G&K | 27

1055 Words
PROBLEMATIKA KEHIDUPAN YANG SULIT *** Emosinya sudah memuncak, namun tetap saja senyuman menjadi sebuah solusi mudah agar tak menimbulkan masalah. Semua orang berhak untuk meluapkan amarahnya, tetapi semua hanya terjadi kepada mereka-mereka yang mempunyai posisi tinggi, uang yang banyak, koneksi yang banyak, atau segala hal menyenangkan yang melingkupinya. Untung kalangan pas-pasan yang berada pada grade menengah sampai ke bawah, tidak boleh marah sama sekali. Terlalu tidak pantas, katanya. Harus menjaga kesopanan atau mungkin bisa jadi, diam saja lah! Laki-laki itu membanting tumpukan kertasnya di atas meja. Tentu saja di ruangannya sendiri, bukan di meja rapat apalagi di depan guru-guru itu. Guru-guru yang katanya senior dan berpengalaman—yang mengatakan bahwa pekerjaan ini hanyalah sebuah pekerjaan remeh-temeh yang anak SD pun bisa menyelesaikannya. Tetapi pada kenyataannya, mereka tidak melakukannya. Mereka begitu saja menyerahkan, tanpa membantu atau mengarahkan sedikitpun. Mereka tutup mata, lalu menyalahkan jika ada yang menarik dan menurut mereka pantas untuk disalahkan. Hanya membuat jadwal kegiatan, susunan acara, mudah! Pekerjaan semacam ini memuakkan sekali, itu poin penting dari kemarahannya yang sempat memuncak sampai membuat suhu tubuhnya meningkat. Tidak ada yang membantunya, mereka hanya menatapnya seakan-akan itu adalah tugasnya dan tidak perlu untuk dibantu sama sekali. Jawabannya hanya, mudah, itu saja! "Sialan memang!" Umpat Ilyas yang tidak bisa mengontrol ucapannya lagi karena emosi. Matanya memerah dan tubuhnya memanas seperti kepiting rebus. Tumpukan kertas yang sempat dibawanya dengan rapi, berantakan memenuhi mejanya. Beberapa lagi jatuh berserakan di bawah meja. Hannah mendekat, memberikan secangkir air putih yang baru saja diambilnya dari galon. Ilyas tampak mengatur napasnya yang memburu, seperti sehabis dikejar-kejar setan. Dia meraih cangkir itu, meminum isinya sampai habis dan meletakkan di atas mejanya dengan perlahan—dia tidak mau ganti rugi cangkir atau mejanya. Dia masih berpikiran logis setidaknya. Gaji yang sedikit itu bisa dibuat makan beberapa hari. Tidak untuk mengganti fasilitas sekolah yang dirusaknya dengan sengaja. "Capek tahu enggak, Han! Capek banget rasanya!" Keluh Ilyas yang sudah mulai mereda amarahnya, tapi masih merengut kesal. Hannah menghela napas panjang dan menatap temannya itu prihatin, "kita enggak bisa apa-apa selain sabar dan sabar, 'kan, Yas? Kita memang sudah melakukan yang terbaik, walaupun pada akhirnya mereka akan merasa kurang dan kurang. Mereka bilang apa tadi?" Ilyas mengusap wajahnya dengan kasar, menatap Hannah yang juga penasaran dengan hasil rapat yang tidak mirip seperti rapat. "Guru kesiswaan itu minta aku buat presentasi tentang jadwal study tour kemarin yang aku bikin. Aku dengan serius presentasi dan kamu tahu apa yang mereka lakukan? Sebagian sibuk ngobrol enggak penting, sebagian lagi pura-pura dengerin tapi ya begitulah. Setelah selesai presentasi, ada yang tanya. Pertanyaannya enggak masuk akal dan enggak masuk dalam daftar. Aku bingung dong mau jawab gimana dan mereka marah-marah. Katanya ini pekerjaan murah. Anak SD aja bisa menyusun jadwal kaya gini. Mirip sama jadwal sekolah, katanya. Ah, ... kurang ajar!" Ucap Ilyas dan kembali diakhiri dengan umpatan.    Hannah menepuk pelan bahu Ilyas. Dia pun tidak bisa memberi kata-kata menenangkan apapun karena jika dia berada di posisi Ilyas, Hannah pun akan merasakan hal yang sama. Siapa yang tidak kesal dengan ungkapan seperti itu; membanding-bandingkan dengan sesuatu yang tentunya tidak sepadan. Bahkan mereka yang sudah senior pun sebenarnya tidak mampu melakukannya dan menyerahkannya kepada dirinya dan Ilyas. "Kalau enggak ingat cari kerjaan itu susah, aku udah resign dari dulu-dulu deh, Han. Kita enggak dihargain sama sekali. Bahkan mereka lupa satu fakta kalau kita berdua itu guru BK, bukan orang yang ngurusin kaya gini. Kalau biasanya, guru-guru yang pengalaman yang bakalan ngurusin acara besar dan penting kaya gini. Kenapa harus kita? Oke lah kalau mereka bantuin ngarahin lah. Ini, ... mereka enggak ada itikad baiknya sama sekali dan parahnya mereka malah— ah!" Keluh Ilyas yang tidak selesai karena sudah benar-benar lelah dengan keadaannya sampai tidak tahu harus berkata apa lagi. Hannah hanya tersenyum tipis ke arah Ilyas karena memang tidak ada yang bisa dia katakan lagi. Semuanya pasti akan merasakan hal yang sama, kekesalan ketika berada di posisinya atau Ilyas. Hannah tidak mau ikut mengatakan kata sabar, karena itu sama sekali tidak berguna sama sekali. "Aku keluar bentar," pamit Ilyas kepada Hannah dengan wajah yang kusut. Hannah mengangguk pelan, "kalau mau ngerokok, di area belakang aja. Ada gedung kosong di sana! Enggak ada orang yang kesana. Tenangin pikiran aja dulu." "Oke! Lagipula aku enggak ada rokok, Han. Udah berhenti aku sekarang. Sayang uang!" Sambungnya yang memilih melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan BK. Ilyas benar-benar berjalan menuju ke gedung terbengkalai di belakang sekolah. Sebenarnya ada perasaan takut, namun akhirnya dia nekat saja. Akan jarang orang yang datang ke sana. Apalagi tempatnya memang menyeramkan jika dilihat dari luar. Laki-laki itu menyisir seluruh sudut untuk mencari tempat yang nyaman. Setidaknya dia bisa duduk dengan santai sambil melamun, meredakan amarahnya juga penting. Meskipun tidak benar-benar padam kekesalan di hatinya. "Lucunya," Ilyas sedikit kaget karena mendengar ada suara seseorang. Laki-laki itu pun beranjak dari duduknya, mengecek sesuatu dibalik tumpukan meja-meja yang rusak itu dan menemukan seorang cowok berseragam itu tengah berjongkok sambil memberikan makanan kucing kepada tiga kucing gembul yang mengeong sesekali. "Galen," lirihnya ketika melihat paras cowok yang tengah tersenyum itu. Cowok yang dipanggil Galen itu pun hanya menoleh pelan, "ngapain Pak Ilyas di sini? Mau ngerokok?" "Enggak! Enggak ngerokok." Jawab Ilyas seadanya dan mendudukkan dirinya di kursi kosong yang ada di dekat Galen. Galen mengelap tangannya dengan tisu yang ada di dalam tasnya, lalu mendudukkan dirinya bersama Ilyas. Keduanya tidak saling bicara, sampai Galen mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam tasnya dan menyodorkannya kepada Ilyas. "Apa ini? Kamu mau dihukum?" Tandas Ilyas yang bereaksi dengan pemberian Galen. Galen tersenyum tipis, memberikan bungkusan rokok itu kepada Ilyas dan beranjak dari duduknya. "Saya merokok sesekali kalau perlu dan stress. Isinya sudah tidak penuh lagi. Kalau misalkan Bapak mau, bisa ambil semuanya. Kadangkala kita pun harus jujur kepada diri sendiri bahwa tidak semua hal bisa kita handle dan berpihak kepada kita. Kalau memang sudah sangat lelah, tidak ada salahnya untuk istirahat sejenak. Mengumpat atau marah-marah memang tidak akan menyelesaikan masalah. Tetapi itu melegakan." Tandas Galen dan menepuk bahu Ilyas pelan. Cowok itu tersenyum, beranjak berdiri dari duduknya. "Saya tidak janji untuk tidak melaporkan kepada guru piket bahwasanya Bapak merokok di sini." Canda Galen yang membuat Ilyas menatapnya tajam. Cowok itu tertawa pelan karena melihat ekspresi kaget yang muncul di wajah Ilyas. "Saya bercanda, Pak. Take your time, Pak, kalau kata orang-orang. Semua problematika yang sulit ini akan segera berlalu." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD