G&K | 38

1036 Words
SEORANG AYAH DAN SEORANG ANAK! *** Pahit! Dia membenci rasa obat. Meskipun katanya manis sekalipun, akan tetap berakhir pahit di kerongkongan. Jika boleh, Galen akan melewatkan semua jenis obat untuk pengobatannya. Dia sakit? Tentu saja dia sakit. Galen tak bisa makan dengan normal jika dia mulai merasakan sakit maag untuk kesekian kalinya. Kata dokter, pola makannya kembali berantakan dan dia juga sedang banyak pikiran. Tak baik berpikir berlebihan, tetapi apa yang terjadi selalu menjadi fokusnya dan akhirnya membuatnya stres dan mungkin gila. Dokter cantik itu sudah memintanya untuk makan dengan teratur ataupun menghindari stress. Namun tentu saja bahwa stress tidak pernah direncana, tetapi berhasil memberikan efek yang utama. Apalagi ketika masalah besar mulai datang satu-persatu, di mana Galen bisa berteduh? Dia memang tipikal pemikir yang mendapatkan banyak masalah karena mudah dan sering overthingking. Tidak jarang ia pun datang untuk meluruskan semua yang dianggapnya benar. Tetapi tidak semua orang berpikiran terbuka dan akan welcome dengan siapapun. Ada sebagian yang memilih untuk diam, menjadi mayoritas yang tidak tahu diri. Galen hanya bisa merasakan sakit di perutnya. Sakit yang kadang timbul dan tenggelam. Dia memilih untuk duduk di taman sendirian sambil menunggu matahari tenggelam—sengaja tidak pulang karena tidak ingin bertemu dengan Ayahnya. Dia punya firasat bahwa kemungkinan Ayahnya akan datang ke rumahnya. Jika tidak marah-marah, maka akan menanganinya dengan serius. Pasti akan ada luka dan pukulan untuk memberinya pelajaran yang serius. Dia sudah hapal bagaimana Ayahnya bertindak kepadanya. Meskipun tidak salah sekalipun, atau sesuatu yang tak salah di matanya—belum tentu benar di mata Ayahnya. Terkadang, ... Galen berpikir, mungkin Ayahnya memang tidak pernah menyukainya. Namun, jika itu memang alasannya, dirinya tidak minta dilahirkan ke dunia ini dan tidak bisa memilih orang tuanya sendiri. Andaikan anak bisa memilih orang tuanya sebelum lahir, mungkin ria tidak akan memilih orang tua dan hidup di keluarga yang ada Rangga di sana. "Galen," panggil seseorang yang tak diundang, namun selalu ditunggunya untuk hadir di hidupnya. Perempuan itu tersenyum luwes dan meletakkan kotak makanan yang ada di dalam tasnya. Matanya berbinar di bawah tempaan sirna mentari yang hampir tenggelam. Tersenyum dan memegang jemari tangan Galen—menggenggamnya cukup erat. Lalu mereka pun tersenyum bersama. Dia tidak mengerti, namun berada dekat dengan perempuan disampingnya ini, membuatnya merasa menjadi seorang manusia. Dia diperlakukan layaknya manusia dan semua itu membuatnya senang. "Cuma Lo yang bersedia datang dan memberikan semangat ke gue setiap kali gue lagi capek dan down. Hari ini berjalan dengan buruk. Gue merasa—semuanya akan runtuh di atas kepala gue. Apa gue salah kalau pergi untuk sementara, menenangkan diri sendiri dan berusaha tegar kembali. Gue tahu gue terlalu pengecut untuk datang ke tempat itu dan bicara empat mata. Tapi, gue enggak tahu apakah akan terus seperti ini atau memberanikan diri untuk bicara." Tandas Galen yang membicarakan tentang sosok Rangga kepada perempuan yang berada disebelahnya, Meisy. Kebanyakan Meisy sudah tahu siapa Ayah dari Rangga itu, meksipun tidak mengenal siapa namanya atau bentuk wajahnya karena Galen tidak pernah mengekspos wajah Ayahnya ataupun anggota keluarganya yang lain. Galen juga melakukan hal tersebut selama ini, termasuk di sekolahnya. Mereka semua tidak ada yang mengenal dan tahu Galen secara personal. Mereka tidak mempedulikan tentang orang tua Galen masih ada atau tidak dan memaklumi sikap Galen yang kadang mereka anggap aneh. Tetapi akhirnya, semua hanya diam dan tidak pernah ada yang bertanya kepadanya. "Memangnya ada apa dengan hari ini?" Tanya Meisy sambil meletakkan kotak makanan yang berisi kue kering ke pangkuan Galen, memintanya agar tenang dan memakan makanan yang telah dia bawa dari rumah. "Seperti biasanya, bukan? Harus semangat dan kuat meskipun badai datang dengan tidak wajar dan berusaha memporak-porandakan gubukmu. Semuanya akan baik-baik saja dan kamu hanya kesal hari ini. Ingat 'kan apa yang kita bicarakan saat itu? Kita akan menjadi kuat satu sama lain dan tidak ada lagi yang terluka." Sambung Meisy membuat keputusan dari apa yang mengganggu pikiran Galen. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Namun Meisy seperti memberikan opsi kepadanya. Bahkan semuanya memang tidak bisa dilakukan atas kendalinya. Mereka orang tua, tak akan pernah tahu rasanya menjadi seperti anaknya yang tertekan dan terluka karena sikap mereka. Kecuali orang tua pernah diperlakukan tidak menyenangkan ketika masih remaja dulu. Jika memang begitu, mengapa memperlakukan anak mereka dengan tidak manusiawi? Apakah mereka sedang berusaha membalas dendam? Mengapa dengan anak mereka? Apa itu cara turun-temurun seperti sebuah OSPEK? "Gue muak banget ketika Ayah mulai bicara tentang motivasi hidupnya. Di dunia yang dianggapnya sempurna—gue adalah hal lain yang membuat semua cerita itu enggak sempurna. Gue adalah bagian yang membuat Ayah mereka hidupnya berantakan dan hancur. Gue juga beban yang selalu dia katakan dalam ceritanya tanpa harus menyebut seorang anak yang dia pukuli setiap harinya dulu. Gue memang enggak pernah bilang tentang perlakuannya ke gue selama ini sama semua orang. Sehingga gue yang selalu menjadi tokoh antagonis yang katanya memang pantas untuk dibenci semua orang." Curhat Galen dengan kedua mata yang terlihat berkaca-kaca. Semua hanya tentang orang tuanya. Cara berpikir atau cara mendidiknya yang terkadang membuat anak-anak merasa tidak dicintai. Padahal semua anak hanya mengharapkan kasih dan sayang tanpa syarat, tanpa diminta, atau tanpa harapan yang tinggi. Ini hanya tentang perasaan seseorang kepada orang tuanya yang mungkin tidak sama dengan ekspektasinya dan apa yang diharapkannya dari orang tua. "Kenapa Ayah berbeda dengan Ayah lainnya? Gue selalu iri sama mereka yang bisa menghabiskan waktu dan melakukan hobi bersama orang tua mereka. Bahkan salah satu teman di sekolah gue yang nakal sekalipun—sering menyempatkan dirinya untuk qulity time bareng anaknya. Mereka benar-benar menyempatkan waktu mereka yang sibuk untuk bersama anak mereka. Lalu, apakah terlalu sulit untuk Ayah?" Sambung Galen kembali yang membandingkan apa yang terjadi kepadanya dengan apa yang terjadi kepada temannya. Seumur hidupnya, Galen tidak pernah merasakan yang namanya bermain di manapun bersama dengan Ayahnya. Ayahnya adalah sosok misterius dan sesekali memukulinya. Setidaknya itu yang selalu terekam jelas di dalam memorinya tentang Ayahnya. Dia membenci Ayahnya, sangat. "Hm, ... makan dulu! Setelah ini aku akan ajak kamu jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan." Tandas Meisy dan meminta Galen untuk memakan kue kering yang sudah dibawanya tadi. Dia tidak ingin melihat Galen menyiksa dirinya sendiri. "Tapi gue—" "Kita harus tetap hidup 'kan untuk mendapatkan kebahagiaan yang kita mau? Jadi habiskan makanannya dan kembali hidup seperti manusia." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD