Setelah makan malam Disa beranjak pergi ke kamarnya, setumpuk tugasnya sudah menunggu untuk segera diselesaikan. Sebenarnya Disa sudah mengantuk tapi beberapa tugasnya terlantar akibat ia tadi yang asyik menonton drakor kesukaannya.
"Disa,"
Disa menoleh saat pintu kamarnya terbuka, "Ada apa bun?"
"Ada temen kamu tuh di depan," kata Rini.
Disa mengerutkan keningnya heran, tumben Raina datang tanpa mengabari di terlebih dulu. Biasanya juga ia langsung ke kamarnya, "Iya bun."
"Cepetan Disa, kasian temenmu tuh nunggu lama," ujar sang mama lalu melengang pergi.
Segera Disa bangkit dan sedikit berlari. Langkahnya terhenti saat netranya menangkap sesosok itu lagi. Disa muak kenapa laki-laki itu semakin ia jauhi, semakin mendekat.
"Dis," sapanya dengan seulas senyum yang dulu membuat Disa terpesona.
Seketika raut wajah Disa berubah, ia menunjukkan wajah tak bersahabatnya.
"Ada apa kamu kesini?" ujarnya to the point.
"Emang salah ya kalau gue kesini?"
Disa tersenyum sinis, "Masih nanya?"
Aura ketegangan semakin terasa antara Disa dan Gara. Bahkan Disa memilih untuk tetap berdiri.
Tiba-tiba bundanya datang, "Nak Gara mau minum apa?" tanya Rini ramah, membuat Disa tak suka kala mamanya baik kepada laki-laki di depannya itu.
"Gara udah mau pulang kok bun, bunda gak usah repot-repot," ujar Disa sewot.
Gara mengangguk, "Iya tante saya sudah mau pulang kok."
"Oh begitu, kalo gitu tante tinggal ya,"
"Baik tante,"
Setelah Rini menjauh Disa menatap Gara, "Udah? Ngapain kamu masih disini?"
"Padahal gue pengen ngomong ke lo Dis,"
"Aku yang nggak!"
"Sebegitu marahnya lo sama gue?"
Disa tertawa sumbang, "Coba kamu pikir Gar, pikir pakek otak!" ujar Disa sarkas.
Sepertinya wanita itu sudah angkat tangan dengan Gara, entah ia juga tak tau bagaimana cara kerja otak Gara yang terlalu menyepelekan orang lain.
Belum sempat Gara berkata Disa sudah menyuruhnya pulang dan sebelum Disa semakin murka terhadapnya, akhirnya laki-laki itu menuruti apa yang pacarnya mau.
Besok akan Gara coba lagi.
***
Alih-alih Disa memaafkan Gara, realitanya gadis itu semakin murka terhadap mantan pacarnya tersebut.
Bagaimana tidak laki-laki itu seminggu ini selalu menunggu Disa di depan kelasnya membuat Disa kehabisan akal untuk menghindarinya.
Seperti hari ini, Disa mengacak rambutnya kesal karena Rania tak membantunya memberi solusi kepada Disa agar ia terbebas dari Gara.
"Lo sebenarnya gimana sih sama Gara?"
Disa menoleh sewot, "Gimana apanya?"
"Hubungan lo?"
"Gue udah putus Ran! Tapi dianya yang gak mau!" teriaknya frustasi.
"Coba deh lo bilang baik-baik sama dia Dis. Lo tanya deh maunya si Gara apa,"
"Gue gak bisa," bantah Disa.
Raina menghembuskan nafas sebal, sahabatnya itu sungguh sangat keras kepala.
"Coba dulu Disaaa! Lo mau hidup lo di ganggu terus sama tuh orang?"
Benar juga apa yang di katakan Raina, tapi Disa bimbang untuk kembali berbicara dengan Gara. Gadis itu lemah dengan tatapan Gara.
"Gue tau lo masih suka kan sama Gara?" imbuh Raina.
Kalo soal itu Disa tak bisa menampik, memang benar apa yang sahabatnya katakan. 3 tahun ia bersama Gara mana mungkin tak ada perasaan, ya meski hanya Disa yang memiliki perasaan tersebut.
"Gue gak denger lo ngomong apa!" setelah itu Disa pergi meninggalkan Raina. Berlama-lama bersama Raina merusak kesehatan mentalnya seakan gadis itu terus membuka ingatan Disa terhadap Gara.
Baru saja ia keluar di ujung pintu, badan tegap Gara menghadangnya seketika tubuh Disa menengang.
"Kasih gue kesempatan buat ngomong Dis," ujarnya.
"Apalagi yang mau kamu omongin Gar?"
Tanpa basa-basi laki-laki itu menarik tangan Disa dan membawanya menjauh dari lingkungan kelasnya.
"Stop Gar!" hardik Disa.
Disa menarik kasar tangannya dari genggaman Gara, "Stop buat gangguin aku lagi!"
"Lo masih pacar gue Disa!" Gara tak mau kalah.
Disa menggelengkan kepala tanda tak setuju.
"Apapun keputusan lo, lo mau terima atau nggak. Lo masih pacar gue!" kata Gara.
Wajah Disa memerah ia tak terima dengan keputusan sepihak dari Gara, "Kamu egois Gar!" lirihnya.
"Iya gue egois," beonya tanpa rasa bersalah.
"Mau kamu apa Gar?"
"Tanpa persetujuan gue kita nggak bakal putus, lo denger?"
Oh s**t!
Kali ini saja, Disa minta cukup kali ini saja ada sebuah keajaiban untuknya. Entah Gara yang mengatakan akan memulai hubungannya dari awal tanpa adanya Tania di antaranya.
Ingin Disa mendengarnya sekarang, langsung dari mulut Gara lalu ia berjanji untuk menjauh dari Tania.
Karena menurut Disa tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang murni "BERSAHABAT" pasti ada salah satu di antaranya entah si laki-laki atau si perempuan yang akhirnya terbawa perasaan.
"Kalau itu mau kamu. Putusin aku sekarang Gar!"
Gara menggeleng, baru saja ia akan membuka mulut namun Disa menyelanya.
"Apa kamu bisa ngejauh dari Tania?"
Gara langsung terdiam dengan pertanyaan Disa barusan.
"Kalo kamu egois, aku juga boleh egois dong Gar. Kamu nggak mau putus oke kita nggak putus asal kamu bisa ngejauh dari Tania. Tapi apa kamu bisa?" lanjutnya dengan senyum menyeringai.
Disa berharap laki-laki itu menjawab tidak bisa dan berakhirlah hubungan keduanya. Hanya beberapa bulan untuk Disa melupakan Gara, tak apa untuknya merasakan sakit yang hanya beberapa saat dibanding ia bersama Gara tapi laki-laki itu memilih bersama Tania.
Cukup lama Gara diam dan Disa pun tau jawaban yang akan dilontarkan Gara. Laki-laki itu pasti lebih memilih Tania.
Ayo berkatalah Disa ingin segera bernafas lega.
Diamnya Gara menjadi jawaban valid Disa, "See kamu nggak bisa jawab Gara. Artinya hubungan ini memang harus berakhir." setalah itu Disa beranjak pergi.
Namun cekalan di tangannya membuat Disa terhenti, "Gue bisa. Kalo itu yang lo mau."
Jantung Disa seakan terkoyak saat itu juga. Ia sedikit tidak percaya tapi Disa tidak tuli. Disa dengar apa yang Gara katakan barusan.
Kini giliran Disa yang mematung. Haruskan ia percaya? Atau jangan-jangan ini prank dari Gara. Oh ayolah, Disa merutuki cara kerja otaknya yang melambat.
"Nanti pulang sekolah tunggu gue," ujarnya. "Gue balik kelas dulu." pamitnya sambil mengacak pelan rambut Disa.
Sungguh Disa tak percaya itu Gara rasanya ia ingin terbang saja.
"Apa ini nyata?" lirihnya sambil menepuk-nepuk pipinya.
Alhasil Disa tau usahanya melupakan Gara runtuh sudah. Bagaimana ia bisa move on dengan perlakuan Gara yang berubah manis seperti tadi.
***
Bel pulang berbunyi Disa menengok ke arah pintu kelas memastikan apakah Gara berada disana.
"Nyari Gara?" tebak Raina.
Disa buru-buru mengalihkan pandangannya, "Enggak kok yakali gue nungguin tuh orang."
Mata Raina memicing, "Yakin?" selidik Raina.
"Yakinlah," sewot Disa.
"Dahlah gue mau balik dulu, daaaah Rainaaaaa!" pamitnya.
Disa masih mencuri-curi pandang ia masih mengamati sekitarnya. Jauh dari lubuk hatinya yang paing dalam Disa berharap ada Gara yang menepati janjinya tadi. Ia juga sengaja memperpendek langkahnya agar nanti Gara bisa menemuinya. Disa berfikir bahwa Gara masih berada di dalam kelasnya.
Sampai Disa melewati lorong-lorong kelas, sosok Gara masih belum ia temui. Sepertinya laki-laki itu kembali membual. Baiklah Disa akan tidak lagi mempercayai bualannya.
Baru saja ia mengedarkan pandangan ke arah gerbang, sebuah mobil yang sangat ia hafal berhenti mendadak.
Dan Disa tau siapa dia.
"Sorry gue telat," ujarnya.
Disa hanya mengangguk. Ia tak ingin menunjukkan wajah yang seoalah-olah dia memang menunggu Gara.
"Ayo!" ajaknya.
"Kemana?"
"Pulang bareng gue," tanpa menunggu persetujuan Disa ia sudah menarik asal tangannya.
***
Hawa canggung masih sangat terasa diantara dua kubu anak adam tersebut. Sama-sama diam tanpa berniat akan membuka percakapan satu sama lain.
"Kasih gue satu kesempatan lagi Dis," kata Gara, laki-laki itu berusaha mencairkan suasana diantaranya.
"Apa kamu bisa aku percaya Gar?" tanya Disa menyakinkan.
"Gue ga bisa seyakin itu untuk nggak buat lo terluka nantinya. Tapi gue akan sangat berusaha semampu gue menjaga kepercayaan lo Dis,"
Disa terdiam. Ia tidak akan serta merta melabuhkan lagi hatinya pada sosok Gara.
"Apa gue nggak berhak untuk lo kasih kesempatan kedua?" lanjutnya.
"Aku takut Gar," cicitnya.
Gara menoleh ke arah Disa, "Apa yang lo takutin Dis?"
"Semuanya. Percuma aku kasih kamu kesempatan kedua kalau nyatanya Tania masih jadi prioritas kamu. Aku iri Gar," ujar Disa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku iri saat kamu lebih pentingin Tania daripada aku," lanjutnya.
"Gue minta maaf Dis," sesal Gara.
Setelah itu hening Disa tidak lagi bersuara bisa-bisa air matanya merembes di depan Gara lebih baik ia diam.
***
Rumit. Padahal Disa hanya ingin lepas dari laki-laki itu, lebih baik ia mengorbankan perasaan sukanya dan memilih untuk tidak menjalin hubungan dengan Gara. Ia pikir setelah ini semua akan berjalan normal, Disa dengan kisah hidupnya dan Gara dengan hidupnya sendiri.
Namun ternyata dugaan Disa salah. Laki-laki itu enggan melepaskannya, alasannya Disa juga tak tau mengapa.
Drtt drtt drtt..
Disa menengok telepon genggamnya yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya. Matanya terbelalak saat mengetahui nama Gara yang terpampang di layar hpnya.
Gadis itu tak langsung mengangkatnya, ia terpaku beberapa detik memastikan apakah laki-laki itu memang menghubunginya atau ternyata hanya salah pencet saja. Namun getaran itu masih ada sepertimya memang laki-laki itu dengan sadar menelfon Disa.
Ia menggesek icon telefon ke atas dengan gugup, "Halo." sapa Disa.
"Dari mana saja? Lama banget angkatnya," protes Gara.
Disa menggaruk tengkuknya yang tak gatal untung saja Gara tak bisa melihat kegugupannya saat ini.
"Tadi nggak denger kalau ada telfon," alibinya.
"Oh baiklah. Sudah makan?"
"Ehm- apa? Siapa?" benar-benar Disa tidak bisa mebutupi kegugupannya. Ia juga semakin salah tingkah karena Gara tidah seperti ini sebelumnya.
"Siapa lagi kalo bukan elu Dis, kan yang gue hubungin elu,"
"Oh," fix Disa salting.
Gadis itu hanya mampu cengar-cengir dengan pipi yang merona.
"Terus?"
"Apanya?" kali ini otaknya sangat tidak bekerja.
"Disa sudah makan belum?"
"Ehm- sudah kok,"
"Anak pintar," seru Gara. "Besok pagi gue jemput," lanjutnya.
"Nggak usah Gar, aku bisa sendiri," tolak halus Disa.
"Gue mau memperbaiki semuanya Dis, kasih gue kesempatan ya. Gue akan perbaiki semuanya dari hal-hal kecil, gue harap lo mau support gue,"
Specheless.
Laki-laki itu membuat Disa membatu seketika. Benarkah apa yang Gara katakan? Disa menghembuskan nafasnya di sebrang sana. Baiklah-baiklah tidak ada salahnya jika ia mempercayai laki-laki itu kali ini.
"Iyaa," sahut Disa sedikit gugup.
Disebrang sana Gara menarik sudut bibirnya, ia merekah senyum sangat lebar.
"Terima kasih Dis,"
Disa diam, ia bingung harus merespon bagaimana.
"Ya sudah buruan gih tidur," perintah Gara.
"Hmm iyaa,"
"Selamat malam, mimpi indah Disa,"
Oh cepat Disa butuh pasokan oksigen sekarang, Gara begitu manis lantas Disa harus bersikap bagaimana?
"Selamat malam juga," setelah itu buru-buru ditutupnya panggilan Gara.
Jantungnya berpacu dengan cepat. Sebegitu besarnya dampak Gara bagi Disa. Semoga kali ini ia menjatuhkan pilihan yang benar dengan memberikan kesempatan untuk Gara, karena memang sejujurnya ia masih sulit untuk melupakan perasaannya terhadap laki-laki tersebut.