G&K | 36

1769 Words
BERTEMU TATAP KEMBALI *** Beberapa guru mengatakan bahwa; anak-anak nakal yang mempunyai pola asuh salah, kebanyakan tidak akan berhasil. Namun ketika berada di lapangan, terkadang anak-anak itu lah yang mendapatkan posisi terbaik yang diharapkan seorang guru untuk muridnya yang baik-baik saat berada di bangku sekolah. Terkadang murid dianggap sebagai tolak ukur sebuah keberhasilan mengajar. Murid yang diajar harus mempunyai pola pikir yang sama, harus bisa mengerjakan semua, dan tentunya paham dengan apa yang disampaikan. Padahal setiap murid mempunyai kemampuannya masing-masing. Tak bisa menguasai semua mata pelajaran atau mendapatkan pencapaian yang memuaskan dari berbagai pelajaran yang sudah diajarkan. Banyak anak yang pintar dalam akademik tetapi kurang dalam non-akademik. Tetapi ada yang kurang di akademi tetapi sangat unggul di non-akademik. Ada yang unggul di keduanya dan yang katanya lebih apes, tidak unggul di kedua opsi tersebut. Semua adalah anugerah Tuhan, ketentuan Tuhan, dan terkadang memang kemampuan yang tidak memungkinkan. Seminar tentang keberhasilan yang selalu digembor-gemborkan memang mempunyai sisi yang berbeda. Orang lain akan memandangnya sebagai hal yang berlawanan—semua bergantung pada cara berpikir seseorang ataupun cara si pemateri mulai merintis karir yang gemilang untuk diceritakan ke khalayak umum sebagai motivasi. Tapi kadangkala, sesuatu yang kita sebut sebagai motivasi hanyalah rasa iri yang membuat kita ingin lebih dan lebih lagi dari orang-orang yang telah memberikan motivasi. Mereka seperti membuka sebuah kompetisi menjadi terlihat lebih baik daripada yang lain. Memang jika dilihat dari sisi positif akan mendapatkan dampak yang positif pula. Tetapi apakah semua selalu berdampak positif? Banyak orang yang akan membandingkan kehidupan mereka dan menganggap bahwa mereka sudah salah langkah sejak awal atau memang dilahirkan untuk gagal. Dan, ... hari ini ada kunjungan dari beberapa orang-orang penting yang mengatakan akan memberi motivasi kepada kepada para murid kelas dua belas yang akan segera lulus. Sebagian akan memulai pekerjaan, mulai untuk melihat tempat kuliah yang cocok dan rencana-rencana lainnya yang masih menjadi keinginan di dalam hatinya. Motivasi selalu diberikan oleh para orang hebat yang divalidasi sebagai pemberi inspirasi alih-alih mereka yang mempunyai kemampuan yang dapat membawa mereka kesana. Ruangan pertemuan di sekolah itu pun sudah mulai dirapikan. Seperti sebuah stadion, namun ditata semua perlengkapan lengkap untuk menulis atau meletakkan snack, ruangan yang paling bagus di sekolah itu. Lalu meja paling depan akan diisi oleh mereka yang diberikan tanggung jawab untuk memberikan motivasinya. Biasanya, sekolah mereka mengundang orang penting —entah peneliti, ilmuwan, rektor kampus terkenal, pengusaha mapan, pejabat yang duduk di kursi pemerintahan, dan semua orang hebat yang selalu mengatakan jika semuanya harus dimulai dengan kerja keras. Acara dimulai pukul sepuluh tepat. Sekarang masih pukul sembilan dan beberapa murid kelas dua belas telah memasuki aula pertemuan. Memilih tempat yang menurut mereka paling nyaman. Ada yang melihat duduk di paling depan, si juara yang berusaha tampil. Si juara yang akan bertanya ini dan itu, selalu aktif tanpa peduli dengan tatapan dan juga sindiran orang di belakangnya. Tapi, semua yang dilakukan bukanlah sebuah dosa. Menjadi pintar atau aktif seperti sebuah pilihan. "Hai, Kak Galen." Seseorang dengan raut wajah ceria menyapanya riang, seorang cewek cantik yang berada di dekat panggung ketika melihat Galen yang masuk ke aula. Galen menatap cewek itu dan hanya memberikan senyuman canggung. Dia tidak senang diperhatikan oleh semua orang seperti itu. Bahkan hanya anak cewek itu yang mau menyapanya dan nadanya pun sangat riang. Dia hanya bisa menghela napas panjang, duduk dengan santai di kursi pojok yang ada di barisan tengah. "Kak Galen," panggil cewek itu lagi yang tiba-tiba sudah berada di dekat Galen sambil memberikan air mineral botol yang dibawanya. "Buat Lo, Kak. Kalau gitu, gue balik kesana ya. Gue bakalan jadi moderatornya yang di depan sana. Lo enggak mau kasih semangat, gitu?" Sambungnya lagi dengan senyuman menggoda. Tentu saja itu hal yang jarang atau bahkan tidak pernah terjadi. Dia pun tidak pernah mendapatkan perhatian semacam itu. Bahkan apa ini? Sebuah botol air mineral yang masih bersegel dan tentunya bersih. Walaupun Galen ditakuti di sekolah karena insiden itu, tapi banyak diantara temannya yang melakukan tindakan bully meskipun tidak secara langsung. Jadi rasanya aneh ketika ada orang yang tengah memperhatikannya saat berada di ruangan yang penuh dengan murid lainnya. "Makasih," ucap Galen kemudian, meskipun dengan raut wajah yang kaget. Bagaimana tidak? Mereka tak begitu dekat, bahkan bertemu hanya beberapa kali. Tapi apa yang baru saja didapatkannya? Cewek dengan jas almamater itu pun hanya tersenyum lebar, Meisy. Cewek yang mengatakan bahwa dirinya akan mencalonkan dirinya sebagai seorang ketua OSIS tahun ini, meminta Galen untuk memilihnya nanti ketika saat pemilihan berlangsung. Tetapi, jika ketuanya tidak pandang bulu, maka semuanya akan sesuai dengan aturan dan juga hati nurani. Meisy yang ada di sekolahnya adalah cewek mandiri, pemberani, mudah bergaul dengan siapapun, cerdas, dan masih banyak lagi keunggulan cewek itu. Sampai bingung menyebutkannya. Meisy kemudian kembali bergabung dengan anggota OSIS yang lainnya di dekat panggung. Mereka menatap ke arah Meisy sambil mengejeknya dan hanya ditanggapi cewek itu dengan senyuman semata. Meisy memang mempunyai senyuman yang manis. Mirip seperti Meisy yang dikenalnya dan sering bertemu dengannya tanpa sengaja. Keduanya sama-sama sangat menyenangkan. "Lo dekat sama Galen?" Tanya salah temannya sambil menyenggol lengan Meisy. "Lo enggak tahu rumor tentang dia? Dia memang ganteng, banget sih. Tapi sayangnya, mes—" sambungnya yang terpotong dengan tatapan tidak suka dari Meisy. "Jangan ngomong kaya gitu. Gimana kalau Kak Galen dengar? Enggak baik tahu, berprasangka buruk! Gue kalau khilaf juga suka nonton kaya gitu kok. Memangnya, Lo enggak suk—" tentu saja ucapan Meisy langsung terputus ketika temannya itu menutup mulut cewek itu dengan tangannya. Meisy hanya bisa tersenyum ketika melihat ekspresi wajah temannya yang tampak muram karena tidak bisa mengatakan apapun lagi soal Galen. "Kelly, bokap Lo 'kan polisi, Abang Lo juga, bahkan cowok Lo juga taruna. Masa Lo enggak tahu kalau kadang bukti yang ada di depan mata pun belum tentu bisa dijadikan bukti. Semua orang enggak bisa begitu aja menilai orang lain. Kita bukan orang yang pantas menjadi komentator. Itu tugas yang maha kuasa. Iya, enggak?" Tandas Meisy yang membuat cewek yang dipanggilnya, Kelly, itu hanya diam. Kelly menghela napas panjang dan mengelus pundak Meisy, "iya, ... gue memang salah terus di mata Lo. Hm, setiap kali ada apa-apa, semua orang yang ada di hidup gue Lo bawa-bawa. Enggak sekalian Mama gue, Abangnya cowok gue, atau semuanya." Tentu saja Meisy yang tertawa saja sambil menyusun beberapa kertas di atas mejanya. Dia akan menjadi orang yang pertama diperhatikan di aula—paling bersinar dengan senyumnya yang manis atau tatapan matanya yang meneduhkan. Memang pantas pemimpin seperti ini; orang tak akan takut, namun berusaha untuk tetap disegani. "Hai, Meisy." Sapa cowok dengan mengenakan jas almamater yang sama dengannya sambil membawa kotak snack dan meletakkannya di atas meja mereka. "Kak Viktor," jawab Meisy dengan seadanya sambil tersenyum malas. Seharusnya mereka tidak berada di dalam satu lingkungan seperti ini. Sedangkan dari kejauhan Galen memperhatikan interaksi antara Meisy dan Viktor. Yang satunya tak ingin berinteraksi dan satunya lagi sibuk cari perhatian. Terlihat jelas bahwa Meisy tidak pernah mau menanggapi ucapan Viktor. Krek. Pintu aula dibuka lebar. Lalu rombongan itu masuk didampingi pihak sekolah. Rombongan itu pun seperti bintang yang bersinar dan siap untuk menyinari panggung di depan sana. Semua murid tampak antusias karena yang akan mengisi kegiatan hari ini adalah seseorang yang populer di kalangan tua, muda, dan semua orang. Sayangnya, semua itu tidak membuat Galen terkesima. Dia kaget bukan karena bertemu dengan si pengisi kegiatan. Namun dirinya baru saja melihat mimpi buruknya. 'Selamat Datang Bapak Rangga Dewantara' tertera di layar besar. Terdengar tepukan tangan riuh dari semua murid yang mengidolakannya dan memberikan tatapan senang. Ada satu tatapan kosong yang tidak akan pernah berubah selamanya. Tatapan yang memang pantas dilayangkan—seperti membenci, marah, muak, menjadi satu. Dia tidak berharap mendapatkan motivasi apapun. Bahkan dia tidak ingin menatap kedua mata itu lagi atau melihat wajah orang itu. Sayangnya, takdir selalu mempermainkannya. Semua yang diharapkannya selalu tidak pernah terkabul. Ruangan itu terasa sangat penuh dan sesak. Tatapan mereka bertemu pada satu titik. Di tengah keramaian yang begitu menyulitkan. Galen duduk di kursinya dengan tatapan kosong, tak berniat untuk berdiri menyambut—bersorak memberikan dukungan pun tampaknya tidak akan dilakukannya. Mereka semua hanya melihat sosok di depan sana sebagai pejabat baik hati yang sering menggalang dana atau memberikan dananya pada yayasan amal. Tapi apakah orang di depan sana memang benar-benar orang baik? Keduanya seperti mempunyai ikatan yang kuat dan saling membutuhkan satu sama lain, andaikan saja kedua manusia itu mau saling mengerti. "Selamat datang di sekolah kami, Pak Rangga Dewantara selaku ketua dari yayasan amal Semesta Kilau Cahaya atau mungkin yang tentunya sudah kita ketahui bersama bahwa Bapak Rangga ini adalah salah satu pejabat yang berkantor di kantor Walikota." Tandas pembawa acara yang tidak lain dan tidak bukan adalah Meisy. Cewek itu menatap Rangga dengan tatapan kagum dan berbinar. Rangga tampak tersenyum luwes dan terlihat ramah. Image berbeda sekali dengan yang selalu ditunjukkannya kepada dirinya ketika berdua. Jika bisa, Galen ingin sekali berteriak di depan semua orang, menyadarkan mereka semua bahwa Rangga tidak pantas dijadikan panutan. Pria itu memang mudah menarik simpati semua orang. Menjadikannya sang calon walikota karena dianggap terlampau baik. Catatan hidupnya yang bersih, menjadi salah satu alasannya. Acara pembukaan yang penuh dengan basa-basi pun terlewati dengan sangat membosankan. Sampai kepada acara intinya di mana Rangga memberikan wejangannya dan memberikan kata motivasi penuh dengan semangat kepada semua murid di sana. "Dulu, ... ketika saya masih aktif di dunia literasi sebagai salah satu dari penulis novel remaja, saya mendapat banyak sekali kritikan karena dengan semangatnya menggunakan berbagai macam tema yang berlainan dengan masalah-masalah remaja antara lain; pelecahan seksual, geng remaja yang ada di jalanan dan balapan liar, s*x bebas, body shaming, dan tentunya masih banyak lagi. Tapi dari sudut lainnya, banyak yang menghakimi saya karena tidak suka dengan apa yang saya bahas karena menganggap semua itu sebagai konten yang tidak pantas. Saya hanya terketuk hatinya untuk menyerukan tentang masalah yang marak dilakukan oleh remaja yang masih membutuhkan peran orang tuanya." Galen? Dia hanya tersenyum samar. Seperti menertawakan semua ucapan Rangga yang terus mengatakan semua omong kosong yang tidak cocok sama sekali dengan image yang dibangun di depan dirinya. Cowok itu beranjak—membuat semua orang yang berada di sana melihat ke arahnya. Terkecuali, Rangga yang tidak berhenti untuk bicara di depan umum tanpa putus sama sekali. Dia tahu Galen pergi, dia tidak ingin menghancurkan semua pekerjaanku yang sempurna. "Anak kurang ajar!" Umpat Rangga di dalam hatinya. Dia marah! Mungkin sesuatu yang menurutnya menyenangkan akan dilakukannya untuk mengajar dan membuat anak itu mau menurut dengannya. Tapi sejak awal, Galen memang sudah bisa disebut produk gagal. Dia hanya mendengarkan Ibunya, tidak dengan Ayahnya. Galen tumbuh sendirian—tanpa kasih sayang sama sekali dan semua itu akan membuatnya yakin bahwa tidak apa-apa untuk sendiri selamanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD