G&K | 25

1035 Words
GALERIA SENI, LUKISAN LIMA BULAN, DAN DONASI. *** Cowok itu mengeluarkan lembaran kertas yang ada di dalam tasnya dan memberikannya kepada seseorang di depannya. Seorang cowok ber kemeja abu-abu dengan kacamata minus yang membingkai matanya. Keduanya tak banyak bicara, hanya sesekali. Itu pun menggunakan bahasa isyarat dengan tatapan mata saja. Tidak lama setelah itu, mereka berjalan bersama dengan beriringan dan masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi dengan lukisan. "Tertarik?" Tanya cowok berkemeja abu-abu tadi sambil menggulungkan kertas yang diberikan Galen kepada dirinya beberapa menit yang lalu. Galen menganggukkan kepalanya dengan pelan sambil menimbang; apakah keputusannya sudah benar? Dia hanya ingin menikmati hidupnya dengan cara positif. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Lagipula, ini hidupnya, dirinya, bakatnya, dan keinginannya. Jika tidak ada yang ingin mendukungnya, maka dirinya sendiri lah yang akan mendukung mimpinya sendiri. Dia tidak pernah punya orang di belakangnya, bukan? Jadi, untuk apa menunggu ijin dari Ayahnya yang mungkin selamanya tidak akan diberikan. Dia nekat untuk datang ke sebuah galeria seni, di mana seorang cowok yang pernah ditemuinya saat festival itu menjadi ketua acaranya. Dia tidak mempunyai pilihan lain selain ingin mencoba apa yang diinginkannya selama ini; menyalurkan bakatnya dengan sukarela untuk membantu orang lain. Karena galeria seni ini bukan untuk mencari keuntungan, melainkan menjadi tempat donasi bagi mereka yang mempunyai uang dan menyukai seni. "Tapi Lo tahu 'kan kalau kita enggak akan dapat apa-apa kecuali ucapan terimakasih?" Tanya cowok itu lagi sambil memastikan ungkapan Galen untuk bergabung dengan komunitas itu. Lebih tepatnya lagi, berusaha untuk bergabung. Galen mengangguk kembali, "gue udah tahu, kok! Dan gue sama sekali enggak keberatan karena ini untuk donasi, 'kan?" Cowok itu menjawab pertanyaan Galen itu dengan menganggukkan kepalanya. Setelah itu hanya hening yang tercipta diantara keduanya dan hanya ada suara kipas angin saja yang mendominasi. Tidak ada orang dalam ruangan ini, hanya tersisa mereka berdua. Galeria seni ini pun cukup besar dengan banyak lukisan yang terpajang di sana. Katanya, setiap anggota akan menyumbangkan satu lukisannya setiap lima bulan sekali dan mereka akan mengadakan acara untuk menggalang dana dengan cara menjual lukisan-lukisan itu. Jerome, cowok berkemeja abu itu tersenyum menatap lukisan-lukisan yang terpajang di sana—membuat Galen hanya bisa meliriknya dengan tatapan bingung. Namun jika melihat dari sudut pandang yang lain, Galen juga akan menunjukkan ekspresi yang sama. Lukisan-lukisan yang berada di ruangan itu adalah hasil kerja keras untuk membantu orang lain. Padahal, jika melihat keadaan dan kondisi cowok itu, Galen akan lebih merasa khawatir. "Kenapa? Bingung karena gue bisa jalan?" Tanya Jerome dengan melirik ke arah Galen yang memperhatikan dirinya sejak awal. Galen yang diberikan pertanyaan itu menjadi salah tingkah, "eh, ... enggak kok, Bang." Cowok itu menepuk bahu Galen beberapa kali, mengajaknya untuk duduk bersama di sebuah sofa yang berada di dekat jendela. Ada sebuah pemandangan bagus yang mereka nikmati dari balik kaca jendela itu; sebuah kolam ikan dengan suara air dengan gemericiknya yang rasanya menenangkan. Galen mendekat dan ikut duduk bersama dengan Jerome, mereka menikmati sejenak ciptaan Tuhan, lalu kembali fokus kepada pembahasan. "Kaki gue diamputasi dua tahun yang lalu karena kecelakaan. Awalnya sih berat karena harus menerima bahwa gue menjadi jajaran orang cacat yang enggak bisa melakukan apapun lagi dengan normal. Gue depresi, stress, hampir gila, dan lebih buruknya lagi hampir bunuh diri. Walaupun gue dikelilingi dengan orang-orang yang sayang sama gue, pikiran gue enggak akan pernah bisa positif karena gue dalam masa penolakan dari diri gue yang baru. Sehingga sepositif apapun lingkungan gue, gue tetap akan sedih dan merasa buruk." Cerita Jerome tanpa diminta. Terdengar helaan napas kasar yang keluar dari bibir Jerome. Cowok itu benar-benar merasa berat untuk menceritakan titik terendahnya. Namun baginya, itu adalah cerita paling menarik yang bisa dia bagi kepada orang lain. Setidaknya, orang yang mendengarnya akan berpikiran bahwa hidup selalu tidak adil kepada siapapun, sehingga orang itu akan merasa lebih baik lagi. Tidak akan ada anggapan bahwa hidupnya malang sendirian. "Cacat fisik memang melelahkan dan juga merepotkan. Tapi cacat mental yang berdampak besar dalam proses kehidupan. Gue diberikan kehidupan yang lumayan baik, sehingga gue mau hidup gue menjadi manfaat. Gue dan teman-teman yang lain hanya ingin dikenal sebagai manusia sosial saja, bukan manusia yang kurang atau mungkin tidak sempurna. Mereka enggak akan melihat kekurangan Lo, setelah Lo berusaha mendedikasikan diri Lo untuk kebaikan. Walaupun kadang enggak sesuai ekspektasi soal kebaikan itu sendiri, tapi hati Lo akan terpuaskan dengan bantuan yang bisa Lo kasih." Tandas Jerome yang seperti angin segar untuk Galen. Sepertinya benar tentang anggapan bahwa berkumpul dengan orang yang positif akan membuat dirimu positif. Apalagi setelah mendengarkan apa yang Jerome jelaskan padanya. Dia semakin yakin untuk bergabung dan mencoba hal positif lainnya dengan bakat yang mungkin dimilikinya. "Hm, ... gimana kalau misalkan lukisan yang gue buat enggak ada yang beli, Bang? Gue enggak percaya diri dengan bakat melukis gue. Masih jauh dibandingkan lukisan-lukisan yang dipajang di sana." Ucap Galen sambil melirik gulungan kertasnya. Jerome hanya tersenyum tipis, "Lo enggak akan menemukan orang yang royal beli lukisan selain di galeria ini. Tenang aja! Pasti ada yang beli karena harganya juga enggak seberapa untuk dompet mereka para pejabat yang haus dengan pujian rakyat. Anggap saja kita berbisnis. Para wakil rakyat itu akan mendapatkan pujian, bahkan dielu-elukan rakyat dan kita dapat uang untuk donasi. Simbiosis mutualisme." Ya, sebagian besar pembeli lukisan adalah dari kalangan pejabat. Meski tidak tahu-menahu tentang seni, tapi mereka nekat membeli karena sebuah kata sakti itu, donasi. Sehingga, tidak jarang mereka berusaha untuk tetap membelinya karena bentuk donasi—terlebih semua orang menontonnya. Sehingga mereka berlomba untuk menjadi wakil rakyat yang royal dan gemar berdonasi. "Btw, ... kenapa potong rambut?" Galen memegang rambutnya yang sudah cepak, "merubah penampilan agar lebih baik, katanya. Gue masih anak sekolah." "Hm, ... anggap saja semua adalah bentuk tanggungjawab dari seorang siswa. Sesulit apapun kehidupan kita hari ini, belum tentu akan membuat kita kesulitan keesokan harinya lagi." Ucap Jerome lagi. Apapun yang dikatakan Jerome padanya, membuatnya merasa jauh lebih baik. Dia bisa melakukannya, bukan? Tidak lama kemudian, pengantar makanan datang. Jerome membuka dompetnya untuk membayar semua makanan yang dipesannya. Namun, Galen menatap sebuah foto yang ada di dalam dompet cowok itu. Foto itu tidak asing untuknya. Galen diam—tidak berniat untuk bertanya siapa cewek itu dan apa hubungannya dengan Jerome. Akan coba Galen tanyakan nanti jika sudah bertemu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD