Ketika beberapa temannya sibuk bermain bola berpasangan, Galen hanya memainkan bola basketnya sendiri dengan malas-malasan. Dia tidak tertarik dengan permainan apapun, namun daripada duduk sendirian seperti orang bodoh, jadi lebih baik untuk bermain walaupun hanya sendirian. Walaupun definisi bermain yang sebenarnya diantara dua orang, namun dalam kasus ini, Galen sendirian dan tetap sendirian.
Dari kejauhan, Hannah dan Ilyas, menatap Galen. Keduanya memang sudah berencana untuk melakukan metode pendekatan kepada cowok itu. Namun mereka tidak bisa begitu saja mendekatinya tanpa ada alasan sama sekali. Apalagi mereka adalah guru BK yang baru dan masih membutuhkan banyak kesiapan dalam mengatasi siswa seperti Galen. Terlebih, mereka berdua belum berpengalaman menangani kasus seperti Galen ini.
Walaupun terlihat biasa saja dan tidak terlihat melakukan kejahatan apapun, tetap saja mereka merasa khawatir dengan kondisi Galen yang sepenuhnya belum bisa ditebak. Dari sikapnya memang mencerminkan siswa yang biasa saja, cenderung menghormati orang lain. Namun, Galen sangat menyukai film tidak senonoh itu, bahkan menjadikannya tontonan sehari-hari.
Jadi, sebagian orang menganggap dirinya aneh dan tidak normal. Tapi, jika dipikir-pikir, hampir remaja seusianya seringkali mengonsumsi tontonan semacam itu. Hanya saja mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Perbedaan diantara mereka hanyalah masalah ketahuan atau tidak. Padahal status kebanyakan remaja sama saja. Mereka pastinya suka menonton film-film tersebut.
"Dia mirip remaja pada umumnya. Tapi kelihatannya, dia tidak punya teman." Ucap Hannah sambil sibuk menuliskan sesuatu pada note yang dipegangnya.
Ilyas menganggukkan kepalanya dengan cepat, "lagipula siapa yang mau berteman dengan orang me-sum seperti dia? Bu Hannah memangnya mau punya teman yang me-sum?"
Hannah mencibir, ingin sekali dia memukul Ilyas andaikata mereka tidak berada sekolah.
"Bapak bukannya pernah nonton video begituan waktu mata kuliah perkembangan peserta didik, ya? Apa Pak Ilyas, lupa?" Sindir Hannah pada Ilyas yang memang sangat tahu apa yang selama ini dilalui temannya itu.
Mereka berdua teman kuliah dan selama empat tahun lebih ini mereka selalu bersama. Bagaimana mungkin Hannah tidak tahu bagaimana tabiat seorang Ilyas. Lagipula bagi Hannah sendiri, wajar jika seseorang ingin menonton film semacam itu, tetapi semua itu soal waktunya—sering 'kah atau hanya sekali dua kali.
Ilyas hanya meringis mendengarkan jawaban Hannah yang sepenuhnya memang benar. Dia pun melakukan kesalahan yang sama selama masa remaja bahkan menuju dewasanya. Jadi, dia tidak seharusnya sibuk menghakimi orang lain karena dirinya sendiri pun melakukan kejahatan yang sama.
"Orang yang selalu menonton film porno belum tentu orang me-sum! Mungkin bisa jadi dia remaja pada umumnya yang penasaran dengan hal-hal semacam itu. Kita pernah belajar banyak hal tentang remaja dan bagaimana mengatasinya. Lalu saat ini, kita diberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah dari salah satu siswa. Walaupun sedikit takut dan bingung, saya berharap semuanya akan baik-baik saja. Baik kita maupun Galen." Tandas Hannah berusaha percaya kepada insting- nya.
Ilyas hanya menganggukkan kepalanya. Dia memang tidak mengenal Galen dan bagaimana ceritanya cowok itu bisa kecanduan terhadap film porno. Padahal semua itu pasti mempunyai penyebab yang kuat dan mereka berdua belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tibalah waktunya pengambilan nilai; memasukkan bola basket ke dalam ring. Satu-persatu siswa yang namanya dipanggil maju untuk pengambilan nilai. Masing-masing siswa mempunyai tiga kesempatan. Sebagian anak cowok dengan mudahnya memasukkan bola tersebut ke dalam ring dan mempunyai poin penuh. Sedangkan ada cewek banyak yang ngedumel tidak jelas karena kesal dan tidak mendapatkan poin apapun.
Dan tibalah saat di mana Galen mendapatkan kesempatannya. Dia memegang bola basket itu sambil menatap ring. Beberapa orang tidak memperhatikannya sampai bola itu masuk ke dalam ring dengan sangat baik, tiga kali berturut-turut. Mereka cukup dibuat kaget dengan skill Galen yang sudah mirip pemain basket sungguhan. Bahkan sang guru olahraga yang tidak pernah memperhatikannya pun merasa takjub.
"Oke, poin penuh." Ucap sang guru olahraga memberikan komentarnya dan menunjukkan jempolnya ke arah Galen sebagai apresiasi keberhasilan dari siswanya.
Galen tidak menampakkan ekspresi apapun kecuali tersenyum tipis tanpa memperlihatkan deretan giginya. Dia berjalan menuju ke pinggir lapangan dan menguncir rambutnya asal dan mengambil botol minumnya lalu meminum isinya yang tinggal setengah.
"Galen," panggil seseorang yang diketahui adalah Ilyas itu.
Galen menoleh setelah selesai menyelesaikan minuman, "iya, ada apa, Pak?"
Dengan ragu, Ilyas mendekat ke arah Galen yang tampak berkeringat dan sedikit berantakan karena sehabis berolahraga. Sebenarnya dia tidak harus menemui Galen sekarang, namun lebih cepat lebih baik, bukan?
"Sehabis pulang sekolah, bisa bicara di ruangan BK?" Tanya Ilyas dengan to the point menanyakan kesediaan Galen untuk datang ke ruangan BK selepas pulang sekolah.
Galen mengerutkan keningnya bingung, "memangnya, saya salah apa? Bukannya setiap kali dipanggil ke ruangan BK karena saya sedang bermasalah, ya, Pak? Seingat saya, saya tidak melakukan tindakan apapun yang membuat saya dipanggil ke ruangan BK."
Tatapan yang Galen layangkan kepada Ilyas memang bukan tahapan tajam. Namun tatapan itu mampu untuk membuat lawan bicaranya merasa terintimidasi. Padahal kenyataannya, Galen bicara dengan santai, tanpa adanya maksud membuat orang lain merasa tidak nyaman ketika bicara dengannya.
"Hm, ... ada sesi konseling untuk siswa yang berma~" ucapan Ilyas terpotong begitu saja dengan jawaban Galen, sebelum dirinya selesai mengatakan kata 'bermasalah' pada akhiran kalimatnya.
"Baik," jawab Galen lalu memberi senyuman tipisnya.
Ilyas heran, senyuman Galen memang seperti itu atau senyuman itu seperti senyuman misterius yang digunakan untuk menakut-nakuti orang-orang? Tetapi seharusnya dia selalu berpikir positif, bukan? Hannah mengatakan padanya untuk memperlakukan Galen seperti siswa pada umumnya. Karena mereka berdua masih dalam tahapan observasi, belum saatnya membuat kesimpulan karena belum adanya data di lapangan.
Galen menundukkan kepalanya hormat dan berlari ke lapangan kembali. Cowok itu membantu memasukkan bola-bola basket ke dalam jaring dan membawanya ke ruangan perlengkapan olahraga. Terlihat Galen melakukannya sendirian, tanpa bantuan siapapun. Jika diamati, Galen memang tidak kelihatan aneh sama sekali. Dia hanyalah remaja 16 tahun yang gondrong berseragam olahraga.
Lalu tidak lama kemudian Leander datang membantu Galen. Cowok itu hanya tersenyum tipis, tidak merasa canggung atau risi ketika berdekatan dengan Galen seperti sebelumnya. Tidak ada yang memulai bicara, Leander maupun Galen sama-sama memegang ujung jaring tempat bola basket itu dan membawanya ke ruangan perlengkapan olahraga.
"Dia sebenarnya enggak aneh kok." Ucap Hannah yang tersenyum penuh arti menatap Galen yang hanya terlihat dari belakang. "Banyak faktor yang membuat anak melakukan perilaku penyimpangan. Dan selama ini pun, dia enggak pernah tercatat mengganggu siswa lain. Apalagi tuduhan tentang pelecehan pun, tampaknya tidak ada." Sambung Hannah memberikan pendapatnya.
Ilyas akhirnya mengangguk, "hm, ... tugas kita hari ini selesai. Lebih baik kita kembali ke ruangan BK karena masih ada beberapa siswa yang perlu kita urus."
Keduanya berjalan beriringan untuk meninggalkan pinggir lapangan dan kembali ke ruangan BK. Setidaknya ada sedikit data yang bisa mereka ambil walaupun hanya sedikit.
***