G&K | 34

1603 Words
SEPASANG SEPATU LUSUH *** Cerita tentang Cinderella atau Snow white maupun Romeo and Juliet tak lagi memiliki kesan semenjak suatu Opera dengan nama 'Permata putih dan sepasang sepatu lusuh' mulai diumumkan akan diadakan di depan balai kota beberapa bulan yang akan datang. Para donatur dari berbagai instansi pun menyumbangkan dana besar untuk mendukung acara yang akan diadakan oleh komunitas seni Algameda—persatuan dari seniman di bidang seni kriya, drama, maupun seni lainnya. Mereka tergabung menjadi sebuah komunitas yang biasanya melakukan penggalangan dana untuk membantu para anak-anak terlantar mempunyai rumah dan mendapatkan pendidikan kembali. Bukan hanya sekedar sebuah isapan jempol semata, komunitas itu sama sekali tidak mendapatkan dana apapun sebagai imbalan. Dana yang masuk sekalipun hanya digunakan untuk menyewa kostum, mendekor tempat opera, membeli kanvas dan cat untuk melukis. Untuk semuanya yang berhubungan dengan Opera itu pun menggunakan dana yang telah disediakan. Mereka yang bergabung di komunitas itupun tidak mengharapkan imbalan apapun. Para pelukis akan melukis dengan sepenuh hati yang nantinya akan dilelang ketika acara ataupun mereka akan mencurahkan imajinasi mereka untuk membuat background Opera. Para penggiat seni peran dan semua t***k-bengek di belakangnya pun akan mempersiapkan semua pertunjukkannya; dari pemilihan pemain (lakon), kostum, ide cerita, dan semua yang berhubungan dengan pertunjukkan. Para pengrajin dari seni kriya pun membuat beberapa ornamen dari kayu atau tanah liat yang akan ikut dilelang dan sebagai properti dalam pertunjukkan. Biasanya, pertunjukkan opera itu yang selalu dinantikan orang-orang dan sebagai ajang penggalangan dana untuk amal yang menyenangkan. Jadi, mereka yang menonton membeli satu tiket untuk menonton Opera tersebut. Sehingga hasil penjualan tiket itu pun menjadi dana amalan yang kemudian akan dikelola kembali. Mereka seperti mengajarkan bahwa berbagi tidaklah sulit dan mudah dilakukan. Semua acara tersebut tentu saja mendapat dukungan penuh dari walikota dan juga komunitas-komunitas lainnya serta mendapatkan sponsor dari beberapa perusahaan yang ingin mendapatkan eksistensi masyarakat karena turut serta. Belum apa-apa saja, banner besar dan juga baliho sudah dipasang di jalan—menunjukkan bahwa akan ada gelar seni yang menakjubkan kembali dan membawa mereka pada cerita biasa yang tidak terlupakan. Seperti suatu baris yang tertulis dengan sangatlah bermakna; kisah klasik yang memberi makna dalam setiap perjalanannya. Galen menikmati pemandangan itu, melihat banner Opera itu membuat mood buruknya menjadi baik. Jika membahas tentang seni, tentu saja dirinya sangat menyukainya. Andai dirinya bisa ikut serta meskipun itu hanya sekedar membantu kegiatan di belakang panggung atau katakan saja serabutan. Galen tidak masalah! Tapi bagaimana dengan Ayahnya? Apakah Ayahnya tidak akan melakukan hal yang buruk karena dirinya tidak patuh? Dia merasa berat! Namun kenyataan bahwa ingin ikut pun menjadikannya mengambil langkah besar untuk tidak tinggal diam lagi. Motornya berbelok, tidak jadi datang ke sekolah. Dia juga harus bertemu dengan seseorang di sebuah tempat yang memang ingin dikunjunginya. Galeria seni. Sebuah tempat di mana komunitas itu sering berkumpul dan melakukan rapat bersama. Terlihat di parkiran ada banyak sekali kendaraan yang berjajar rapi di sana. Tak jarang ada beberapa kendaraan unik dengan roda tiga. Galen tidak mau tahu soal itu. Dia hanya menikmati semua di depan matanya. Mungkin mereka sedang berkumpul untuk berlatih atau membahas tentang Opera itu. Galen penasaran, bagaimana rasanya berada di galeria seni bersama orang yang sama-sama menyukai seni. Dia lancang, katakan saja begitu. Dia masuk ke dalam dengan perlahan dan ikut melongokkan kepalanya ke ruang di mana suara seseorang yang dikenal olehnya terdengar mendominasi. Dan tatapan mata mereka saling bertemu, membuat Galen buru-buru menarik kepalanya. Sebelum Galen pergi dari sana, suara orang itu membuatnya berhenti. "Galen," panggil orang itu dengan mendorong kursi rodanya menuju keluar ruangan di mana dirinya tadi sempat melihat Galen. "Kenapa malah pergi? Masuk aja! Banyak teman yang mau kenal sama Lo." Sambungnya lagi dan meminta Galen masuk ke ruangan di mana ada banyak orang yang ada di dalam ruangan. Dengan langkah yang berat, Galen melangkah menuju ke ruangan di mana dirinya sempat mengintip tadi. Dia hanya berusaha memberi senyum sebisanya sambil menatap sekeliling yang menunjukkan sikap ramahnya. "Ini teman-teman dari berbagai tempat. Dari kampus seni, acara pentas seni dan gelar budaya, guru kesenian, para pengrajin, dan orang yang suka seni. Semuanya datang ke tempat ini untuk membahas tentang Opera penggalangan dana yang selalu menjadi program andalan kami. Kita bisa belajar banyak hal dan tentunya membangun relasi. Lo juga bakalan bertemu dengan banyak pengalaman yang enggak bisa Lo lupain dan tentu saja enggak bisa Lo dapatkan dengan cuma-cuma di manapun. Maka dari itu, acara seperti ini juga disebutkan sebagai pengalaman mahal." Ucap cowok itu menjelaskan. Cowok itu, Jerome, yang memberikan dampak besar untuk beberapa orang seperti dirinya. Dia kembali bangkit dan tentunya semua itu bukan hal yang mudah. Menjadi dirinya yang baru dan penuh revolusi membuat dirinya menjadi manusia yang akan terus membuat manfaat bagi orang lain. Kali ini, dia hadir dengan kursi roda karena kakinya lelah ketika dia harus berjalan dengan kursi palsu. "Salam kenal semuanya," ucap Galen dengan kikuk. Dia tidak pernah sama sekali melakukan perkenalan, bahkan dengan senyuman canggungnya. Tanpa diduga, orang-orang di dalam sana pun menyambutnya lambaian tangannya dengan antusias. Mereka tampak seperti seniman sejati, dari wajahnya saja sudah terpancar jika mereka terlahir sebagai seorang seniman. "Hari ini kita kumpul belum seluruh orang yang ada di komunitas karena anggotanya luar biasa banyak. Misal Lo mau ikut gabung, Lo bisa gabung sama divisi properti, itu ketuanya—Bang Malik. Dia punya subscriber banyak. Dia ahli bikin background Opera setiap tahunnya." Jerome pun menunjuk seorang pria bertato dan berbadan tambun di ujung ruangan yang sejak tadi mengemut permen lollipop rasa susunya. "Kita bisa jadi tim," ucapnya ramah dan melambaikan tangannya pada Galen. Semua orang di ruangan ini tidak ada satupun yang minus di matanya. Jika ada pun hanya ketika awal datang ke tempat itu dan melihat penampilan mereka yang berantakan. Tetapi itu juga bisa dikatakan sebagai ciri khas seniman, bukan? "Makasih, Bang." Ucap Galen yang cukup senang karena mendapat apa yang tidak diharapkannya, tetapi ini langkah pertamanya. Dia mengikuti semua arahan yang diberikan oleh Jerome, meskipun tak mengerti sama sekali. Dia sebenarnya tidak harus berada di sini. Ketua tim- nya, anggap saja begitu, sudah datang kesini. Dia sebagai anggota dadakan pun hanya mengelus kepalanya dan merasa pusing karena ternyata apa yang dilihat dengan mata pun tidak bisa meng- cover semua kebenaran. Semua yang berada di belakang layar pun lebih kesulitan karena harus ikut dan bergabung agar kegiatan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Setelah beberapa jam, rapat selesai dan mereka akan mengatakan temu kembali pekan depan untuk melihat perkembangan progres dari semua divisi yang telah dibagi. Galen pun mendorong kursi roda Jerome dan mereka berhenti pojok ruangan di mana biasanya orang-orang sering menikmati kopi sachet di sana. Galen membuatkan dua gelas kecil kopi dan meletakkannya di atas meja sembari menatap Jerome yang lebih senang melihat keluar jendela. "Kenapa bolos?" Tanya Jerome dan menatap ke arah Galen yang tampak tidak terusik sama sekali dengan apa yang ditanyakannya. Galen menyeruput kopinya pelan dan tersenyum, "gue kebetulan lewat dan lihat banner tentang Opera ini. Jadi, gue memilih untuk ikut bergabung. Toh, Lo yang mengijinkan waktu itu dan gue rasa, tidak terlalu buruk dan berbahaya untuk mencoba. Apalagi, gue cuma divisi properti. Semuanya akan baik-baik saja." Tatapan Jerome tertuju kepada Galen yang tampak ragu dengan langkahnya dan dia mengerti apa yang dirasakan Galen sekarang. Dia pernah berada di posisi itu, posisi yang tidak berusaha untuk dipahaminya. "Gue tahu apa masalah Lo. Gue juga pernah mengalami hal yang sama—sekolah, orang tua, teman, dan orang lain yang enggak kenal tapi berusaha menilai sesukanya. Di mana titik dan kondisi gue down parah, enggak ada yang bisa sembuhin itu semua. Gue enggak bilang kalau peran orang lain enggak ada. Tapi mereka tidak akan pernah mengerti karena memang enggak mengalami. Tapi bagi siapa saja yang mengalami, mereka akan lebih mengerti." Sambung Jerome memberikan kata-kata yang sangat menenangkan kepada Galen. Di sini, semua orang ramah padanya. Tidak ada yang menatapnya dengan tatapan mengejek atau takut. Semua terlihat biasa saja padanya. Bahkan Galen sempat bertukar nomor dengan Malik untuk membicarakan progres mereka. Meskipun bisa dikatakan dirinya salah satu anggota termuda, namun mereka semua menganggap dirinya sama saja. Tidak ada yang memperbudak satu sama lain. Mereka harus bekerjasama. "Gue enggak suka suasana sekolah. Menurut gue, selalu ada masalah di sekolah ketika gue berangkat! Semua orang membenci gue. Gue pun sama, membenci mereka semua." Tandas Galen yang entah mengapa mulai bercerita. Jerome mengangguk pelan, "hm, ... karena banyak orang yang benci sama Lo, bukan berarti lingkungan itu enggak cocok sama Lo. Apa yang terjadi, terkadang enggak sesuai dengan harapan kita. Termasuk bagaimana cara orang lain memperlakukan kita." Galen setuju dengan pendapat itu. Dia pun yakin bahwa perasaannya tidak selalu benar. Namun kadang, semua kenangan buruk dan kemarahannya bercampur menjadi satu. Sehingga dia tidak bisa memilah mana yang benar-benar tulus kepadanya dan mana yang hanya memanfaatkan saja. "Gue suka gambar Lo," puji Jerome sambil menunjuk ke arah bingkai di dinding yang merupakan lukisan yang dibuat Galen. "Mereka pasti akan membelinya dengan harga yang fantastis." Sambungnya dengan senang. "Gue bukan pelukis terkenal. Mana mungkin terjual dengan harga yang fantastis?" Tanya Galen tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jerome. Dia pikir, itu hanya untuk sekedar menghiburnya saja. Jerome menunjukkan senyumannya kepada Galen, "itu salah satu value yang bisa kita dapat. Meskipun tak mendapatkan uang secara langsung, kita bisa membangun privilege dan mendapatkan perhatian dari orang terkenal juga. Apalagi kalau lukisan Lo bisa dibeli penjabat, setiap sorotan akan mengenai muka Lo. Tandanya, Lo bisa mempromosikan produk Lo tanpa harus membayar." "Produk?" Ulang Galen setelah dia mendengarkan penjelasan Jerome. Sial! Dia melupakan sesuatu yang sangat penting. "Ah, sial, gue harus pergi, Bang. Maaf banget nanti kita ngobrol lagi." Ucap Galen yang kemudian berlari begitu saja meninggalkan Jerome dengan terburu-buru. "Anak yang ceroboh!" Ucap Jerome dengan menatap kepergian Galen yang terburu-buru. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD