Trauma —sebuah kata yang sangat sulit dikatakan kepada orang lain. Mengatakannya pun, belum tentu akan mengundang simpati. Seorang yang mengalami trauma, kebanyakan hidup seperti terbungkus di dalam kepompong. Mereka melindungi diri dengan bungkus yang kuat. Bedanya, kepompong akan berubah menjadi kupu-kupu yang cantik, sedangkan manusia yang terbungkus di dalam trauma hanya akan hidup dengan mengenaskan melawan perasaan aneh yang menjelma menjadi rasa bersalah, rasa kecewa, bahkan rasa benci pada dirinya sendiri.
Orang-orang yang kalah dan tidak mampu melawan trauma- nya, bisa melakukan segalanya. Entah itu akan berefek buruk atau tidak, yang paling penting adalah berusaha membuang rasa trauma yang membuat mereka hidup dengan tidak normal. Tetapi, bagi mereka yang tidak mengerti tentang trauma seseorang, mereka akan cenderung menghakimi, bahkan tidak jarang melabeli dengan label yang menjatuhkan mental orang yang mengalami trauma tersebut.
Sehingga, orang-orang yang tadinya ingin sembuh (melupakan trauma itu, paling tidak), memilih untuk melepas semua beban traumanya dengan cara yang terkadang membahayakan diri. Kebanyakan orang yang mengalami depresi dan mendekam di rumah sakit jiwa selama bertahun-tahun adalah orang yang kehilangan jati dirinya karena merasa depresi dan tidak ada satupun manusia lainnya yang mau membantunya.
Percayalah, ketika kita menyediakan telinga untuk mendengarkan dan bahu untuk bersandar bagi orang yang mengalami trauma, itu lebih dari cukup! Didengarkan dan tidak berusaha dipahami membuat orang yang mengalami trauma merasa jika diri mereka mempunyai satu atau dua orang untuk menyandarkan sejenak beban di pundaknya yang tidak bisa dia lepaskan.
Setiap perilaku yang dianggap aneh, tentunya mempunyai alasan yang jelas. Manusia lain tidak bisa begitu saja menghakimi karena tidak tahu persoalan yang sebenarnya. Bahkan seseorang melakukan pencurian pun mempunyai alasan yang jelas. Bisa jadi alasannya sepele, namun tidak mau diterima oleh orang sekitarnya. Terkadang pun dipermalukan dengan alasan agar orang lain tidak melakukan tindakan yang sama atau agar pelaku jera. Tetapi bukannya pelaku jera, kejadian itu tidak jarang akan mendapatkan trauma.
Bagi orang yang mengalami trauma, hidupnya sudah berakhir saat itu juga. Dia tidak lagi bisa hidup dengan normal dan menjalani harinya dengan tenang. Kelihatannya akan baik-baik saja, namun trauma itu seakan memakan habis kewarasan orang tersebut dan biasanya akan berakhir buruk.
Galen, remaja tanggung yang punya trauma. Itu sudah sangat jelas! Dia punya banyak trauma yang orang sekitarnya sebenarnya tahu apa, hanya saja mereka menutup mata. Lalu, ketika Galen melakukan satu kesalahan dan ketahuan, semua orang menyalahkannya tanpa berusaha mencari tahu apakah yang membuat Galen seperti itu. Menghakimi sangat mudah, namun mencari kebenaran yang sangat sulit.
Dan bagi Galen, trauma terbesarnya adalah Ayahnya sendiri. Orang itu adalah satu-satunya keluarga yang Galen punya. Orang itu adalah orang yang seharusnya melindunginya dan menjamin kelangsungan hidupnya. Namun orang itu malah menggores luka yang paling dalam di hatinya dan membuatnya mengalami masa-masa yang sulit seumur hidupnya. Galen tidak pernah menganggap bahwa Ayahnya adalah bagian terpenting dalam hidupnya, tidak sama sekali.
Baginya, Ayahnya adalah monster. Monster yang memakan hidupnya perlahan-lahan dan merebut segala kenormalan di dalam hidupnya. Dia tidak pantas disebut Ayah atau tidak pantas punya keluarga. Ayahnya tidak pantas hidup! Begitulah suara hatinya yang tertahan selama ini. Sayangnya, Galen tidak mempunyai keberanian itu.
Sekarang, monster itu berhadapan dengannya. Monster yang sudah lama tidak datang menemuinya berada di dalam rumahnya. Galen kehabisan kata, dia terlihat payah ketika sudah berhadapan dengan orang yang tidak pantas disebut sebagai Ayah itu.
"Sudah lama tidak bertemu padahal jarak rumah kita tidak begitu jauh! Aku datang untuk melihatmu dan memastikan kamu tidak melakukan kesalahan lagi yang akan membuatku terlibat masalah." Tandas sang Ayah yang tersenyum ke arah Galen.
Galen baru pulang dari jalan-jalan. Kebahagiaan yang tadinya begitu kentara di wajahnya, lenyap dalam hitungan detik digantikan dengan raut wajah ketakutan. Bahkan dia tidak bisa mengangkat wajahnya karena rasa takutnya yang berlebih.
PRAK! Terdengar suara benda yang dibanting dengan sangat kencang. Galen hanya bisa menatap laptopnya yang telah pecah, bahkan bagian dalamnya sudah keluar, berserakan. Pelakunya adalah Ayahnya yang entah sejak kapan membawa laptopnya. Galen tidak bereaksi, cowok itu hanya memainkan jemarinya tanpa berniat untuk protes sama sekali.
"Kamu masih mempunyai file-file menjijikkan itu? Apa kamu sudah mulai tidak waras? Apa kamu ingin aku masukkan ke rumah sakit jiwa seperti Ibumu dulu?" Bentak sang Ayah yang membuat Galen tertunduk dalam-dalam. "Berhentilah anak setan! Kamu mencoreng mukaku berulangkali dengan kelakuanmu itu!" Sambungnya lagi.
Bugh! Sebuah sapu dipukulkan pada kepala Galen dan tubuhnya. Galen meringis menahan sakit dan terus menundukkan kepalanya. Sekarang, siapa yang akan menolongnya? Tidak ada bukan? Jadi, menikmati siksaan ini sampai selesai adalah sebuah solusi yang masuk akal. Setidaknya hanya itu yang bisa Galen pikirkan sampai sekarang.
Terdengar suara gagang sapu yang bertemu dengan punggung Galen secara berulang. Selama beberapa menit, Galen seperti disuguhkan gambaran neraka yang mungkin terlalu biasa didapatkannya. Galen meringis menahan sakit, keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya, namun Galen tidak mempedulikannya.
Sakit itu memang tidak lagi berarti, namun proses pemukulan itu yang membekas dalam hatinya. Matanya mulai memanas, ditahannya air mata yang hendak meluncur jatuh. Galen tidak mau dianggap lemah dan kalah karena siksaan. Dia akan menahan rasa sakit ini dengan kedua tangan yang mengepal, setidaknya sampai Ayahnya puas dan berhenti untuk meluapkan marahnya.
"Kamu seharusnya mati mengikuti Ibumu. Kamu beban terbesar dalam hidupku! Pergilah ke neraka, temani Ibumu." Umpat Ayahnya dengan suara penuh penekanan.
Galen tersenyum tipis, "aku senang karena Ibu sudah meninggal. Aku tidak mau melihat Ibu terus dipukul seperti ini."
Tentu saja Ayahnya tidak bisa mendengarkannya, karena Galen mengatakannya di dalam hati.
Gelap.
Galen berusaha mengembalikan segala kesadarannya yang melayang entah kemana.
Gelap.
Galen terus menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh. Dia tidak akan mengalah pada pukulan yang diberikan Ayahnya. Dia tidak akan menyerah untuk bertahan dan membuktikan bahwa dirinya sangat kuat sekarang. Sayangnya, tubuhnya berkhianat karena terlalu kesakitan dan lelah.
Bruk. Galen benar-benar menutup kedua matanya setelah pandangan matanya menggelap dan seluruh rasa sakit di tubuhnya lenyap bagaikan terbang.
Setelah itu, Ayahnya pun membuang gagang sapu itu ke sembarang arah dan mengambil tasnya yang berada di atas meja. Barulah dirinya pergi dari rumah Galen tanpa pamit sama sekali. Jangankan pamit, membantu putranya yang babak belur karena dirinya pun, enggan dia lakukan.
Tidak ada satupun yang peduli kepadanya dan melindunginya. Setiap hari di dalam hidupnya, adalah sebuah kutukan kesepian yang tidak akan pernah dia lupakan.
***