Mengapa, ... kebahagiaan yang ada harus sepaket dengan kesedihan? Seperti hukum alam, yang terus menyadarkan bahwa terkadang rasa bahagia yang timbul akan membuat kekecewaan yang lebih luar biasa. Mengapa porsinya tidak bisa sama? Maksudnya, bila bahagianya hanya sekedar, tentunya sedihnya pun hanya sekedar. Mengapa terkadang sedihnya lebih dari kata sekedar? Ah, lagi, tak ada yang bisa mengukur bagaimana takaran kebahagiaan atau kesedihan yang dialami seseorang. Mereka pun hanya bisa merasa dan menganggap bahwa segala kesedihan itu adalah lebih dari kebahagiaan yang mereka dapat.
Kita tahu bahwasanya Tuhan telah menyiapkan kebahagiaan sesuai apa yang menurutnya pas. Bahkan hidup dan bernapas tanpa gangguan pun—bisa dikatakan sebagai bahagia yang tidak dilihat atau direncanakan. Itu semua seperti kebahagiaan, namun terkadang tidak disadari oleh orang yang merasakannya. Manusia lebih terfokus pada titik lelahnya saja, rasa sedihnya, atau rasa kecewanya saja. Sehingga ketika ada kebahagiaan lain yang tidak terlalu kelihatan, dia tidak akan tahu bahwa itu juga bahagia.
Galen selalu berusaha mendapatkan sisi kebahagiaan yang dimaksudkan Tuhan. Bukan sisi kebahagiaan yang dia harapkan dan dia inginkan. Tak apa merasa menderita, yang penting dia baik-baik saja sampai sekarang. Cowok itu terlalu berpikir positif, walaupun lingkungan hidupnya tampak negatif. Galen berusaha kokoh di bawah lindungan dirinya sendiri tanpa meminta bantuan dari orang lain yang sekiranya bisa dan berhak menguatkannya. Karena sejatinya, dia sendirian dan tidak mempunyai siapapun dalam hidupnya.
Karena terkadang, orang yang kita lihat sebagai orang yang hina dan menyedihkan—ternyata mempunyai sepak-terjang yang menyenangkan. Setiap orang boleh menilai, boleh berspekulasi, boleh mengatakan apa saja yang dia inginkan, tapi itu semua hanyalah penilaian antar manusia yang selamanya tidak kekal. Bahkan penilaian tersebut akan hilang atau berubah ketika momen dan kejadian yang berbeda dari biasanya. Tidak apa, semuanya normal saja!
Cowok itu akhirnya berhenti di tepi jalan. Memarkirkan motornya untuk meregangkan tubuhnya yang rasanya mau patah. Galen merasakan seluruh sendi-sendinya yang sakit karena terjatuh tadi. Harusnya dia datang ke rumah sakit dan memeriksakan keadaannya. Bukan hanya karena dirinya jatuh tadi, namun dengan punggungnya yang mungkin belum sembuh total. Tapi Galen tidak mau, dia akan lebih senang berpergian daripada datang ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan. Toh, siapa yang peduli jika dirinya sakit atau tidak, 'kan?
Pandangannya fokus pada bangunan di depannya. Bangunan-bangunan lama yang sudah tidak berpenghuni. Daerah ini memang menjadi tempat kosong semenjak adanya himbauan untuk pengosongan lahan. Jika tidak salah, pada masa itu banyak sekali yang melakukan demonstrasi di gedung pemerintah dan tak jarang ada yang meninggal dalam aksi itu. Sehingga beberapa orang yang masih hidup memilih untuk meninggalkan tempat itu. Saat itu terjadi krisis di mana-mana. Galen ingat itu, ketika dirinya masih kecil dan hanya tahu bahwa mereka hampir kehabisan uang.
Sekarang, orang-orang yang punya uang berlomba-lomba membeli atau menyewa lahan dan perumahan yang kosong disekitar sini untuk mereka jadikan tempat usaha. Salah satunya adalah sebuah bangunan tua dengan gaya lama yang mungkin baru saja direnovasi. Terlihat pot-pot bunga berjajar di depan sana. Pintu lama yang terlihat estetik pun sengaja tak diganti, hanya diperbaharui catnya saja. Terlihat bahwa ada beberapa orang di dalam sana, para pengunjung yang menikmati paginya dengan tenang di sebuah kedai kopi.
Kedai kopi, yang tempatnya penuh dengan kenangan lama. Galen tidak mengerti mengapa kenangan dalam ingatannya masih tersisa. Maksudnya, mengapa dia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana kejadian di masa lalu berputar di kepalanya.
"Kembali ke titik awal lagi, Bu." Lirih Galen dengan tatapan sendunya dan terus memperhatikan kedai kopi itu dengan seksama. "Rasanya kembali pada masa-masa itu. Menyenangkan tapi menyakitkan juga." Sambungnya dengan tersenyum.
Tin! Sebuah klakson dibunyikan dengan nyaring, Galen menoleh ke arah orang yang mengklakson dirinya dengan sengaja. Sebuah pengemudi mobil tersenyum ke arahnya dengan tulus.
"Kenapa masih di sini? Ayo datang kesana. Saya tunggu!" Ucapnya yang langsung meninggalkan Galen begitu saja.
Galen akhirnya mengikuti mobil itu dari belakang dan berhenti di depan sebuah kedai kopi. Laki-laki dengan kemeja rapi itu keluar dari dalam mobil, membawa ponselnya dan menunggu Galen melepaskan helm yang melindungi kepalanya. Mereka berhadapan, menatap satu sama lain dan terlihat senyuman di wajah orang di depannya.
"Eh, ... tanganmu berdarah. Kamu jatuh?" Tanya laki-laki itu dengan raut wajah khawatir dan langsung begitu saja menarik tangan Galen untuk diperhatikannya baik-baik.
Galen buru-buru menarik tangannya yang lecet dan menyembunyikannya dibelakang punggungnya, "hm, ... ini tidak apa-apa, Pak. Hanya kecelakaan kecil tadi. Saya benar-benar tidak apa-apa."
Laki-laki itu menggeleng pelan dan mengajak Galen untuk segera masuk ke dalam kedai kopi itu. Galen tidak mengerti apa yang dilakukan laki-laki yang mengajaknya bertemu kemarin itu, yang sedang sibuk meminta salah satu pegawai kedai kopi itu untuk membelikan P3K di dekat sini dan memberikannya tips. Sekarang, laki-laki itu mengobati lukanya dengan telaten dan hati-hati.
"Kamu harus hati-hati! Pengendara sekarang brutal-brutal. Bilang enggak sengaja, padahal lalai. Kalau kejadian seperti ini, kamu harus tetap minta tanggungjawab. Bukan karena dia baik, terus kamu percaya gitu aja untuk melepaskan dia. Tuh, motor kamu juga lecet. Perawatannya aja mahal, apalagi kalau lecet. Jangan sampai Ayahmu marah dan mengira yang enggak-enggak." Tandas laki-laki setelah selesai mengobati luka pada tangan Galen.
Galen seketika terdiam. Ternyata masih ada yang mempedulikannya walaupun tanpa disengaja. Matanya terlalu fokus menatap laki-laki yang tengah mengomeli dirinya itu dan diam-diam ia tersenyum dengan sesuatu hal remeh seperti itu.
"Kenapa malah senyam-senyum? Saya sedang marah," ucapnya yang hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak percaya karena melihat ekspresi wajah Galen yang tidak kesal atau marah sama sekali.
"Terimakasih, Pak." Ucap Galen dengan tulus kepada laki-laki itu.
Laki-laki itu, Rafix, si pemilik yayasan sekolah di mana Galen belajar, hanya bisa membalas senyuman Galen. Dia tidak tahu mengapa bisa sampai di tempat ini, memberanikan dirinya untuk bertemu dengan seorang anak yang katanya menyulitkan para staff pengajar di sekolahnya. Namun, jika dirinya boleh jujur, Galen sama sekali tidak mirip dengan image seorang siswa yang bermasalah, meskipun rambutnya gondrong. Galen hanya seperti siswa pada umumnya dan sedikit berbeda. Tetapi, tetap saja, tidak ada kesan bermasalah ketika dirinya menatap anak di depannya itu.
"Mau minum apa?" Tanya Rafix yang mencairkan suasana diantara mereka karena sedikit canggung kembali.
Galen tersenyum samar, "saya mau pesan matcha."
"Bukannya kamu enggak suka sama matcha?" Tanya Rafix dengan dahi yang mengerut.
Galen sendiri merasa bingung, "hm, Bapak tahu darimana kalau saya enggak suka matcha?"
"Hm, ... anu, dari wajahmu. Asal saja menebak." Jawab Rafix ala kadarnya.
Galen sendiri yang menjawabnya dengan anggukan sekilas dan fokus kepada seorang laki-laki lainnya yang tengah menuliskan pesanan mereka. Dia tidak peduli dengan pesanan apa yang diberikan untuknya. Namun dia lebih fokus kepada sosok karismatik yang baru ditemuinya dua kali itu.
Andaikan, ... orang yang berada di depannya ini adalah Ayahnya.
Mungkin saja, hidupnya tidak akan berakhir dengan sia-sia.
***