HARAPAN YANG TIDAK ADA!
***
Rangga bisa melihat sebuah kursi di aula yang kosong. Salah satu murid di sekolah itu meninggalkan acara yang mengundangnya tanpa rasa bersalah sama sekali. Terlihat beberapa orang yang berada di sana merasa tak enak kepadanya. Kalangan guru yang kini hanya memasang wajah malu, serta anak-anak OSIS yang sibuk mencari kemana perginya murid berseragam rapi tersebut. Dirinya sempat sekali bertatapan dengan anak itu. Sangat mirip dengannya, bahkan cenderung sama. Dia juga membenci anak itu—karena anak itu sangat mirip dengan dirinya.
Walaupun bibirnya mengatakan hal yang membangun motivasi bagi para murid kelas dua belas, isi kepalanya begitu ribut mendengarkan tentang masalah-masalah yang ada di dalam dirinya. Terlebih masalah antara dia dan juga putranya sendiri, Galen. Dia tidak akan kesulitan menangani anak itu jika saja Rangga mau sedikit saja menurunkan egonya. Sayang sekali, mereka tidak dekat. Rangga lah yang menarik diri dan membuat kenangan buruk di dalam perjalanan hidup Galen. Apakah semua itu akan mudah dilupakan begitu saja? Mungkin jawaban yang paling masuk akal adalah tidak pernah!
Mungkin Rangga mengatakan bahwa dirinya tidak tersiksa ketika melihat kebencian di mata Galen. Namun dia tidak pernah bisa memikirkan semua kesalahannya yang memang fatal dan pantas untuk tidak dimaafkan. Tetapi apakah Rangga berniat meminta maaf kepada putranya sendiri? Tidak, tidak penting untuk meminta maaf. Kenapa harus meminta maaf? Bukankah itu juga bukan salahnya. Maksudnya, kelahiran Galen tidak pernah dia harapkan selamanya. Lagipula, dia sudah cukup bertanggung jawab dan membiayai semua keperluan anak itu. Seperti anaknya yang lain. Dia telah memperlakukan Galen sama.
Setelah acara itu selesai, Rangga pun meminta sebuah ruangan kosong dan merokok di dalamnya. Padahal sangat jelas bahwa di area sekolah tidak ada yang boleh merokok. Namun ada saja oknum yang melanggarnya. Tentu itu dari kalangan guru. Kalau murid pun, mereka akan memilih bangunan tak terpakai di belakang sekolah. Tidak akan senekat itu untuk melakukan pelanggaran di dalam sekolah. Tapi yang dilakukan Rangga tidak pernah mencerminkan orang yang baik dan berbudi luhur. Dia memperlihatkan di kamera tanpa menerapkannya di dunia nyata.
"Apakah ada masalah yang serius, Pak? Apakah karena kepergian salah satu murid tadi? Saya akan meminta sekolah untuk memberikan hukuman kepada anak itu karena berlaku tidak sopan kepada Anda." Tandas seorang pria berjas rapi yang merupakan sekertarisnya itu.
Rangga menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan asap rokok yang dihisapnya ke udara. Dia pernah merasakan perasaan kosong seperti di sekolah ini. Dia pernah diperlakukan sama, namun dengan orang berbeda. Rangga merasa dunianya berhenti di masa itu. Masa di mana perempuan cantik yang selalu menyambutnya dengan tulus meninggal. Dia sudah melakukan kesalahan besar kepada perempuan itu. Dan sekarang, masih melakukan kesalahan juga. Dia yang membuat kehidupan anaknya seperti di neraka. Neraka yang disuguhkan dirinya sebagai kemarahan.
Semua orang mengagumi dirinya dan mengatakan tentang kebaikannya. Itu menjadi beban sekaligus langkahnya untuk menjadi manusia yang penuh dengan keserakahan. Rangga seperti membangun istana pasirnya sendiri. Padahal semuanya tidak kokoh sama sekali. Sekali terkena air akan terus kehilangan materialnya. Satu butir demi satu butir akan membuatnya hancur secara perlahan.
"Bisa tinggalkan aku sendiri? Aku ingin menikmati waktu merokok ini sebelum meninggalkan sekolah untuk pergi ke sekolah lainnya. Dan cobalah mencari tahu tentang anak itu. Pasti banyak yang membicarakannya dan mengatakan hal buruk padanya. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada anak itu. Kita harus membantunya jika itu perlu." Ucap Rangga yang memberi instruksinya kepada sekretarisnya.
Sebenarnya hal utama yang ingin Rangga lakukan hanyalah melihat seberapa buruk sekolah ini? Apakah yang sudah mereka lakukan kepada putranya sampai sedepresi itu. Tidak, bukan hanya tentang dirinya. Namun bagaimana cara sekolah mendidik putranya.
Klek. Seseorang membuka pintu dan Rangga sontak langsung mematikan rokok yang dipegangnya. Seseorang muncul dari balik pintu, tersenyum dengan lues sambil membawa kotak berisi snack dan air mineral botol di kedua tangannya. Rangga pun tidak tahu harus bereskpresi seperti apa. Karena dirinya baru saja ketahuan merokok di area sekolah.
"Saya diminta mengantarkan minum dan snack kesini. Maaf karena sudah lancang masuk." Ucap cewek dengan wajah menarik itu. Wajah yang tidak bisa dikatakan pasaran, namun juga sangat mirip dengan seseorang yang pernah dikenalnya atau mungkin di sakitinya. Wajah itu mirip sekali dan sangat mirip dengan Ibunya Galen—tentunya ketika masih muda dulu.
Rangga hanya tersenyum, "iya, tidak masalah dan terimakasih. Bukankah kamu yang menjadi MC tadi? Kamu luar biasa sekali."
Pujian itu hanya menjadi angin lalu untuknya, dia tahu siapa pria yang duduk di kursi itu. Pria yang sama yang telah membuat dunia runtuh dalam hitungan detik saja. Cewek dengan wajah yang menarik itu—pernah terluka karena orang yang berada di depannya itu. Dia sangat ingin mencabik-cabik wajah orang yang dikenal paling baik dan ramah itu. Dia ingin menghancurkan semua yang ada di ruangan itu, melempar semua barang-barang pada laki-laki itu ataupun menghajarnya sampai mati. Sayangnya, ini bukan waktu yang tepat.
"Saya akan pergi sekarang, Pak. Permisi." Ucap cewek itu mulai berpamitan untuk keluar dari sana.
"Tunggu," ucap Rangga kemudian untuk menghentikan langkah dari cewek itu.
Cewek itu memutar tubuhnya dan menatap ke arah Rangga yang terus menatapnya dengan tatapan bingung sekaligus penasaran.
"Apakah kita pernah bertemu? Saya merasa tidak asing dengan wajahmu atau itu hanya perasaan saya? Kalau begitu, kamu boleh pergi. Mungkin saya yang salah lihat." Sambungnya bingung sambil meminta cewek itu untuk meninggalkan ruangannya.
Cewek itu pergi setelah memberikan senyuman dan menutup pintu dengan rapat kembali. Sedangkan Rangga tak mengerti dengan kejadian hari ini. Ah dia terlalu banyak berpikir ini dan itu yang membuat kepalanya sakit. Dan semua ingatannya tentang terakhir kalinya dirinya bertemu Galen pun tidak absen untuk mengusiknya.
"Kita tidak perlu saling membebani lagi. Seperti yang Ayah inginkan. Aku akan pergi, meninggalkan rumah ini, tempat ini, kota ini, dan Ayah. Ayah bisa tenang dan menikmati hidup Ayah dengan keluarga Ayah."
Ucapan itu seperti memberikannya tamparan keras. Bagaimana mungkin Galen memintanya untuk tak datang menemuinya lagi. Atau tentang Galen yang ingin meninggalkan semuanya. Dia memang sering menyiksa Galen tanpa alasan. Namun membiarkan dirinya pergi, seperti bukan jalan yang benar. Dia tidak ingin jika sampai orang-orang tahu bahwa dirinya adalah Ayah dari anak itu. Rangga pun tidak mau kehidupannya yang sempurna hancur karena Galen. Dia sudah berjalan terlalu jauh. Dia tidak akan begitu saja membiarkan orang lain menghancurkan harapan dan keinginannya.
***