MENUTUP CERITA LAMA
***
Galen menenteng pot tanaman hias yang baru kemarin dibelinya untuk dibawa ke sekolah. Sebelumnya, dia tidak pernah ikut andil dalam acara apapun di sekolah. Meskipun itu ada hubungannya dengan penilaiannya. Namun kali ini, cowok itu membawa sebuah pot tanaman hias yang akan digunakan untuk menghias ruang di depan kelasnya yang masih sangat kosong karena akan diadakan acara kelas bersih yang akan dinilai besok pagi oleh bagian kesiswaan.
Cowok itu berjalan santai menyusuri koridor sekolahnya yang ramai oleh beberapa siswa. Sebagian ada yang sibuk membaca mading sekolah di depan papan, ada yang sibuk bicara sambil tertawa-tawa, ada yang hanya berjalan santai seperti dirinya untuk menuju kelas, dan ada yang diam di pojokan sambil bermain handphone. Orang yang bermain handphone di pojokan itu pun mendekati Galen ketika melihat cowok itu berjalan ke arahnya. Lebih tepatnya lagi, memang arah jalan Galen ke arah orang itu.
"Galen," sapanya dengan semangat karena akhirnya bisa menemukan Galen juga. Setelah beberapa hari kesulitan mencari Galen, akhirnya dirinya bisa menemui cowok itu.
Sebelum mengatakan maksud dan tujuannya, cowok itu menatap pada pot tanaman hias berukuran kecil di tangan Galen. Dahinya mengkerut tak mengerti, namun akhirnya berusaha dia abaikan saja. Cowok itu dengan semangat, menyodorkan sebuah flashdisk merah ke arah Galen dan memintanya untuk menerimanya.
"Barang baru," bisiknya tepat di telinga Galen.
Galen mendorong flashdisk itu ke arah cowok itu dengan pelan sambil menghela napas panjang setelahnya. Matanya memejam sejenak, berusaha untuk menetralisir perasaan aneh di dalam dirinya. Galen kembali fokus kepada cowok di depannya—yang mungkin tidak menyangka karena sikap penolakannya yang tiba-tiba.
"Ada apa?" Tanyanya dengan raut wajah kebingungan. "Lo udah dapat videonya? Ini video baru lho dan ini langka banget. Karena Lo pelanggan VVIP gue, jadinya gue kasih ini buat Lo. Murah kok harganya." Sambung cowok itu masih berusaha membujuk Galen menerima flashdisk miliknya.
Galen tersenyum tipis, "hm, ... kalau gue mau beli, gue tahu kok di mana kelas Lo. Itu kalau gue belinya dari Lo."
"Lo yakin? Ini video bagus," tandas cowok itu kembali membujuk Galen.
Hanya terdengar helaan napas kasar saja yang keluar dari bibir Galen lagi. Dia benar-benar sedang tidak berniat untuk menonton video atau membeli. Dia sama sekali tidak berpikiran itu—hanya saja sebagian dirinya masih menginginkannya. Namun sebisa mungkin, Galen menahannya demi perubahan yang diinginkannya.
"Gue lagi buru-buru. Thanks, untuk tawarannya." Jawab Galen sambil menepuk bahu cowok itu dengan pelan dan meninggalkannya begitu saja.
Dia kembali melanjutkan jalannya untuk sampai di kelasnya. Sudah ada banyak orang di dalam kelasnya dan dirinya yang paling akhir. Cowok itu pun meletakkan pot tanaman hiasnya di dekat pot-pot yang lainnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Semua teman sekelasnya tampak heran dan kebingungan dengan sikap Galen yang memang lumayan berubah. Galen bahkan mulai menjadi siswa umumnya yang melakukan seluruh perintah dari sekolah.
"Halah, ... orang kaya dia enggak bakalan bertahan perubahannya. Palingan cuma beberapa hari terus balik lagi jadi dia yang dulu. Kalau dasarnya bejad, yang udah, bejad aja. Iya enggak?" Sindir seseorang yang biasanya takut kepada Galen, namun seperti mulai mempunyai keberanian karena kesal dengan perubahan Galen, Viktor.
Semua orang di dalam kelas hanya diam karena mereka tahu siapa itu Viktor atau Galen. Cowok yang paling kaya di kelas tengah menyindir cowok yang paling ditakuti di sekolah. Tidak ada yang menyahut karena mereka hanya mencari aman. Bahkan Kiko, sepupu Viktor, hanya menyenggol lengan cowok itu akan diam. Meski mereka kaya raya, tidak akan bisa menghentikan perbuatan Galen—yang katanya sudah menyimpang itu, 'kan? Walaupun belum terbukti, tetapi semua orang berpikiran demikian.
Leander melirik ke arah Galen yang tidak terganggu sama sekali. Cowok itu hanya menanggapi dengan santai dan terkesan tidak peduli. Galen tidak pernah mempermasalahkan hal yang tidak penting seperti menyindirnya atau mengata-ngatainya. Karena itu sudah sangat biasa.
"Lo~" tunjuk Viktor kepada Galen yang menatapnya balik. "Memang Lo siapa? Kenapa semua orang lebih takut sama Lo daripada sama gue yang jelas-jelas punya kekuasaan di sekolah ini. Lo tahu kalau bokap gue itu konglomerat? Dia bisa ngelakuin apa aja sama Lo." Sambungnya yang mulai menyombongkan tentang Ayahnya.
Galen hanya tersenyum tipis dan beranjak dari duduknya, mendekati Viktor yang tiba-tiba mulai ketakutan karena tidak menyangka akan seperti ini jalan ceritanya. Cowok itu mundur beberapa langkah meskipun masih mempertahankan kesombongan di wajahnya. Galen memasang tatapan tajamnya meskipun tersenyum—itu lebih tepat disebut dengan seringai, yang berulang kali membuat orang takut dan berpikiran negatif tentang dirinya.
"Jangan pernah bersaing dengan orang yang enggak pernah merasa dirinya sedang bersaing. Karena apa? Lo akan capek sendiri. Lo enggak akan bisa bahagia karena terpaku sama orang yang sama sekali enggak merasa berkompetisi sama Lo. Jadi, hidup baik-baik itu sudah cukup. Lo akan bahagia dengan cara Lo sendiri. Mau Lo anak presiden sekalipun, itu bukan urusan gue. Lagipula, presiden yang benar enggak akan ribet dan membuang-buang waktunya untuk mengurusi masalah anak-anak bau kencur." Jawab Galen menusuk dan menepuk bahu Viktor yang bahkan menahan napasnya.
Baru setelah itu, Galen keluar dari kelasnya diikuti Leander yang mulai mengintilinya dari belakang. Mereka bisa mendengar suara sorakan yang ramai dari dalam kelas. Galen tidak mencoba menjadi keren, ditakuti orang lain, atau pengaruh apapun itu. Dia hanya ingin hidup seperti apa yang diinginkannya.
"Ngapain Lo ngikutin gue?" Tanya Galen kepada Leander yang berjalan disampingnya tanpa mengatakan apapun.
Leander mengembangkan senyuman di wajahnya, "kamu lupa, ya, kalau aku cuma punya satu teman di sini. Kamu satu-satunya temanku."
"Sejak kapan kita berteman? Gue enggak mau temenan sama siapapun. Gue bilang Lo kacung gue, dan bukan berarti gue mau temenan sama Lo." Tandas Galen sedikit terdengar pedas.
Namun Leander tidak peduli dengan hal itu. Dia tetap mengikuti Galen dan tidak menganggap ucapan Galen tidak serius. Meskipun Galen sangat terlihat menyebalkan, namun cowok itu baik padanya. Leander tahu Galen bukan cowok yang seringkali diceritakan orang-orang. Meskipun terkesan buruk, tetapi Galen lebih baik dari teman-temannya yang lain. Mereka sering mem-bully dirinya. Bahkan tidak jarang mengata-ngatai dirinya dengan kata-kata kasar. Sehingga berteman dengan Galen sudah jelas lebih baik.
"Kamu banyak berubah sekarang. Kamu punya pacar, ya?"
Galen menghentikan langkahnya dan menyempatkan diri menjitak kepala Leander.
"Aduh, ... sakit!" Keluhnya sambil mengelus kepalanya yang baru saja mendapatkan jitakan gratis dari Galen. "Soalnya, ... cowok badboy di novel-novel, akan berubah kalau punya pacar." Sambungnya yang dramatis.
Galen menggelengkan kepalanya heran, "mendingan Lo belajar buku sejarah ketimbang percintaan. Enggak ada faedahnya!"
Leander menghela napas panjang dan memilih mengikuti Galen ke gedung belakang sekolah. Cowok itu melirik Galen, dia tiba-tiba punya perasaan yang tidak enak. Pikiran buruk itu pun mampir di kepalanya. Sampai Galen mengeluarkan bungkusan makanan kucing dari dalam tasnya. Membuat tiga anak kucing keluar dan mendekat, meminta makan. Leander terpaku, dia salah sangka pada Galen lagi.
Maaf Galen.
***