SEBUNGKUS ROKOK DAN SEBUAH PEMANTIK
***
Gelap, ... lorongnya terlalu gelap dan panjang untuk dilewati. Bahkan tidak ada tanda-tanda ujung dari lorong itu, seperti jalan buntu! Matanya terbuka lebar, keringat membasahi tubuhnya, napasnya terengah-engah, dan semua yang berhubungan dengan lorong itu terekam jelas di ingatannya. Rasanya begitu nyata, sampai mau pingsan rasanya. Bahkan setelah terbangun sekalipun, rasanya masih sangatlah menakutkan. Merinding rasanya, tak nyaman dan membuatnya menggigil sedikit. Cowok itu mengusap wajah tampannya pelan, membangunkan dirinya dan duduk di ujung ranjang sambil melamun.
Setelah lumayan tenang, dia meraih segelas air putih yang dia tinggalkan di atas lemari kecil yang berada dekat dengan tempat tidurnya, di mana lampu tidurnya diletakkan di sana. Ditenggaknya sampai habis air itu, mengguyur kerongkongannya yang terasa kering setelah tanpa sengaja tertidur dengan posisi tengkurap. Seragam sekolahnya masih melekat, belum dia ganti dengan kaos polos tipis yang biasanya digunakan untuk tidur. Dia benar-benar tidak ingat bagaimana ceritanya dia bisa ketiduran setelah pulang sekolah.
Intinya, tidurnya tidak nyenyak dan menyisakan ketakutan. Mungkin ini alasan orang-orang yang melarang untuk tidur di sore hari. Galen pun langsung beranjak, meletakkan gelas bekas minumnya ke dalam wastafel dapur. Membiarkannya di sana dan menunggu si ART untuk mencucinya besok atau terserahnya kapan. Galen tidak mau tahu tentang hal itu. Dia memilih masuk ke kamar mandi setelah menarik handuk yang di jemuran kecil dekat kamar mandi.
Setelah dua puluh menit, dia keluar dengan bertelanjang d**a, melilitkan handuk di pinggangnya dan masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Galen menatap dirinya di cermin. Sekarang tampak sangat proporsional baginya. Wajah tampan, rambut rapi, aroma tubuh wangi, pakaian bersih, dan segala hal baik yang terlihat hanya karena melihat pantulan cermin di depannya saja. Galen tersenyum ke arah cermin kembali, dia tidak bisa mengatakan bahwa dia tidak bangga pada dirinya sendiri.
Ah, dia ingat kata Hannah tadi ketika di sekolah tentang; kebahagiaan yang baik untuk kesehatan. Jika kita terus merasakan kebahagiaan, maka jiwa akan sehat. Galen merasakannya akhir-akhir ini. Dia punya luka di punggungnya, masih lumayan sakit jika diingat-ingat. Namun ketika ada hal yang menyenangkan, maka Galen akan melupakan sedikit rasa sakitnya itu dan menggantikannya dengan perasaan senang karena bisa berada di titik ini—titik di mana dirinya ada di antara banyak noda, namun tidak berusaha untuk tenggelam dalam noda lainnya.
Setelah itu, dia keluar dari rumahnya dan menutup pintu gerbangnya. Kali ini tidak mengendarai motornya. Dia memilih berjalan kaki meskipun ada banyak suara sirene mobil polisi yang semakin menjadi-jadi. Sepertinya tak ada yang mau mengalah. Baik pihak perusahaan atau buruh pun tetap pada pendiriannya. Galen sempat melihat para pendemo berusaha untuk merusak fasilitas umum dan beberapa petugas yang turun tangan dengan melakukan kekerasan. Tidak ada yang tidak salah, semuanya bisa dikatakan salah. Itu menurutnya sih! Orang lain tidak harus setuju.
Cowok itu mengalihkan pandangan matanya, tidak mau kepo soal demo atau apapun itu. Hidupnya saja sudah ruwet, mengapa harus melibatkan diri dengan masalah yang tidak ada hubungannya dengannya. Dia pun memilih untuk memasuki sebuah minimarket di mana kasirnya selalu seorang cewek dengan pipi chubby yang seringkali melayaninya. Tetapi dari sorotan matanya, selalu saja terlihat takut atau gelisah ketika dirinya datang. Memangnya dia melakukan apa?
"Rokok biasa," ucap Galen seperti biasanya, tidak ada kata lain selain rokok biasa. Mungkin hanya itu yang dia beli di minimarket ini beberapa hari sekali.
Cewek itu mengambilkan rokok yang ada di belakangnya dan mendekatkan ke mesin barcode scanner, memindai harga. Galen mengeluarkan lembaran uang sepuluh ribuan dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja kasir tanpa mengatakan apapun. Bahkan sang kasir pun hanya mengatakan tentang harga barang dengan rasa canggung dan tidak nyaman. Kata terimakasih yang dikatakannya pada akhir kalimat pun terdengar tidak menyenangkan. Cewek itu terlalu penakut, pikirnya!
Bukannya langsung pulang, Galen memilih untuk duduk dengan santai di depan minimarket itu, membuka bungkus rokoknya dan menjepitnya diantara bibirnya. Sebuah pemantik diambilnya dari dalam saku celana pendeknya, dihidupkannya untuk membuat asap yang memenuhi paru-parunya. Rasanya masih sama, seperti merokok pada umumnya.
"Galen," panggil seseorang yang baru saja memarkirkan motornya di depan minimarket itu dengan hati-hati.
Galen yang merasa namanya sempat dipanggil, mendongakkan kepalanya dan menatap orang yang mengenakan jaket dengan logo perusahaan ojek online itu.
"Pak Ilyas! Kok?" Tanya Galen yang menunjuk ke arah jaket yang Ilyas kenakan.
Ilyas turun dari motornya dan ikut bergabung dengan Galen. Dengan tak tahu diri, Ilyas mengambil rokok yang masih menyala di tangan Galen dan mematikannya di asbak yang ada di atas meja. Galen tidak menghalau atau berusaha merebut rokoknya. Cowok itu hanya mengerutkan keningnya saja.
"Kita bisa ngobrol santai, 'kan?" Tanya Ilyas kembali dan mendapatkan dua anggukan kepala dari Galen. "Kamu tinggal di dekat sini?" Sambungnya sambil menatap ke arah beberapa rumah yang berdiri mengelilingi lingkungan ini.
Galen kembali menganggukkan kepalanya, "hm, ... rumah saya cuma selisih beberapa rumah dari sini. Mau mampir?"
Ilyas menggelengkan kepalanya.
"Mau cari uang dulu!" Tandasnya dengan menatap ke arah jalan yang sepi di depan mereka. Karena hanya minimarket di kawasan ini, bukan di jalan utama, sehingga tempat ini juga terlihat sepi pembeli. Paling hanya orang-orang disekitar sini saja.
"Sejak kapan Bapak kerja sampingan?" Tanya Galen dengan penasaran.
Ilyas menghela napas panjang, "baru beberapa hari ini. Kalau enggak ada sampingan, uang rasanya habis terus. Ada sampingan aja uang suka habis. Harus bayar indekos, kirim uang ke orang tua, nabung sedikit buat nikah. Rasanya capek banget, tapi proses ini harus dilewati, 'kan?"
"Mau rokok?" Tawar Galen sambil menyodorkan rokoknya.
Ilyas menggeleng pelan, "dari kamu yang tadi, masih ada kok."
"Sulit ya, Pak, jadi orang dewasa?" Tanya Galen lagi dengan tatapan yang lurus ke depan.
Ilyas tidak bisa mengatakan 'tidak'. Proses pendewasaan dan dewasa itu memang tidak pernah mudah atau menyenangkan. Semuanya berat dan membebani.
"Tidak perlu dipikirkan! Kamu pasti bisa melewatinya. Kalau kamu bisa melewati masa remajamu, pastinya bisa melewati masa pendewasaan. Walaupun tidak sempurna, tetapi semuanya akan baik-baik saja."
Galen tidak menjawab, dia tahu itu hanya sebuah alibi dari jawaban tak tegaan yang mengatakan tentang kata sulit yang terkadang orang dewasa tak bisa utarakan kepada orang lain. Saat menjadi dewasa, semua akan terasa sangat sulit. Prosesnya sudah sangat melelahkan, keadaan di lapangan pun lebih menyakitkan. Galen yang belum mengalami proses panjang itu saja—sudah terbebani. Terlebih, dirinya hanyalah sampah yang kebetulan dihindari banyak orang.
"Kira-kira, saya di masa depan seperti apa ya, Pak? Apakah saya bisa dewasa dan menjalani hidup saya seperti orang dewasa lainnya?"
Ilyas menepuk bahu Galen pelan dan tersenyum, "rokok dan pemantik itu satu paket. Tapi kenapa pemantik ini selalu membakar habis rokok yang selalu berdampingan dengannya tanpa rasa bersalah? Itu karena akan ada rokok baru yang selalu butuh pemantik untuk habis dan selesai. Tidak nyambung?"
Galen mengangkat kedua bahunya tidak paham.
"Rokok ini ibaratnya usaha! Dan pemantik ini adalah proses yang kamu katakan sebagai pendewasaan tadi. Usaha yang dibakar sampai habis, menjadi abu-abu kecil, akan terus menumbuhkan semangat baru. Akan ada rokok-rokok lainnya yang terus dibakar. Sampai sebungkus rokok ini habis."
***