Naura meninggalkan ruangan. Tapi entah mengapa pikiran Sky justru tertuju kepada wanita tersebut. Terkadang ia tersenyum sendiri kala mengingat tingkah lucu Naura. Terlebih lagi pagi tadi, saat hendak mengambil alat masak, tubuhnya tak menjangkau laci dapur yang ada di atasnya.
“Antar Naura kembali ke apartemen!” Sky menugaskan Baskoro via ponsel. Ia tidak mau bayi yang dikandung Naura terjadi apa-apa keyika dijalan tanpa pengawasannya.
***
“Anda yang menarik paksa saya dan memasukkan saya ke kamar itu bukan?” tanya Naura ketika sebuah mobil kendekat ke arahnya.
“Iya, Nona. Maaf, saya hanya mengerjakan tugas. Sekarang pun saya sedang mengerjakan tugas diminta Pak Sky buat antar nona kembali ke rumah.”
“Enggak. Aku gak mau diantar.” Naura masih berdiri. Matanya menoleh ke sisi kanan, berharap ada angkotan datang untuk menjemputnya.
“Di jam seperti ini jarang ada angkutan umum lewat, Nona. Anda bisa lama berdiri di sini, kepanasan.”
“Gak apa-apa.” Naura masih bersikap acuh. Seakan tidak peduli apa yang dilakukan Baskoro.
Baskoro turun dari mobilnya, membuka pintu mobil belakang dan meminta Naura masuk.
“Saya meminta maaf atas kesalahan saya yang dulu, Nona. Masuklah! Saya ingin menjelaskan sesuatu.”
“Tidak perlu.”
“Saya mohon, Nona. Pak Sky bisa marah dan bisa jadi memecat saya. Saya punya istri dan 2 anak yang harus saya cukupi. Satu diantaranya berkebutuhan khusus, Non. Jadi saya mohon bantuannya.”
Kali ini Naura berpikir ulang. Ia merasa iba kepada pria yang dari tadi memohon di sebelahnya. Semarah apa pun dia, ia maish punya hati nurani kepada sesama.
“Andai pun Nona minta saya bersujud, saya akan melakukannya,” ucap Baskoro yang hendak melakukan ucapannya tersebut.
“Eh, jangan! Bangun! Saya masuk.” Naura tidak punya pilihan lain selain mengiyakan sebelum Baskoro bersujud di depannya.
Dalam perjalanan, Naura terus membuang muka. Ia menatap jendela yang menampakkan jalanan kota dengan gedung-gedung menjulang tinggi. Kendaraan berlalu lalang, menyibukkan diri dengan suasana kota yang seperti tak ada matinya.
“Saya minta maaf atas kesalahan saya Nona. Pak Sky tidak salah apa-apa.”
“Masih saja membela bosmu?” tanya Naura kesal.
“Pak Sky tidak akan melakukan itu jika salah paham tidak terjadi.”
Naura terdiam. Gadis itu seakan menanti penjelasan lebih dari asisten bosnya tersebut.
“Ponsel yang Nona temukan itu adalah ponsel milik wanita panggilan Pak Sky.”
“Owh. Dia memang suka mencari wanita panggilan?” jawab Naura cuek.
“Bukan, Nona. Tapi baru sekali itu. Itu pun ....” Baskoro menggantungkan kalimatnya, tampak ragu untuk menjelaskan.
“Apa?”
“Maaf Non Naura, saya tidak berani menjelaskan lebih detail. Intinya saya minta maaf, seharusnya wanita itu bukanlah nona. Saya di sini yang salah.”
“Bos dan anak buah sama saja.”
“Pak Sky orang baik, Non. Dia hanya terlihat keras tapi orangnya rapuh. Dia ....” Baskoro menekan pedal rem begitu cepat, hingga kendaraan roda empat yang mereka tumpangi sedikit terpental. Termasuk dengan Naura.
“Maaf, Non. Ada kucing di jalan tadi. Anda tidak apa-apa?” tanya Baskoro panik. “Bagaimana keadaan Anda? Perut Anda baik?”
“Saya baik, Pak. Saya tidak apa-apa.”
“Syukurlah.”
“Pak Sky sangat berharap dari anak itu, Non. Jadi saya harap Nona bisa menjaga baik-baik, janin yang ada di rahim Nona.”
Naura terdiam. Dalam batinnya berdecak kesal. Tanpa diberi nasihat oleh Baskoro, tentunya Naura akan menjaga anak itu dengan baik. Bagaimana pun ia adalah ibu dari anak tersebut, tentu akan menyayanginya sepenuh hati.
Tak butuh waktu lama hingga akhirnya Naura sampai ke apartemen. Baskoro pun terus menemaninya sampai masuk ke dalam kamar. Awalnya Naura risih jika harus diikuti seperti itu. Tapi, ia pun kasihan jika Baskoro nantinya dimarahi Oleh Sky. Beberapa hari mengenal Sky, Naura sedikit paham dengan sifat pria itu. Arogan dan selalu menang sendiri.
Di apartemen itu, Naura bingung harus berbuat apa. Jika tadi tidak diantar Baskoro, tentunya ia akan mampir ke taman sekedar menghilangkan penat dengan rutinitasnya.
Ia berjalan kesana – kesini tidak jelas. Menonton tv, melihat pemandangan dari atas balkon atau pun tiduran di sofa. Semua telah dilakukan tapi tetap saja detikan jam seakan tidak berjalan.
Naura masuk ke dalam kamar. Niatnya untuk tidur siang. Tapi sesampainya di sana, ia justru mendekat ke arah meja kerja Sky. Sudut matanya tertarik dengan tumpukan buku yang ada di rak dekat tempat bekerja.
“Semua bukunya gak ada yang menarik,” ucapnya lirih sambil menatap judul-judul buku yang tertulis dalam tepi buku tersebut.
Suara ponselnya berdering. Ia bergegas mengambil benda tersebut dari saku celananya. Nama Pak sombong tertulis jelas dalam layarnya.
“Ada apa?” ucap Naura usai mengusap layar pipih miliknya.
“Saya di depan. Bukakan pintu!”
“Anda pulang?”
“Bukannya tadi diminta di rumah. Disuruh libur kerja? Sebenarnya yang benar yang mana?”
Naura tersenyum tipis. Ia mematikan panggilan dan membuka pintu apartemen. Dilihatnya Sky yang tengah membuang nafas kasar.
“Buka pintu saja lama sekali “ Pria itu berlalu melewatinya.
“Siap-siap. Kita periksa kandunganmu sekarang!”
Sky melepas jas yang dikenakan, juga melonggarkan dasinya.
“Kandunganku sehat. Aku gak apa-apa.”
“Bisa gak tidak protes kalau diperintah? Tadi Baskoro ngerem mobil mendadak, saya takut terjadi apa-apa dengan kandunganmu. Dasar, dia memang tidak becus.”
Alih-alih spechles dan merasa diperhatiakan, Naura justru tertawa keras. Bahkan tanpa sadar tangannya menepuk-nepuk punggung Sky yang berdiri di depannya.
“Kamu dan Pak Baskoro sama lebaynya tahu. Nih, aku tidak apa-apa.” Naura menarik lengan Sky. Ia mendekatkan tangan tersebut ke perutnya.
Mendadak, waktu seakan berhenti. Naura dan Sky saling menatap dengan detakan jantung yang berpacu lebih cepat. Naura tidak tahu perasaan apa ini sebenarnya. Terkadang ia merasa benci kepada Sky yang telah menghilangkan kehormatannya. Tapi kebaikannya kepada neneknya di desa tak bisa ia lupakan. Bahkan, saat ini Sky sedang membuatkan rumah baru untuk neneknya di sana.
“Maaf,” ucap Naura yang melepas pegangan tangannya.
“Gak apa-apa. Aku suka bisa mengelus anakku di sana,” ucap Sky tersenyum tipis. Baru kali ini, Naura melihat senyuman Sky yang terkesan tulus. Berbeda dengan hari-harii sebelumnya yang terlihat meremehkan.
“Kamu harus periksa rutin kandunganmu perbulan. Apalagi kamu tiap hari mengeluarkan banyak energi untuk kerja dan kuliah.” Kali ini nada bicara Sky terdengar lembut. Seakan menghipnotis Naura yang dari tadi tak beranjak menatap wajahnya.
Wanita cantik itu hanya menganggukkan kepala tanda setuju.