. “Silakan masuk!” Naura mendorong pintu dan melangkahkan kaki ke dalam ruangan. Ia berjalan mendekati Sky yang duduk di kursinya. “Saya diminta pulang. Sekarang Anda puas?” Sky terlihat menahan senyum. Sepertinya Naura lebih menerima perintah kepala bagiannya dari pada diperintah olehnya. “Ini apa?” tanya Sky kaget ketika Naura meletakkan kotak makanan yang diambil dari ransel. “Itu bekalku, Pak. Anda kan belum sarapan, jadi jangan sampai telat makan! Anda masih kurang sehat.” Naura meninggalkan ruangan Sky dengan bibir yang masih manyun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD