KEBERSAMAAN ITU PENTING!
***
Sebagai guru baru, keduanya sangat tertekan. Hannah dan Ilyas menatap komputer masing-masing—mengeluh pun tidak akan merubah apapun. Tak akan ada yang membantu. Bukannya membantu, mereka akan menambah beban tugas keduanya. Ingin marah, namun mereka masih cukup waras untuk tetap bertahan meski harus bekerja di bawah tekanan. Bukan pemilik yayasan yang menekannya, tetapi orang-orang yang katanya para senior berpengalaman yang duduk di sana selama bertahun-tahun.
Seharusnya mereka memberikan bimbingan kepada keduanya, tentu saja sebelum memberikan tugas dan beban yang banyak seperti ini. Para guru sebelum mereka pun merasa sangat merdeka karena ada yang berada di bawah mereka dan tentu saja dijadikan samsak tinju semua orang. Diminta untuk mengurus ini dan itu, dari A sampai Z. Semuanya hanya diam sambil menggunjingkan pekerjaan Hannah dan Ilyas jika ada yang kurang sempurna. Memberikan revisi pun tidak berguna sama sekali karena mereka tidak tahu apa yang perlu direvisi.
Hannah dan Ilyas hanya berusaha mencoba peruntungan untuk tetap bertahan sebelum mendapatkan lagi pekerjaan yang mereka inginkan. Toh, mereka membutuhkan uang banyak demi kelangsungan hidup dirinya sendiri dan keluarga. Keduanya pun sama-sama harus mengurus keluarga mereka dan menjadi tulang punggung keluarga masing-masing. Sehingga jika mereka menyerah sekarang, bagaimana dengan keluarga mereka?
"Jadi guru ternyata berat banget ya, Han?" Ucap Ilyas yang mulai kembali mengeluh setelah beberapa jam lelah dengan banyaknya tugas yang tidak tahu kapan selesainya. "Padahal di luar mereka sedang asik bertemu dengan Pak Rangga. Mereka sama sekali tidak mempedulikan kita di ruangan bodoh ini." Sambungnya dengan tatapan lelahnya.
Entah sudah berapa lama tidurnya tidak nyenyak. Mungkin semenjak dirinya berada di sekolah ini. Atau semenjak lulus kuliah dan merasa bahwa beban di pundak semakin berat. Karena menjadi dewasa itu tidak menyenangkan. Apalagi para dewasa yang tidak mempunya segala hal yang dapat menunjang kehidupan awalnya. Semua orang yang hidupnya tanpa bantuan orang lain untuk dapat masuk ke dalam suatu tempat, tetap akan berada di tempat yang sama—harus merangkak, berdarah-darah untuk sampai ke puncak.
Perasaan keduanya sama, mereka tak pernah mendapatkan sisi enak dalam segala hal. Kehidupan yang sederhana dengan orang tua yang bisa dikatakan pas-pasan. Keinginan kecil yang ingin mereka wujudkan hanyalah membagi kebahagiaan yang mereka miliki pada kedua orang tua mereka. Meskipun tidak banyak dan tidak mewah, tapi bagi orang tua, melihat anaknya tak kesulitan dalam menjalani kehidupan pun sudah sangat bersyukur.
"Kalau enggak ingat dengan biaya hidup yang semakin mahal, rasanya enggak kuat, Han. Mau pulang, sadar kalau biaya rumah lebih besar. Harus nyambi jadi tukang ojek online pun masih kurang. Bapak butuh untuk beli obat setiap hari, adik pun juga butuh bayar sekolah, iuran lainnya dan semua kebutuhan yang enggak sesederhana kelihatannya. Rasanya beban banget jadi anak pertama dan harus tahu t***k-bengek kebutuhan rumah yang enggak punya apa-apa. Sakit enggak dirasa sakit, capek pun enggak dirasa capek. Semuanya harus tetap stabil." Curhat Ilyas yang tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Sedangkan Hannah hanya menepuk bahu Ilyas pelan. Dia berusaha untuk memberikan kekuatan kepada teman satu perjuangannya itu. Sejak berada di bangku kuliah, mereka selalu saja bersama. Bahkan sampai di titik ini pun mereka bersama. Sehingga satu sama lain tahu betul tentang semua yang mereka rasakan, impian, serta sesuatu yang mereka perjuangkan.
"Rasanya capek banget, Han. Aku juga laki-laki, anak pertama di keluargaku dan aku punya tanggungjawab yang besar banget. Bagaimana pun juga, aku calon kepala keluarga. Semua membebani, capek banget. Pengen nangis!" Tandas Ilyas yang menutup wajahnya dengan telapak tangannya karena memang beban di pundaknya rasanya sudah keterlaluan.
Mau sekeras apapun atau berusaha sekuat apapun, terkadang manusia mempunyai batasannya. Jika sedang merasa lelah atau tidak mempunyai tenaga lebih untuk berusaha, hanya keluhan dan tangisan yang mampu untuk mereka lakukan. Sesuatu itu gratis dan mudah untuk dilakukan. Setidaknya itu yang selalu dikatakan oleh salah satu orang yang mereka kenal ketika masih belajar dulu.
"Biar aku coba bantuin, ya? Kamu coba tenangin pikiran kamu dulu. Pergi ke belakangan sekolah sana. Anak-anak baru masuk kelas dan kelas dua belas baru ada acara di aula. Kamu bisa kesana, ngerokok atau apapun itu. Tenangin pikiran kamu supaya enggak ikutan stress karena keadaan." Ucap Hannah yang mencoba untuk mengerti.
Membiarkan Ilyas menyembuhkan perasaannya yang kalut sendirian memang menjadi pilihan. Hannah tidak bisa membantu karena Ilyas hanya butuh untuk berdamai dan menerima keadaannya sendirian. Karena sejatinya, semua hal yang mengecewakan dapat diterima jika berasal dari orang yang mengalami langsung.
Ilyas menggeleng pelan, "kalau ini enggak kelar, mereka bakalan bikin semuanya jadi rumit, Han. Aku mau hidup dengan tenang dan mau libur karena Minggu depan aku udah ada janji sama Ibuku untuk pulang. Aku pengen menenangkan diri dengan pulang sebentar."
Hannah mengerti. Dia sangat paham rasanya merindukan seseorang yang jauh. Apalagi itu adalah keluarganya sendiri. Sehingga dia hanya memberi senyuman sambil menepuk pundak Ilyas beberapa kali. Lalu dirinya pun kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.
Klek. Seorang perempuan masuk ke dalam ruangan BK tanpa mengetuk pintu sama sekali. Perempuan yang mempunyai banyak kerutan itu tak menampakkan wajah ramah sama sekali. Sedangkan Hannah ataupun Ilyas beranjak dari duduknya untuk menyambut perempuan itu dengan senyuman yang terlihat dipaksakan.
"Bukankah aku sudah meminta pada kalian untuk mengawasi Galen? Apa yang anak itu lakukan? Dia membuat malu sekolah kita. Dia keluar dengan tidak sopan ketika acara baru saja dimulai. Seharusnya kalian yang bertanggung-jawab penuh kepada kelakuan anak itu. Dia benar-benar anak yang kurang ajar. Kalau tidak, kenapa tidak membuat pengajuan kepada ketua yayasan untuk segera mengeluarkan Galen dari sekolah kita? Bukankah itu lebih baik?" Tandas perempuan itu dengan tidak sabar karena membahas tentang Galen yang dianggapnya sebagai aib di sekolah mereka.
Brak! Tanpa mendengarkan sedikit saja penjelasan keduanya, perempuan itu meninggalkan ruangan BK dengan membanting pintu. Jadi, sebenarnya yang tidak mempunyai sopan santun siapa? Murid atau gurunya? Gurunya saja bertindak dengan tidak sopan—lalu apakah murid bisa disalahkan sepenuhnya? Guru juga berperan penting dalam segala hal, termasuk bagaimana cara memperlakukan muridnya dengan baik. Karena murid juga manusia. Memperlakukan murid seperti hewan juga akan kembali kepada guru sendiri.
"Kenapa dia tidak belajar tata krama terlebih dahulu sebelum mengatakan tentang sopan santun seorang murid kepada orang lain. Bukankah orang sepertinya tidak mempunyai sedikit saja perasaan peka? Apakah seorang seperti itu mampu menjelaskan apa terjadi sebenarnya? Dia hanya tahu bagaimana protes tentang kelakuan seorang anak tanpa berkaca tentang kelakuannya yang buruk." Sambung Ilyas yang membanting pulpennya dengan kasar ke lantai. Rasanya benar-benar kesal dengan ucapan perempuan itu.
Lagi, Hannah hanya bisa mengelus pundak Ilyas dan memintanya untuk duduk di kursinya sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Karena seorang yang sabar, mungkin akan sangat menyeramkan ketika marah. Dan mungkin itu terlihat dari eskpresi wajah Ilyas yang ingin meledakkan semua isi kepalanya di depan sang senior yang bisanya hanya protes.
***
Sepanjang perjalanan pulang dari bertemu dengan Meisy, Galen tidak banyak bicara sendiri. Biasanya, dia akan sibuk berkutat dengan isi kepala yang ribut dan berbicara sendiri lalu menyelesaikan semuanya sendirian. Itu seperti cara untuk Galen sendiri dapat meringankan beban pikiran yang penuh. Dia juga sering bicara sambil tertawa-tawa sendiri. Tidak masalah, 'kan? Selama dia tertawa atau bicara kepada dirinya sendiri tanpa merugikan orang lain. Meski beberapa gadis seusianya terkadang GeEr karena mendapatkan senyum manisnya.
Dibalik helm full face- nya, dia hanya fokus kepada jalanan. Di kanan-kiri banyak orang-orang yang sibuk dan menikmati waktunya bersama-sama dengan keluarganya atau orang yang dekat dengan mereka. Betapa senang hati mereka melakukan kegiatan dan bercerita secara bebas tanpa merasa tidak enak. Bahkan mereka berusaha menumpahkan perasaan satu sama lain dengan bercerita bebas. Galen ingin, sangat ingin. Sayangnya, dia tidak mempunyai teman lagi. Yang dikiranya akan menjadi teman pun malah membiarkannya seperti itu. Padahal Galen sangat tulus untuk berteman.
Motornya berbelok ke tempat yang lumayan jauh dari rumahnya. Galen tidak tahu mengapa dia datang, tapi sepertinya dia akan menenangkan pikirannya sejenak. Sesuai dengan penawaran cewek yang tempo hari bertemu dengannya di jalanan yang gelap, Meisy, juga namanya. Seperti sebuah cerita panjang, ketika kedua cewek cantik yang dekat dengannya bernama sama, Meisy. Dan keduanya mempunyai sisi yang berbeda, tetapi mereka sama-sama menyenangkan.
Cewek dengan celana pendek itu pun menatap ke arah Galen yang tengah membuka helm- nya. Senyuman di wajahnya terbentuk, seperti kaget karena melihat Galen yang datang sendirian ke angkringan milik sang Ayah. Cewek itu, Meisy, mendekatkan dirinya kepada Galen.
"Kak Galen! Halo," sapa Meisy dan melambaikan tangannya di depan Galen yang tampak biasa saja. Dia tidak banyak bereskpresi di depan Meisy. Hanya sedikit senyum yang canggung.
Galen merapikan rambutnya yang berantakan sebelum menjadi pusat perhatian beberapa pelanggan yang tengah makan. Angkringan yang ada di depan matanya bukanlah sebuah angkringan sederhana dengan satu tempat bertenda bersama dengan gerobak jualannya. Angkringan di depannya adalah tempat nongkrong yang dikunjungi banyak anak muda. Terlihat dari mereka yang duduk di kursi sambil menghadap ke laptop masing-masing. Ada juga sebagian yang hanya makan sambil serius mendengarkan akustik.
"Angkringan elite, 'kah? Sepertinya pelanggan di sini bakalan malas buat pulang karena suasananya yang pas untuk nongkrong." Sambung Galen yang memuji tempat itu.
Tentu saja Meisy hanya tertawa pelan sambil menarik lengan Galen untuk duduk disalah satu tempat yang ada di pojok tempat, masih kosong dan tentunya lumayan jauh dari akustik yang sedang mengalun menghibur para pelanggan malam ini.
"Duduk dulu aja, Kak." Ucap Meisy yang meminta Galen untuk duduk di kursi tersebut. "Lo mau pesan apaan? Di sini banyak menunya dan Lo bisa milih minuman apa aja. Semoga Lo ada yang suka sih. Sepertinya selera Lo bagus." Sambung Meisy dengan menggoda Galen lagi.
Galen menatap buku menu yang ada di atas meja, "gue mau milkshake aja. Untuk rasanya yang best seller di sini aja. Snack juga terserah Lo aja."
Meisy mengangguk dengan mantap dan memesankan semua pesanan Galen. Setelah itu dia duduk tepat berhadapan dengan Galen. Seperti yang selalu dia katakan, Meisy tidak pernah membeda-bedakan teman di lingkungannya atau sekitarnya. Dia adalah orang yang ramah kepada siapapun.
"Apa yang Kak Galen pikirin? Kenapa kaya bingung gitu? Datang ke tempat ini juga bukan tujuan utama Kakak, 'kan? Mau kemana sebenarnya, sih?" Tanya Meisy yang penasaran dengan sikap Galen yang selalu kelihatan mencurigakan. Namun sekali lagi, Meisy tidak mempedulikan hal itu. Dia hanya berteman dengan semua manusia yang ada di muka bumi. Dia tidak membedakan dengan siapapun. Entah Galen atau bukan, dia mampu bersikap dengan baik.
Galen menautkan jemarinya, "hm, apa Lo orang yang suka ngurusin urusan orang lain?"
Meisy hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum.
"Entah kenapa gue dilahirkan sebagai manusia yang selalu care sama orang lain disekitar gue. Gue cuma menjadi apa yang dibutuhkan orang lain. Kita enggak tahu 'kan sebesar apa masalah seseorang. Tapi sebenarnya, kita tidak perlu tahu apa masalahnya. Tapi kita hanya butuh ada di dekat orang yang punya masalah. Dan orang yang ada masalah, belum tentu mau masalah mereka diselesaikan. Mereka hanya butuh orang lain di dekatnya. Untuk memvalidasi kalau mereka enggak sendirian." Jawab Meisy yang lebih terdengar sebagai ucapan orang yang bijak.
Galen tidak menjawab lagi, dia hanya menunggu minumannya datang dan setelah datang, dia meminum apa yang ada di depannya.
"Kak Galen kenapa keluar begitu aja? Padahal acaranya baru dimulai? Apa ada yang mengganggu pikiran Kakak dan membuat Kakak mengabaikan apa yang—" ucapan Meisy terputus begitu saja dengan jawaban Galen yang memang mutlak, tidak dapat dibantah sama sekali.
"Gue benci pembohong! Seseorang yang gemar memotivasi orang lain adalah orang yang hanya peduli kepada dirinya sendiri. Seorang dengan kepercayaan diri tinggi memberikan omong kosong yang mengajak orang lain dengan bahasa yang aneh."
Terlihat bahwa keduanya saling memandang satu sama lain. Tidak pernah dirinya sangka bahwa Galen sebenarnya mempunyai pendapatnya sendiri. Galen bukan hanya cowok di sekolahnya yang tersingkir karena tidak berguna. Mungkin karena seseorang seperti Galen memang pantas dijadikan saingan karena pemikirannya yang tajam dan juga kritis.
"Lo dibesarkan dengan baik sama orang tua Lo. Lo baik, ramah, selalu peduli sama orang lain, pemberani, pintar, dan Lo punya semua yang anak-anak seusia Lo pengen. Lo adalah orang yang enggak akan pernah masuk ke dalam jangkauan hidup gue, Meisy. Orang yang penuh dengan kesempurnaan seperti Lo, enggak akan pernah cocok sama orang seperti gue. Kita seperti dua orang yang berada dalam dimensi berbeda." Tandas Galen yang kali ini membuat kebingungan di kepala Meisy.
"Maksudnya? Lo suka sama gue?" Tanya Meisy tidak paham.
Galen beranjak setelah mengeluarkan selembar uang dari dompetnya, "gue harus balik! Makasih untuk cerita di malam hari yang menyenangkan ini. Gue akan pulih Lo jadi ketua OSIS. Lo cocok dengan jabatan itu. Selamat malam..."
***