Minta maaf

1601 Words
Aurellia segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang “Sudah ku bilang jangan bahas masalah masa lalu mu Jessen! Jika kau ingin benar benar di maafkan” kesal dia dari dalam sana “Hmm iya maafkan Jessen, apa salah jika aku menjelek-jelekan dia?” ujarnya lalu masuk ke dalam mobil di kursi sopir dan menatapi Aurellia dalam dalam “Hahh, hentikan. Bagaimana pun kau menjelekan dia, dia tetap saja kan mantan selingkuhan mu” lirihnya dengan tatapan kosong Jessen membuang nafasnya berat “Maaf sayang.. awalnya aku hanya ingin membuat mu percaya lagi padaku.. baik aku tidak akan membahasnya lagi” lirih Jessen kini menatapinya serius “Sudah.. kita pulang saja” ujar Aurellia masih menatap ke depan Jessen mengangguk “Baik sayang” kemudian ia mengenakan sabuk pengamannya “Sudah gua duga, bagaimana pun juga Jessen terlihat seperti cowok fuckboy. Gua harus selalu buntuti mereka jika sempat, jangan sampai Aurellia tersakiti terus menerus” ujar Marcellinus masih berdiri di sebelah sana “Raut wajah Aurellia.. dia terlihat benar benar sudah kesal pada Jessen” lirih Marcellinus kini menatapi Aurellia dalam dalam Tanpa Marcellinus duga ternyata Aurellia kini menatapi Marcellinus dengan tatapan yang tidak percaya “A-apa? Dia lagi? Apa yang ku lihat sekarang nyata?” lirih Aurellia dalam hatinya “Di-dia lagi lagi menatap gua?” gerutu Marcellinus sangat tidak percaya menatapi Aurellia Aurellia terlihat memelototkan matanya tidak percaya ternyata cowok yang dilihatnya saat ini benar-benar cowok yang tadi meminta permintaan pertemanan padanya “Dia benar benar cowok yang tadi” ujarnya lagi dalam hatinya “Tu-tunggu jangan jangan dia takut sama gue? Ko tatapannya jadi gitu, Aduh jangan sampai dia nantinya malah takut sama gua” gerutunya lalu pergi menyebrang dan berjalan jauh dari sana “Maaf Aurellia, gua harus pergi.. jangan sampai lo takut sama gua ya dan jaga diri baik baik sebelum gue jemput lo” ujarnya sembari berjalan perlahan Aurellia mengedipkan matanya “Pergi?” lirihnya dan terdengar oleh Jessen yang telah selesai membenarkan sabuk pengamannya “Siapa yang pergi?” Tanya Jessen penasaran dengan Aurellia yang sejak tadi menatap ke depan Jessen pun menatap ke depan “Sayang.. kau berbicara apa?” Tanya nya penasaran “Tidak.. maksud ku ayo pergi sekarang.. pulang” jelas Aurellia masih menatap ke depan dengan tangan yang di lipat Jessen tersenyum lalu mengangguk “Hmm baik.. ayo” ***** “Bodoh! Bodoh! Bodoh!” teriak Marcellinus yang kini berdiri di atap gedung restoram Marcellinus membuang nafasnya berat “Ahhhh gimana kalau Aurellia justru malah takut sama gua?” teriaknya lagi “Gua udah kayak orang b**o aja” tambahnya lagi lalu duduk di kursi Disana dia sendirian.. angin malam menerpanya perlahan seketika menyejukan hatinya yang kacau “Apa Aurellia baik baik saja bersamanya?” Tanya nya pelan penuh pertanyaan “Jessen.. apa kita pernah bertemu sebelumnya?” lirihnya lagi Nampak berpikir “Masa sih gua kenal sama dia?” ujarnya lagi Ia kembali membuang nafasnya dengan pelan, kemudian menatapi langit malam yang kian larut bersama dengan perasaan penasarannya. ***** Pagi cerah berikutnya.. Marcellinus menatapi indahnya sinar mentari yang mulai menerpanya. Seperti biasa setiap hari ke sekolah dia selalu berjalan kaki. Namun tiba tiba suara klakson motor mengejutkannya. Motor itu pun berhenti di samping Marcellinus yang asyik berjalan itu. “Eh Wahyu?” sapa Marcellinus tersenyum menatapi Wahyu yang terlihat ceria padanya Wahyu memukul bahunya “Oy! Berkat lo adek sama nyokap gua sekarang udah bisa bayar rumah sakit. Makasih banyak ya” senyumnya “Haha gua kira apa.. udah lah jangan ada kata makasih dan maaf diantara teman oke? Apalagi kalo makasihnya di tambah kata banyak, toh kan gua juga bantunya dikit dikit” senyum Mercellinus Wahyu tertawa “Lo bisa aja jawabnya! Haha ayo naik kita bareng berangkatnya” jelas Wahyu yang mengendarai motor sport itu “Engga deh gua jalan kaki aja. Lagian ya gua gak mau di bawa sama lo, pengendara amatiran” ujarnya dengan tersenyum menghinanya lalu pergi dari sana segera Wahyu terlihat sangat kesal “Kebiasaan lu b*****t hina hina Wahyu yang cakep gini, cepet naik! Oke deh lo yang bawa motornya.. gimana?” jelas Wahyu sembari mengikutinya pelan dari belakang Marcellinus membalikan badannya dan menatapi Wahyu datar “Setuju” ujarnya Mereka pun berangkat sekolah bersama dengan Marcellinus yang mengendari motornya, sontak saja hal itu membuat semua seisi sekolah geger dengan kekerenan Marcellinus saat membawa motor. Apalagi dia tidak memakai helm, ia hanya berseragam sekolah dengan ketampanan di atas rata rata. Kulit putih bersinar, tatanan rambut berantakan namun membuatnya semakin cool di tambah lagi dengan tubuh tingginya, alisnya yang tebal dengan matanya hitamnya yang pekat dan hidungnya yang mancung. “Aaaa gila ganteng banget kak Marcell” “Sumpah cocok banget dia jadi model ya gak sih?” “Gak gak gak! Gantengnya berlebihan gak cocok jadi model, cocoknya jadi suami aku aja” “Selamatkan jantung gua tolong” “Ada yang tau? Dia udah punya pacar belum si?” “Selamatkan hati gua babang Marcell” Begitu lah saat keduanya sampai di parkiran yang berada tepat di depan kelas 10 “Aduh idola kita semakin tertolong sama motor sport gua” ujar Wahyu yang menggodanya “Idola apaan idola?” senyum Marcellinus mengingat hal yang Nur lakukan kemarin “Buat apa juga jadi idola kalo masih jadi beban orang tua. Benar kan Wahyu?” senyum nya Wahyu terdiam sejenak lalu “Hmm lupakan sejenak saja tentang itu dan nikmati kepopuleran lo dulu Marcell” “Nikmati ya?” ujar Marcell kini menatapi Wahyu serius Wahyu mengangguk segera “Ya.. gua rasa.. hm karena selamanya kesedihan itu jangan terlalu di ratapi” jelasnya lagi “Hmm sudah lah.. ayo masuk kelas” ajak Marcell dengan tersenyum Wahyu menyusulnya dan berjalan beriringan bersamanya “Menikmati kepopuleran? Hmm gua gak bisa. Karena gua belum pantas menikmati masa muda ini.. sebelum gua kejar semuanya dulu” ujarnya dalam hati “Akhirnya sampai di kelas kesayangan… watsapp wan kawan Wahyu si tampan dengan kepopuleran mendunia udah datang!” teriak Wahyu sembari masuk ke dalam kelasnya Marcellinus tersenyum pelan “Ahaha dasar” ujarnya “Ehh bukannya yang paling tampan dan popular itu Marcell ya?” sahut Dino menyinggung Wahyu Wahyu menatapi Dino sebal “Ya ya ya semua juga tahu Marcell yang paling tampan dan popular tapi dia yang paling paling itu sudah menyerahkan tahta ketampanannya sama gua” serius Wahyu menatapi Dino “Ngomong apaan sih b*****t” ujar Dino lalu tertawa keras diikuti oleh teman teman lelakinya yang lain “Makin ngawur aja lu” tambah Sandy Wahyu terlihat kesal dan berlari ke arah mereka segera mencoba memukul siapa saja yang menertawakannya. Sementara itu Marcellinus hanya tersenyum dan segera duduk di bangkunya. “Dasar” ia kemudian menaruh tas nya di meja Lalu merebahkan tubuhnya di kursi dan memejamkan matanya mencoba untuk setenang mungkin “Malam tadi gua tidur jam 2 pagi.. gua juga gak sempat tidur siang karena kerja. Ahh melelahkan sekali padahal ini semua belum ada apa apanya” pikirnya dalam hati “Jika bisa.. percepatkan lah tuhan.. ingin rasanya Marcell segera menggapai mimpi, membahagiakan ibu dan mendapatkan hatinya” senyumnya tipis Nur yang duduk di depan Marcellinus terlihat menatapi Marcell serius. Semua teman temannya mengangguk saat menatapi Nur yang terlihat serius itu. “Lakukan sekarang” ujar mereka tanpa mengeluarkan suara Nur mengangguk dan menarik nafasnya berat ia lalu menepuk nepuk meja Marcell pelan “Marcell..” lirihnya dengan tatapan sendu Marcel membuka matanya perlahan dan kini di depannya Nur terlihat serius menatapnya “Nur? Hmm ada apa?” Tanya Marcell pelan ia juga menatapi ke sekeliling dimana semua temannya terlihat menatapi mereka berdua sekarang “Kalian? Kenapa sih?” Tanya Marcell dalam hatinya Nur menunduk “Marcell.. maaf soal kejadian kemarin, gua bener bener udah bicara keterlaluan sama lo. Maafin gua ya” lirihnya yang lalu menatapi Marcellinus serius “Gue lupa.. kalo sebenarnya.. manusia itu sama di mata tuhan, gua terlalu angkuh dan sombong. Maafin gue ya Marcell” lirihnya lagi menatapi Marcell serius yang sejak tadi Marcell menatapinya datar Marcell tersenyum “Ya ampun, udah lah Nur gua udah bilang kan lagian apa yang lo katakan itu fakta. Lagian gue tipe orang yang engga mudah putus asa ko dan gue juga pemaaf jadi jangan dipikirin soal kejadian kemarin” jelasnya “Ahhhh ternyata bukan Cuma wajahnya aja yang tampan hatinya juga” “Marcellinus ahh pantas saja jadi idola di sekolah” “Uwu uwu uwu bikin jatuh hati deh.. eh lupa gua cowok haha” ujar Dino merubah suasana menjadi candaan “b*****t! Si Dino Gay temen temen jangan di deketin” teriak Wahyu yang segera menjauh darinya begitu pun teman temannya yang lainnya Dino menatapi semuanya kesal “b*****t! Candaan gua emang selalu dianggap beneran” “Hmm lo cowok baik Marcell, lo bahkan sangat pantas mendapat kan Aurellia bahkan wanita yang melebihi Aurellia pun sangat pantas lo dapatkan” jelas Nur terpukau Marcell tersenyum tipis “Hmm apa yang lo katakan Nur, jika saja memang Aurellia jodoh gue. Gue akan sangat bersyukur tapi keadaan gue sekarang belum tepat untuk mendapatkannya” “Hmm Aurellia cewek baik, dia engga mandang harta atau pun ketampanan. Tapi ibunya.. dia juga yang paling semangat dengan hubungan Aurellia dan Jessen” Marcell membuang wajahnya “Jadi tantangan gua berat dong.. harus buat ibunya jatuh cinta dulu nih sama gua” senyumnya “Semangat Marcell! Lo layak sukses!” senyum Nur yang langsung di balas oleh Marcell ***** Jam istirahat telah tiba..         Seperti biasa Marcell, Wahyu, Dino dan Muhlis bersama sama ke kantin. Marcel dan Muhlis adalah sasaran tatapan cewek-cewek ketika mereka ke kantin atau kemana pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD