Selama berhari-hari, kopi menjadi teman yang pas untuk menemani malam suramnya. Ilyas menatap ke arah layar laptopnya yang kembali menunjukkan kata 'not responding', membuatnya sangat frustasi pada jam-jam rawan tidur seperti ini. Sudah lelah mengerjakan semuanya, ternyata tidak tersimpan adalah sebuah malapetaka yang nyata. Kualitas tidurnya menjadi menurun hanya karena pekerjaan yang bukan pekerjaannya. Memangnya dia siapa? Astaga! Kenapa harus mengerjakan semua pekerjaan semacam ini?
Jika bisa mengeluh sambil berteriak di depan kantor guru, mungkin sudah dia lakukan sejak awal. Dia bahkan hanyalah guru baru, masih honorer, terlebih seorang guru bimbingan konseling yang tidak tahu menahu tentang merencanakan suatu kegiatan. Andaikata ini kegiatan kecil, namun yang terjadi adalah rencana kegiatan yang luar biasa besar dan tentunya mempunyai tanggungjawab yang sangat besar juga. Tetapi kenapa harus dirinya?
Ah, karena dirinya guru baru yang selalu mengatakan 'iya' ketika para guru senior menyuruhnya ini dan itu? Mereka selalu berdalih dengan kata; supaya guru baru bisa belajar dan punya pengalaman, ketika menyuruh guru baru sepertinya dan Hannah. Mentang-mentang karena cumlaude, semua beban derita bisa mereka tanggung sendirian? Memangnya mereka Ironman yang melakukan segalanya mengandalkan pakaian robotnya?
Ilyas kesal sekali ketika salah satu guru mengatakan bahwa lulusan sarjana harus bisa segalanya dan dapat melakukan segalanya dengan fleksibel. Tetapi masalahnya, setiap jurusan memiliki porsinya sendiri. Beda jurusan, beda fokus. Lalu bagaimana ceritanya bisa dikatakan sebagai harus bisa segalanya? Ilyas kesal sekali.
Dia kembali menghela napas panjang dan menatap layar laptopnya yang masih menyala. Terlihat beberapa tabel yang tertera di sana, namun belum juga diselesaikannya. Ilyas kembali meluruh, menyandarkan punggungnya pada tembok yang dingin. Laptopnya tampaknya tidak bisa diajak bekerjasama. Mungkin, laptopnya juga kelelahan karena berhari-hari tidak istirahat.
Jadwal kegiatan study tour kelas sebelas —begitulah kira-kira judul yang tertera di sana. Sebuah tugas yang sebenarnya bukan tugasnya. Baru beberapa hari masuk menjadi guru BK, tetapi sudah disuruh mengurusi kegiatan besar seperti ini. Padahal selama masa kuliah, Ilyas termasuk ke dalam mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang—kuliah pulang). Dia tidak pernah mengikuti organisasi apapun selama hidupnya. Sehingga tidak ada rencana apapun di dalam otaknya untuk sekedar merencanakan acara.
"Ah, ... seharusnya aku ikut BEM walaupun sekali. Sekarang semua baru terasa setelah aku lulus. Tidak ada yang lebih penting daripada skill di luar sebuah nilai." Keluh Ilyas dengan nada putus asa.
Dia menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menyingkirkan diri dari laptopnya. Rasanya lelah sekali setelah mengerjakan sesuatu yang belum pernah dikerjakannya sebelumnya. Ilyas pikir, kehidupan akan berjalan lancar ketika dirinya selesai tepat waktu dan mendapatkan pekerjaan secepat yang dia bisa setelah lulus. Seharusnya, dirinya bersyukur, bukan? Tapi begitulah dilema yang dirasakannya.
"Apa aku terkena karma karena sudah bicara buruk pada anak itu? Setelah aku bicara tentangnya, kemalangan ini terjadi begitu saja. Ah, andaikan aku tidak mengatakannya!" Keluh Ilyas yang kembali mengingat apa yang telah dia katakan kepada siswanya beberapa hari lalu.
Drt Drt Drt
Ponselnya bergetar, ada telepon masuk dari seseorang. Ilyas mengambil ponselnya dan segera menekan tombol hijau ke atas untuk menerima panggilan itu.
"Hm,"
"Kenapa suaramu begitu? Sudah selesai dengan jadwalnya?" Tanya seseorang diseberang sana.
Ilyas menghela napas kasar. Mungkin dapat didengar dengan jelas oleh lawan bicaranya.
"Aku juga tidak bisa menyelesaikan daftar peralatan atau segalanya sendirian. Aku tidak tahu persis dengan tempat yang akan kita kunjungi. Jadi, bagaimana bisa aku menuliskan peralatan yang harus dibawa kesana. Aku bahkan tidak pernah ikut study tour sebelumnya karena selalu mabuk darat." Curhat orang diseberang sana yang diketahui adalah Hannah, teman seperjuangan Ilyas yang sama-sama mendapatkan tugas tidak masuk akal.
Ilyas menganggukkan kepalanya walaupun tidak akan bisa Hannah lihat, "apa menurutmu ini masuk akal? Kita adalah guru baru yang tidak punya kemampuan untuk membuat sebuah agenda study tour yang seharusnya melibatkan banyak pihak. Mentang-mentang kita guru baru, mereka seenaknya meminta kita mengurus ini dan itu. Mereka tidak mendiskusikannya dan langsung mengambil keputusan. Menyebalkan!"
"Aku sampai mengonsumsi dua gelas kopi setiap malam karena tuntutan tidak masuk akal ini. Sebelumnya, bahkan aku tidak bisa menghabiskan secangkir kopi karena lambungku akan sakit. Tetapi tampaknya, kali ini lambungku bersahabat." Ucap Hannah dengan suara yang lemas.
Ilyas mengerti mengapa Hannah melakukannya. Lagipula, dia tidak jauh berbeda. Keadaannya bahkan lebih mirip pemuda yang seringkali mengonsumsi narkoba. Dia bisa kurus dalam waktu singkat karena jarang makan dan suka begadang. Ah, sudah pasti paket lengkap.
"Han," panggil Ilyas.
"Hm," Hannah hanya menjawabnya dengan deheman saja.
"Kamu yakin kalau kita bisa terus bertahan di sekolah itu? Kita bukan hanya sebagai guru BK yang harus mengurusi siswa bermasalah, tapi kita dimanfaatkan dengan sangat membabi buta karena kita adalah fresh graduate yang dianggap bisa melakukan segalanya. Rasanya aku ingin menyerah dan kembali pulang kampung. Sepertinya tempat ini tidak cocok denganku." Tandas Ilyas yang ingin menyerah.
Hannah terdengar menghela napas panjang, "ayo bertemu di warung mi ayam dekat sekolah. Katanya rasanya enak! Sepertinya kita harus makan dan mengisi tenaga kita yang sudah habis. Setelah itu, kita bicarakan lagi kelanjutan karir kita ini."
Tanpa menunggu jawaban Ilyas, Hannah sudah memutus sambungan telepon mereka. Ilyas dengan terpaksa beranjak dari duduknya untuk mematikan layar laptopnya yang masih menyala. Dia tahu bahwa Hannah akan benar-benar datang meskipun Ilyas mengatakan tidak sekalipun. Jadi, tidak ada pilihan selain datang bertemu Hannah dan makan mi ayam sesuai dengan rencana.
Tidak lama kemudian, Ilyas menaiki motornya untuk menuju ke warung mi ayam dekat sekolah. Dia berjalan masuk lebih dulu, menunggu Hannah untuk datang. Tetapi baru saja masuk ke dalam warung mi ayam itu, tidak sengaja dia melihat seseorang yang dikenalnya sedang bicara sendirian dengan dua mangkuk mi ayam yang berada di atas meja. Ilyas berusaha mencerna apa yang dilihatnya dan berpikir dengan keras tentang apa yang dilihatnya.
"Dia bicara sendiri?" Tanya Ilyas kepada dirinya sendiri. "Kenapa dia pesan dua mangkuk mi ayam? Dia kuat makan dua mangkuk untuk dirinya sendiri? Bukankah ini sudah malam?" Sambungnya bingung.
"Pak Ilyas kenal?" Tanya seseorang yang keluar dari meja kasir untuk menghampiri Ilyas yang menatap ke arah remaja cowok itu.
Ilyas mengangguk pelan, "siswa saya, Mas."
"Oh, ... jangan-jangan yang sering dibilang sama orang-orang itu, ya? Saya belum pernah lihat anak itu soalnya. Yang katanya~" ucapan si pemilik warung pun menggantung, antara jadi atau tidak melanjutkan ucapannya.
Ilyas berusaha untuk tidak peduli dengan apa yang dilihatnya. Toh, ini bukan waktunya bekerja. Anggap saja dia tidak kenal!
"Mas, mi ayam satu sama es jeruk." Pesan Ilyas akhirnya, memecahkan kecanggungan diantara dirinya dan pemilik warung mi ayam itu.
Jadi, apa yang dilakukan cowok itu sendirian?
***