POTONG RAMBUT, RESOLUSI BARU, DAN BIANGLALA!
***
Katanya, tidak ada yang mudah untuk sebuah perubahan. Tidak ada sesuatu yang indah sebelum melewati banyak rintangan. Setiap manusia yang hidup di dunia, selalu melewati banyak fase yang unik. Dari sedih, senang, susah, bahagia, kecewa, dan rasa-rasa lain yang terkadang memuakkan tetapi memberikan warna kehidupan itu sendiri. Manusia yang tidak punya rintangan dalam hidup, bagaikan sebuah keong tanpa rumah—tidak mempunyai perlindungan diri dari area luar yang terkadang sangatlah kejam.
Kadangkala, manusia juga selalu berpatokan pada sesuatu yang tak lazim seperti penampilan yang selalu menjadi tolak ukur tentang sikap dan sifat manusia. Sebagian orang dengan tampang seram, bertato, bertindik, berambut gondrong, seakan-akan diidentikkan dengan manusia yang tidak mempunyai aturan dan hina. Bisa jadi dianggap buruk sehingga tidak diberikan kesempatan untuk melamar pekerjaan dengan syarat harus rapi. Karena itu lah, semua aspek menjadi terfokus kepada satu hal yang utama, penampilan.
Penampilan yang menarik adalah sebuah point penting agar terlihat sebagai manusia yang baik, berbudi luhur, dan memiliki sikap yang patut untuk ditiru oleh orang lain. Sehingga semua hal harus sesuai dengan apa yang menjadi tuntutan tersebut.
Sama halnya dengan Galen yang saat ini berhenti di depan sebuah tempat yang sudah lama tidak dia kunjungi; barbershop, begitulah banner yang terpasang di depannya. Galen tidak yakin, masih ragu, dan sesekali dia melihat lambaian rambutnya yang tercium aroma sampo kesukaannya. Cowok itu menghela napas panjang dan ingin mengurungkan niatnya. Namun akhirnya dengan segenap keberanian, cowok itu masuk ke dalam.
Seorang cowok dengan tatanan rambut rapi menyambutnya dan menanyakan gaya apa yang Galen inginkan, melihat bagaimana rambut Galen yang terawat walaupun cukup panjang. Dengan setengah hati, cowok itu memutuskan untuk memotong rambutnya menjadi potongan rapi, pendek, dan umum. Dia tidak ingin terlihat wah, hanya karena potong rambut. Karena kata orang-orang, cowok yang potong rambut, seperti cowok yang baru saja operasi plastik. Intinya penampilannya akan beda dan lebih terlihat segar.
Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit, potongan yang Galen pilih pun selesai. Rambutnya sudah di-styles sedemikian rupa dan sangat berbeda dengan dirinya sebelumnya. Bahkan wajahnya yang bersih dan sama terawatnya pun menjadi hal utama yang diperhatikan oleh para cowok yang sama-sama potong rambut bersamaan dengannya.
"Mas, boleh enggak kalau saya foto? Potongannya cocok banget sama Mas. Gantengnya jadi maksimal." Tandas tukang potong rambut itu dengan senang karena melihat hasil dari potongannya untuk Galen yang seratus persen cocok.
Mungkin jika orang lain yang melihat pun akan dengan mudah mengatakan cocok. Melihat bagaimana tampilan Galen yang setelah potong rambut.
"Hm, ... boleh, Mas." Jawab Galen dengan canggung, karena tidak ada yang pernah meminta fotonya sama sekali. Sehingga ini menjadi sebuah pengalaman baru yang mungkin sedikit aneh untuknya.
Setelah beberapa kali foto, dua orang cowok yang hendak potong rambut pun meminta gaya potongan seperti Galen. Padahal dia hanya potongan rambut biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari gaya potongannya. Mungkin karena cocok itu, sehingga semua orang menganggap potongan rambutnya begitu spesial.
Galen keluar setelah membayar dan tersenyum canggung ke arah orang yang berada di dalam. Dia menatap dirinya di spion motornya, memang tidak ada yang berbeda, menurutnya. Tetapi bagi orang lain yang melihat wajahnya, dia jauh lebih tampan dan tentunya terlihat bersih hanya karena potong rambut. Mengapa hal seperti bisa membuat penampilan berbeda?
Cowok itu melajukan motornya pelan, menuju ke sebuah pasar malam yang tidak jauh dari pusat kota. Tidak lama kemudian dia sampai di sana dengan memarkirkan motornya di parkiran. Sebenarnya dia tidak tahu tujuannya datang kesini. Namun setiap kali ada taman bermain, pasar malam, atau tempat ramai di mana banyak anak yang seringkali datang, pasti Galen akan mengunjunginya. Dia hanya ingin kembali ke masa kecilnya yang berharga walaupun sendirian.
Galen menatap beberapa orang yang tengah asik memilih permainan yang mereka inginkan. Rata-rata, mereka membawa teman, sahabat, keluarga, atau pacar. Sedangkan dirinya hanya sendirian dengan tatapan kosong ke arah permainan-permainan itu. Lalu akhirnya Galen melangkah pelan ke depan bianglala, membeli tiket untuk masuk ke dalam salah satu sangkar burung yang besar.
Kini tiba gilirannya untuk masuk ke dalam sangkar itu dan tiba-tiba ada seseorang yang masuk mendahului dirinya, seorang cewek cantik dengan rambut pendek. Galen terpaku meski sebentar dan memilih untuk masuk ke dalam bersama dengan cewek itu. Dan pintu akhirnya ditutup, lalu tak lama kemudian bianglala itu mulai bergerak pelan.
"Hai," sapa cewek itu dengan nada suara yang ceria. "Kita ketemu lagi, Galen." Sambung cewek itu dengan tersenyum lebar, Meisy.
Mereka selalu bertemu seperti sebuah kebetulan. Namun ada juga yang lebih masuk akal daripada kebetulan bagi Galen, takdir.
"Lo selalu muncul disaat gue kosong dan butuh teman." Ucap Galen.
Meisy tersenyum tipis, "itu gunanya aku. Datang disaat kamu sepi dan kosong. Kita adalah jiwa-jiwa yang kosong."
"Lo kosong?" Tanya Galen dengan tatapan menyelidik. "Lo cantik hari ini." Sambung Galen dengan jujur.
Meisy hanya menganggukkan kepalanya dengan cepat, "resolusi baru, rambut baru."
Galen hanya tertawa pelan, dia bisa melihat mata Meisy yang berbinar ketika mengatakan kata resolusi baru. Walaupun semuanya terasa aneh, tapi kehadiran Meisy seperti obat yang menyenangkan untuknya.
"Gue suka gambar," ucap Galen pada akhirnya ketika bianglala itu sudah berputar sekali. "Gue suka banget warna hitam atau putih. Sehingga semua gambar gue warnanya hanya itu-itu aja. Bagi gue, warna itu adalah warna yang menunjukkan identitas gue yang sebenarnya." Sambungnya dengan tatapan sendu.
Meisy memegang tangan Galen, "hm, lain kali coba gambar aku. Siapa tahu kamu bisa punya warna baru yang akan kamu suka."
"Boleh," jawab Galen seadanya.
Meisy menatap Galen sekali lagi, dia sedang membaca tatapan Galen yang tidak seperti biasanya. Pasti ada yang terjadi kepada cowok itu.
"Ada apa?" Tanya Meisy kepada Galen.
Galen tersenyum masam, "semuanya akan baik-baik saja, 'kan? Gue enggak akan kepikiran apapun lagi. Gue kali ini benar-benar capek banget. Gue pikir, harapan gue kali ini sedikit banyak terwujud karena sifatnya positif. Tapi Ayah sepertinya enggak suka."
"Kalau gitu, kamu buktiin sama Ayah kamu." Tandas Meisy memberikan semangat.
Galen menggeleng pelan, "Lo bilang kemarin kalau gue enggak perlu membuktikan kesuksesan gue sama siapapun. Iya, 'kan? Kenapa sekarang lupa? Lo enggak tahu capeknya gue. Lo enggak akan ngerti."
Pintu bianglala terbuka, Galen pergi begitu saja, meninggalkan Meisy yang masih berada di dalam, sendirian.
***