SENYUM, PELUKAN, DAN JUGA ELUSAN
***
Langit selalu memberikan airnya saat dibutuhkan. Bahkan ketika manusia tidak membutuhkan sekalipun! Tak ada yang benar-benar mengerti—mengapa langit selalu memberikan airnya dengan aba-aba mendung. Itu semua bermaksud agar manusia yang ada di bawahnya tahu bahwa sesuatu mungkin akan jatuh membasahi bumi untuk membantu manusia atau suatu peringatan ketika benar-benar sudah lelah dengan tingkah laku manusia itu sendiri. Bahkan langit berusaha memberikan berkahnya. Tapi semua kesalahan manusia terkadang selalu dilimpahkan kepada langit tersebut.
Beberapa sungai meluap, membuat jalanan sedikit terendam banjir. Tak apa untuk itu karena sudah biasa dan tentunya akan surut kembali setelah beberapa jam kemudian. Terdengar suara klakson yang dibunyikan bus pariwisata dan suaranya membuat kaget beberapa pengendara motor yang ada disampingnya. Toh, mau menekan klakson sebanyak apapun tidak akan membuat jalanan yang padat menjadi lenggang. Meskipun akhirnya beberapa kendaraan pun berusaha minggir. Namun tetap saja tidak membuka jalan terlalu banyak.
Apalagi banyak lubang di jalanan yang terisi air. Beberapa orang pun memilih untuk menghindar. Namun ada saja pengendara yang tanpa belas kasihan melewatinya, sehingga air di lubang tersebut berpindah ke orang lain. Ada pengendara motor dengan jas warna-warni pun terkena imbas dari pengendara mobil tidak punya akhlak yang mengendarai mobilnya tanpa peduli pada orang lain. Belum lagi beberapa motor yang melaju dan membuat putaran air pada bannya, sehingga membuat pejalan kaki di pinggir jalan pun terkena airnya. Padahal sudah berusaha hati-hati, terlebih menggunakan payung.
Pemandangan tersebut sangatlah kontras dengan halte bus yang saat inipun tampak penuh dengan orang yang menunggu bus tiba. Mereka pun berebut untuk berada di depan untuk bisa masuk lebih dulu ke dalam bus dengan tujuan agar dapat tempat duduk. Padahal mereka pun tidak tahu bahwa bus sudah benar-benar penuh, lebih penuh daripada hari biasanya. Galen bisa melihat dari balik kaca bus yang benar-benar terang. Banyak orang-orang yang berdesakan di dalam, kemungkinan pun bus tidak akan berhenti jika memang tidak ada yang akan turun di halte tersebut.
Setiap berada di jalan, Galen merasa bahwa dunianya kembali hidup dan semua yang dilakukannya sangatlah menyenangkan. Hanya berinteraksi dengan beberapa pengendara lain—memberikan senyuman sekedarnya atau menyapa ketika tidak sengaja saling bertatapan. Kadang, bicara dengan orang yang tidak dikenal memang lebih baik daripada ikut berkumpul orang-orang yang dia kenal. Karena bagi orang lain yang mengenal Galen, mereka hanya akan menganggapnya sebagai manusia hina dan buruk.
Namun, senyuman itu luntur ketika matanya menangkap senyuman dari seseorang yang dia kenal. Seseorang itu bahkan tidak pernah tersenyum seperti itu kepada dirinya. Jangankan tersenyum, menatapnya dengan cara yang lembut dan manusiawi pun tak pernah sama sekali. Rasanya sangat menyakitkan. Ulu hatinya ngilu dan semua itu bisa dilihat dengan jelas. Dia bukan siapa-siapa dalam cerita kehidupan orang lain. Dia hanyalah sampah yang memang sepantasnya untuk dibuang. Begitu 'kah?
Matanya kembali pedih! Dia ingin merasakan pelukan hangat dan juga elusan di kepalanya. Dia ingin semua itu terjadi padanya; duduk di sebuah tempat makan bersama keluarganya dan saling berbagi lauk, mendengar pengamen bersuara cempreng yang menunggu diberikan uang koin, lalu melihat lalu-lalang manusia di malam hari. Tidak perlu mahal, Galen tidak peduli semua yang mahal. Dia pun hanya ingin mempunyai kenangan tentang keluarganya. Sayangnya, itu tidak akan terjadi. Apakah Ayahnya tidak berpikir sedikit saja tentang dirinya ketika bersama dengan keluarganya?
Ya, ... itu Rangga dan keluarganya. Laki-laki itu bahkan terlihat sedang menyuapi bocah laki-laki itu dengan tangannya sambil tertawa. Dia sangat iri melihat tatapan penuh cinta yang diberikan Rangga kepada bocah itu. Seperti tatapan tulus seorang Ayah kepada putranya. Anak itu terlihat menikmati makanan yang disuap kepadanya sambil memegang satu boneka dinosaurus berwarna hijau sambil bertanya ini dan itu. Hatinya terasa pahit.
Mengapa Ayahnya tidak membawa dirinya? Mengapa Ayahnya tak bisa mengajaknya ke rumah istrinya dan mengenalkannya kepada bocah itu? Galen suka anak-anak, dia bisa kok menjadi Kakak yang baik. Dia pun mau untuk menjaga bocah itu dan mengajaknya bermain. Asalkan dia tidak sendirian dan mempunyai keluarga. Bukankah banyak Ayah yang menikah setelah istrinya mati. Mereka juga bisa membawa anak mereka dan hidup bahagia dengan pasangan mereka yang baru. Tentu saja dengan anaknya juga.
Lalu, apa yang membedakan semua itu dengan Galen? Dia ingin berada di posisi anak itu. Anak yang tersenyum tanpa takut jika dewasa nanti tidak ada satupun orang disampingnya. Anak itu pasti bangga karena dia mempunyai ayah yang hebat dan sayang padanya. Padahal ayahnya adalah ayah yang jahat untuk Galen. Ayah yang menelantarkan putranya yang lain.
Suara klakson kembali dibunyikan. Kali ini karena lampu memang sudah berubah warna menjadi hijau. Galen menunduk kepada beberapa orang karena merasa bersalah dan segera melajukan motornya. Galen terus berpikir, berusaha berdamai pada dirinya sendiri bahwa apa yang saat ini terjadi padanya hanyalah sebuah kebetulan semata. Kebetulan saja dia tidak disayangi keluarganya. Mungkin orang lain akan menyayanginya. Tapi pertanyaannya, siapa?
Siapa orang yang mau menyayangi dirinya? Orang lain menganggapnya buruk dan terus bicara hal aneh yang menyudutkannya. Bahkan perubahan yang dilakukannya sekarang pun tak pernah dianggap sebagai perubahan. Dia hanya dianggap menutupi dirinya dengan penampilannya agar tidak disebut sebagai cowok m***m. Dia tidak akan pernah dianggap apa-apa dan akan selalu dicap buruk. Semua berantakan! Semua tidak sesuai apa yang diharapkannya.
Motornya pun memasuki halaman rumahnya. Galen masuk ke dalam—tampak lesu dengan tubuhnya yang basah kuyup. Matanya sayu dengan kondisi yang lantai kotor, bekas dari sepatunya yang terkena tanah basah. Dia tidak langsung masuk ke kamar mandi, memilih untuk duduk di sofa ruang tamu di mana Ayahnya sering duduk di sana. Pantas saja Ayahnya tidak datang dengan misterius. Dia sedang menikmati waktu dengan keluarganya.
Matanya terpejam dengan sempurna dan akhirnya dia tertidur. Tentunya tanpa mengganti pakaiannya atau melepaskan semua yang ada pada tubuhnya. Dia mungkin terserang demam setelah ini, namun hatinya lebih panas daripada sakitnya. Dia tidak suka melihat Ayahnya seperti itu kepada orang lain. Dia cemburu dan iri. Sayangnya, Galen tidak mau mengakuinya.
Tidak lama kemudian, seseorang masuk ke dalam rumah Galen dan menatapnya yang terlihat damai saat tengah tertidur. Orang itu menghela napas panjang, ingin memukulnya. Namun diurungkan niatnya untuk melakukan hal itu. Dia memilih duduk disamping Galen yang terlelap dalam tidurnya.
"Kamu mirip dengan Ibumu. Sangat! Aku sangat membencimu, begitupun Ibumu yang menghancurkan semua mimpiku. Aku tidak ingin menatap matamu yang mirip denganku dan melihat wajahmu seperti Ibumu. Mengapa kamu mirip dengan kami berdua? Kamu seharusnya berbeda, tidak sama dengan kami. Sehingga aku tidak terlalu membencimu." Tandas orang itu, Rangga, yang terkadang masuk ke dalam rumah Galen dengan diam-diam dan tanpa sepengetahuan Galen.
"Apa kamu tahu, Galen? Ibumu tidak pernah bisa mengatakan tidak! Kamu dan Ibumu sama-sama bodoh! Kalian tidak ada bedanya. Bahkan kamu pun sama—takut kepadaku. Apakah yang kamu rasakan? Neraka dunia? Sama seperti aku janjikan pada Ibumu. Ini tidak akan pernah berakhir sebelum aku atau kamu yang mati." Ucapnya kembali dengan nada berat.
Perlahan namun pasti, kedua mata Galen terbuka karena terusik dengan suara Rangga yang berada disamping kanannya. Sontak Galen terperanjat karena melihat sosok Rangga yang tumben tidak memukulnya dengan keras untuk membangunkannya.
"Suasana hatiku sedang baik. Aku tidak memukulmu kali ini." Tandas Rangga tanpa menolah sama sekali. Seperti dia tahu apa yang menjadi kebingungan Galen. "Bagaimana perasaanmu setelah melihatnya? Merasa pedih karena semua tidak pernah terjadi padamu? Aku tidak pernah mengajakmu makan di luar, aku tidak pernah menyuapimu, aku tidak pernah tersenyum padamu. Semua itu karena aku sangat-sangat membencimu. Andaikan saja kamu mati dalam perut Ibumu, setidaknya kamu tidak akan menanggungnya. Tapi karena kamu hidup, kamu pun harus menanggung semuanya." Sambung Rangga serius.
Galen hanya bisa menahan dirinya. Dia ingin sekali marah dan mencoba mengatakan kepada Ayahnya bahwa; Ayahnya berhasil menghancurkan hati dan perasaannya. Sehingga tidak usah lagi bekerja keras untuk membuatnya sakit lebih daripada ini.
"Ayah tidak perlu datang lagi." Untuk pertama kalinya Galen mengatakan hal itu, meminta Ayahnya untuk tak datang menemuinya lagi. "Kita tidak perlu saling membebani lagi. Seperti yang Ayah inginkan. Aku akan pergi, meninggalkan rumah ini, tempat ini, kota ini, dan Ayah. Ayah bisa tenang dan menikmati hidup Ayah dengan keluarga Ayah." Sambungnya yang tampak pasrah pada keadaan.
Berubah? Apakah mungkin seseorang bisa berubah? Menurutnya, setiap orang sama saja. Tidak ada yang namanya perubahan. Mereka hanya menahan diri sambil menunggu waktu.
"Kamu harus membayar apa yang tidak bisa dibayar Ibumu. Kamu tak perlu bersikeras! Memangnya kamu mau terlunta-lunta di jalan seperti pengemis? Kamu bahkan tidak akan diterima di manapun. Monster sepertimu hanya akan tumbuh menjadi manusia hina." Tandas Rangga dengan menatap Galen tak senang.
Monster? Apa yang dilakukannya sampai dikatakan sebagai monster?
"Jangan membuat masalah yang akan mempermalukan aku. Aku membenci semua yang kamu lakukan. Berhenti menjadi mirip seperti Ibumu. Kamu harus menjadi orang lain yang bisa dicontoh. Jangan menjadi—" ucapan Rangga terpotong begitu saja.
"BERHENTI!" Teriak Galen dengan sangat keras kepada Rangga. "Jangan pernah mengatakan hal itu lagi. Ayah bahkan tidak pantas menyebut nama Ibu. Bahkan sekalipun suatu saat lagi Ayah meminta maaf, Ibu tidak pantas memberikan maaf kepada Ayah. Itu tidak pantas!" Sambungnya.
Plak! Sebuah tamparan mendarat di wajahnya dengan mulus. Membuat pipinya memerah dan pedih. Tidak bisakah ayahnya menghentikan apa yang selalu menjadi kebiasaannya? Bukankah berlebihan ketika mereka bertemu atau bertengkar maka akan ada tangan yang mewakili kemarahan Ayahnya itu?
"Kamu memang mirip dengan Ibumu. Menyebalkan sekali." Tandasnya dan meninggalkan Galen sendirian.
Selalu, mereka selalu bertengkar dan Galen selalu menjadi pihak yang terus dianiaya tanpa berhak membalasnya.
***