Pagi ini disambut dengan suara bising dari sirine mobil polisi dan berbunyi nyaring. Galen menutup kepalanya dengan bantalnya, berusaha untuk menghalau suara keras itu mampir ke telinganya. Sayangnya, sirene itu lebih kencang dan membuatnya mau tidak mau terbangun dari tidurnya. Cowok itu mengeluh, mendudukkan dirinya di atas kasur dengan penampilan yang berantakan, khas orang yang baru bangun tidur. Matanya masih memerah, kotoran matanya pun masih menumpuk meminta untuk dibersihkan.
Galen turun dari kasurnya, menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Di dapur sudah ada perempuan yang tengah memasak, mengabaikannya dan fokus pada pekerjaannya. Galen tidak menyapanya, sama seperti apa yang dilakukan perempuan itu. Tak ada yang dibicarakan sama sekali. Galen sendiri memilih kembali ke kamarnya setelah selesai mencuci muka. Wajahnya sudah lumayan segar, namun badannya masih terasa sakit-sakit karena lukanya belum sembuh total.
Lagi, terdengar suara sirine yang memekakkan telinga. Seharusnya paginya bisa tenang, namun karena adanya demostrasi di depan sebuah pabrik, membuat kehidupannya yang tenang terganggu. Galen melihat ada banyak sekali spanduk-spanduk yang dipasang di depan gang kawasan perumahannya, tepatnya di depan sebuah pabrik yang katanya baru mem- PHK ratusan pekerjanya karena akan pindah lokasi. Galen tahu jika semua itu ulah dari orang-orang berpengaruh yang akan menutup lahan di daerah ini dan melakukan penataan ulang.
Banyak rumah yang digusur paksa dengan alasan lahan pemerintah. Padahal mereka mempunyai surat tanah yang seharusnya berkekuatan hukum. Namun tampaknya, hukum tidak pernah berpihak kepada orang tidak mampu dan benar. Semuanya akan berpihak kepada orang yang mempunyai kuasa, kaya, dan dikenal. Itu yang selalu Galen rasakan dan pikirkan selama ini. Itu lah mengapa negara ini tidak pernah menjadi negara yang maju. Karena sumber daya manusianya yang kacau.
Rumahnya pun sama! Seharusnya rumahnya diratakan dan menjadi bangunan baru. Namun karena ada Ayahnya, semuanya bisa diatur. Dia masih bisa tinggal dengan nyaman di rumah ini, sedangkan semua orang di tempat yang lain mendapat masalah penggusuran. Dan rumah-rumah yang berdiri sekarang, adalah rumah baru dengan penghuni yang baru. Jadi, rekor penghuni terlama mungkin dipegang oleh Galen sendiri.
Ah, ... sepagi ini dia sudah bicara tentang politik dan pemerintahan yang tidak adil. Hanya karena sirene mobil polisi, pikirannya menjadi tak tenang dan perasaannya pun campur aduk. Semua itu seperti yang pernah dia rasakan beberapa tahun yang lalu. Dia seperti membenci suara-suara sirene yang kencang. Entah itu dari suara mobil polisi yang berpatroli atau suara sirene ambulance yang seperti lumrah dinyalakan. Baginya, suara sirene itu menakutkan dan pertanda buruk.
"Mas, makanan siap." Ucap seseorang yang mengetuk pintu kamarnya pelan dan meninggalkannya setelah itu.
Galen tidak menjawab atau langsung keluar dari kamarnya untuk segera sarapan. Cowok itu memilih untuk menyibak tirainya dan membuka jendela kamarnya untuk menghirup udara segar pagi ini.
"Apa yang akan gue lakukan hari ini?" Tanya Galen kepada dirinya sendiri.
Liburan masih cukup panjang dan Galen tidak pernah mengerjakan tugas apapun. Sehingga, liburan itu digunakannya untuk melakukan hal diluar sekolah, belajar, atau kegiatan seorang siswa lainnya. Galen akan melakukan apapun yang dia inginkan dan dipikirkannya. Dia bahkan tidak berharap untuk bisa terus bersekolah. Dia hanya ingin hidup tanpa terikat dengan apapun. Jika bisa, dia memilih untuk menghilang dari dunia ini dan tinggal di dimensi lain.
Cowok itu meraih ponselnya dan menelepon seseorang yang mungkin bisa menemaninya keluar hari ini.
"Halo," sapa Galen dengan suara seraknya.
"Halo, ada apa Galen?" Jawab orang yang berada diseberang sana.
Galen memainkan jemarinya sendiri karena merasa bingung, "hm, ... apa tawaran Bapak yang waktu itu masih berlaku?"
Terdengar tawa dari ujung telepon, membuat Galen merasa ragu. Tetapi sebelum Galen menutup panggilan itu, sebuah jawaban melegakan pun diberikan.
"Sampai bertemu di kedai kopi. Saya akan datang pukul sebelas siang. Ada rapat sebentar. Tidak apa-apa, 'kan?" Tanya orang diseberang sana yang membuat lekukan senyuman tanpa sadar di wajah Galen.
Galen menganggukkan kepalanya pelan, "iya, ... saya akan datang lebih cepat. Saya akan menunggu di meja paling pojok."
Panggilan berakhir! Cowok itu hanya bisa tersenyum sambil menatap layar ponselnya. Setidaknya dia tidak akan mati bosan karena terus sendirian di rumah atau berjalan-jalan tanpa arah. Kali ini, dia mempunyai janji temu dengan seseorang. Seseorang yang mungkin baik dan mau menemani dirinya.
Galen bergegas untuk mandi, lalu bersiap dengan pakaian yang cocok untuknya. Dia cukup bersemangat pagi ini. Galen tidak mempedulikan ART di rumahnya itu. Meninggalkan perempuan itu tanpa menyentuh makanannya. Galen bisa memakan masakan perempuan itu nanti saat dirinya pulang atau bahkan tidak sama sekali. Toh, mau dia makan atau tidak, tidak akan mengurangi gaji yang diberikan kepadanya, bukan? Jadi, Galen tidak akan peduli dan memilih untuk segera meninggalkan rumahnya.
Cowok itu melajukan motornya dan meninggalkan halaman rumahnya. Di depan gang kawasan perumahannya, terlihat jelas beberapa spanduk yang ditinggalkan dan jalanan yang macet karena banyak lokasi di mana para demonstran sempat membakar ban atau gambar-gambar pemimpin dari pabrik di mana mereka bekerja. Dia tidak mempedulikan semuanya dan memilih terus melajukan motornya.
Brak! Semua pengendara menatap ke arah jalan, di mana sebuah motor ditabrak dari belakang oleh sebuah mobil dengan cukup kencang. Lampu baru saja berubah merah, pengendara motor yang baru saja berhenti tepat di belakang garis terpental bersama dengan motornya. Mobil dengan plat dinas itu berhenti dengan cepat dan seorang laki-laki berjas rapi keluar dengan terburu-buru.
"Astaga! Maafkan saya," lirih orang tersebut sambil berjongkok di depan cowok itu, Galen. "Maaf karena saya tidak sadar Anda berhenti di depan saya." Sambungnya dengan wajah menyesal.
Cowok itu membuka helm- nya dan menatap laki-laki yang memegangi tangannya, membantunya untuk berdiri. Sedangkan beberapa orang lainnya menepikan motornya. Galen tertegun, menatap siapa orang yang berada di depannya.
"Maafkan saya," ucap orang itu yang membuat Galen merasa merinding. Ingin sekali dia hempas tangan yang menggenggamnya itu. Namun tentu saja dia urungkan.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya yang salah. Maafkan saya." Ucap Galen akhirnya dengan menunduk, tidak berani lagi menatap laki-laki di depannya.
"Apakah ada yang terluka? Saya akan membawa Anda ke rumah sakit. Saya akan bertanggungjawab." Jawabnya dengan nada khawatir, namun tidak terdengar demikian di telinga Galen.
Semua orang memperhatikannya dan merasa khawatir. Lalu ada pula yang respek kepada pengemudi mobil itu, merasa bahwa si penabrak adalah orang yang bertanggungjawab.
Galen menundukkan kepalanya dan tersenyum yang dipaksakan, "saya, ... benar-benar tidak apa-apa. Permisi!"
Galen mengambil motornya, lalu kembali menaikinya dan begitu saja meninggalkan mereka semua tanpa sepatah katapun. Cowok itu tak mau terus-menerus berada di sana, karena rasanya sangat tidak nyaman.
***