BAB 13 : Mimpi yang Sempurna

1132 Words
Kehidupan Galen tak menarik sama sekali. Dia hanya akan menghabiskan waktunya dengan sia-sia, menunggu hari esok menyambutnya. Bukannya apa-apa, cowok itu hanya tidak tahu bagaimana caranya menikmati hidup yang selalu orang-orang katakan saat merasa bosan. Beberapa orang akan bertemu dengan sahabat mereka, melakukan perjalanan liburan, atau sekedar menonton konser atau pun pertandingan yang mereka sukai sebagai bentuk healing dari segala rutinitas yang membosankan. Galen seringkali melakukannya, dia akan berputar-putar dengan motor kesayangannya tanpa tujuan dengan alasan melepaskan bosan. Tetapi yang dia rasakan hanyalah kekosongan di dalam hati tanpa adanya kepastian apa dan mengapa rasa kosong di dalam hatinya tidak bisa hilang meskipun sudah diusahakan untuk menikmati hidup. Galen tetap menjadi manusia yang tanggung! Bahagia tidak, sedih pun tidak. Dia tidak benar-benar tahu caranya menggolongkan dirinya. Sekarang hiburannya benar-benar tidak ada. Obat penenangnya telah dihancurkan karena dianggap tidak pantas. Ah, mereka bahkan seringkali melakukannya. Bedanya, mereka melakukannya diam-diam tanpa ada yang tahu. Sedangkan dirinya hanya sekedar menonton dan dijadikan tersangka paling hina dalam semua kasta kejahatan manusia di muka bumi ini. Bahkan orang-orang disekitarnya menganggapnya sebagai seorang predator yang mungkin siap mencari mangsa. Dia sosok si m***m yang mendapat predikat dengan sangat jelas tanpa pembelaan sama sekali. Dia begitu terhina dengan bahasa-bahasa yang orang lain katakan tentang dirinya. Bahkan mereka merasa takut dan menganggap Galen mempunyai kelainan seksual menyimpang. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, Galen menyakiti dirinya sendiri agar tidak menyakiti orang lain. "Kalau potong rambut, pasti kamu lebih ganteng daripada sekarang. Matamu padahal bagus, sayang aja kalau enggak ada yang lihat. Bulu matamu juga lentik, pasti banyak cewek yang iri karena bulu matamu lentik alami tanpa perawatan. Hidung kamu mancung tanpa operasi. Kulit kamu bersih dan cerah, lebih cocok jadi bintang iklan facial wash. Pasti banyak yang beli karena modelnya ganteng maksimal. Alis kamu juga tebal dan rapi, siapapun pasti suka lihat kamu lama-lama. Suara kamu juga merdu, kayanya kalau nyanyi, suaramu bagus." Tandas seseorang yang baru saja duduk disamping Galen tanpa permisi. Galen melirik cewek disampingnya yang tengah menatapnya juga. Cewek itu selalu muncul ketika pikirannya tengah kacau balau dan memberikan banyak sekali kata-kata penyemangat yang terasa aneh ketika didengarkan. Tetapi Galen tidak pernah marah saat mendengarkan ocehan cewek itu—dia suka ada orang yang peduli pada dirinya. "Hobi Lo muncul tiba-tiba?" Tanya Galen dengan merapikan anak-anak rambutnya yang menutupi mata. Cewek itu, Meisy, hanya tertawa pelan sambil mengangguk dengan cepat. Dia bisa melihat raut wajah Galen yang tampak tenang ketika menatapnya. Padahal cowok itu memberi sebuah pengakuan aneh dan terlalu jujur padanya. "Masih nonton bokep?" Tanya Meisy dengan to the point tanpa disaring sama sekali. Tentu saja itu membuat Galen reflek menutup mulut Meisy dengan tangannya. Cewek itu meronta, meminta Galen melepaskan bungkaman tangannya. Dengan kesal, Galen melepaskan tangannya dari mulut Meisy setelah mendapatkan cubitan bertubi-tubi. "Lo gampang banget sih ngomong kata-kata kaya gitu di depan umum? Lo cewek! Enggak boleh ngomong sembarangan di depan umum kaya gitu!" Peringat Galen kepada Meisy karena mereka ditatap beberapa orang di taman. Ah, iya, Galen memang sedang duduk di taman sendirian. Taman kota yang lumayan jauh dari rumahnya. Galen ingin suasana ramai untuk sekedar melihat interaksi antara keluarga atau pasangan. Jika dia berkeliaran disekitar taman dekat rumahnya, bukan tidak mungkin banyak yang langsung kabur karena tidak mau berada dalam satu situasi dengan dirinya. Kembali lagi pada kondisi Galen yang tampak kesal karena mendengar apa yang Meisy katakan baru saja. Galen tidak marah pada ucapan cewek itu tentang dirinya. Namun Galen lebih marah karena Meisy bisa jadi akan dianggap buruk karena mengatakan tentang kata itu di depan umum dan terlihat tanpa beban sama sekali. Meisy tersenyum tipis, "diskriminasi gender banget sih! Jadi, ... kalau mau ngomong tentang kata itu, harus yang cowok gitu? Cewek enggak boleh, ya? Padahal banyak kok cewek yang tahu dan paham kata begituan. Namanya juga manusia, pasti kurang lebih akan tahu. Kenapa dipermasalahkan?" "Lo jadi anak baik-baik aja! Jangan nonton begituan! Nanti hidup Lo rusak, berantakan. Jangan jadi gue yang memang sejak awal udah rusak dan berantakan." Ucap Galen dengan sungguh-sungguh. Meisy tersenyum tulus, "enggak ada manusia yang benar-benar baik dan berhati tulus. Yang ada itu manusia yang bisa mengendalikan sifat jahat yang ada dalam dirinya. Semua bayi yang dilahirkan ke dunia ini sudah diberikan sepaket sifat yang bisa dipilihnya. Jadi, enggak ada tuh manusia yang diciptakan menjadi manusia baik. Kalau dia sekarang manusia baik, berarti dia bisa mengendalikan sifat jahatnya. Mungkin, aku salah satunya. Dan kamu pun sama. Kamu juga manusia yang bisa mengendalikan sifat jahat." "Galen," Galen menoleh ketika seseorang memanggil namanya. Perempuan yang dikenalnya tengah berjalan ke arahnya dengan senyuman canggung. Namun Galen memakluminya karena dipertemuan terakhir mereka, tidak terlalu baik. "Kamu, ... lagi ngobrol sama siapa? Baru telepon, ya?" Tanya perempuan itu tanpa basa-basi. Galen mengerutkan keningnya tidak mengerti, "saya bicara dengan teman saya, Bu. Iya 'kan, Meis—" Kosong. Tidak ada satupun orang disampingnya. Sekali lagi, cewek itu pergi tanpa berpamitan kepadanya. Apakah cewek itu terlalu introvert? Bukankan dia menghilang begitu saja juga ketika di taman bermain saat itu? Apakah kehadiran orang lain begitu mengganggunya? "Mungkin, teman saya malu, Bu. Makanya langsung pergi. Tadi saya ngobrol sama teman saya, namanya Meis—" ucapan Galen terpotong dengan cepat oleh perempuan itu, Hannah. "Kamu sering bicara sendiri?" Pertanyaan macam apa itu? Ah, maksudnya apa yang baru saja dia dengar? Galen tidak bisa mencerna sedikitpun tentang ucapan Hannah yang mengatakan bahwa dirinya berbicara sendiri. Bukankah itu aneh? Dia tidak bicara sendirian. Dia berbicara dengan seorang cewek yang menyenangkan. "Saya harus pergi, Bu." Tandas Galen yang hendak meninggalkan Hannah karena tidak ingin berbicara terlalu lama dengan perempuan itu. "Saya sedang banyak pekerjaan. Tolong lepaskan tangan saya!" Sambung Galen ketika tangan kanannya digenggam oleh Hannah. Perempuan itu menggeleng pelan, enggan untuk melepas genggaman tangannya dari pergelangan tangan Galen. "Kita harus bicara, 'kan? Ibu tidak mau terjadi sesuatu sama kamu. Kita bicara sekarang! Bisa?" Ucap Hannah dengan nada memaksa. Namun Galen buru-buru melepaskan genggaman tangan Hannah dengan kasar, "saya tidak ingin berbicara dengan orang yang menganggap dirinya paling tahu masalah hidup orang lain. Ibu dan Pak Ilyas hanya guru BK. Kalian berdua hanya bisa memantau dan melihat saya ketika berada di sekolah. Jadi, berhenti untuk ikut campur kehidupan saya." "Sejak kapan kamu bicara sendiri?" Ulang Hannah yang tidak menggubris omongan Galen lainnya. Galen kembali tertegun dengan wajah bingung. Beberapa orang yang sempat berbisik-bisik tentangnya kembali memasang wajah tidak suka. Dan tiba-tiba, gelap, pusing, sakit, lalu perlahan-lahan dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Sayup terdengar suara teriakan, tetapi dia tidak peduli. Matanya menutup sempurna, dengan suara panggilan yang didengarnya pun perlahan hilang. Galen benar-benar tidak sadarkan diri. Dia termenung dalam lorong yang panjang—dia kesepian dan sangat kesakitan. Meringkuk lalu mengusap seluruh tubuhnya yang terluka parah. Galen berada dalam ambang sebuah kesadaran yang membuatnya tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya ilusi semata. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD