BAB 12 : Luka Punggung

1068 Words
Matanya terbuka karena silaunya sinar matahari yang masuk lewat celah jendelanya. Galen merasakan punggungnya nyeri, namun berusaha dia tahan sebisanya. Cowok itu tidak mengindahkan rasa sakitnya untuk berusaha berdiri dari posisi awalnya yang tertidur tengkurap di lantai ruang tamu. Dia bisa melihat lantai ruang tamunya sangat kotor dengan serpihan-serpihan laptopnya yang hancur berantakan. Tangannya terasa kebas, mungkin karena tidak sengaja tertindih badannya ketika pingsan semalam. Rasanya lucu ketika mengatakan bahwa dirinya pingsan semalam. Bahkan orang yang membuatnya pingsan pun tidak membantunya sama sekali, malah meninggalkannya dan membiarkannya sampai sadar sendiri pada pagi harinya. Sudah lama tidak disiksa secara fisik seperti ini, terakhir kalinya ketika Ibunya masih hidup dulu. Sayangnya, semua itu tidak berakhir sama sekali. Sang Ayah selalu membuatnya menjadi anak malang yang pantas untuk dijadikan sansak tinju. Menyedihkan! Ada seorang perempuan tua yang masuk ke dalam rumahnya. Galen tidak mempedulikannya, begitupun perempuan tua itu yang melewatinya tanpa permisi sama sekali. Bahkan seorang pembantu memperlakukan dirinya seperti binatang yang pantas dihinakan. Cowok itu berusaha tidak peduli, namun terkadang jengah juga. Dia ingin hidup tenang dan tinggal di tempat yang jauh, di mana tidak ada satupun orang yang mengenalnya. Galen bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengabaikan kekacauan yang telah dibuat Ayahnya. Toh, pembantunya yang akan membereskan semua itu, sesuai dengan apa yang Ayahnya inginkan. Setelah selesai dengan semua kegiatannya, Galen mengambil kunci motornya dan bergegas dengan kecepatan sedang menuju ke suatu tempat. Dia akan mati bosan atau terus mengeluh karena sakit pada punggungnya jika terus berdiam diri di rumah. Jalanan lumayan lenggang karena bukan jam sibuk. Akhirnya dia bisa sampai di parkiran sebuah pasar di mana temannya tengah membantu orang tuanya berjualan gorengan. Galen melepaskan helm- nya dan menatap sekelilingnya. Seperti biasanya, pasar selalu ramai dengan para penjual dan pembeli. Sebuah nostalgia masa lalu ketika dirinya diajak Ibunya belanja di pasar dan dirinya yang merengek minta dibelikan mainan. "Galen," ucap seorang cowok yang menenteng dua ember air di kedua tangannya. Galen menatap ke arah Leander dan menatap ember air yang dibawanya. Tanpa basa-basi, Galen langsung mengambil alih satu ember dan membawanya ke arah gerobak gorengan yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri tadi. "Kamu beneran datang," ucap Leander lagi dengan tidak percaya. Cowok itu mengangguk, "bosen di rumah. Gue mau cari suasana baru. Enggak boleh?" "Boleh kok, boleh!" Jawab Leander dengan cepat. Kemarin Galen menghubunginya dan bertanya tentang kegiatan apa yang akan dilakukannya hari ini. Leander menjawab akan membantu Ibunya berjualan gorengan karena lumayan banyak pesanan dari beberapa orang untuk kegiatan arisan atau pengajian. Galen sendiri yang tidak mempunyai kegiatan hanya iseng meminta datang dan Leander menyetujuinya. "Mukamu pucat banget. Sakit?" Tanya Leander memandang wajah Galen yang memang sedikit pucat. Cowok itu diam-diam menahan rasa sakit yang mendera punggungnya. Punggungnya belum diobati sama sekali makanya rasanya tidak karuan. Bahkan ketika punggungnya yang terluka tergesek sedikit saja dengan pakaian, Galen harus menahan rasa sakitnya mati-matian. "Buk," sapa Galen dengan canggung kepada seorang perempuan paruh baya yang sayu sambil mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya. Perempuan itu tersenyum hangat menatap Galen dan mengelap kedua tangannya pada celemeknya yang sedikit kotor terkena tepung. "Eh, ada temannya Leander. Kamu yang kemarin bawa makanan untuk adik-adiknya Leander ya, Nak? Wah, terimakasih banyak. Adiknya Leander senang banget. Maklum, tidak pernah lihat jajanan toko." Ucap perempuan yang diketahui sebagai Ibu dari Leander itu dengan tulus. Galen menyambut uluran tangan Ibunya Leander dengan senyuman canggung. Namun senyumannya pun perlahan-lahan membaik, tidak mirip dengan seringaian lagi. Sehingga tak ada lagi prasangka buruk padanya walaupun merasa aneh karena anak sekolah berambut gondrong. Segelas teh panas disodorkan pada Galen yang baru saja duduk di kursi plastik. Cowok itu mengucapkan kata 'terimakasih' kepada Leander dengan susah payah sudah lama sekali tidak mengatakan kata sederhana itu dan rasanya memang sulit. Bukan karena dia gengsi mengatakannya. Namun karena memang tidak pernah ada yang mau membantunya atau ada yang memintanya untuk membantu. Galen hanya menatap beberapa orang yang datang untuk membeli gorengan dan melihat bagaimana interaksi antara Leander yang sepertinya sudah terbiasa berjualan. Cowok itu bahkan tampak hapal dengan semua orang yang menjadi pembelinya. Galen ingin mempunyai kegiatan yang tidak membosankan seperti Leander, kegiatan membantu orang tua yang seringkali tidak disukai remaja lainnya, namun sangat ingin dirinya miliki. Selama bertahun-tahun, tidak ada yang memintanya untuk membantu. Tidak ada yang memarahinya karena melakukan kesalahan dengan tulus. Tidak ada yang memperhatikannya jika pulang larut. Semuanya tidak pernah terjadi lagi setelah Ibunya meninggal. Dia sebatang kara yang payah, walaupun mempunyai Ayah. Ah, apakah seorang Ayah melakukan tindakan tidak terpuji seperti terus memukulinya dan menganggapnya manusia hina setiap hari? Bahkan seekor binatang saja masih punya sedikit perasaan. Mengerikan! "Nak Galen sudah makan?" Tanya Ibu Leander sambil menepuk pundak Galen dengan pelan. Namun cowok itu sedikit meringis karena semua badannya sakit dan mudah sekali merasakan perih. "Kenapa, Nak?" Tanya Ibu Leander yang merasa ada yang tidak beres dengan kondisi Galen. Namun cowok itu hanya menggeleng pelan dengan memaksakan senyumannya. "Belum, Bu." Jawab Galen dengan menggelengkan kepalanya pelan, berusaha terlihat senormal mungkin agar Ibu Leander tidak bertanya lagi tentang; apakah dia baik-baik saja. Ibu Leander tersenyum mengangguk lalu mengelus pundak Galen kembali dengan sangat pelan, "Ibu bawakan nasi, ya? Kamu sama Leander, kalian makan dulu." "Enggak perlu repot-repot, Bu." Ucap Galen karena memang tidak ingin merepotkan. Lagipula, selama ini dirinya tidak pernah diperlakukan dengan baik oleh orang lain dan saat itu terjadi, rasanya begitu asing dan aneh. Ibu Leander menggeleng pelan, "itu sama sekali enggak merepotkan kok. Ibu senang karena akhirnya Leander punya teman dan temannya dibawa ke rumah pula. Ibu khawatir karena Leander tidak punya apa-apa dan saat di sekolah mendapatkan masalah. Ibu tidak mau Leander menderita seperti jaman SD atau SMP. Terimakasih ya, sudah mau berteman dengan Leander sekarang. Ibu sangat menghargai itu." Rasanya, setiap ucapan yang Ibu Leander katakan padanya adalah kata-kata tulus yang selalu diucapkan oleh seorang Ibu yang begitu tulus mencintai anaknya. Galen selalu merindukan kata-kata seperti itu untuk dirinya, sayangnya Ibunya sudah meninggal dan tidak ada Ibu lainnya yang akan menyanjungnya sebaik Ibunya. Semua manusia di dunia ini begitu palsu dan jahat, kecuali Ibunya. Galen seperti tidak mempunyai pilihan atas segalanya. Dia terpaksa hidup dalam bayangan gelap sebuah ketidakpastian yang membuatnya begitu membenci hidupnya. Lalu, apa keinginannya sekarang? Hanya mudah dan begitu kecil. Keinginannya hanyalah sembuh dari luka punggungnya yang sakit. Karena rasa sakitnya begitu mengganggunya dan membuatnya merasa begitu tidak nyaman. Karena luka itu juga, Galen tidak bisa merasakan dengan baik bagaimana sentuhan sayang dari seorang Ibu. Dia menyesalinya! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD