BAB 22 : Lembaran Baru, Hari Baru, dan Luka Baru

1116 Words
Ruangan itu masih kosong. Selama satu Minggu, tidak ada yang datang untuk belajar dan mengganggap jika belajar di rumah adalah liburan yang digunakan untuk bermain-main saja. Galen pun sama, belajar di rumah—seperti liburan yang digunakannya untuk menikmati hidupnya kembali. Membangun segala hal baru yang tak dilakukannya di sekolah. Tapi, banyak hal yang membuatnya merasa bahwa liburannya tidak menyenangkan dan dia ingin kembali ke sekolah. Meski nantinya, dia hanya akan tenggelam dalam mimpi alias tidur di kelas. Toh, tidak akan ada yang peduli pada dirinya. Guru di sekolahnya seperti sudah bosan dan angkat tangan. Tak ada teguran, sapaan, atau apapun itu. Mereka memilih acuh atau parahnya menganggapnya tidak ada. Mereka mengajar seperti biasa, seperti tidak ada dirinya di dalam kelas. Membagi kelompok pun kadangkala yang tak melibatkan dirinya. Hanya beberapa guru saja yang berbaik hati untuk menjadikannya satu kelompok dengan Leander atau ketika tidak ada pilihan lain untuk satu kelompok dengannya. Semua orang menganggapnya dan mengecapnya buruk. Sehingga Galen tidak mau memperbaiki apapun atau meluruskan apapun. Cowok itu hanya ingin menikmati masa-masa di mana dirinya bisa bertemu dengan teman atau bahasa lainnya; orang yang dia kenal di sekolah. Selebihnya, Galen akan tenang tanpa meminta jawaban apapun tentang mengapa semuanya sangat membencinya atau bergunjing tentang dirinya di belakang. Galen tidak akan mempermasalahkan hal itu. Satu-persatu siswa masuk ke kelas masing-masing. Suasana kelas Galen pun perlahan ramai dengan adanya teman-temannya. Tetapi mereka pun memilih tenang karena tidak ingin mengusik Galen yang sudah datang lebih awal. Padahal selama ini tidak ada yang melarang mereka untuk berbicara, berisik, bercanda, atau kegiatan lainnya. Galen hanya tidur, merebahkan kepalanya di atas meja dengan kedua mata yang tertutup. Semua itu bukan larangan untuk orang lain. Mengapa semua takut padanya? Selama ini dia jarang sekali marah. Marah pun karena hal yang sangat jelas. Galen membela orang-orang yang di-bully dan itu seharusnya menjadi hal positif, bukan sesuatu yang pantas untuk dijadikan hal negatif. Namun kadangkala, Galen memberi ancaman bagi mereka yang keterlaluan dengan cara memanfaatkan image buruknya. Sehingga membuat sebagian orang menganggap bahwa Galen memang mempunyai perilaku menyimpang. "Galen," seorang perempuan muncul dari luar kelas dan memanggil nama cowok yang tengah memejamkan matanya itu, Hannah. Guru cantik itu tersenyum luwes ke arah Galen yang menatapnya tanpa ekspresi. Cowok itu beranjak dari kursinya dan berjalan keluar dengan malas. Sebenarnya bukan hal baru atau aneh ketika dirinya dipanggil oleh guru BK. Hanya saja, Hannah memanggilnya dengan lembut dan seperti cara memanggil kepada para siswa lainnya. Karena biasanya, orang akan memanggilnya dengan wajah yang tidak menyenangkan—seperti memanggil tahanan dengan nada kasar dan kesal. Mereka berdua sampai di ruangan BK, di mana Ilyas tengah duduk dan menyantap pisang gorengnya. Kedua orang itu hanya bertatapan selama beberapa detik dan Galen memilih untuk memutuskan kontak matanya. Cowok itu duduk berhadapan dengan Hannah, menatap lekat gurunya itu dan mengernyitkan dahinya. "Saya salah apa?" Tanya Galen yang sudah tidak sabaran. Hannah menggeleng pelan, "tidak, ... ini bukan urusan semacam itu. Ibu hanya ingin menanyakan keadaan kamu. Apakah sudah merasa lebih baik? Lukamu sudah kering, 'kan?" Galen tidak langsung menjawab. Cowok itu menghela napas panjang secara berulang. "Bisakah untuk tidak membahas hal lain selain masalah di sekolah. Masih banyak masalah yang saya lakukan di sekolah ini. Jadi, jangan membahas atau membawa masalah di luar sekolah. Tidak ada masalah lain." Tandas Galen dengan tatapan seriusnya. Ilyas mengelap tangannya dengan tisu dan ikut bergabung dengan keduanya, berbincang tentang masalah itu. "Apa yang sebenarnya coba kamu sembunyikan kepada dunia? Kamu tidak ingin sedikit lebih jujur kepada diri sendiri? Jangan terus berlindung dibalik kata tidak ada masalah, jika nyatanya kamu punya banyak sekali masalah. Tidak semua masalah bisa diselesaikan sendirian. Kamu harus bercerita kepada orang lain untuk sedikit saja meringankan beban di pundakmu." Sahut Ilyas serius. Galen tersenyum canggung, "bagi saya, orang lain tidak berniat untuk membantu. Mereka hanya ingin tahu apa yang terjadi kepada saya. Mereka tidak benar-benar tulus dan masalah saya hanyalah sebuah lelucon yang bisa merasa tertawakan kapan saja. Orang-orang seperti saya memang terlihat bermasalah dan membuat orang lain repot. Namun, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi pada saya adalah hal yang sangat menyakitkan." Lagi, keduanya tidak menemukan jalan untuk melihat sisi lain dari seorang Galen. Mereka berusaha untuk mengetahui apa yang terjadi dan berusaha untuk menyelesaikan masalahnya. Hanya saja, Galen tidak percaya pada orang lain dan Galen tidak ingin berbagi lukanya. Jadi, apa yang bisa mereka lakukan? "Ibu senang karena kamu mau sedikit terbuka pada kami. Kamu tidak perlu khawatir. Kamu tidak perlu bercerita pada siapapun, jika kamu merasa itu tidak perlu diceritakan. Galen, kamu bisa mendapatkan kehidupan kamu kembali. Kehidupan remaja normal yang kamu inginkan. Tapi, ... semua itu hanya tergantung pada dirimu sendiri. Ibu atau Pak Ilyas tidak bisa membantumu. Yang bisa membantu hanya dirimu sendiri." Ucap Hannah memberikan senyuman terbaiknya. Galen menatap lekat mata Hannah itu, "apakah bisa begitu? Saya bisa berteman dengan orang lain? Saya bisa melakukan kegiatan lainnya? Saya bisa bersenang-senang dan bermain layaknya remaja seusia saya?" "Hm, ... mulai dari hal kecil saja. Potong rambut." Ucap Hannah yang menunjuk ke arah rambut Galen yang gondrong. Benarkah? Apakah dia harus potong rambut? Tapi, ... apakah dengan hal semacam itu bisa mengurangi beban hidupnya? Maksudnya, memudarkan perspektif buruk tentangnya? "Kamu tahu," ucap Ilyas yang pada akhirnya angkat bicara. "Laki-laki terlihat berbeda hanya karena potong rambut! Potongan saja yang berbeda, sudah membuat wajah laki-laki ikut beda juga. Cobalah!" Sambung Ilyas memberikan pendapatnya. Galen akhirnya mengangguk pelan dengan senyuman tipis, "saya akan potong rambut dan datang ke ruang BK lagi besok pagi. Permisi!" Cowok itu meninggalkan ruangan BK dengan nada yang lebih riang, seperti ada sedikit beban yang berkurang. Hannah sendiri menatap Ilyas yang duduk di kursinya, "benar 'kan, ... dia itu hanya butuh diperhatikan. Tidak ada anak yang bermasalah karena memang pada dasarnya bermasalah. Anak-anak itu pasti punya tujuan dari apa yang mereka lakukan." "Menurutmu, apa kita harus bekerja sampai sejauh ini?" Tanya Ilyas yang menatap Hannah serius. Perempuan itu mengangguk, "kamu ingat dengan apa yang dikatakan Pak Rafix, 'kan?" "Tentang gaji kita yang akan segera dinaikkan?" "Bukan itu?" Tandas Hannah sebal, walaupun yang diucapkan Ilyas ada benarnya juga. "Tentang masalah dari Galen selama masih kecil dan sampai sekarang. Kita harus membantunya, 'kan? Anggap saja kita detektif polisi dan ini adalah kasus pertama kita." Sambungnya dengan semangat. Ilyas mengusap wajahnya, "aku kira, hanya karena masalah gaji." "Hush, ... jangan ngomongin itu! Kita jadi kelihatan enggak tulus bantunya deh!" Sewot Hannah yang mendapat tertawaan dari Ilyas. "Eh, di sekolah! Kita harus bicara formal." Sambung Hannah lagi. "Telat!" Tandas Ilyas yang kembali fokus membuka laptopnya. Beberapa saat mereka saling diam tanpa suara, sampai akhirnya Ilyas kembali membuka pembicaraan diantara mereka. "Han," "Hm," "Kalau misalkan apa yang dikatakan Pak Rafix benar, berarti orang-orang hanya salah paham pada Galen." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD