AYAH DI ATAS KERTAS
***
Dua cup matcha latte tersaji di atas meja dengan dua orang laki-laki yang duduk saling berhadapan. Keduanya saling menatap, seperti ada banyak sekali hal yang ingin mereka saling sampaikan. Tentang perasaan dan juga unek-unek yang mungkin saja mengganjal sejak lama. Namun, tidak ada yang keluar dari bibir laki-laki satunya, si anak remaja umur belasan tahun itu tentang perasaannya yang menyebalkan terhadap orang tua di depannya. Dia terlihat kesal, tidak nyaman dan merasa bahwa segala pertemuan mereka hanyalah sebuah ruang untuk saling membenci lebih dalam.
Rangga; nama Ayah Galen. Tidak banyak orang yang tahu nama dari orang tua cowok yang selalu menjadi gunjingan satu kompleks. Galen tidak terlalu dikenal sebagai pribadi yang mempunyai keluarga. Orang-orang di luaran sana hanya tahu bahwa Galen masih mempunyai Ayah, Ibunya telah meninggal sejak Galen masih kecil, ada pembantu yang selalu datang ke rumahnya, dan anaknya memang bermasalah di mana-mana. Belum lagi tentang kelakuannya di sekolah, Galen masuk dalam daftar siswa yang kemungkinan besar pantas untuk dikeluarkan.
Tidak ada kesan baik yang melekat pada diri Galen sejak awal. Bahkan orang-orang pendatang baru itu pun merasa diri mereka paling tahu soal kehidupan Galen sejak awal. Mereka hanya tokoh yang datang setelah banyak kejadian menimpanya dan mereka sudah pandai mengarang cerita versi mereka sendiri. Itu benar-benar bodoh, menyakitkan, namun menyenangkan untuk sekedar ditertawakan sebagai guyonan basi yang memuakkan.
"Kamu suka matcha latte? Seperti Ibumu?" Tanya Rangga kepada Galen sambil menatap cup matcha latte yang dibelinya disalah satu cafe mahal yang berada di pusat kota, selepas pertemuan dengan orang penting di sana.
"Tidak," jawab Galen seadanya, tak ada niat untuk sekedar bermanis ria dengan ucapannya.
Rangga menyunggingkan senyuman anehnya ke arah Galen, "kamu tidak bisa menyembunyikan raut wajahmu, Nak! Mirip sekali seperti Ibumu yang menyebalkan ketika sedang marah. Kau tahu?"
Kau tahu— kata-kata menggantung itu yang membuat Galen tertarik dan mencoba mendongakkan kepalanya, menatap Ayahnya yang seperti ingin menarik perhatiannya. Tatapan dari keduanya pun saling beradu, hanya sekedar tatapan kosong tanpa makna sama sekali. Hanya sebuah cara dari orang lain menghormati dari lawan bicaranya ketika tengah berbicara.
"Dulu, ... Ibumu pernah memintaku untuk membelikannya minuman ini. Tepatnya ketika dia sedang hamil dan katanya itu namanya mengidam. Lalu, apakah aku membelikannya? Tentu saja tidak! Aku tidak mempunyai kewajiban atas hal itu, apalagi untuk menjadi suami yang baik. Kewajiban yang ditawarkan kepadaku hanya menikah dengannya, tinggal bersama dengannya, menjadi suaminya, dan menjadi Ayah untuk anaknya. Tapi, aku tidak mempunyai kewajiban atas cinta dan kasih sayang layaknya keluarga untuknya. Ralat, untukmu juga!" Tandas Rangga tanpa perasaan sama sekali.
Galen tidak bereaksi, karena semua kata-kata pedas sudah pernah dirinya dengar. Semua itu pula yang keluar dari bibir Rangga selama ini. Tidak masalah dengan kata-kata, bahkan luka-luka nyata pun pernah diterima olehnya. Semua itu tidak membuat Galen kaget lagi. Dia sudah terlatih sejak lama. Dia sudah sering dan sering mendapatkan perlakuan seperti ini. Terutama dari orang tuanya sendiri.
"Apa kamu ingat ketika kamu masih kecil dulu? Ketika kamu bertanya dan menangis padaku, bertanya apakah kamu bukan anak kandungku? Aku akan selalu menjawab; bukan. Semua itu akan katakan karena aku memang tidak mempunyai perasaan sayang atau cinta seperti layaknya Ayah pada anaknya. Bahkan meninggalkanmu sendirian di rumah ini, membuatku merasa lebih baik. Tapi aku sudah membantumu, memberikan semua fasilitas yang tentunya didapatkan anak-anakku yang lain. Kamu tinggal di rumah yang lumayan bagus, punya pendidikan yang terjamin sampai nanti—aku tidak akan lepas tangan, aku memberikanmu kendaraan, bahkan memperkerjakan ART di rumah ini. Setidaknya itu bukti tanggungjawab padamu, belas kasihan karena Ibumu meninggal. Bukan kasih sayang atau kepedulian seorang Ayah pada putranya."
Galen tidak melepaskan pandangan matanya dari Rangga, meskipun hati dan pikirannya berkecamuk. Apa ini rasanya dibuang? Oleh orang yang disebutnya sebagai keluarga?
"Jadi, ... terimalah apapun yang aku berikan sebagai tanggungjawab. Tapi jangan memaksa untuk mendapatkan kasih sayang. Karena aku tidak akan pernah menyayangi kamu. Kita hanya keluarga di atas kertas. Aku Ayahmu di atas kertas. Kita tidak dekat dan selamanya akan begitu." Sambung Rangga sebelum meninggalkan rumah Galen.
Pada akhirnya, kedua cup matcha latte itu ditinggalkan tanpa disentuh sama sekali. Rangga yang beranjak dari duduknya dan mengambil tas miliknya, Galen yang memilih untuk melamun sambil menatap minuman yang selalu dia pesan tanpa pernah diminumnya.
"Satu lagi," tandas Rangga sebelum keluar melewati pintu. "Karena ART itu sudah meninggal, aku tidak akan mencarikan asisten lagi. Kamu bisa mulai membersihkan rumahmu ini sendiri, aku hanya akan menambah biaya hidup untukmu. Tentu saja aku akan mengunjungimu walaupun itu tidak berpengaruh apapun untuk hidupku. Tapi aku akan datang jika ingin. Dan, ... jangan sampai orang lain tahu bahwa kita mempunyai hubungan!" Sambungnya dan pergi begitu saja meninggalkan Galen di ruang tamu rumahnya.
Galen menghela napasnya panjang. Dadanya terasa sesak karena terus menahan kemarahannya. Galen tak berhak marah karena posisi Ayahnya juga sulit. Tapi, apakah itu berimbas padanya juga? Bukankah dia anak kandung Ayahnya juga? Walaupun dirinya terlahir dari perempuan yang tidak dicintai Ayahnya. Apakah itu dosanya? Apakah dia pantas untuk menanggung semuanya? Tentu saja tidak! Galen menganggap bahwa semua itu bukan salahnya.
"Huft, ... ah, sesaknya enggak hilang! Sialan!" Umpat Galen sambil terus memukul-mukul dadanya dengan tangan, berusaha membuat nyeri itu hilang. Sayangnya, nyeri itu bukan berasal dari kenyataan, namun dari hatinya yang tak terlihat.
Bagaimana bisa Rangga mengatakan semua itu dengan gamblang, bahkan di depan anaknya sendiri. Bagi anak, mendengar bahwa salah satu orang tua mereka mengatakan bahwa tidak mencintai orang tua mereka yang lain saja sudah pukulan yang sangatlah menyakitkan, lalu apa kabar dirinya?
Galen mengusap wajahnya kasar, dia masih belum menerima kenyataan segala ucapan Ayahnya itu. Dengan kesal, dibuangnya semua benda di atas meja—termasuk dua cangkir minuman itu. Berserakan semua benda di lantai dengan air yang tumpah kemana-mana.
Cowok itu kembali meringkuk, dia kembali menangis. Menangis yang sudah lama tidak dia lakukan karena merasa mampu menahan segalanya dan merasa bahwa menangis tidak akan menyelesaikan masalahnya. Setidaknya itu yang dia yakini dan membuatnya tersiksa sampai hari ini. Tetapi akhirnya Galen memutuskan menjadi manusia biasa yang ingin meluapkan kesedihannya sesekali.
"Kenapa hidup separah ini sih?" Tanya Galen kepada dirinya sendiri yang kacau. "Gue udah merubah ini dan itu. Tapi kenapa hasilnya tetap jelek?" Sambungnya dengan nada yang amat putus asa.
Dia benar-benar sangat lelah. Dia kesal sekali, sangat kesal! Ayahnya benar, mereka hanya sekedar keluarga di atas kertas. Karena mau bagaimana Galen berusaha, Ayahnya tidak akan menganggapnya sebagai keluarga. Ayahnya tidak akan memainkan perannya atau berpura-pura kepadanya. Jadi, Galen harus mulai berhenti berharap untuk mempunyai orang tua yang menyayangi dirinya. Karena semua itu hanyalah harapan yang mungkin tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Galen harus berhenti berekspresi tinggi tentang bagaimana Ayahnya memperlakukan dirinya dengan baik. Karena pada dasarnya, Ayahnya telah membencinya, bahkan sebelum dirinya ada di rahim Ibunya. Cukup mengejutkan memang, namun sudah biasa untuk dirinya.
***