BAB 14 : Ruangan Putih Pemicu Trauma

1186 Words
Ruangan ber- cat putih menyapanya dengan aroma obat-obatan yang menyeruak begitu saja. Suara sirene ambulance terdengar begitu nyata dan sangat dekat. Cowok itu bangun dengan keringat yang membanjiri tubuhnya, tangannya terasa dingin, dan sekujur tubuhnya bergetar hebat. Air mata hampir jatuh dari pelupuk matanya, namun berusaha untuk dirinya tahan. Cowok itu memegang perutnya, ada gejolak dari dalam perutnya yang memaksanya untuk segera keluar dari ruangan itu. Cowok itu menutup mulutnya, dia benar-benar mual dan ingin segera memuntahkan isi perutnya yang baru saja diisi dengan makanan enak tadi siang. Sayangnya, bayangan-bayangan di kepalanya membuatnya merasa sangat pusing dan semakin mual. Cowok itu meraih apa saja yang ada di dekatnya, tiang penyangga infus pun menjadi pegangan. Tidak sampai disitu, jarum infusnya pun terlepas begitu saja—meninggalkan bercak darah di tangannya. Dengan langkah yang tertatih, cowok itu mencoba meraih pintu, jemarinya memegang knock pintu dan menarik mundur. Terdengar suara teriakan dari beberapa orang, bisa jadi tenaga medis yang baru saja mengeluarkan pasien dari dalam ambulance untuk dibawa ke ruangan UGD. Teriakan itu meminta semua orang di lorong untuk minggir agar tidak tertabrak. Tetapi ada orang yang mulai bicara ngawur dan mengumpat karena tertabrak salah satu brangkar. Padahal salahnya sendiri, sibuk menelepon di lorong yang sudah sepi. "Huek," cowok itu kembali menutup mulutnya karena melihat noda darah yang berceceran disepanjang lorong. Perutnya kembali diaduk-aduk dan akhirnya dia berusaha untuk tetap keluar, mencari kamar mandi yang entah di mana. Lalu terlihat tulisan 'toilet' yang terpampang dengan jelas di ujung lorong. Membuatnya dengan terburu-buru berlari ke arah sana—ingin segera memuntahkan seluruh isi perutnya yang sepertinya memang ingin dikeluarkan. Sedangkan di ruangan 201, terlihat sepasang manusia tampak sangat kebingungan dengan keadaan ruangan yang berantakan dan mereka pun tidak menemukan keberadaan si pemilik kamar inap yang tadi masih tertidur dengan lelah dalam kondisi memiringkan badannya ke samping. "Mana?" Tanya laki-laki itu dengan tatapan bingung ke arah perempuan yang memegang plastik berisi nasi padang di tangan kanannya. Perempuan itu, Hannah, buru-buru mendekat ke arah Ilyas, memastikan apa yang laki-laki itu katakan baru saja. Benar saja, tidak ada orang di atas ranjang. Keadaan jarum infus yang sudah tercabut, penyangganya yang jatuh ke lantai dan beberapa kekacauan lainnya yang membuat Hannah hanya bisa terdiam bingung. Dia baru setengah jam pergi ke warung makan depan untuk membeli makan dan sudah melihat kekacauan seperti ini. "Dia kabur?" Tebak Ilyas asal, meski itu kemungkinan yang paling masuk akal setelah melihat kekacauan di depannya. "Orang seperti dia, tidak akan pernah menghargai bantuan orang lain. Mendingan kita berhenti dan mencari pekerjaan lain aja, Han. Kamu tahu 'kan, kita dimanfaatkan di sekolah itu. Kita dijadikan alat untuk mengurus anak yang tidak bisa kita urus. Mereka saja tidak bisa meng—" ucapan Ilyas terpotong ketika seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu dengan mendorong kursi roda di mana cowok yang mereka cari tengah tertunduk lemas. Hannah mendekat, berjongkok di depan cowok itu dan mengecek keadaannya dengan tatapan yang khawatir. "Galen," panggil Hannah kepada cowok itu dengan lembut sambil mengelus dahinya. "Kamu enggak pa-pa? Ada yang sakit?" Sambung Hannah kepada cowok itu, Galen, dengan suara yang lembut. Galen mendongakkan kepalanya dan menggeleng pelan. "Pasien 201 ini saya temukan di kamar mandi. Katanya mual dan ingin muntah, makanya saya bantu tadi." Ucap perawat laki-laki itu dengan senyuman tipisnya. "Mari saya bantu kembali ke ranjang." Sambungnya dengan ramah. "Terimakasih," ucap Hannah yang tidak mempedulikan Ilyas yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Setelah perawat itu selesai untuk menangani Galen, Hannah sendiri yang membantu untuk menyelimuti cowok itu. Galen menatap gurunya dengan tatapan lekat. Dia tidak bisa berkata apa-apa, karena selama ini tidak ada yang memperlakukannya seperti ini. Lagi-lagi Galen merasa dirinya begitu dihargai sebagai manusia. Apalagi Hannah tampak tersenyum tulus ke arahnya. "Mau minum, Galen?" Tawar Hannah kepada cowok itu yang merubah posisinya dari telentang menjadi miring ke samping. Galen menggeleng pelan, "saya tidak haus, Bu. Terimakasih karena sudah membawa saya ke rumah sakit. Tapi tidak masalah jika Ibu dan Bapak meninggalkan saya sendiri di sini. Nanti akan ada yang datang untuk menunggu saya." Perempuan itu tersenyum masam, seperti ada yang ditahannya. Hannah tampak prihatin, namun tidak dirinya perlihatkan di depan Galen. Cowok itu sudah banyak menyimpan rasa sakit, Hannah baru tahu itu tadi—saat melihat banyaknya luka di punggung Galen yang masih memerah dan baru saja diobati. Bahkan dalam keadaan pingsan pun, cowok itu masih bisa meringis menahan sakit. Pasti sangat sakit sekali, Hannah tidak bisa membayangkan bagaimana Galen bisa mendapatkan luka separah itu. Di punggungnya pula. "Saya ingin istirahat," lirih Galen sambil memejamkan matanya dan berusaha untuk mengusir kedua gurunya dari ruangan rawatnya. Hannah mengerti jika Galen tidak nyaman ada dirinya di sini. Dengan perasaan campur aduk, perempuan itu mengelus pundak Galen lalu tanpa mengatakan apapun meninggalkan ruangan itu sambil menarik tangan Ilyas untuk segera keluar. Klek. Keduanya berada di luar ruangan dan memilih untuk duduk bersama disebuah kursi tunggu yang jaraknya lumayan jauh dari ruangan rawat inap Galen. Menghindar dari penglihatan Galen yang merasa tidak nyaman dengan adanya mereka di sana. Hannah hanya tidak mau Galen akhirnya nekat dan meninggalkan rumah sakit dalam keadaan yang buruk. "Siapa yang bayar biaya rumah sakitnya?" Tanya Ilyas yang lebih realistis dari apapun. Hannah pun memang tidak berpikir sejauh itu; siapa yang akan membayar biaya rumah sakit beserta ambulance yang dimintanya? Dia tidak mempunyai uang sebanyak itu. Jangankan uang yang banyak, gajinya saja pas-pasan. Hannah menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak mempunyai jalan keluar dari pertanyaan sakti itu. "Galen di dalam?" Tanya seseorang yang mungkin pernah mereka lihat sebelumnya. "Galen ada di dalam?" Ulang laki-laki paruh baya yang tidak terlihat tua sama sekali walaupun ada beberapa helai uban yang menghiasi rambut depannya. "Eh, ... I-iya, Pak. Galen ada di ruang 201, bukan ruangan yang ini. Galen mau istirahat jadi kami duduk sedikit jauh dari ruangannya." Jawab Ilyas dengan cepat. "Oke, terimakasih." Jawab laki-laki itu dan segera bergegas masuk ke dalam ruangan 201 itu. Ilyas dan Hannah saling menatap satu sama lain. Mereka benar-benar tidak mengerti darimana laki-laki itu bisa mengenal Galen dengan baik. "Bukannya itu pemilih yayasan, ya? Pewaris tunggal yang enggak pernah nikah itu, 'kan?" Bisik Hannah pada Ilyas yang mendapatkan anggukan pelan dari laki-laki itu. "Kok bisa dia kenal sama Galen?" Sambungnya penasaran. Ilyas mengangkat kedua bahunya dengan bingung, "yang aku bingung adalah, darimana Pak Rafix tahu kalau Galen ada di sini?" Hannah mengangkat kedua bahunya, juga. Dia benar-benar tidak paham—bagaimana Galen bisa mendapatkan perhatian dari seseorang yang luar biasa seperti si pemilik yayasan? "Pak Rafix yang membuat Galen masih bertahan di sekolah. Beliau yang meminta orang-orang di sekolah mempertahankan Galen. Katanya, sekolah tidak harus membuang siswa yang bermasalah. Karena sekolah lah yang harus membinanya. Bukan 'kah luar biasa?" Tanya Hannah kepada Ilyas. Ilyas terdiam, tidak menjawab apa yang dikatakan perempuan itu. "Galen punya luka cambukan yang parah di punggungnya. Ada banyak luka di sana. Aku lihat sendiri dan merasa miris. Kamu gimana? Kamu enggak pa-pa dengan penilaianmu itu? Apa kira-kira kamu enggak mau tahu tentang bagaimana kondisi siswa kita yang ternyata mempunyai banyak luka, ... dan mungkin bisa jadi trauma?" Tanya Hannah serius. Ilyas diam, dia tidak punya jawaban apapun dari pertanyaan Hannah itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD