Cowok itu memasukkan beberapa gulungan kertas ke dalam tasnya. Paginya yang indah disambut suara sirene mobil polisi, lagi. Beberapa hari ini memang tidak pernah absen terdengar suara itu, mungkin sampai pendemo itu mendapatkan hak-nya yang adil menurut mereka. Atau 'kah mungkin, setelah mereka mendapat tekanan dan mau tidak mau harus mundur memperjuangan hak dan keadilan yang mereka inginkan. Ya, Galen seringkali mendengar tentang keadilan yang hanya menjadi kata tanpa makna, selama ini.
Terdengar suara derap langkah kaki yang sangat berisik, bahkan terdengar suara tembakan di angkasa. Apa yang sedang orang-orang itu lakukan? Apa mereka tengah saling berkejaran dan membuat gaduh seisi kota? Galen tak mempedulikan suara-suara itu, meski telinganya terganggu. Dia lebih takut dan terganggu lagi ketika seseorang membuka pintu rumahnya—suara mobil baru saja terdengar masuk ke halaman. Seperti sebuah tanda jelas bahwa seseorang yang sangat-sangat tidak dia harapkan, berkunjung ke rumah.
Galen meremas jemarinya sendiri, matanya fokus menatap ke dinding kamarnya sambil meletakkan tasnya yang sempat dia gendong tadi. Galen tidak fokus, memilih duduk di atas kasur dengan pandangan kosong. Dalam pikirannya sekarang adalah; apa yang akan dilakukan orang itu? Lalu, di mana lukanya akan berbekas kembali? Dia sangat ketakutan. Dia seharusnya bisa membela diri, 'kan? Dia sudah besar, seorang remaja yang ditakuti hampir seluruh orang yang mengenalinya. Lalu, mengapa dia begitu lembek ketika bertemu dan bertatap dengan seseorang itu?
Klek. Sudah Galen duga, orang itu akan membuka kamarnya. Memberi tatapan tidak suka ke arahnya, lalu memberikan kode agar dirinya segera keluar dari kamar untuk bicara. Ah, bukan bicara tepatnya. Orang itu pun akan memberikan hukuman padanya dengan membabi buta. Seperti orang gila yang tidak tahu apa yang telah dia perbuat.
"Apa yang kamu lakukan? Ayah mau bicara," tandas laki-laki itu dengan tatapan menuntut. "Kalau orang tua bicara, lihat orangnya! Kamu tidak pernah berubah. Melihat orang tua saja tidak bisa, bagaimana kamu tidak direndahkan di luaran sana. Mental tempe!" Sambungnya dengan nada kasar.
Galen mendongakkan kepalanya dan menatap Ayahnya, hal yang tidak bisa dia lakukan selama bertahun-tahun. Ini pun karena terpaksa, Galen tidak ingin menambah kebenciannya hanya karena melihat bagaimana wajah dan tatapan Ayahnya kepadanya. Bahkan, semua memori dan kenangan buruk itu selalu menghantui dirinya ketika melihat kedua bola mata itu. Mata yang sepantasnya tidak menatapnya. Galen sangat membenci Ayahnya, sangat.
"Apa yang kamu lakukan kemarin?" Tanya Ayahnya dengan tatapan yang menyelidik ketika keduanya duduk di ruang tamu secara berhadapan.
Galen meremas jemarinya, "hm, ... maaf untuk di lampu merah, Yah. Galen enggak tahu kalau itu Ayah. Tapi, semuanya 'kan baik-baik saja? Tidak ada yang menyoroti kita dan tidak ada yang mengenali kita. Ya, mereka hanya mengenal Ayah, 'kan? Tidak dengan aku."
"Dasar bodoh! Karena mereka tahu dan mengenal aku, kamu seharusnya lebih berhati-hati. Wajahmu selalu kelihatan ketakutan. Sebagian orang mengatakan yang tidak-tidak!" Ucap Ayahnya sambil mendorong kepala Galen dengan tangannya. "Kamu ini laki-laki, kenapa lembek begitu! Ah, kamu mirip sekali dengan Ibumu. Lemah!" Tandasnya kembali.
Galen ingin sekali menertawakan apa yang Ayahnya katakan; mirip seperti Ibumu. Namun sayangnya, keberanian itu entah lenyap kemana. Dia hanya boneka yang bisa bicara, melakukan sesuatu, dan bergerak, hanya jika Ayahnya mengijinkan.
"Kamu sudah seharusnya berhenti mempermalukan aku! Semua orang mengenalmu sebagai si m***m. Para orang tua bahkan menjauhkan anak mereka darimu. Apakah kau tak tahu tempat sampai menonton video yang buruk itu di sekolah? Kau bodoh atau ingin menunjukkan kepadaku? Apa kamu sedang menantangku? Kamu seharusnya hidup dengan normal seperti remaja pada umumnya." Tandas Ayahnya penuh dengan nada amarah.
Galen menggeleng pelan, "hm, ... aku tidak pernah ingin mempermalukan siapapun, Yah. Aku hanya mencintai dunia yang aku ciptakan sendiri. Ibu pernah membuatku berjanji padanya bahwa; aku tidak boleh menyakiti orang lain. Dari janji itu, aku tidak pernah menyakiti orang lain dan lebih baik menyakiti diri sendiri walaupun aku sangat membenci seseorang. Aku lari ke hal negatif, bukan karena aku menginginkan semuanya. Tapi karena aku tidak mempunyai pilihan lain. Ayah tahu, aku kehilangan segalanya setelah Ibu pergi. Jadi, katakan, bagaimana aku bisa hidup normal seperti remaja pada umumnya?"
Ayahnya terdiam beberapa saat dan beranjak dari duduknya. Menatap Galen sejenak sambil memasang wajah datarnya.
"Jangan berharap aku akan memberi sedikit perhatianku padamu. Kamu tahu 'kan kenapa aku sangat benci padamu dan Ibumu? Kamu harus membiasakan dirimu hidup dengan normal, karena ketidaknormalan itu hanya akan mencoreng namaku. Aku tidak mau ada noda sekecil apapun yang akan menodai namaku. Kamu harus tahu itu!" Tandas Ayahnya lagi dan beranjak untuk melangkah pergi.
Galen ikut beranjak, "kalau begitu, bolehkah aku ikut kelas seni?"
"Ikutlah kelas yang lain. Kamu tidak akan berhasil hanya karena seni. Apa kau tidak melihat Ibumu? Dia bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Memangnya seni itu bisa membuat hidupmu membaik?"
Harapannya patah! Apakah pantas seorang Ayah mengatakan hal seperti itu kepada putranya sendiri. Bahkan berulangkali Ayahnya mengatakan tentang kebenciannya kepada Ibunya dan selalu melarang Galen melakukan apapun yang katanya mirip dengan Ibunya. Memang apa salahnya atau salah Ibunya sampai Ayahnya begitu pendendam?
Dengan hati yang kesal dan marah, Galen segera meninggalkan rumah tepat ketika Ayahnya baru saja pergi dengan mengendarai mobilnya. Dia tidak jadi menemui seseorang itu—memilih untuk melajukan motornya ke sebuah tempat yang sudah jarang dia datangi akhir-akhir ini. Sebelum itu, Galen mampir ke sebuah toko bunga untuk membeli bouqet mawar putih yang masih segar.
Dan di sini lah dirinya, sebuah bukit yang akan membawanya ke sebuah pemakaman. Bukit itu tidak seperti pemakaman karena memang sangat indah. Sayangnya, jika berjalan lagi, akan banyak batu nisan yang telah berjajar di sana. Katanya, makam ini seperti makan persembunyian. Orang yang dimakamkan di sini biasanya adalah orang-orang yang tidak punya keluarga atau sengaja diletakkan di tempat yang jauh karena tidak akan pernah dijenguk.
Galen meninggalkan motornya di kaki bukit dan berjalan menyusuri bukit itu dengan pelan-pelan sambil terus memegang bunganya. Sudah lama tak datang kesini karena tempatnya yang jauh dan menghindari kerinduannya yang tidak akan pernah bisa selesai. Galen menatap ke arah gundukan tanah yang tertancap batu nisan itu. Rumput dan ilalangnya sangat tinggi, tanda bahwa tidak pernah ada yang membersihkan. Tidak mungkin 'kan Ayahnya datang kesini? Orang itu seperti sudah lupa, atau pura-pura lupa.
Galen meletakkan bouqet bunga itu di atas gundukan tanah itu. Mencabut beberapa rumput yang menghalangi pandangan matanya. Lalu berjongkok dan menatap dalam-dalam ke arah nisan di depannya dengan tatapan kosong.
"Galen enggak bisa lama-lama, Bu. Galen cuma mau ngasih bunga ini. Sudah lama tidak bertemu 'kan, Bu? Pasti Ibu kesepian banget karena Galen enggak pernah datang lagi. Galen cuma enggak mau sedih dan menangis lagi. Galen mau menjadi anak yang kuat, seperti yang Ibu minta. Jadi, Galen akan jarang datang menemui Ibu. Bukan karena Galen enggak sayang, tapi karena takut enggak bisa mengobati rindu yang kadang enggak bisa hilang. Maafin Galen, Bu."
***