Galen berjalan keluar dari ruangan kelasnya dengan menenteng tasnya. Siswa dari masing-masing kelas pun berhamburan keluar untuk segera pulang ke rumah atau melakukan kegiatan lainnya. Tatapan beberapa orang mengarah kepadanya, namun setelah itu mereka memutus kontak mata dengan cowok itu. Galen tidak bereaksi, dia berjalan santai tanpa takut ada yang mengganggunya.
Terlihat Leander yang tengah sibuk membawa buku-buku paket yang baru dipinjamnya di perpustakaan tadi. Cowok itu berusaha untuk mensejajarkan langkahnya dengan Galen yang walaupun jalannya santai, namun terlihat cukup cepat untuk dirinya imbangi. Galen cowok yang tinggi, wajar jika kakinya dengan mudah melangkah dengan ringan tanpa beban sama sekali.
"Galen," panggil Leander ketika kakinya sudah lelah untuk terus menyamai langkah cowok itu. Dia akhirnya memilih memanggil dan membuat Galen menghentikan langkahnya.
Galen menoleh karena namanya dipanggil, sebuah hal yang sangat jarang dilakukan (memanggilnya) oleh manusia manapun kecuali guru BK yang tidak pernah absen untuk mencari-cari kesalahannya. Semua perhatian orang-orang tertuju pada Leander yang berhubungan baik dengan Galen—orang yang tidak wajar dihubungi di sekolah atau manapun. Karena mereka semua tidak pernah memanggil nama yang asing seperti itu.
"Kita satu kelompok! Kamu mau ngerjain tugas mind mapping- nya kapan dan di mana? Soalnya kalau enggak dibahas sekarang, takutnya kamu lupa dan aku enggak bisa buat hubungin kamu nantinya. Besok 'kan libur." Tandas Leander dengan susah payah mendekati Galen yang masih menunggunya.
Galen tentu saja tidak ingat ada tugas semacam itu. Dia terlalu sibuk diam sambil merebahkan kepalanya di atas meja dan memilih tidak mendengar apapun yang dijelaskan oleh guru yang mengajar. Toh, mereka tidak akan peduli padanya. Sekalipun dia mati di kelas, mungkin guru yang mengajar di kelasnya tidak akan mau tahu.
"Terserah," jawab Galen akhirnya.
Karena sebelum-sebelumnya, dia tidak pernah diajak mengerjakan. Tahu-tahu namanya sudah masuk dalam 'nama anggota' pada salah satu kelompok di kelas. Galen tidak pernah bertanya tentang tugas dan teman yang lainnya pun memilih untuk mengerjakan sendiri ketimbang harus mengajaknya untuk bergabung.
Leander menyodorkan ponselnya ke arah Galen, "kita bisa tukeran nomor, 'kan? Supaya gampang menentukan waktunya."
Tanpa basa-basi, Galen mengambil ponsel Leander dan menuliskan 12 digit nomor di ponsel cowok itu, lalu memberikan nama 'Galen' di sana. Leander tampak sumringah setelah Galen memberikannya nomornya. Nomor yang mungkin hanya dirinya saja yang mempunyainya. Karena selama ini, Galen tidak pernah ikut grup chat manapun dan muncul di manapun. Bahkan tidak ada yang bertanya tentang nomor ponselnya.
Setelah itu Galen melanjutkan langkahnya ke tempat tujuannya; ruangan BK. Galen meninggalkan Leander begitu saja. Sebenarnya mereka adalah spesies manusia yang sama. Sama-sama tidak mempunyai teman. Galen yang dikenal sebagai siswa bermasalah dan Leander yang dikenal sebagai siswa pasrah sehingga selalu di- bully. Mereka sebenarnya cocok untuk berteman, namun keduanya tidak tahu bagaimana caranya berteman. Itu semua karena mereka tidak pernah punya teman sebelumnya.
Tok... Tok... Tok...
Galen mengetuk pintu ruangan BK yang sedikit terbuka dan mendorong pelan pintunya. Cowok itu menatap kedua orang yang tengah memakan makanannya di dalam ruangan. Tak ada yang membuka pembicaraan karena sama-sama kaget. Sampai akhirnya Hannah yang berinisiatif untuk beranjak dari duduknya dan mempersilakan Galen untuk masuk.
"Silakan masuk!" Tandas Hannah sebelum Galen sempat mengatakan kata permisi sebelumnya.
Galen hanya menganggukkan kepalanya pelan dan duduk di sofa ruangan itu, menunggu Hannah dan Ilyas menutup box makanan mereka, walaupun belum selesai makan.
Sambil menunggu, Galen menatap sebuah jam pasir yang berada di ruangan itu. Entah mengapa jam pasir itu diletakkan di atas meja. Namun Galen selalu tertarik dan perasaan kacaunya sedikit berkurang ketika melihat jam itu.
"Nama kamu Galen, 'kan?" Tanya Hannah sambil menatap lembaran kertas yang berada di tangannya dan beralih menatap Galen yang duduk tenang di depannya.
Galen mengangguk singkat, "apakah saya membuat kesalahan, lagi?"
"Lagi?" Ulang Hannah.
Galen menganggukkan kepalanya sekali lagi. Senyuman terukir di wajahnya kembali, senyuman yang hampir mirip dengan seringaian. Hannah maupun Ilyas hanya bisa menghela napas panjang karena kembali melihat cowok itu mulai menebar senyuman anehnya.
"Saya langganan masuk ke ruangan BK. Tapi sekalipun saya tidak pernah mendapatkan surat peringatan atau surat dikeluarkan dari sekolah. Saya merasa tidak enak dengan siswa yang lain karena hidup dengan nyaman seperti tidak melakukan kesalahan apapun." Tandas Galen yang mulai membuka suaranya.
Mereka kira, Galen tidak akan pernah bicara atau membela dirinya. Tetapi ternyata Galen bisa mengungkapkan apa yang membuatnya merasa tidak nyaman atau sesuatu yang terus mengganggu pikirannya.
"Kamu bisa menjelaskan apapun atau menceritakan apapun kepada kami. Kami siap menjadi pendengar yang baik untuk kamu." Ucap Hannah sekali lagi.
Cowok itu tersenyum masam, "saya tidak bisa bercerita kepada orang yang menatap saya seperti itu!"
Bahkan Galen tidak segan untuk menunjuk Ilyas yang menatapnya dengan tatapan aneh sejak pertama kali mereka bertemu. Mungkin semua orang pun akan menatapnya dengan cara demikian. Walaupun Hannah berusaha tetap profesional dengan menyembunyikan tatapan anehnya. Meskipun ada sedikit rasa takut di dalam hatinya. Tapi dia masih bisa meredamnya.
"Hm, ..." Hannah menggigit bibir bawahnya karena bingung dengan jawaban macam apa yang akan dia katakan kepada Galen yang tampak tenang walaupun matanya terus menyorot Ilyas yang menjadi salah tingkah.
"Bolehkah saya bertanya kepada, Bapak?" Tanya Galen kemudian.
"Ya?" Jawab Ilyas dengan cukup kaget.
Galen menatap Ilyas dengan tatapan serius, "bagaimana perasaan Bapak ketika Bapak sudah menolong orang dengan tulus, tapi orang tersebut tetap menganggap Bapak buruk?"
Ilyas terdiam beberapa saat dan menatap kedua mata Galen yang menunggu jawabannya.
"Maafkan saya," lirih Ilyas dengan suara tidak enak.
Cowok itu menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Bapak tidak perlu menyampaikan permintaan maaf. Saya mengerti bagaimana semua orang memandang saya. Jadi, Bapak tidak salah jika berpikir demikian."
Suasana di ruangan BK itu menjadi sangat canggung dan tidak nyaman karena ucapan Galen yang memang ada benarnya.
"Terimakasih karena sudah mau mendengarkan pendapat saya, itu lebih dari apa yang saya harapkan dari berjalan menuju ke ruangan ini dengan beban di kepala. Saya tidak pernah benar-benar mendapatkan sebuah hak berbicara sama sekali. Guru BK yang lama mengatakan bahwa saya manusia yang rusak. Selamanya saya tidak akan pernah menjadi siapa-siapa. Bahkan untuk disebut sebagai manusia, saya pun tidak pantas. Saya mengingat semua ucapan mereka dengan baik." Ucap Galen dan kembali tersenyum sekali lagi.
Hannah dan Ilyas terdiam dengan wajah yang kebingungan; apakah seorang guru dengan teganya menghancurkan mental siswanya dengan kata-kata demikian? Apalagi, ini adalah guru BK. Seorang guru yang seharusnya memberikan konseling dan pendampingan pada siswanya yang mempunyai masalah.
"Saya tidak melanggar peraturan sekolah selama ini, kecuali rambut gondrong." Tandas Galen dengan tatapan mata yang serius. "Bahkan tidak tertulis sama sekali tentang larangan menonton video porno di sekolah. Lagipula saya menontonnya sendiri, saya tidak mengajak teman yang lain, saya juga kecanduannya sendiri, dan saya juga tidak menyebarkannya. Lalu salah saya di mana?" Sambungnya menuntut jawaban.
"Galen," lirih Hannah.
Galen menggeleng pelan, "saya yakin bahwa setiap orang pernah melihat, menonton, bahkan melakukannya walaupun sekali. Saya tidak akan berusaha menganggap orang lain sangat suci sehingga tidak paham dengan semua itu. Saya kecanduan menonton film porno, tapi saya tidak melukai siapapun. Saya tidak pernah menyalurkan hasrat saya sebagai seorang laki-laki kepada orang lain."
"Mau bicara di tempat lain?" Tanya Hannah yang mendapatkan tatapan tidak setuju dari Ilyas.
Namun detik kemudian, Galen menganggukkan kepalanya setuju. Ilyas hanya bisa menghela napas panjang, merutuki kebodohan partner- nya; Hannah.
***