BAB 4 : Seperti Manusia

1015 Words
Pukul 07.30 tepat, Ilyas benar-benar menunggu Galen di parkiran. Tidak lama kemudian, cowok itu muncul membawa motornya. Galen tampak rapi hari ini, wajahnya terlihat lebih segar dan aroma parfum menyeruak dari tubuhnya. Point itu seperti tidak mungkin, namun benar adanya. Dia tidak berpikir bahwa seorang Galen bisa sewangi itu. Hanya penampilan saja yang berantakan, namun untuk aroma tubuhnya wangi poll. Terlihat senyuman canggung yang muncul di wajah Ilyas. Apalagi saat Galen membuka helm- nya. Cowok itu tersenyum luwes, tidak secanggung itu. Tangan kanannya menyodorkan kunci motor milik Ilyas kembali dan menatap motornya yang lumayan kotor, entah bagaimana lumpur bisa mengenai motornya sampai setebal itu. "Makasih," ucap Ilyas dengan suara yang amat canggung. "Em, ... Bapak akan kasih uang tambahan untuk mencuci motormu. Soalnya jalanan depan gang indekos Bapak becek banget tadi, jadi motormu kotor." Sambung Ilyas dengan tidak enak sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Galen hanya mengangguk pelan dan kembali tersenyum, "terimakasih saja sudah cukup, Pak. Saya ambil kunci motor saya saja. Selamat pagi." Cowok itu benar-benar hanya mengambil kunci motornya yang masih tertancap di motor, lalu pergi begitu saja setelah menundukkan kepalanya ke arah Ilyas. Walaupun tampak urakan dan tidak punya attitude, Galen tahu bagaimana caranya memperlakukan gurunya. Lagipula selama ini Galen tidak mempunyai catatan jelek tentang memperlakukan gurunya dengan tidak baik. Galen hanya mempunyai catatan tentang seringnya menonton video tidak senonoh. Jika itu masuk dalam merugikan orang lain, contoh ruginya apa? Galen tidak pernah melukai atau berbuat tidak baik pada orang lain. Dia selalu memperlakukan orang lain dengan semestinya. Bahkan, orang lain itulah yang seringkali berpikir buruk hanya karena image yang melekat pada diri Galen selama ini. Semua orang yang mengetahui dirinya, bahkan hanya sepenggal namanya saja sudah ketakutan. Dia dianggap monster yang seharusnya dihindari. Padahal kenyataannya, Galen tidak seburuk itu. Ah, orang yang baik sekalipun selalu dianggap buruk oleh orang yang tidak suka dengannya. Lalu apa kabar dengan Galen yang memang sudah terlanjur dicap buruk? "Leander," panggil Galen ketika dirinya berjalan melewati empat orang yang tengah mendorong tubuh cowok bernama Leander itu secara bergantian. Keempat cowok itu menatap Galen dengan tatapan kaget sekaligus takut. Siapa yang tidak mengenal seorang Galen yang katanya menakutkan dan mempunyai sisi gelap yang amat gelap itu? Mereka mundur perlahan dan tidak berani bertatapan dengan Galen. Memilih saling senggol dan berulangkali mengumpati dalam hati. "Dia kacung gue sekarang! Kenapa kalian berani-beraninya ngerjain dia?" Tandas Galen dengan nada suaranya yang berat. "Eh, maaf, kami salah." Jawab salah satu diantara mereka dengan sangat gugup dan takut. Galen mendorong pelan tubuh salah satu diantara mereka, "awas kalian! Gue tandain muka Lo semua kalau sampai ngusik kacung gue lagi." Dengan tatapan tajam, Galen pun menarik Leander, meninggalkan keempat cowok itu dengan wajah kesalnya. Setelah itu barulah Galen dan Leander berjalan beriringan untuk sampai ke kelas. Tidak ada yang membuka pembicaraan karena tidak tahu apa yang akan dikatakan satu sama lain. "Kamu udah ngerjain PR?" Basa-basi Leander yang sepertinya memang terdengar sangat basi karena tidak dijawab Galen sama sekali. Cowok itu meletakkan tasnya di atas meja. Kehadirannya seperti sebuah alarm bagi yang lainnya untuk diam. Galen tidak meminta semua teman di kelasnya untuk diam. Catat, tidak pernah malah. Namun mereka secara sukarela dan sadar, menutup mulut ketika berada di kelas. Jika ingin bicara atau ngobrol pun memilih keluar dari kelas. Terdengar suara-suara ribut yang terkadang membuatnya muak, Galen menutup telinganya rapat-rapat dan itu yang membuat sebagian teman satu kelasnya memilih keluar dan meninggalkan cowok itu sendirian. Namun bukan itu masalahnya, Galen mendengarkan suara ribut setiap saat. Dia yakin itu bukan suara makhluk halus yang seringkali dibicarakan paranormal, namun semua itu lebih kepada isi otaknya yang memang tidak bisa dirinya kendalikan. Ada masalah di dalam kehidupan Galen sendiri. Masalah yang selalu dirinya usahakan untuk selesai, tetapi keadaannya malah semakin parah saja. Seharusnya dia bisa hidup normal layaknya remaja seusianya. Namun Galen tidak bisa seperti itu. Dia sudah terlanjur buruk untuk segala hal. Dia tidak pantas untuk hidup normal, 'kan? "Ini," ucap Leander yang memberi buku tulisnya kepada Galen. "Kamu boleh nyalin PR punyaku." Sambung Leander lagi, namun tidak digubris oleh Galen sama sekali. Galen memilih mencari posisi tidur yang nyaman ketimbang repot-repot mengerjakan PR di sekolah. Dia tidak akan dihukum atau dikeluarkan. Dia sudah biasa melakukannya, namun tidak ada yang mengeluarkan atau memberikan setidaknya surat peringatan. Mungkin Galen akan sangat berterimakasih kepada orang yang mau mengeluarkannya dari sekolah. Setidaknya dia tidak perlu lelah datang ke sekolah setiap harinya. Terdengar suara kursi disamping kanannya ditarik dan seseorang duduk di sana, "kalau kamu enggak mau nyalin PR punyaku, mau aku yang salinin? Kamu 'kan bilang ke yang lain kalau aku sekarang kacung kamu. Setidaknya aku harus berguna dong. Kamu 'kan udah bantu aku dari orang-orang yang mau gangguin aku." Terdengar suara tertawa dari bibir Galen. Cowok itu mendongak dan menatap Leander yang lebih berani padanya. Padahal hari sebelumnya, Leander tampak tak nyaman ketika berada dekat dengannya. "Berhenti ngomong sama gue!" Ucap Galen dan memudarkan senyuman di wajahnya setelah itu. "Gue baik sama Lo, bukan berarti Lo bisa seenaknya sama gue. Patuhi batasan diantara kita yang seharusnya enggak pernah Lo langgar! Jangan terlalu kepo dan sok tahu tentang gue." Sambungnya sebal. Leander diam untuk beberapa saat. Entah mengapa rasa takutnya dan pikiran buruknya tentang Galen menguap begitu saja. Galen yang dirinya kira menakutkan pun tidak demikian. Bahkan Galen lebih bisa menghargai dirinya sebagai seorang manusia. Galen tidak terlihat ingin memperbudak dirinya juga. "Em, kamu sudah makan?" Tanya Leander lagi, untuk kesekian kalinya. "Lo budek?" Tandas Galen dengan wajah yang sangat kesal. Leander menggeleng pelan dan mengeluarkan sebuah tempat makan yang ada di dalam tasnya, "aku punya gorengan buatan Ibuku. Ibuku jualan gorengan di dekat pasar. Ini masih hangat kok. Cobain deh!" "Lo kenapa sih?" Cowok itu beranjak dari duduknya dengan tersenyum dan meletakkan kotak makanan itu di atas meja tanpa mengatakan apapun. Galen menatap kotak makanan itu, aroma gorengan yang masih panas itu tampak sangat menggoda. Apalagi dia sudah lama tidak makan gorengan. Akhirnya Galen menyerah kepada gengsinya. Dia mengambil satu gorengan itu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Ternyata masih ada orang baik hari ini. Masih ada orang yang setidaknya menganggapnya sebagai manusia. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD