Tidak ada satupun manusia yang sempurna di dunia ini, termasuk seorang guru sekalipun. Citra guru yang selalu dikaitkan dengan kata sempurna, perfect, tanpa cela, dan kata-kata cemerlang lainnya, seakan mendikte seorang manusia dengan profesi guru menjadi pribadi yang tidak boleh melakukan kesalahan sama sekali. Padahal, guru adalah manusia dan tidak pernah luput dari kesalahan. Guru juga mempunyai sifat buruk, seperti manusia pada umumnya.
Sehingga, ketika guru melakukan sebuah kesalahan, maka labelnya sungguh lebih buruk daripada orang yang melakukan pencurian atau pembunuhan sekalipun. Katanya, guru adalah orang yang mendidik, menjadikan guru sosok yang sangat penting dalam kehidupan siswanya. Sayangnya, tidak semua manusia sadar dan paham bahwa siswa juga manusia lainnya yang mempunyai sifat alamiahnya sendiri. Tidak bisa siswa disetir seenaknya karena dia sendiri sudah menentukan sifat di dalam dirinya.
Dan lagi, ... jika menuntut seorang guru yang sempurna, maka harus juga ditunjang dengan gaji dan keuangan yang mumpuni. Terkadang pula ada guru yang hidupnya pas-pasan, tidak sesuai dengan tuntutan kerja yang mengharuskan berpenampilan rapi, menarik, wangi, bersih, dan segala image yang melekat di dalam dirinya. Guru hanyalah sebuah profesi, sama seperti profesi lainnya—pedagang, polisi, tentara, tukang sapu, tukang sampah, petani, dan profesi lainnya. Lalu, mengapa seorang guru harus memberikan suri tauladan yang penuh penekanan, sedangkan sifat dan akhlak memang harus dimiliki semua orang dengan berbagai macam profesi itu.
Setidaknya, itu sebuah pemikiran yang selama ini ada di dalam kepala Ilyas. Rasanya ribut setiap kali orang mengatakan tentang betapa sempurna dan menakjubkannya seorang guru. Sedangkan dirinya sendiri berulang mengeluh atas tuntutan hidup yang tidak sesuai dengan keinginannya. Jika dirinya boleh memilih, mungkin saja Ilyas tidak akan masuk ke dalam dunia pendidikan. Dia benci semua sertifikat yang dimilikinya tanpa ada yang bisa membantunya dalam taraf hidup yang maksimal.
Bukannya tidak bersyukur, namun biaya hidup semakin tinggi dan dia masih hidup; membutuhkan pangan, papan, dan pakaian. Lihatlah, semua hasil kerja kerasnya selama jaman kuliah, tidak ada gunanya. Puluhan sertifikat mengikuti seminar atau kegiatan kampus lainnya pun hanya menjadi pajangan dan pendamping ijasah. Dia lebih buruk dibandingkan temannya yang dulu seringkali tidak berangkat kuliah, nilainya banyak yang C, namun langsung masuk ketika mendaftar pegawai negeri.
Kemarahannya seperti memuncak, membuatnya menyalahkan semua orang dan menjadikannya manusia penuh amarah karena tidak tahu harus bagaimana. Dia masih punya dua adik yang perlu biaya sekolah, sedangkan orang tuanya sudah habis-habisan karena membayar uang kuliahnya selama ini. Ilyas benar-benar terjepit dengan kondisi. Dia tidak bisa memberikan uang kepada orang tuanya karena keadaan yang memang tidak punya sisa uang. Jangankan sisa, uang gajinya saja tidak cukup untuk membiayai hidupnya di sini.
Indekos kumuh dan kadangkala tidak makan pun menjadi pilihannya. Jika bukan karena bantuan Hannah yang seringkali membawa makanan lebih untuknya, mungkin dia akan mati kelaparan sendirian. Semuanya membutuhkan biaya. Bahkan ke kamar mandi umum saja harus menyediakan uang dua ribu. Pantas saja banyak yang buang air dengan sembarangan, fasilitas umum pun dijadikan ladang mencari uang.
"b******k," umpatnya karena laptop satu-satunya pun terlalu kebanyakan loading. Berulangkali di- restart pun tidak ada efeknya, tetap saja lemot dan membuatnya depresi. Padahal banyak pekerjaan yang belum dirinya selesaikan.
Tok... Tok... Tok...
Ilyas menghela napas kasar. Dia sedang tidak ingin kedatangan tamu siapapun karena mood- nya sedang tak baik. Salah-salah, orang yang ada di depan rumahnya akan terkena semprot kemarahannya.
Klek. Ilyas menarik gagang pintu indekos- nya dan mendapati Galen berdiri di sana. Cowok itu tersenyum tipis ke arah Ilyas sambil menunjuk plastik yang ada di tangannya. Ilyas ingin sekali membanting pintunya, namun akhirnya dia membuka pintu indekos- nya dengan lebar-lebar dan membiarkan Galen untuk masuk ke dalam. Dia tidak ingin berdebat dan akhirnya memilih mengalah. Ilyas menunggu apa yang akan dikatakan Galen padanya. Membiarkan cowok itu duduk, bahkan tanpa dirinya persilakan sama sekali.
"Saya bawa nasi goreng, Pak. Kata salah satu Bapak-bapak di depan gang sana, nasi goreng di dekat tiang listrik itu enak." Ucap Galen yang membuka bungkusan plastik yang dibawanya tadi.
Ilyas mendudukkan dirinya tepat di depan Galen tanpa bicara apapun. Sedangkan Galen memberikan satu bungkusan itu kepada Ilyas dengan tangan kanannya, meminta laki-laki itu untuk ikut makan bersamanya. Galen sudah membuka bungkusan nasi goreng miliknya dan makan lebih dulu. Sedangkan Ilyas hanya menatap Galen dengan tatapan serius.
"Kamu seharusnya masih di rumah sakit, 'kan?" Tanya Ilyas akhirnya, membuka suaranya.
Galen menganggukkan kepalanya sambil mengunyah, "bosen di rumah sakit karena makannya enggak enak. Jadi saya beli makanan di depan dan ajak Bapak makan bareng. Bapak tahu 'kan kalau makan sendirian enggak enak. Kalau bareng-bareng gini 'kan rasanya lebih nikmat."
"Punggungmu?" Tanya Ilyas lagi sambil meraih bungkusan yang dibawa Galen dan telah diberikan kepadanya.
Galen menggeleng pelan, "sudah lebih baik kok, Pak. Dulu, ... saya sering kok dipukul, jadi tidak masalah. Lagipula mau seberapa sakitnya, Tuhan terus memberikan saya kehidupan. Seperti ingin saya disiksa terus dan tidak membiarkan saya mati."
Ilyas kehilangan kata-kata karena ucapan Galen baru saja. Dia tidak tahu harus menjawab apa karena rasanya aneh ketika seseorang yang baru dikenalnya menceritakan masalah yang belum tentu orang lain tahu. Jadi, ... apakah Galen salah satu korban kekerasan dalam rumah tangga?
"Saya tahu pekerjaan Bapak berat. Tapi jangan menyerah karena saya berada di sekolah. Semua orang tidak peduli pada saya. Jadi, biasakan saja hidup Bapak. Semuanya baik-baik saja karena saya memang tidak melakukan keributan lainnya." Tandas Galen dengan tersenyum.
"Kamu tahu dari mana kalau saya ingin menyerah?" Tanya Ilyas lagi.
Galen mengarahkan pandangan matanya ke arah sebuah amplop putih yang tergeletak di atas kasur lusuh itu.
Surat pengunduran diri.
"Kamu, ... tidak apa-apa dengan penilaian orang lain?" Tanya Ilyas sekali lagi.
Galen menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Manusia selalu banyak membuat prasangka, entah baik atau buruk. Saya hanya salah satu dari prasangka buruk itu. Saya tidak keberatan sama sekali. Mau mereka melihat saya buruk atau tidak, itu 'kan penilaian mereka sendiri. Bukan saya yang berbuat jahat." Jawab Galen dengan santainya.
Diam-diam Ilyas mengiyakan dalam hati. Galen memang remaja pada umumnya, dia memang sedikit berbeda. Tetapi walaupun begitu, berbeda bukan berarti tidak normal dan tidak berhak dianggap normal.
"Hari ini saya traktir Bapak. Lain kali Bapak yang harus traktir saya." Ucap Galen yang memasukkan bungkusan makanan yang telah habis ke dalam plastik dan membawanya. "Selamat malam, Pak. Terimakasih karena mau makan malam dengan saya hari ini." Sambungnya lagi.
Galen keluar dari rumah Ilyas dan berjalan menembus kegelapan diantara gang menuju ke jalan raya. Ilyas termenung sambil menatap kepergian Galen yang membuatnya sedikit terhibur malam ini.
***