Galen menghentikan laju motornya setelah penunjuk lokasi yang telah Leander kirimkan berhenti. Galen menatap ponselnya; Leander sudah tidak online lagi. Cowok itu hanya menatap deretan rumah dengan dinding papan yang di halamannya berjajar pot-pot tanaman hias atau rumput-rumput liar yang belum dipangkas. Galen tidak tahu yang mana rumah Leander, sehingga dirinya memutuskan untuk menunggu di atas motornya.
Aroma tidak sedap menusuk indera penciumannya. Galen menatap ke arah plang bertuliskan 'TPA' yang tidak jauh dari tempatnya berada. Cowok itu mengibas-ngibaskan tangannya untuk menghalau aroma tidak sedap itu. Namun tampaknya sia-sia saja, aroma itu seperti tidak dapat ditaklukkan bahkan dengan aroma wewangian parfum yang lengket di tubuh Galen. Dengan terpaksa, Galen beranjak dari motornya dan berjalan menuju ke sebuah pos kamling untuk sekedar duduk. Setidaknya jauh dari TPA itu.
Lokasi rumah Leander memang sangat jauh dari sekolah. Pantas saja Leander sampai di sekolah dengan kacau. Tidak jarang Leander telat masuk ke kelas dengan alasan yang sama; angkutan umumnya lama. Mungkin bagi beberapa guru yang menghukum Leander dengan alasan kedisiplinan harusnya bisa melihat bagaimana perjuangan cowok itu untuk datang ke sekolah tepat waktu. Jika itu Galen, mungkin dirinya tak akan datang ke sekolah sekalian.
Dari jalan raya di mana halte bus berada, rumah Leander sangatlah jauh. Jika tidak mempunyai motor, tentu saja tidak bisa berangkat tepat waktu. Leander harus berjalan dan melewati banyak gang-gang sempit yang tidak bisa dilewati dua motor sekaligus. Tadi saja, Galen harus mengalah dan mundur sampai ke ujung gang. Akhirnya Galen harus membunyikan klakson agar motor yang beda arah dengannya untuk berhenti dan bergantian lewat.
Bahkan gang-gang tersebut sangat mirip. Galen bisa tersesat andaikata tidak ada penunjuk jalan yang sudah Leander kirimkan. Apalagi banyak anak-anak yang berlarian disekitar yang membuat pengendara motor harus dua kali lebih berhati-hati. Belum lagi segerombolan preman yang nongkrong tidak jelas sambil minum-minum membuat Galen mendesah kesal. Bahkan siang-siang begini sudah mulai mabuk-mabukan.
"Galen," panggil seseorang yang baru saja keluar dari sebuah rumah yang berjarak tiga meter dari motornya terparkir.
Galen beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah motornya untuk mengambil plastik berlogo sebuah minimarket yang sempat dirinya datangi tadi. Cowok itu memberikan plastik itu kepada Leander tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Galen bingung bagaimana caranya memberikan sesuatu kepada orang lain karena memang tidak pernah melakukannya sebelumnya.
"Untuk aku?" Tanya Leander sambil menunjuk dirinya sendiri.
Galen hanya mengangguk sekilas dan menatap Leander dari atas sampai bawah. Cowok itu berbeda sekali dengan di sekolah, lebih kumel dan pakaiannya seperti anak kecil. Galen akan menyimpulkan bahwa Leander terlihat lebih baik ketika dirinya menggunakan seragam sekolah.
"Kakak," lirih seorang anak kecil yang muncul dibalik kaki Leander dengan membawa sebuah s**u kotak rasa strawberry, mengingatkannya pada cewek yang ditemuinya di taman bermain tadi.
Leander tersenyum ke arah adiknya dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah dengan berbisik lalu memberikannya plastik itu yang dipegangnya. Adik Leander tampak sangat senang ketika melihat ada snack yang berada di dalam plastik dan berteriak memanggil entah siapa, Galen tidak tahu.
"Eh, silakan masuk!" Ucap Leander yang mempersilakan Galen untuk masuk ke dalam rumahnya. "Maaf kalau rumahku berantakan. Enggak pa-pa, 'kan?" Sambung Leander yang mendapatkan anggukan singkat dari Galen.
Di dalam rumah yang sangat-sangat sederhana itu ada dua anak kecil lain yang tengah berjongkok sambil sibuk membuka plastik yang diberikannya tadi. Leander tampak meminta ketiga adiknya untuk masuk ke ruangan lain dan membiarkannya untuk masuk ke dalam ruang tamu—jika itu pantas disebut sebagai ruang tamu.
Tidak ada sofa. Jangankan sofa, kursi pun tidak ada. Ruang tamu itu berisi banyak sekali barang-barang, seperti multi ruangan yang bisa digunakan untuk segala kegiatan. Ada sebuah televisi keluaran lama, ada sebuah kipas angin yang sangat kotor dan bersuara 'krek-krek' ketika sedang dihidupkan, tumpukan pakaian yang tampaknya baru saja disetrika dan diletakkan di dalam keranjang, ada sebuah meja di mana gelas-gelas serta teko berisi air putih diletakkan.
Terlihat Leander yang tengah sibuk membongkar isi tasnya, mengambil beberapa buku dan mengeluarkan lembaran uang dari dalam sakunya. Lembaran uang lecek itu diberikan kepada Galen.
"Sisa uang beli bahan untuk buat mind mapping- nya. Aku sudah bagi dua secara rata dan ada notanya juga kok." Ucap Leander menyodorkan selembar nota dari toko peralatan alat tulis.
Galen menggeleng cepat, "ambil aja kembaliannya! Uangnya lecek banget, gue enggak biasa nyimpen uang lecek."
"Eh, ... beneran, Galen? Enggak pa-pa kalau uangnya dikasih aku? Aku jadi enggak enak kalau enggak patungan untuk beli bahannya." Ucap Leander sambil menatap uang yang masih berada di genggamannya.
Galen hanya mengangguk dengan cepat dan mengeluarkan bukunya yang berada di dalam tas. Dia tidak tahu mind mapping itu tugas dari pelajaran apa. Sehingga Galen pun membawa semua buku paketnya. Semua buku paket itu tampak masih baru dan lengkap, membuat Leander yang melihatnya tampak bingung. Lagipula, Galen tidak pernah belajar dan tidak pernah membawa buku ke sekolah. Dia hanya membeli buku yang diminta guru dan meletakkan semua bukunya di atas meja belajarnya.
"Kenapa bawa semua buku? Tugas kita 'kan cuma sejarah." Ucap Leander dengan menatap Galen serius.
Galen hanya mengangkat kedua bahunya acuh, "lagian Lo enggak ngomong pelajarannya apa. Ya, gue bawa semuanya. Siapa tahu butuh!"
Leander akhirnya hanya mengangguk pelan sambil mengambil buku paket sejarah yang belum dibuka. Aroma buku baru menjadi daya tarik untuk dirinya yang merupakan pecinta buku. Leander sangat suka belajar, untuk itulah dia masuk ke sekolah elite yang berisi orang-orang kaya.
"Lo dapat uang dari mana untuk sekolah?" Tanya Galen to the point tanpa basa-basi sama sekali. Tentu saja dia penasaran dengan uang sekolah Leander ketika melihat kondisi rumah cowok itu.
Leander tersenyum tipis, "dari hasil jualan gorengan Ibuku, dari uang kuli bangunan Bapakku, dan uang yang aku dapat dari ngerjain tugas-tugas teman-teman yang lain. Kadangkala aku dibayar kok sama Kiko. Kadang juga enggak karena katanya uangnya dipotong sama Papanya. Aku juga sering kerjain tugas-tugas anak-anak tetangga dan diupah uang juga. Jadi sekalian mengasah kemampuan sambil cari uang."
"Cukup?" Tanya Galen lagi.
Leander menggeleng, "kadangkala harus ngutang dulu kalau mau bayar uang sekolah. Makanya rencananya aku mau cari part time untuk anak sekolah kaya aku. Siapa tahu ada, 'kan? Lumayan uangnya bisa untuk tambahan bayar cicilan uang sekolah."
"Sebenarnya, ada yang lebih realistis daripada berusaha untuk kerja part time dan kerja mati-matian lainnya! Seharusnya Lo sadar tentang taraf hidup Lo yang masih susah. Kenapa sih Lo menuntut sekolah di sekolah elite dan akhirnya cuma diperbudak sama orang lain? Kalau Lo memang niatnya sekolah di sana, seharusnya Lo enggak menerima perlakuan yang enggak manusiawi hanya karena Lo miskin dan butuh uang. Kadangkala, harga diri lebih penting ketimbang uang." Tandas Galen dengan kata-kata pedasnya, seperti biasa.
"Memangnya salah ya, kalau orang miskin mau sekolah di sekolah yang elite?" Tanya Leander sambil terus memainkan pensil di tangannya.
Galen menggeleng pelan, "enggak, ... sama sekali enggak ada yang salah! Salahnya Lo adalah, Lo merendah di depan orang-orang itu. Lo sama kok sama mereka. Lo bayar uang sekolah, Lo siswa di sana, Lo belajar di sana. Apa bedanya Lo sama mereka? Lo enggak ada bedanya. Miskin itu bukan status mutlak yang akan terus melekat sama diri Lo sampai mati. Kalau Lo berani merubah mindset Lo tentang orang miskin yang enggak boleh sekolah di sekolah elite, mungkin Lo akan sukses nantinya."
Leander menatap Galen serius dan Galen hanya tersenyum kaku.
"Nyokap pernah bilang gitu sama gue. Dia benci orang-orang miskin yang selalu merendah!" Sambungnya.
Mereka berdua diam beberapa saat sampai akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan tugas mind mapping mereka sebelum hari semakin sore dan membuat pekerjaan mereka tertunda.
***