Secerah itu 'kah wajah Galen ketika melihat taman bermain? Cowok itu bahkan sudah tidak cocok dengan wahana mini yang ada di sana, tapi tetap memaksa membeli tiket dan memilih duduk dengan santai di sebuah bangku kosong. Matanya berbinar, menatap beberapa anak kecil yang tengah asik mencoba beberapa wahana permainan dan berakhir dengan gelak tawa atau tangisan meraung minta turun.
Galen yakin bahwa orang-orang di tempat ini tidak mengenalnya. Tidak ada yang menyingkir atau menarik anak-anak mereka ketika melihat dirinya berada di sini. Ah, Galen memilih taman bermain yang jauh dari daerahnya. Dia ingin bebas menatap anak-anak kecil yang bermain tanpa merasa takut saat melihatnya. Galen tidak mau ada orang tua yang menarik anaknya dengan kasar dan membuat anak mereka terpaksa menghentikan permainannya.
Rambut gondrongnya tampak melambai-lambai tertiup angin, aromanya wangi sekali. Wajahnya juga bersih dan terlihat lebih segar, mungkin karena semalam dirinya menunda aktivitas begadangnya. Galen terlalu senang karena akan datang ke taman bermain. Karena kesenangan tersebut, dirinya bisa tidur dengan tenang tanpa adanya gangguan tidur seperti biasanya.
"Nunggu siapa?" Tanya seseorang yang tiba-tiba memecah keheningan diantara keduanya.
Galen menoleh, tanpa melunturkan senyuman bahagianya. Dia menatap seorang cewek berwajah imut duduk disebelahnya sambil membawa s**u kotak rasa strawberry.
"Enggak nungguin siapa-siapa." Jawabnya jujur.
Cewek itu mengerutkan keningnya bingung, "terus kenapa datang ke taman bermain kalau enggak ada yang ditungguin? Di sini 'kan taman bermain untuk anak-anak. Kamu enggak akan bisa main."
Galen mengangguk setuju. Dia tidak akan pernah bisa main walaupun ketika dirinya kecil sekalipun. Dia seperti anak-anak yang terkurung dalam tubuh remaja berumur 16 tahun yang berharap bisa sebentar saja menikmati duduk di ayunan dan diayun oleh Ayah atau Ibunya. Itu hanya sebuah permintaan kecil nan sederhana seorang anak yang tidak akan pernah terwujud sampai kapanpun.
Cewek itu menyodorkan tangan kanannya ke arah Galen, "hm, ... namaku Meisy. Namamu siapa?"
Meisy, nama yang bagus untuk cewek yang cantik dan terlihat ceria seperti cewek di depannya ini. Galen tanpa pikir panjang langsung menjabat tangan cewek itu dan memberikan senyumannya ke arah Meisy, teman barunya, mungkin.
"Galen," lirihnya dengan menatap kedua mata cewek itu.
Setelan itu, mereka diam. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Galen fokus menatap dua anak kecil yang tengah bermain perosotan. Mereka tampak sangat senang karena bisa meluncur dengan kencang. Ada juga dua anak kecil yang menaiki kereta mini dengan lagu anak-anak. Sangat lucu sekali! Galen jadi ingin seperti mereka, melakukan kegiatan kecil yang mereka sukai.
Tiba-tiba sebuah bola menggelinding ke arah Galen. Tidak lama kemudian seorang anak kecil mendekat untuk mengambil bola itu. Namun dengan tatapan takut, anak kecil itu berlari dengan kencang menuju Ibunya yang tengah duduk di salah satu bangku dekat ayunan. Galen melunturkan senyumannya; mengapa sulit sekali bersosialisasi dengan orang lain? Bahkan dengan anak kecil sekalipun, rasanya sulit.
"Senyuman kamu salah," ucap orang yang masih berada disampingnya—membuat fokus Galen teralihkan kepada Meisy yang meminum s**u kotak rasa strawberry itu yang dipegangnya tadi.
Galen mengerutkan keningnya bingung. Menurutnya, semua orang menganggapnya aneh—bukan hanya karena senyumnya saja. Mungkin jika cewek disampingnya itu tahu siapa dirinya, mungkin akan menganggap Galen buruk, sama seperti yang lainnya.
"Senyuman itu seperti ini," lirih Meisy yang membuat sebuah senyuman di wajah Galen dengan bantuan dari kedua telunjuknya.
Sebuah lekukan yang diketahui bernama 'senyum' tampak sangat indah menghiasi wajah Galen yang tampak kaku. Jadi, senyum saja ada tata caranya? Maksudnya, apakah harus menggunakan beberapa metode agar tidak disebut orang lain sebagai seringaian?
"Nak," panggil seorang perempuan paruh baya yang berdiri di depannya dengan terengah-engah. "Nenek boleh duduk disamping kamu? Bangku yang kosong hanya di dekat kamu. Nenek lelah sekali berdiri." Sambungnya dengan menatap Galen.
Galen tersenyum kikuk, senyuman yang sudah lumayan baik. Cowok itu berdiri untuk mempersilakan nenek itu duduk, karena disamping kanan sudah ada Meisy yang duduk di sana dan dia tidak mungkin mengusirnya. Namun baru saja beranjak, Galen sudah tidak menangkap sosok cewek itu di manapun.
"Silakan duduk, Nek." Ucap Galen akhirnya, meskipun dengan tatapan yang kebingungan sambil mencari keberadaan cewek itu di mana-mana.
Walaupun sekeras apapun Galen mencarinya, tidak ada satupun orang yang terlihat mirip seperti sosok cewek itu.
"Maaf, Nek, apa Nenek tadi melihat remaja perempuan duduk di sini? Kira-kira kemana perginya, ya?" Tanya Galen dengan celingukan.
Perempuan itu membetulkan lensa kacamatanya yang goyang, "maaf, Nak, Nenek sudah lama menderita gangguan penglihatan. Walaupun sudah memakai kacamata, mata Nenek sudah tidak awas. Nenek bahkan tidak melihat siapapun di dekat kamu tadi. Mungkin karena kacamata ini."
Galen akhirnya hanya mengangguk saja. Mungkin cewek itu buru-buru pergi tanpa sempat berpamitan atau mengatakan selamat tinggal kepada dirinya. Ah, namun mereka hanya sekedar berkenalan secara singkat. Galen tidak bisa menuntut orang lain untuk melakukan hal semacam itu kepadanya. Apalagi mereka baru saja bertemu.
Namun, pertemuan singkat itu sangatlah bermakna. Di mana dia dapat berbicara dengan santai dan terbuka kepada orang lain. Apalagi lawan bicaranya kali ini adalah seorang cewek yang seumuran dengannya. Rasanya aneh, namun Meisy adalah sosok yang sangat menyenangkan bagi Galen.
Sampai akhirnya sebuah pesan dari Leander masuk ke dalam ponselnya dan mengingatkannya tentang tugas membuat mind mapping yang harus mereka kumpulkan Minggu depan. Untunglah seminggu ini dirinya bisa libur karena ada latihan ujian untuk kelas dua belas sehingga untuk kelas sepuluh dan sebelas belajar di rumah.
Galen beranjak dari duduknya, "Nek, saya duluan, ya."
Perempuan paruh baya itu hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu mengatakan kata 'hati-hati'—sebuah kata sederhana yang membuatnya merasa sangat bahagia. Galen senang karena hari ini diisi dengan mereka yang begitu baik kepadanya. Galen bisa berjalan lebih ringan dan terus melakukan kegiatan positif karena orang-orang yang ditemuinya selama seharian ini adalah mereka-mereka yang mempunyai aura positif.
Galen menaiki motornya untuk menuju ke rumah Leander. Untuk pertama kalinya Galen datang ke rumah temannya untuk sekedar mengerjakan tugas. Sebuah hal yang sangat amat langka dilakukan oleh orang sepertinya. Sebelum datang, Galen mampir ke sebuah minimarket untuk membeli snack. Dia tidak bisa datang dengan tangan kosong, bukan?
"Pak Ilyas," lirih Galen ketika melihat Ilyas tengah berjalan masuk ke dalam minimarket yang sama dengannya.
Tampaknya Ilyas tidak menyadari adanya Galen di sana, sehingga cowok itu memilih untuk buru-buru pergi setelah membayar snack yang telah dibelinya. Dia tidak ingin bertemu dengan Ilyas sekarang, apalagi dia merasa tersinggung dengan apa yang diucapkan laki-laki itu kepadanya kemarin.
***