GALEN DAN ANAK-ANAK KUCING LUCU
***
Pagi ini, udara begitu dingin karena semalam sempat hujan sampai pukul empat pagi. Kabut tipis terlihat di jalanan, membuat jarak pandang sedikit terganggu. Beberapa pengendara sepeda motor atau sepeda ontel biasa mengenakan jaket tebal. Lansia-lansia yang mengayuh sepeda ontel dengan pakaian sederhana, tampak tak mengenakan pakaian tebal untuk menghalau dinginnya pagi ini. Keranjang-keranjang mereka telah kosong karena dagangannya sudah dijual habis pagi-pagi buta. Suasana yang jarang Galen lihat selama ini.
Seharusnya dia bangun pagi sesekali dan melihat bagaimana suasana yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Dan hari ini, akhirnya Galen mendapat kesempatan untuk bangun pagi. Meskipun alasannya hanya alasan aneh—seperti malu karena baru saja potong rambut. Namun karena itu semua, dia bisa memulai harinya dengan tenaga yang baru.
Cowok itu sampai di parkiran sekolahnya pukul enam pagi tepat. Mungkin sebentar lagi pak satpam atau beberapa guru yang rajin akan datang. Lalu disusul siswa-siswa rajin atau siswa yang akan piket kelas. Ah, Galen tidak pernah piket sebelumnya. Bahkan mungkin namanya tidak terdaftar dalam jadwal piket kelasnya. Toh, tidak ada yang berani menyuruhnya sama sekali.
Pertama kali menapakkan kakinya di sekolah, terlihat lorong-lorong yang sepi. Bahkan suara sepatunya yang membentur lantai pun terdengar begitu jelas di telinganya. Galen melewati ruangan kelasnya yang masing kosong. Dia tidak berniat untuk masuk sekarang karena teman-teman sekelasnya akan takut padanya. Itulah sebabnya Galen jarang masuk kelas tepat waktu. Dia suka datang pada saat jam masuk sekolah tepat atau lebih dari itu.
Tujuannya kali ini adalah gedung terbengkalai di belakang sekolah. Gedung itu adalah gedung milik yayasan namun sudah tidak lagi difungsikan karena memang sudah tidak layak. Bukannya digusur untuk mendirikan gedung baru, gedung itu malah dibiarkan begitu saja menjadi sarang hantu kata sebagian orang yang menganggap dirinya mempunyai indera keenam.
Namun bagi Galen sendiri, gedung itu seperti tempat yang nyaman untuk orang-orang seperti dirinya untuk menyendiri dari hiruk-pikuk manusia lainnya. Dan di sini lah Galen sekarang, duduk sendirian di sebuah bangku kayu yang salah satu kakinya patah dan digantikan kaki bangku yang lainnya—Galen yang memasangnya sendiri. Karena baginya, ini adalah tempatnya selain kamar mandi guru yang dia gunakan untuk menonton film dewasa. Baginya, kamar mandi guru adalah kamar mandi yang wangi daripada kamar mandi siswa karena dirawat oleh cleaning service di sekolah.
Cowok itu mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tasnya, bungkusan dengan gambar kucing di depannya.
“Miuw, Piuw, Pauw, gue datang bawa makanan nih! Katanya mbak-mbak minimarket, banyak kucing yang suka sama rasanya. Kalian enggak mau cobain?” Tanya Galen bermonolog sambil membuka bungkusan makanan kucing itu.
“Miaw... miaw... miaw...”
Tiga kepala kucing muncul dari tumpukan kayu, memperlihatkan diri karena mendengar suara Galen. Mereka seakan-akan memberikan respons karena akan diberi makan. Ketiga kucing itu mengeong dan mendekati kaki Galen, menggesekkan bulu-bulu mereka pada sepatu cowok itu.
“Lucu banget,” ucap Galen tanpa sadar dengan menatap ketiga kucing gemas. “Gue bakalan kasih kalian makan. Nih, ... selamat menikmati makanan, Miuw, Piuw, dan Pauw.” Sambungnya dengan menuangkan makanan kucing itu di atas papan kayu.
Ketiga kucing gemas itu berkerumun, memakan makanan yang Galen berikan. Sesekali cowok itu memisahkan kucing satu dengan kucing yang lainnya karena berkelahi, berebut makanan.
Setelah beberapa saat menunggu kucing-kucing lucu itu menghabiskan makanannya, Galen beranjak dari duduknya untuk kembali ke kelasnya. Cowok itu awalnya ragu untuk melangkahkan kakinya, namun akhirnya dia benar-benar memasuki kawasan di mana siswa-siswa tengah berada di luar kelas. Pusat perhatian tentu saja langsung mengarah kepadanya. Banyak orang yang menerka-nerka siapa dirinya. Namun ada yang langsung tahu karena auranya. Ditambah sebuah name tag yang tertempel di dadanya, membuat beberapa orang yang melihatnya tercengang.
Galen mereka lihat hari ini tidak sama dengan Galen yang mereka lihat kemarin. Galen yang sekarang terlihat rapi, wajahnya pun seratus persen terlihat dan mengundang kekaguman dari beberapa orang yang melihatnya.
“Galen itu, ‘kan? Yang pernah ketahuan nonton film begituan di kelas? Kok ganteng banget sekarang.” Ucap seorang cewek yang mendapatkan senggolan di lengannya dari temannya.
“Dia kenapa ganteng banget sekarang?”
“Gila sih, ganteng asli.”
“Potong rambut bisa merubah orang, ya?”
Galen hanya berjalan santai, ternyata rasanya sama saja ketika orang-orang menatapnya. Walaupun kali ini, tatapan mereka seperti layaknya memuja karena dirinya yang terlihat tampan dengan potongan rambut barunya.
“Benar, ‘kan?” Ucap seorang laki-laki berseragam guru sekolahnya kepada dirinya ketika mereka tanpa sengaja berpapasan di lorong ruang guru.
Galen hanya tersenyum canggung, “memangnya saya seberubah itu, ya, Pak? Bahkan tukang potong rambut saja sampai tercengang setelah melihat saya.”
Laki-laki itu, Ilyas, memberikan kedua jempolnya ke arah Galen dengan tersenyum. Padahal beberapa hari lalu, gurunya itu seperti anti-pati dengannya. Namun kali ini, Ilyas tampak bersahabat dengannya. Bahkan memberikan komentar positif tentang penampilannya hari ini.
“Wah, ... Galen. Kamu ganteng banget.” Tandas Leander ketika melihat perubahan Galen ketika cowok itu masuk ke dalam kelas. “Kamu benar-benar keren dan cocok dengan potongan rambut seperti itu. Kalau aku potong rambut begitu, pasti bakalan ditertawakan deh.” Sambung Leander yang merasa tidak percaya diri karena tidak sekeren Galen.
Galen hanya diam saja, tidak merasa senang walaupun berulangkali dipuji karena penampilannya. Dia masih heran, mengapa penampilan selalu menjadi tolak-ukur dalam menilai sifat dan sikap seseorang? Dia hari ini dan dia yang kemarin adalah dia yang sama. Namun mengapa dia yang kemarin begitu dibenci, dikucilkan, dan dijauhi? Lalu apa bedanya dengan dirinya yang sekarang? Hanya penampilannya saja yang berbeda, ‘kan?
Lalu hari ini terasa begitu aneh! Semua berjalan dengan lancar. Bahkan dirinya yang tidak diakui ini tiba-tiba mendapatkan perhatian besar. Guru-guru di kelas yang biasanya tidak mau melibatkannya dalam pembelajaran pun mengajaknya berdiskusi. Galen masih tidak habis pikir, namun dia hanya mengikuti alurnya.
“Kamu tiba-tiba populer di sekolah. Tahu gitu ‘kan dari dulu kamu berubah kaya gini. Sudah jelas kamu gampang dapat teman, Galen. Kamu ‘kan keren, populer lagi.” Ucap Leander yang tidak luput memuji Galen setiap kali ada kesempatan.
Galen melipat kedua lengannya di atas meja dan menyembunyikan kepalanya diantara lipatan lengannya itu.
“Mendingan Lo kerjain aja tugasnya. Gue akan terbang hanya karena pujian dari orang-orang yang pernah menghujat gue dengan kata-kata kasar. Gue sama sekali enggak respek hanya karena penampilan gue beda. Penampilan boleh beda, tapi karakter gue persis sama.” Ucap Galen realistis.
Leander hanya bisa tersenyum. Gaya memang tidak merubah seseorang, mungkin apa yang Galen katakan memang benar.
***