RINTIKAN HUJAN MENAWAN
***
Galen benci hujan!
Itu yang selalu dia terapkan di dalam dirinya tentang bagaimana butir demi butir dari langit itu turun dari langit. Berkah Tuhan! Kata seseorang yang selalu mengajarkan dirinya tentang rasa syukur sekaligus luka, Ibunya. Perempuan anggun nan cantik tapi sayang, selalu mempunyai luka dan wajah yang pucat—selalu terkenang dengan indah di dalam ingatannya yang kosong. Kosong tanpa sedikit kenangan manis yang membawa mereka pada senyuman. Sayang, mereka berdua dikenang karena cengeng, sering menangis dan tak pernah terlihat baik-baik saja.
Galen ingat ketika hujan tiba, Ayah kesayangannya, kebanggaannya, dan selalu dibingkainya dalam gambar di tembok kamarnya, menganiaya sang Istri dengan teganya. Sampai jeritan itu keluar, tidak ada yang peduli dan memilih untuk menutup telinga. Saat itu, Galen mengetuk satu demi satu pintu tetangga. Tidak ada yang mau membukakan pintu. Anak kecil yang menangis sambil menahan sakit di keningnya memutari satu kompleks, meminta tolong. Tapi tidak ada satu manusia pun yang membukakan pintu. Bertanya tentang apa yang terjadi atau bagaimana keadaan bocah kecil itu.
Semua orang tutup telinga karena Ayahnya adalah orang yang sangat berkuasa di pemerintahan. Mereka menggadaikan hati nurani, memberi waktu untuk diri sendiri tanpa peduli pada orang lain. Galen mendengarkan suatu musik yang diputar keras-keras dari sebuah rumah. Gendang telinga mereka, apakah baik-baik saja? Apa tidak sakit dengan volume luar biasa seperti itu? Pada saat itu, Galen tidak tahu. Dia hanya diam sambil terus menangis di depan rumah itu. Dia berharap ada belas kasihan orang sekitar dan membantunya.
Namun yang diharapkannya, tidak pernah terjadi. Sampai Ayahnya pun datang dan menyeretnya kasar. Mirip dengan hewan yang hendak dijual di pasar. Begitulah keadaan Galen yang menahan dengan kedua kakinya dan berakhir melukai lututnya. Terkena aspal jalanan yang tentunya sangat sakit ketika terbentur. Tangisannya begitu memilukan. Membuat siapa saja yang mengintip dibalik jendela merasa iba. Sayangnya, lagi, mereka hanya menonton pertunjukkan yang disuguhkan. Seorang Ayah yang tega menyeret putranya sampai lututnya terluka parah.
Sekelebat ingatan itu atau bisa jadi mimpi buruknya setiap malam, kini kembali mampir menjadikan sebuah momok menakutkan atau seperti satu hal yang lumrah untuk selalu muncul di dalam kepalanya. Galen terbangun dengan napas yang naik-turun. Mata indah itu terbuka dengan lebar. Kini dengan air mata yang mengalir tidak tahu diri sampai ke pipinya. Leander yang mengetahuinya hanya diam tak bicara, pura-pura tidak tahu.
Leander mendengarkan suatu tangis dan rintihan itu. Tapi dia tidak mau menyimpulkan apapun. Bisa jadi itu hanya sekedar mimpi buruk saja. Di dunia ini banyak sekali orang-orang yang mengalami trauma bahkan ada yang merujuk pada depresi. Sebagian dari orang itu menganggap semua itu hanya sekedar keanehan biasa. Tidak akan terjadi apa-apa. Padahal itu tak dapat dianggap remeh. Leander tak ingin memperpanjang diagnosisnya karena dia bukan orang yang paham tentang psikologi seseorang. Dia pun hanya sempat mengikuti seminar soal depresi atau trauma. Sehingga dirinya pun menganggap bahwa mungkin ada masa lalu Galen yang membuatnya tetap tinggal di sana.
"Hoam," Galen menguap, membuat air matanya mengalir. "Ah, ternyata gue malah ketiduran." Sambungnya lagi dengan mengelap air matanya yang sempat jatuh, berusaha untuk menutupi dengan kantuknya.
Leander mengalihkan pandangan matanya dari bukunya pada Galen yang menatapnya dengan tatapan penasaran.
"Aku hampir selesai," ucap Leander yang kembali menuliskan jawaban di bukunya. Seperti tidak terjadi apapun sebelumnya.
Galen mengucek matanya pelan dan meregangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku karena menjadi bantalan tidurnya. Matanya pun masih terlihat merah. Bukan saja karena dia baru saja bangun tidur. Namun karena menangis. Galen tak tahu bahwa Leander mengetahuinya. Dia hanya tahu bahwa matanya basah dan tidak ada yang menyadarinya. Ini pun rasanya masih sangat sakit. Ulu hatinya rasanya sangat pedih. Jika terus mengingat semua kenangan pahit itu, bagaimana cara Galen menjalani hidupnya?
Galen meremas jemarinya sendiri. Membuat dirinya normal di depan orang lain ketika hatinya bergejolak rasanya sangat tidak menyenangkan. Padahal, boleh merasa tidak apa-apa. Tetapi semua seperti berbeda dengan adanya harapan kesembuhan duka di dalam hati. Sayangnya, Galen seperti belum menemukan arti dan makna dari kesembuhannya. Kesembuhan dari trauma yang dalam membuat dirinya hidup lebih baik, katanya.
"Ada apa?" Tanya Leander setelah menuliskan semua jawabannya di kertas kosong yang baru diambilnya dari dalam tasnya. "Sebentar lagi kita pulang. Aku sudah selesaikan semua soalnya. Tinggal ditulis nama anggota yang lainnya." Sambung Leander lagi dengan menatap hasil pekerjaannya.
Galen menggeleng pelan, "gue tadi sampai ketiduran. Habisnya enggak ada satupun materi yang paham. Ini pelajaran pernah diajarin di sekolah? Kok susah banget semuanya. Enggak ada yang gampang."
"Kamu 'kan seringnya tidur di kelas. Mana tahu kalau ada pelajaran ini." Jawab Leander seadanya yang tentu saja mendapatkan anggukan kepala dari Galen.
Lagipula sejak awal datang ke tempat ini, Galen sama sekali tidak bersiap untuk belajar. Otaknya kosong dan tidak terisi materi sama sekali. Jika diminta memilih, Galen hanya akan membantu menyalin jawaban untuk dipindahkan ke HVS kosong. Lagipula tulisannya tidak buruk-buruk amat—kalau niat.
"Di luar hujan," lirih Leander sambil menumpuk bukunya menjadi satu dan memasukkan pulpennya pada tempatnya. "Gimana pulangnya?" Sambungnya sambil menatap ke depan, melihat hujan yang semakin deras. Memperlihatkan eksistensinya dan membuat Leander berulangkali menghela napas panjang.
Galen melirik ke arah Leander dan menatap ke arah area luar yang tentu saja basah, "gue benci hujan! Rasanya ingin berhenti di sini. Melihat semua dari dalam ruangan dengan suasana yang sama. Hujan seperti memberi sihir untuk memberikan kekuatan kenangan yang tiba-tiba muncul di dalam pikiran. Itu yang pernah gue baca dari buku karangan pengarang yang enggak pengen gue sebut siapa namanya."
Galen merasa pahit, teringat dengan potongan bait tulisan yang dikatakan olehnya dari seorang penulis yang tak ingin disebutkan. Orang itu hanyalah seorang penulis pembual yang selalu dibanggakan pembacanya. Tapi tidak pernah dirinya menganggap tentang kebenaran tulisan yang dibuat oleh seseorang itu. Dia hanya membenci tentang bagaimana cara orang itu menulis dengan sangat baik. Tapi tidak pernah tahu bagaimana cara untuk mengerti sisi pandang orang yang berada di dekatnya.
"Judul bukunya apa? Aku baru aja dengar." Tanya Leander penasaran.
Galen mengangkat kedua bahunya acuh, "gue juga enggak berniat untuk mengatakan judulnya. Seseorang itu memang seorang penulis handal dan mampu menggunakan kata-katanya. Sayangnya, orang itu tidak pandai memperlakukan orang lain dengan baik."
Kemudian, Leander diam! Dia tidak mau memperpanjang karena Galen seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri. Lalu mereka beranjak! Tapi tatapan mereka seperti memberikan kode satu sama lain. Leander hanya bisa berdiri di belakang Galen ketika cowok itu mengeluarkan kartu warna hitam yang terselip di dompetnya dan memberikannya kepada kasir. Tidak ada keraguan untuk mengeluarkan uang dari sakunya dan hendak maju untuk membayar setelah Galen. Tapi tangan Leander ditahan Galen dengan cepat.
"Gue udah bayar semuanya. Ayo kita balik!" Tandas Galen yang kemudian berjalan meninggalkan Leander yang menatap beberapa lembar uangnya yang kumel dibalik telapak tangan kanannya sehabis diambilnya dari saku celananya.
Dengan langkah cepat, dia mendekat ke arah Galen yang berdiri di depan tempat itu dengan tatapannya yang fokus menatap ke arah rintik hujan yang mengenai conblok.
"Gue bawa jas hujan. Lo mau pakai?" Tanya Galen kepada Leander dengan tatapan seriusnya. Ah, kapan Galen tidak serius? Dia selalu menatapnya dengan tatapan aneh.
Leander menggeleng pelan, merasa tidak enak karena menggunakan jas hujan yang tentunya hanya ada satu. Apalagi pernyataan Galen yang bicara tentang 'benci hujan' seperti terpatri di dalam ingatannya. Jika Galen tak suka hujan, otomatis, cowok itu tak akan mau terkena air hujan, bukan? Jika terkena pun pastinya karena dia terpaksa. Namun mengapa cowok itu dengan santainya menawarkannya jas hujan yang hanya satu itu.
"Ambil," ucap Galen yang buru-buru menyodorkan jas hujan yang diambil dari jok motornya sambil hujan-hujan di bawah rintikan hujan yang sudah mengamuk menjadi deras.
Melihat itu semua, tentu saja Leander terperangah tidak percaya.
"Galen,"
Galen melemparkan jas hujan itu ke arah Leander sebelum jas hujannya ikut basah karena terkena derasnya hujan malam ini.
"Buruan pakai! Gue mau balik. Udah kemalaman juga." Tandas Galen yang mengelap wajahnya dengan telapak tangannya.
Tubuh ringkih itu terkena guyuran hujan kembali setelah beberapa saat tak pernah melakukannya. Menepi di pojok tempat untuk berteduh, jangan sampai dirinya basah. Namun Galen akhirnya mengalah, dia menikmati setiap tetesan air yang mengenai kulitnya. Sedikit sakit, namun dia menyukainya.
"Lo tahu, gue selalu melakukan apa yang enggak orang itu sukai. Sebuah resolusi terbaik dalam hidup gue saat ini adalah mencoba semua yang gue mau. Love myself, ... kata orang itu penting." Tandas Galen kembali—memasang helm di kepalanya dan naik ke atas motornya. Dia tenang, menunggu Leander yang mungkin masih ragu akan naik atau tidak ke motornya.
Leander cukup tahu diri. Dia sudah banyak menyusahkan Galen. Tetapi, mau bagaimana lagi, 'kan?
Dengan perlahan, Leander menaiki jok belakang motor Galen. Menatap jas hujan yang melekat pada tubuh kurusnya yang menurutnya tidak sewangi aroma tubuh Galen. Itu sangat penting untuk Leander. Dia hanya orang pinggiran yang sering mendapatkan bully dari temannya yang kaya dan tiba-tiba diselamatkan dan dijadikan teman oleh orang aneh yang mereka panggil Galen alien. Itu di belakang Galen sebenarnya. Tapi, tentu saja Galen tahu dan tidak mau peduli dengan sebutan itu. Baginya, sebutan itu tidak terlalu buruk. Dia hanya menganggapnya sebagai mahkluk luar angkasa dengan antena di kepalanya. Dia mirip dengan semut. Itu pendapat Galen tentang omongan teman-temannya.
Leander sendiri melihat Galen sebagai seorang yang mandiri dan tidak takut kepada apapun. Semua resiko seperti dirangkulnya sebagai manusia. Galen seperti sebuah peti di mana menyimpan banyak harta yang tidak terlihat. Dia begitu rapuh, antik, namun berisi banyak keunikan. Jika mengatakan Galen aneh, Leander pun tidak akan menyangkalnya. Karena, ya, sesama orang aneh memang biasanya sejalan. Bukankah dia juga dianggap aneh?
Dalam lamunan disepanjang jalan, Leander tidak sadar bahwa motor Galen sudah berhenti di rumahnya. Leander baru sadar setelah terdengar suara klakson yang dibunyikan Galen baru saja.
"Sudah sampai," ucap Galen yang terlihat tidak berdosa sama sekali setelah membunyikan klakson dan membuat beberapa tetangga Leander berdecak sebal.
Meskipun hujan deras, tetap saja mereka bisa mendengarkan suara klakson sekencang itu. Apalagi sang pelaku seperti tidak merasa bersalah sama sekali. Leander hanya memberi senyuman canggung kepada tetangga di dekat rumahnya, yang tak melepas tatapan matanya dari Galen sambil merokok.
"Tetangga Lo naksir sama gue?"
Setelah mengatakan itu, Leander hanya tersenyum ke arah Galen dan meminta cowok itu untuk pulang. Dia seperti anak remaja cewek yang baru ketahuan diantar teman cowoknya. Sayangnya, kasusnya adalah Galen yang merupakan temannya memang tidak tahu sopan-santun. Tetapi mau bagaimana lagi?
"Gue balik dulu!" Tandas Galen yang buru-buru menstater motornya dan meninggalkan Leander begitu saja tanpa menunggu Leander memberi kata terima kasih padanya.
Galen sendiri melajukan motornya dengan bebas. Rambutnya sampai ke ujung kakinya basah kuyup. Matanya memerah karena menangis dari balik helmnya. Dia benar-benar merasakan perasaan yang begitu sesak. Dia ingat dengan kenangan ketika hujan. Tidak akan pernah mungkin dia lupakan—mungkin saja karena terlalu banyak ketakutannya. Karena biasanya, hal buruk memang mudah dikenang.
"Galen jangan hujan-hujanan lagi, ya, Nak. Ayah 'kan enggak suka. Dengerin kata Ibu, ya. Ibu enggak mau— sakit!"
Rintihan demi rintihan terdengar di telinganya. Matanya memejam ketika tiba-tiba seluruh tubuhnya sakit. Tapi ini bukan seperti yang dilihatnya. Itu hanya seperti perasaan sakit yang tak bisa dijelaskannya karena apa. Semua sakit yang ada di masa lalu, membuat rasa sakit sampai sekarang.
Motornya berhenti di pinggir jalan, di mana tidak ada lampu penerangan di mana-mana. Suasana jalan memang gelap gulita.
"Sialan, ... memori sialan!" Sambung Galen sambil membuka helmnya dan memukuli kepalanya dengan kencang dan keras. Dia sudah mengatakan saat terakhir kalinya menangis, dia tidak akan menangisi kenangan itu lagi—tetapi tampaknya selalu gagal.
"Ngapain di sini sendirian?" Tanya seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya dengan suara yang sangatlah dia kenal.
Galen mendongak, menatap cewek yang tengah membawa bungkusan plastik di tangannya dan mengunyah permen karet rasa mint—tercium dari aromanya.
"Lo, ... ketua OSIS itu?" Tanya Galen balik yang berusaha menetralkan suaranya yang serak.
Perempuan itu tersenyum, "calon ketua OSIS. Baru mau nyalon. Maka dari itu jangan lupa pilih gue. Btw, ... Kakak ngapain di sini?"
"Parkir! Lo juga ngapain tempat kaya gini. Di sini gelap! Lo bisa diapa-apain sama orang jahat." Ucap Galen yang menatap ke sekeliling.
Cewek itu, Meisy, adik kelas Galen.
"Gue bisa bela diri! Lagipula lewat sini lebih cepat ke rumah gue. Mau mampir? Rumah gue dekat sini dan ada angkringan 24 jamnya. Daripada pulang awal," ucap cewek itu dengan cengiran di wajahnya.
Galen menatap Meisy dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lo, ... bego' atau bodoh, sih?"
***