Terhalang Jessen

1658 Words
Ia kemudian membuang nafas dan kembali menatapi Aurellia, seakan-akan di luar dugaan tiba tiba tatapan Aurellia terarah padanya. Aurellia menatap ke jalanan tepat ke arah Marcellinus berdiri. “Siapa itu?” pikir Aurellia pelan Tatapan Aurellia terkunci begitu pun dengan Marcellinus yang kian takjub menatapi Aurellia dengan saling beradu tatap meski jarak cukup jauh memisahkan. Wajah Marcellinus terlihat jelas dari atas sana karena tersorot oleh lampu jalanan. “Dia.. tampan sekali” pikir Aurellia membelalakan matanya kagum Marcellinus sama sekali tidak berkedip “Ya tuhan… apa dia benar-benar sedang menatap gue sekarang.. indahnya… cantiknya…” “Sayang?” sahut Jessen yang berada di depannya Aurellia terperanjat dan kini menatapi Jessen lagi “Eh iya?” “Kamu dari tadi ngelamun? Ada yang di pikirin? Atau ada yang mau kamu beli?” Tanya Jessen dengan senyuman manis padanya Aurellia menggelengkan kepalanya “Eh eh engga ko” senyum Aurellia kaku “Aduh aku sampai lupa kalau udah punya kak Jessen. Tapi siapa pria itu? Kenapa dia begitu lama menatap ku?” Tanya Aurellia lagi dalam hatinya sembari diam diam menatap kesana namun Marcellinus nampaknya sudah pergi Aurellia membuang wajahnya pelan “Ahh dia sudah pergi.. atau jangan jangan tadi hanya hayalan ku saja?” gerutunya lagi bertanya pada dirinya sendiri “Sayang kamu yakin kamu baik-baik aja?” Tanya Jessen lagi khawatir Aurellia mengangguk segera “Aku baik-baik aja ko” “Syukurlah” ***** Marcellinus berlarian ke arah rumahnya dengan cepat, ia akhirnya berhenti di depan rumah dengan nafas yang ngos-ngosan. Degup jantung berdegup kencang karena masih tidak percaya dengan apa yang telah di laluinya barusan. “Ke-kenapa? Apa dia tahu kalau gue suka sama dia? Ini pertama kalinya gue liat dia langsung dan sensasinya benar-benar luar biasa” “Apa jangan jangan Nur menceritakan soal gue ke dia? Itu sebabnya tadi dia liatin gue sampe segitunya.. ahh entahlah” “Nur sudah jelas jelas tidak menyukai gue, apa dia menceritakan hal buruk tentang gue sama dia?” ujarnya lagi benar benar panic “Ahh gue bisa gila!! Bisa bisanya berfikir kalau Nur berbuat sejahat itu” kerasnya kembali sembari memegangi kepalanya sakit Marcellinus membuang nafasnya berat “Hentikan Bima.. sudah malam waktunya untuk beristirahat” lirihnya lalu masuk ke dalam rumah kecilnya itu “Tapi di lihat lihat, Jessen itu memang tidak sebanding dengan ku” pikirnya Marcellinus masuk ke kamar ibunya “Bu.. Bima udah beliin nih sate sama obatnya, eh ngomong ngomong satenya di kasih bonus lhoo sama pak Somat.. Bima lama karena bantuin pak Somat dagangannya rame banget kasian dia kewalahan” jelasnya lalu duduk di samping tempat tidur ibundanya “Syukurlah kalau dagangannya dia lancar..” ujarnya lalu bangun dari tidur dan sekarang menatapi Bima senang Bima tersenyum “Mau Bima ambilkan nasi sama air putihnya bu?” Tanya nya pelan “Engga usah, ibu juga mau makan di luar aja bareng-bareng sama kamu ya Bim” ujarnya Bima mengangguk dengan semangat “Oke oke ayo bu kita makan bareng sambil nonton tv.. ibu nyusul ya? Bima siapkan nasi sama airnya” ujar Bima lalu bangun dan segera pergi dari sana “Anak itu bersemangat sekali” senyum ibunya Setelah selesai makan malam bersama dengan lauk sate, ibunda Bima segera meminum obat dan akhirnya tidur lagi. Bima saat ini terlihat rebahan di kursi yang menghadap ke depan televisi itu. Televise menyala dengan acara nyanyian disana, namun pikiran Bima melayang ke kejadian tadi dimana dirinya beradu tatap dengan Aurellia. “Cantik.. sungguh” lirihnya pelan kemudian membuang nafasnya berat Marcellinus memegangi dagunya dengan tersenyum manis “Bisa kah gue memiliki dia? Mampu kah?” Tanya nya bergumam “Berhenti berkhayal! Sebagai seorang lelaki gue harus berjuang!” “Mulai besok gue harus cari langganan lebih banyak lagi! Ya!” semangatnya penuh bara Marcellinus kemudian membuka ponselnya dan membuka aplikasi facebook.. ternyata ada satu notifikasi yang belum dia buka. “Apa Aurellia?” senyumnya lalu mengklik tombol notifikasi dan ternyata justru Jessen lah yang menerima permintaan pertemanan dari Marcellinus. “b*****t! Apa dia gay? Ih anjir serem” gerutunya kesal dan dengan emosional dia mencari nama Aurellia Carrisa namun sama sekali tidak di temukan akun yang tadi dia lihat “Apa nih maksudnya? Dia block gua?” teriak Marcellinus dengan mata memelotot “Marcellinus Bima Leander? Kenapa malam malam teriak teriak?” teriak ibundanya dari dalam kamar kesal karena terbangun Bima tersenyum takut “Ehehe maafin Bima bu” lirihnya sangat pelan *****                        Aurellia masih duduk di hadapan Jessen, ia Nampak belum menghabiskan makanan yang ada di mejanya begitu pun dengan Jessen. Jessen menatapi Aurellia bingung. “Kamu masih cemberut gitu.. masih sebel sama Jessen?” Tanya Jessen menatapinya serius Aurellia menatapi Jessen kaku “Hah? sebel kenapa?” Tanya nya datar “Aku pikir kamu sebel sama Jessen karena dari tadi kamu diemin aku lhoo” jelas Jessen lagi Ia membuang nafasnya berat “Entahlah…” ujarnya “Sebenarnya aku masih kepikiran cowok itu” pikirnya lagi Jessen memegangi bahu Aurellia “Sayang.. kamu kenapa? Masih sebel kan soal tunangan kita yang di undur?” Tanya Jessen dengan tatapan yang sudah kesal “Hmm bukan ko.. aku mungkin Cuma kecapean aja hmm maaf ya” sahut Aurellia segera Jessen tersenyum “Hm udah jangan banyak pikiran.. kamu harus banyak istirahat dan jangan terlalu banyak aktifitas ya. Sesudah makanan habis kamu langsung pulang oke” “Iya” angguk Aurellia segera “Maaf karena sempat sempatnya memikirkan cowok itu di hadapan kamu sendiri Jessen” pikir Aurellia lalu memakan makanan yang ada di depannya perlahan Sesekali dia mengecek ponselnya dan membuka aplikasi f*******: “Aneh, permintaan pertemanan semakin lama semakin banyak saja” gerutu Aurellia pelan “Jangan di terima ya sayang. Kamu harus pandai pilih pilih” ujar Jessen Aurellia mengangguk “Iya sayang” senyumnya “Co-cowok ini?” gerutu Aurellia pelan dengan mata terbelalak setelah melihat profil bernama M. Bima Leand dengan foto profil berlatar tembok hitam jaket varka panjang dengan rambut yang tersusun rapi layaknya model “Apa dia model majalah?” Tanya Aurellia dalam hatinya Aurellia hendak memencet tombol konfirmasi namun secepat kilat Jessen segera membawa ponsel itu “Cowok siapa?” sahutnya sembari melihat profil itu “Kamu barusan mau konfir cowok ini Aurell?” Tanya Jessen dengan nada membentak Aurellia menatapinya kesal “Kenapa harus membentak sih?” kesalnya “Karena ini masalah serius Aurell, bisa bisanya kamu mau konfir cowok ini? Kamu gak liat apa dia meminta pertemanan sama kamu artinya dia suka sama kamu. Jessen block akun dia sekarang” jelasnya kesal dengan mengklik kasar ponsel Aurellia Aurellia membuang nafasnya berat “Terserah..” “Seperti biasa, aku harus sangat terbiasa dengan sikap kasarnya” pikir Aurellia Jessen memberikan ponsel nya kembali pada Aurellia “Nih, memangnya siapa cowok tadi? Apa kamu kenal? Atau jangan jangan itu masa lalu kamu ya?” Tanya Jessen kembali mengintimidasi “Aku engga kenal dia kok” ujar Aurellia santai lalu kembali memakan makanannya Jessen membuang nafasnya berat “Awas saja kalau kau berani selingkuh di belakang ku” ancamnya “Hentikan Jessen! Jangan berlebihan! Lagian siapa juga yang pernah selingkuh? Itu kamu kan?” kesal aurellia Jessen menatapi Aurellia khawatir dan kini membuang nafasnya berat “Maaf.. maafkan perbuatanku di masa lalu.. aku janji akan menjadi lebih baik Aurell” “Sudahlah.. berhenti marah padaku Jessen ku mohon” Aurellia menatapinya sendu Ia mengangguk “Iya.. maafkan aku Aurell” “Lupakan saja” ***** Marcellinus bangun dari tidurannya dan menatapi layar ponselnya serius “Gue gak bisa biarin ini, jangan jangan Jessen yang sengaja block akun f*******: gua dari hapenya Aurellia.. gua gak punya feelling bagus sama itu cowok, gua harus pastikan Aurellia baik baik aja” ujar nya lalu berdiri dan segera mengenakan jaketnya lagi lalu pergi perlahan dan keluar dari rumahnya “Jangan sampai ibu bangun.. dia harus istirahat” lirihnya menatapi rumahnya dari luar lalu segera berlari melewati gang-gang kecil yang diterangi oleh cahaya lampu Marcellinus memikirkan bagaimana jadinya jika lelaki fuckboy seperti Jessen marah pada kekasihnya “Awas aja kalau lu bikin calon masa depan gue nangis” ujarnya lalu pergi dan berhenti di jalanan tadi yang tepat mengarah ke arah restoran itu “Dimana dia?” Tanya Marcellinus dengan sorot mata yang segera menyapu ke lantai atas di mana tadi Aurellia dan Jessen duduk disana Ia membuang nafasnya berat “Ahh sudah pergi ya.. kenapa perasaan gue gak enak sama si Jessen padahal ini pertama kalinya gua lihat wajah dia, dan gue ngerasa ada yang gak beres sama cowok itu” gerutunya kesal “Percuma gue lari lari kesini hahh” ujarnya lagi dengan membuang nafas berat Ia pun menyender di tiang lampu lalu lintas sambil mencoba menenangkan diri nya dan mengatur nafasnya sebaik mungkin. “Semoga Aurellia baik baik aja” tambahnya lagi “Eh.. itu?” sahut nya tiba tiba setelah melihat ke dua pasangan yang tengah berjalan keluar dari restoran dan hendak untuk memasuki mobilnya Mata Marcellinus tersorot jelas ke arah si perempuan dengan dress kuning dan rambut terurai cantik, ia terlihat sedang kesal. Di belakangnya ada Jessen yang merupakan kekasih si gadis. Jessen terlihat hendak meraih tangannya namun Aurellia berjalan lebih cepat dan menghindarinya. “Aurellia! Ada apa dengan mu?” kesal Jessen menatapinya Aurellia segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang “Sudah ku bilang jangan bahas masalah masa lalu mu Jessen! Jika kau ingin benar benar di maafkan” kesal dia dari dalam sana “Hmm iya maafkan Jessen, apa salah jika aku menjelek-jelekan dia?” ujarnya lalu masuk ke dalam mobil di kursi sopir dan menatapi Aurellia dalam dalam “Hahh, hentikan. Bagaimana pun kau menjelekan dia, dia tetap saja kan mantan selingkuhan mu” lirihnya dengan tatapan kosong Jessen membuang nafasnya berat “Maaf sayang.. awalnya aku hanya ingin membuat mu percaya lagi padaku.. baik aku tidak akan membahasnya lagi” lirih Jessen kini menatapinya serius “Sudah.. kita pulang saja” ujar Aurellia masih menatap ke depan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD