G&K | 28

1096 Words
PERMINTAAN MEISY DAN KEINGINAN GALEN *** Untuk beberapa hari ini, akan Galen katakan bahwa hidupnya tenang dan baik-baik saja. Semuanya berjalan tak seperti biasanya; diasingkan, dijauhi, dianggap aneh, digunjingkan, ditakuti, dan di--di yang lainnya. Semua yang berada di lingkungannya sudah biasa dengan adanya Galen yang sekarang. Kendati Galen yang sekarang atau Galen yang dulu, tak ada bedanya sama sekali. Galen masih Galen yang lama, hanya rambutnya yang sudah terpangkas rapi dan senyuman tipis yang terlihat tulus. Beberapa orang yang mengecapnya buruk, berangsur-angsur berkurang dan mengagumi kegantengan cowok itu. Yang mulanya memusuhi pun tak kuasa mengaguminya. Seperti itulah kata orang-orang, good looking itu penting. Jika sudah dasarnya ganteng, tinggal di-permak sedikit langsung kelihatan ganteng luar biasa. Jadi, Galen pantas mendapatkan seluruh pujian itu. Hanya saja, mengapa itu tidak berlaku ketika beberapa bulan yang lalu? Maksudnya, mengapa itu hanya berlaku ketika dirinya menjadi cowok ganteng di kalangan seluruh siswa. Itu aneh, bukan? "Banyak orang yang merubah sudut pandang mereka karena melihatmu yang sekarang. Bagaimana perasaan kamu? Senang karena sudah diterima oleh teman-temanmu sekarang, 'kan?" Tanya Hannah ketika Galen masuk ke dalam ruangan BK tanpa diminta—dia datang setelah memberikan sebungkus rokok kepada Ilyas di gedung belakang tadi. Galen tersenyum masam, "senang, ... tapi biasa saja! Perubahan memang dilakukan siapa saja. Tapi saya tidak berubah sama sekali. Ini diri saya dan rambut atau penampilan ini, hanya sebuah casing yang dianggap orang penting." "Tapi, setidaknya, mereka semua tak akan menganggap kamu buruk lagi. Penampilan memang sangat penting untuk menilai kepribadian seseorang. Memang terlihat egois, tetapi untuk tinggal di masyarakat kita, itu poin pentingnya." Ucap Hannah karena ada benarnya. Sebagian orang akan menilai bahwa penampilan adalah kunci utama untuk menentukan kepribadian seseorang, walaupun terkadang meleset juga. Galen tentu saja menganggukkan kepalanya pelan, "sekarang jelaskan kepada saya, mengapa menonton film porno, pecandu film porno, seperti saya bisa diterima ketika memotong rambut? Apakah itu menjamin bahwa saya tidak menonton atau tidak lagi kecanduan? Yang perlu diluruskan dari pendapat orang-orang adalah—penampilan tidak selamanya akan membuat orang terlihat baik. Seperti kotak makanan yang dibungkus rapi tetapi isinya makanan basi. Akan lebih baik jika makanan itu sudah jatuh ke tanah. Jadi, orang bisa menilainya 'kan? Bagus tidak selalu bagus. Buruk tidak selalu buruk. Itu pendapat saya. Saya tidak memaksa orang lain sependapat. Dan satu lagi, saya potong rambut awalnya ingin berubah. Tapi saya sadar, tidak ada yang perlu saya rubah dari diri saya. Manusia unik dengan karakternya sendiri." Hannah terdiam, bukan karena dia terpojok atau kesal dengan apa yang Galen katakan kepadanya. Namun dia bisa menangkap makna yang dalam dari seluruh ucapan Galen. Cowok itu memang berbeda dengan siswa lain. Apa yang dia ucapkan memang bukan sembarang ucapan ngawur yang bisa diucapkan siapa saja. Galen selalu mengatakan seluruh kata dengan penyampaian yang baik, pendapat yang mungkin bisa dipertimbangkan oleh orang lain yang mendengarnya. Hannah menjadi berpikiran terbuka. Ternyata, menjadi seorang guru BK adalah pembelajaran setiap harinya. Banyak sekali pelajaran yang tanpa sadar dia dapatkan dari beberapa siswanya yang datang ke ruangan ini untuk pendisiplinan. Sebagian dari mereka memang siswa yang selalu dikatakan sebagai kumpulan siswa bermasalah. Menganggap siswa itu nakal karena beberapa noda yang mereka lakukan. Padahal, ada motif jelas dan alasan yang sebenarnya bisa diterima, ketika mereka mau untuk berbagi cerita. "Kamu tahu?" Tanya Hannah kepada Galen kemudian. "Saya mendapatkan bahwa pembelajaran selama menjadi seorang guru BK. Mereka yang harus masuk kesini karena dianggap siswa bermasalah, ternyata mempunyai perjuangan yang kuat atas dirinya sendiri. Mengapa saya mengatakan hal demikian? Mereka semua punya goals atas apa yang berusaha untuk mereka perjuangkan. Bagi seseorang, tidak ada namanya anak nakal, yang ada hanyalah anak yang butuh untuk diluruskan. Tentunya dengan bantuan orang dewasa yang berpengalaman. Walaupun saya tidak bisa seratus persen mengatakan bahwa orang dewasa yang berpengalaman itu bisa menyelesaikan segala masalah." Sambung Hannah. Cowok itu tersenyum, "saya senang mengobrol dengan Bu Hannah atau Pak Ilyas. Saya lebih merasa menjadi manusia yang sebenarnya—yang bisa membagikan keluh-kesah saya. Tapi sayangnya, saya tidak bisa berbagi beban. Terlalu sulit." "Kamu anak yang baik. Semuanya akan baik-baik saja. Saya juga suka bicara dengan kamu." Ucap Hannah menanggapi ucapan Galen. "Dan satu lagi, saya tahu kamu tidak pernah berubah. Kamu yang sekarang itu adalah diri kamu yang dulu juga. Tetapi, saya berharap kamu akan lebih bahagia. Karena bahagia itu penting. Penting untuk kesehatan." Sambung Hannah lagi. Cowok itu mengangguk kembali dan pamit untuk keluar dari ruangan itu. Ketika membuka pintu, terlihat sosok laki-laki yang ditemuinya tadi, Ilyas. "Kamu ngadu, ya?" Tuduh Ilyas saat melihat Galen yang tersenyum ke arahnya. Galen menghela napas panjang, "hm, Bapak pastikan saja sendiri." Setelah mengatakan itu, Galen pun melenggang pergi meninggalkan Ilyas yang memasang wajah curiga. Banyak lorong yang ingin dia lewati selama ini, namun tujuannya hanya pada satu lorong. Pantas saja dia tidak tahu ada lorong yang lebih pendek, terang, dan tidak banyak dilewati. Mungkin seperti itulah jalan yang seharusnya dirinya tempuh, bukan? Rasanya sepi, kosong, dan terkadang sesak. Dia terus berjalan menyusuri lorong itu, menunggu ujung. Namun baru beberapa langkah, dia tampak menemukan ujungnya. Galen tidak menunda langkahnya lagi, dia terus berjalan dan keluar tepat di sebuah ruangan yang biasanya digunakan untuk ekstrakurikuler melukis. Dia menatap ke dalam ruangan itu, ada beberapa lukisan yang dipajang dan ada beberapa kanvas kosong yang dibungkus plastik bening di dekat tembok. Cat-cat warna berbagai macam tersimpan rapi di dalam lemari. "Suka melukis?" Tanya seseorang yang tiba-tiba berada di belakang dirinya, seorang cewek berseragam sama dengannya sambil membawa sketchbook miliknya. Terlihat cewek itu baru saja menggambar, kelihatan beberapa garis dari coretan pena-nya. "Hm," jawab Galen seadanya dan terlihat canggung. Cewek itu menoleh ke arahnya, "gue Meisy, kelas XI IPA-1. Calon ketua OSIS dan pemilihannya bulan depan. Kalau boleh, pilih gue, ya." Meisy, cewek itu namanya sama persis dengan cewek yang seringkali dia temui beberapa kali itu. Namun sayangnya, mereka sudah tidak lagi bertemu setelah bermain bianglala bersama. "Namanya Kak Galen, 'kan? Yang kemarin bikin heboh perkara potong rambut doang?" Tanya Meisy sambil menatap Galen serius. Galen mengangkat kedua bahunya acuh, "Lo enggak takut sama gue?" "Enggak!" "Lo enggak dengar cerita-cerita soal gue?" Meisy mengangguk mantap, "dengar dong! Satu tahun setengah sekolah di sini, bohong kalau enggak tahu siapa Kak Galen. Tapi, itu bukan urusan gue kok. Gue juga suka nonton film porno kadang-kadang." "Lo mengakuinya ketika Lo mau menjabat sebagai ketua OSIS?" Tandas Galen tidak percaya. Meisy tertawa pelan, "gue calon ketua OSIS ya, bukan calon orang sok suci yang bersih tanpa noda. Gue pernah membuat kesalahan. Semua orang pun pernah berbuat salah. Jadi, ... semangat!" Cewek itu menepuk bahu Galen pelan dan meninggalkannya. Ternyata dia perlu menyusuri lorong yang lainnya untuk menemukan hal baru. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD